
Pada hari Selasa 6 Mart 2007, jam 12.00, Datin sudah sampai di Hotel Mulia dan langsung makan siang dulu bersama panitia penyelenggara kolega HIPMI nya dan juga dengan para peserta.
Datin semeja denga Seno. Dia mengatakan kalau Yudis sedang menuju ke Mulia ini dari Cengkareng.
Presentasi atau pemaparan diawali dengan candaan candaan ringan sekedar untuk breaking the Ice atau memecah kekakuan antara pembicara dengan audience. Pesertanya adalah para pelaku bisnis dari berbagai bidang usaha.
Datin memaparkan tentang Negotiation Mastery atau Penguasaan seni Bernegosiasi, dan Datin sedang menjelaskan tentang penggabungan pengetahuan atau teori dengan skill. Itu mata kuliah terakhir yg dia selesaikan saat kuliah on line di Harvard yg dia kuasai benar dan mendapat nilai A. Datin bisa menyampaikan dengan bahasa yg sederhana dan lancar.
Saat sesi tanya jawab, kebanyakan bisa dia arahkan menjadi suatu diskusi yg menarik dan jawaban atas pertanyaan salah satu peserta dia lemparkan ke audience, yg kemudian dijawab sendiri oleh peserta lainnya, Datin hanya meluruskannya.
Namun dalam seminar pastilah ada salah satu yg nyleneh, ingin njajal atau menguji pemrasarannya. Merasa lebih senior sehingga meremehkan. Pertanyaan dilontarkan oleh pak Singgih 38 tahun, pengusaha kerajinan kuningan dari Yuwono yg profil wajahnya mirip-mirip orang penderita keterbelakangan mental, mongoloid, rupanya dia sedikit pusing dengan teori yg disampaikan Datin, tapi peserta lain bisa mengimbangi dengan contoh contoh penerapan yg pas. Merasa dari pada gak bicara dia lalu melontarkan candaan yg sarkastis:
“ Bu, anda memaparkan teori teori yg bikin kepala pening, apa anda juga memakainya saat negosiasi? Saya tahu anda sukses dan CH selalu unggul dalam nego, saya rasa karena anda menggunakan kecantikan anda untuk menundukkan lawan, bukan karena teori yg sampeyan sampaikan tadi.”…….
Ruangan menjadi riuh karena ada yg tertawa tapi ada juga yg mengumpat atas gak sopannya si tua ini.
Datin tertegun, kampret banget tua bangka satu ini, aku harus bisa balas, pikirnya.
Singgih bangga karena ada yg ketawa, dia teruskan: “ Kita-kita itu mung apes karo wong huayu saiki yen dagang itu! (kita itu kalahnya hanya sama orang cantik kalau berbisnis dijaman sekarang ini).” Sambungnya dengan logat jawa medoknya.
“ Tunggu…..tunggu pak, begini, bapak kan menuduh saya dengan bahasa teknisnya menggunakan Charm atau Pesona dalam nego! Begitu ya???!” ……..berhenti sebentar, dan ruangan pun menjadi hening, dikira Datin akan marah dan meninggalkan ruangan, tapi Datin melanjutkan dengan santai :
“ Ok….kalau orang cantik menggunakan pesonanya, lha kalau orang jelek??? Hayo….. kalau orang jelek itu apanya yg mau diandalkan???.................................. Ya teori tadi dipelajari- dengan baik,- dipahami, - dikuasai, dan dipraktekkan!, dengan jam terbang yg cukup, baru kita bisa unggul dalam nego!”……………kemudian Datin nyambung lagi :
“ Lha misalnya…….sekali lagi misalnya lho ya ini…..wis huelek, koplo,(sudah jelek, goblok)…………apa kata dunia? terus apa yg mau diandalkan untuk menang?....... Satu lagi urusan jam terbang…….jam terbang ini gak ada kaitannya dengan tingginya usia ya! Kalau sebagian usianya dipakai ngelantur, ya jam terbang efektifnya rendah!………….. hora entuk nesu (gak boleh marah) lho ya!, hayoooo janji……….hora entuk nesu!” kata Datin santai sambil bercanda dengan logat jawa medok mengimbangi Singgih, cengengesan…….
Suasana ruang pecah oleh ledakan ketawa peserta. Benar benar segar siang ini. Kemudian Datin menetralisir:
“ OK maafkan saya, intermezo biar gak ngantuk, terimakasih lho pak Singgih sudah bikin kita semua melek. Jam saya mengajar ini adalah jam-jam nya orang tidur. ………..Tapi yg saya katakan tadi benar, bahwa TEORI yg saya sampaikan tadi itulah CHARM atau PESONA kita, atau alat kita bernegosiasi.”…………..
__ADS_1
Kemudian dia sambung lagi: “ TEORI tadi harus kita pahami, dan kita jadikan bagian dari kebiasaan kita, atau kata awamnya menjadi REFLEX, Jadi sudah tanpa mikir lagi karena sudah kita kuasai dalam praktek sehari-hari. Ya ini sekali lagi…..berkaitan dg jam terbang tadi.”……………kemudian Datin memberi ilustrasi:
“ Sebagai perumpamaan kita belajar ilmu bela diri, ada teori kalau kita dipukul seperti ini harus ditangkis dengan gerakan pada teori kesatu; kalau ditendang begini harus dilawan dengan gerakan teori ke dua, dst……. …. Kalau bapak bapak masih mengingat atau apal teori tadi satu persatu, berarti bapak belum menguasai ilmu itu…………..” Datin berhenti sebentar sambil melihat sekeliling seandainya ada yg protes lagi atau menyangkal, kemudian karena semua menunggu, dia melanjutkan:
“ Bayangkan, kalau anda masih mengingat teori tadi, begitu anda mendapat serangan, anda stop mikir which theory should be applied, maka anda sudah keburu kekaplok,….. dhielz, ambyar!”……….
Gerrrr ……meledak lagi suasana ruang.
” Mastery and be reflex please”…….. kata Datin menyudahi sesinya.
Ternyata sesi Datin adalah sesi yg paling segar penuh canda. Karena dipancing si Mongoloid tadi dan didorong gondog nya Datin ingin mbalas sehingga suasana benar benar ambyar.
Sampai diruang panitia, semua menyalami Datin. “ Luar biasa bu Datin ternyata pengendalian dirinya klas dewa, aku tadi sudah mau masuk nengahi, eh ternyata endingnya hebring! Latihan sabar dimana bu?” kata koleganya yg panitia penyelenggara.
“ Sebenernya ya jengkel juga tadi, pingin rasanya tak potong kepalanya karena sepertinya bagus kalau untuk gantungan kunci!” kata Datin.
Panitia semua ketawa meledak mendengar jawaban Datin dan melihat ekspresi Datin yg gemes, dan juga Yudis yg tidak bisa menahan gelaknya. Yudis mencermati dari awal ketegangan tadi sampai berakhir seger, hatinya sangat lega. Semula saat Datin diserang, muka Yudis yg memerah dan hampir marah karena joke nya kasar banget, tapi begitu Datin menguasai situasi dan diatas angin, Yudis menjadi kagum dan bangga sekali. Ingin rasanya dia memeluk Datin.
“ Tin, I am proud of you!” kata Yudis.
“ Kepepet mas. Omong omong mampir Kemang kan mas? Tanya Datin.
“ Tin pesawatku jam 7 malam, aku harus sampai Cengkareng paling tidak jam 6, lha sekarang sudah jam 4 lebih, kali ini gak mampir ya Tin aku mau langsung ke bandara saja.”
“ Tadi naik apa?”
“ Itu dijemput drivernya Jodi, pak Jodi HIPMI.”
“ Wis, balikin aja ke pak Jodi mobilnya, aku antar aja ke airport ya mas.”
__ADS_1
Tentu saja Yudis lebih milih diantar Datin, dan mereka berdua berangkat ke airport pakai mobil Datin Land Cruiser Prado 2007 terbaru.
“ Wah hebat bu Bos, bau mobil baru nih, segernya, mobilnya baru ya bu bos?”
“ Iya, mobil perusahaan kan mas, untuk apa aku beli mobil pribadi, lha kalau mau tinggal makai berikut BBM dan drivernya. Ada pilihan enak kok milih yg susah pakai keluar duit sendiri.”
“ Hahahahaha………luar biasa. Aku salut sama Pras, jeli milih istri cantik, cerdas, setia, dan ngirit lagi, pantesan dia pepet terus dari SMP ya Tin?”
“ Mas Yudis ngarang, kita sir-siran dari SMA, gak pakai pacar-pacaran dalam arti yg intens komunikasi, ubyang-ubyung begitu, tapi langsung nikah sesudah 7 atau 8 tahun sir-siran dulu itu ya? lupa.”
“ Ah masaaaa……..gak pacaran, mana tahaaaan?”
“ Mas Yudis gak percaya ya?”
“ Enggaklah……!” Yudis menyangkal, dalam batinnya: Aku sekarang naksir berat kamu Tin, juga hampir gak tahan, ingin rasanya memeluk dan menciummu tiap ingat kamu.
“ Mbak Mila yg sahabatnya mas Pras aja gak tahu kalau aku pacaran sama mas Pras, tahunya sesudah kita nikah. Karena memang gak pacaran yg ubyang ubyung gitu. Malah yg boncengan terus sama mas Pras itu mbak Mila………..mas Yudis kok gak cemburu? Hahahaha……..”
“ Karena aku percaya sama mereka berdua.”
“ Aku benar benar merasakan pacaran itu sejak kami menikah, dan dari penantian yg panjang itu aku baru menikmati kemesraan bersama mas Pras selama lebih kurang 5 tahun, dan harus segera berakhir.” Tidak terasa air mata Datin menitik mengingat betapa sayangnya dan manisnya perlakuan Pras ke Datin selama 5 tahun tersebut. Pras tidak pernah marah ke Datin. Datin mengusap air matanya dengan tisu yg disodorkan Yudis kepadanya.
“ Sudah yuk ganti topik saja ceritanya, jangan yg bikin kamu sedih. Cerita horor kamu yg suka nyebur kali saja gih!” kata Yudis yg membuat Datin terbahak. Datin juga suka sama Yudis yg pandai menghibur.
“ Hahahaha mas Yudis lucu, …….enggak, aku ingin mas Yudis tahu sisi kelabunya hubunganku dengan mas Pras. Kenapa pacaranku tidak banyak diketahui orang kecuali mas Yudi dan mbak Rini. Karena bu Danu menentang keras hubungan kami. Prastowo tidak boleh menikahi gadis kampung miskin, putri buruh batiknya. Harus berhitung tentang Bobot-Bibit-Bebet. Hanya mas Yudi dan mbak Rini yg melindungi kami.”
Ganti sekarang Yudis yg kaget dan terdiam.
Tak terasa sudah sampai bandara, dan merekapun berpisah sesudah berpelukan dan cipika-cipiki.
__ADS_1
Yudis berfikir kapan waktu yg tepat untuk melamar Datin ini, meskipun itu yg diamanahkan almarhumah istrinya, namun dia masih merasa belum sampai hati untuk menikah lagi.