
Sepulangnya Buntas, Datin sesudah mandi dan sholat ashar, dia ketiduran di sofa depan TV diruang keluarga. Dia sempat bermimpi melihat Mila duduk dibalkon sambil memeluk Yasmin dan memandang Yasmin dengan sedih. Datin dalam mimpi itu memanggil-manggil Mila, tapi Mila menjauh dan menghilang. Bu Parinah yg kebetulan mendengar Datin seperti menangis dalam igauannya tsb terus mendekat dan membangunkan Datin.
Datin kebangun, perasaannya seperti sepi ngelangut (jw), kemudian dia ke kamar Bimo, mendapati Yasmin sedang ngrakit batman sama Bimo. Dia mendekati Yasmin, dia pangku dan diciuminya Yasmin.
Bocah berdua itu heran, kenapa ibunya seperti habis bangun tidur nangis.
“ Ibu kenapa?” sapa Bimo hawatir.
“ Kalian sudah pada mandi belum?” tanya Datin.
“ Sudah, kita mandi sendiri tadi ditungguin mbak Lilis, terus baru mulai ngrakit batman.”kata Yasmin.
“ Besok pagi kita ke makam mama Mila, terus ke makam Bapak sama yanguti, terus ke makam mbah kakung di Manding ya.”kata Datin
“ Makanya kalau menjelang magrib jangan tidur, mimpinya jelek.” Kata bu Parinah.
Sehabis makan malam, anak anak sedang cuci kaki ganti baju tidur dan mau mendengarkan dongeng mbah uti. Datin minta agar mereka istirahat dulu ngrakitnya.
“ Bimo, Yasmin, malam ini tidak ngrakit dulu ya, nanti mata nya sakit dan kepalanya pusing. Istirahat dulu dan malam ini mbah uti mau dongeng bagus tuh!” kata Datin.
“ Mbah uti mau dongeng???? Asyieeek!!!!” mereka berdua berteriak kegirangan.
Saat menunggu anak dua itu selesai, bu Parinah sempat bilang ke Datin, “Tin aku kalau ngeliat Yasmin sudah lengket banget ke kamu, Bimo juga senang main sama kakaknya itu, tapi kelihatannya malah Bimo yg ngemong, ngajari kakaknya, hehehe……., kenapa enggak diresmikan sekalian jadi satu keluarga. Maksudku menikahlah kamu sama nak Yudistira, biar mereka itu merasa ayem punya orang tua komplit.”
“ Sekarang itu juga sudah begitu to bu, mereka tidak kehilangan kasih sayang kami, mas Yudis sebagai figur ayah, aku sebagai figur ibu. Saya kira mereka sudah merasa seperti itu. Lha kalau menikah itu urusannya kan panjang, apalagi kita itu sudah punya kehidupan masing-masing, harus benar benar disiapkan dikompromikan dengan matang.”kata Datin.
“ Kemarin waktu kita makan di RM Suharti itu, bu Dibyo itu melamar kamu untuk Yudis. Ibu bilang akan saya tanyakan dulu ke Datin, aku bilang begitu.”kata bu Parinah.
“ Lho bu Dibyo itu melamar aku untuk mas Yudis, tapi ybs tahu enggak? Ini membingungkan, karena mas Yudisnya sampai sekarang ya adem ayem saja gak pernah terucap satu patah katapun kalau menghendaki aku. Kalau perhatian, menyayangi, ya memang, mas Yudis sama almarhumah mbak Mila dari dulu kan seperti kakak ku sendiri yg selalu menjaga, apalagi sesudah mas Pras meninggal, itu semakin sayang mereka ke aku dan Bimo. Jangan sampai aku yg ke GR an bu, malu kan?” kata Datin.
“ Lha ya itu aku belum nanya.” Kata bu Parinah.
“ Wharrakadah, blaiiik tenan…………lha itu yg aku harus pasti dulu. Bagiku bu, aku perempuan gak akan mencari, aku menunggu dan menyeleksi mana yg mau sama aku dan Bimo dan sekaligus cocok dihati kami itu saja. Ada lisannya yg didukung perbuatan.” jawab Datin.
“ Mbah utiiiiiiiii, mbah Utiiiiii…..kok lama, nanti aku ngantuk nih!” teriak Bimo.
“ Heh…..iya…iya …tunggu bentar le, mbah uti kesitu.”
Pagi hari, kamis 28 Desember 2006, pada kumpul dirumah Datin ada pak Danu, Prayudi, Rini dan Mayang, mereka juga mau nyekar atau ziarah kemakam Pras dan Bu Danu. Tapi mereka sarapan dulu dirumah Datin karena bu Parinah manggil tukang sate ayam langganan komplek untuk nglayani mereka.
__ADS_1
Semua termasuk Yasmin dan Bimo pada duduk diteras makan sate lontong nya mak Bariyah, yg sudah kondang lezatnya. Yudi atau Prayudi ini kalau bilang, sarapan sate laler (lalat), karena ayamnya kecil kecil banget, tapi matengnya rata, bumbunya pas manisnya. Satu orang sepuluh tusuk juga belum puas. Tadi pagi jam enam Lilis sudah nunggu diujung komplek, terus mak Bariyahnya digelandang menuju kerumah Datin takut keduluan orang.
Sarapan kroyokan begitu saja rasanya nikmat. Makan pakai pincuk daun pisang dari pada banyakin cucian. Mak Bariyah selepas dari rumah Datin dagangannya tinggal kurang dari separonya.
Pak Danu bahagia sekali kalau ngumpul begitu. Lilis sudah menyiapkan teh tubruk sama kopi hangat di dua teko kalau ada yg menghendaki minuman panas, selain air putih.
Sekitar jam delapan lebih sedikit mereka berangkat memakai 2 mobil. Satu mobil sedan Camri punya Prayudi yg membawa pak Danu, Rini sama Mayang, dan satu lagi Inova hitam dari CH yg membawa Datin, bu Parinah, Bimo, Yasmin. Yanti ditinggal di rumah bersama Lilis.
Mereka ziarah ke makam Pras terlebih dulu di Kuncen. Seharusnya ke Mila dulu karena paling utara, tapi karena keluarga Prayudi ikut jadi ke Kuncen dulu.
Bimo khusyuk sekali saat berdoa untuk bapaknya. Dia sudah tahu kalau dia harus banyak berdoa untuk bapaknya, supaya rumahnya di surga semakin nyaman. Bimo dan Yasmin sudah mulai rutin diajarkan sholat 5 waktu, dan mulai tahu bahwa pindah rumah baru bagi Pras dan Mila itu berarti keduanya sudah dipanggil pulang sang Khaliq yg namanya meninggal.
Bimo diajarkan, bahwa kehadiran bapaknya itu ya harus dihadirkan dalam hati oleh Bimo sendiri. Makanya Bimo tetap rajin laporan ke bapaknya dalam hati tentang apapun pencapainnya sampai dengan saat ini.
Dua keluarga tersebut pisah sesudah dari Kuncen, karena keluarga Yudi balik ke Concat, sedangkan Datin langsung ke Blunyah, ke makam Mila.
Datin telpon Yudis saat di makam Mila,
“ Mas kita lagi ke makam mbak Mila, tapi aku tidak ngajak bu Dibyo karena tadi berangkatnya bareng bareng dengan keluarganya mas Pras. Ini yasmin mau bicara mas?” tanya Datin
“ Papa ini aku lagi ke makam mama, lagi mau berdoa untuk mama. Papa ada dimana sekarang?”
“ Hari Selasa kemarin sama ibu sudah ke Borobudur, kita pulangnya juga beli salak di kebonnya, dimana bu?” Yasmin nanya Datin, dan dijawab.... ……” ha iya di Pakem. Terus kita maem nasi merah sama empal, dimana bu?..........ha iya di Pakem juga.” Cerita Yasmin runut.
“ Wah, kalau gitu besok ke Prambanan aja ya?” kata Yudis.
“ Lha ini mau diajak ibu ke Prambanan habis ini. Sudah dulu ah aku mau berdoa, Bimo sudah selesai berdoa itu!”
“ Ok, ya sudah mama mana mama papa mau bicara? Eh ibu maksud papa…….” Tanya Yudis keliru
Tapi telpon sudah keburu diserahkan ke Datin oleh Yasmin, jadi Datin tahu Yudis keliru sebut.
“ Ya mas bagaimana?” tanya Datin.
“ Oh…sori…ng..ng, besok Sabtu mau dibawain apa? Aku sudah siapkan udang banyak banget ya Tin siapa tahu dipakai bakar bakaran dengan keluarga mas Yudi besok Minggu. Jangan nolak akan diatur di cool box! Maksudku ada lagi gak yg diperlukan?”
“ Terimakasih, sudah cukup nanti untuk acara keluarga. Mas Yudis ada kan nanti?” Datin kaget sendiri mengapa dia mengharapkan Yudis hadir, ya keprucut lagi. Suara hati itu memang suka nyelonong.
“ Am I invited???” jawab Yudis sok berlagak pilon, padahal yaitu yg ditunggu.
__ADS_1
“ Tidak ada undang undangan, kalau merasa keluarga ya datanglah. Bener bener gak ada apa apa, ya hanya masak yg dari mas Yudis itu nanti saja kalau jadi dibawain, hahahaha……..ngarep.com!”
“ Siyaaaap….!”
Selesai dari makam Mila kemudian ke Manding, sudah hampir jam sebelas siang ketika mereka sampai di Manding, tidak lama kemudian kira kira setengah jam setelah mereka selesai berdoa, hp Datin bunyi :
“ Hallo Tin, Buntas ini, ada waktu enggak sama bocah bocah, aku pingin ngajak makan nih!” kata dari seberang sana.
“ Waduh, ini saya sedang mau ajak anak anak ke Prambanan, tapi ini masih dimakam bapak di Manding.” Jawab Datin.
“ Kalau gak ngganggu, kalau aku gabung bagaimana Tin? Kita ketemu di RM Handayani di jl Solo itu?” tanya Buntas.
Datin mikir memang sebaiknya anak anak makan dulu, dan mereka bisa ketemu di Jl Solo.
“ Ok Tas, ide bagus, ketemu di Handayani jl Solo ya. Saya on the way.” Kata Datin.
“ Tin aku gak usah ikut saja apa ya, badanku kok capek banget. Sebaiknya nanti ke candinya kalau sudah jam tiga sore begitu sedeng mataharinya sudah agak tergelincir jadi anak anak gak kepanasan.” Kata bu Parinah.
“ Oh begitu, ….tapi ibu ikut makan dululah baru nanti Yanto ngantar ibu pulang, kita pakai mobil Buntas saja.” Usul Datin.
Sesampai di Handayani, ternyata Buntas sudah berada di RM tsb dan sudah pesan tempat. Dia menghampiri Bimo dan memberikan tas plastik besar berisi dua dos mainan:
“ Hai handsome, this is for you, something that you dream of, hahahaha……………ah, dan satu lagi ada didalam tas plastik ini juga sesuatu untuk putri cantik Yasmin.” Kata Buntas.
Bimo kaget, dan dia nengok ibunya, kemudian Datin mengangguk, Bimo langsung ambil dos mainan dalam tas plastik tersebut, bahan robocop yg siap dirakit, Bimo terlonjak kegirangan : “ Trimakasih om.” Kata Bimo sambil meluk Buntas.
Yasmin juga seneng banget mendapat rumah barbie, karena dia memang koleksi boneka itu, dan dia belum punya untuk rumah nya: “ Terimakasih om.” Kata Yasmin sambil cium tangan Buntas.
“ Dengan senang hati, itu hadiah tahun baru dari om, untuk anak gantheng dan anak cantik.”kata Buntas ke mereka, kemudian ke Datin dia bilang :
“ Tin, ijinkan Bimo dan Yasmin memiliki hadiahnya sebelum bulan depan ya, itu tahun depan kali.”
“ Tidak bisa bilang apa-apa kecuali terimakasih. Kamu sudah pinter pilih hadiah untuk anak anak, rupaya sedang latihan ya Tas?” canda Datin.
“ Siapa tahu nanti dapat orang yg sudah satu paket.” Balas Buntas bercanda.
“ Sembarangan! Ayo anak-anak kita makan dulu, hari ini kita ketiban rejeki banyak nih. Alhamdulillah!” kata Datin.
Akhirnya, selesai makan sekitar jam 14.00, mereka pergi ke Prambanan bersama Buntas memakai Altisnya. Yanto mengantar bu Parinah pulang ke Concat.
__ADS_1
Benar kata bu Parinah saat sudah jam tiga lebih area candi menjadi sedikit lebih redup dingin