
Siang itu Pras pulang agak cepat, sekitar jam 12 lebih sedikit dia sudah sampai rumah. Mobil dia parkir dihalaman depan langsung mencari Datin di Show room. “ Lho, tumben kok sudah pulang mas, aku siapin makan siang dulu ya, kebetulan aku belum nengok-nengok ke dapur, mbok Tum masak apa ya. Lagian bapak dan ibu juga lagi melayat ke Solo, jadi santailah kalau cuma aku sama Ami.”
Pras menyapa Ami, kemudian narik tangan Datin dan dirangkul masuk kerumah induk sambil bilang: “ Aku gak lapar tapi aku mau ketemu kamu.” diciumnya kepala Datin. Itu kebiasaan Pras selalu mesra sama istrinya dikesempatan apapun.
Datin sungkan sama Ami, apalagi tadi barusan ngobrol yg menguras emosi, didorongnya Pras, : “ Iiiih…..apaan sih mas Pras, siang siang begini…!” sambil lari masuk kerumah induk. Pras ngejar, dan mereka kejar kejaran seperti kucing sama tikus, ditariknya istrinya kedalam pelukannya dan digendong masuk kekamarnya. Ami melihat dari jauh kelakuan mereka sambil tersenyum penuh pengertian, namun ada sedikit rasa pedih dihatinya.
Sambil menutup kamar, Pras menurunkan Datin tapi masih tetap dalam pelukannya, sambil gemes diciuminya istrinya, kemudian Pras bilang ke Datin: “ Jangan GR dulu say,…. aku cuma mau menyampaikan kabar penting, kita sudah 10 hari ini nikah, tapi belum sempat merencanakan untuk bulan madu kan? Nah kebetulan aku ada tugas work shop ke Tokyo 3 hari, ya sekitar dua minggu lagi dari sekarang, tapi aku ingin sekalian ambil cuti dan ngajak kamu jalan jalan selama lebih kurang seminggu di Jepang sesudah workshop nanti, begitu rencanaku.” Kata Pras sambil mendaratkan ciuman ke pipi Datin.
Datin terbelalak sambil menjerit kecil kegirangan mendengar rencana Pras tsb, “ Bener mas?” Tanya nya….” Becanda apa gimana nih?...duuuuh senengnya aku bisa sambil nengok gallerynya Kaburagi san di Tokyo. Gallery Kaburagi san ada di Shinjuku, pusat kota Tokyo kan itu?. Aaah seneng sekali kalau bisa ketemu dia. Banyak yg bisa ditindak lanjuti.”
“ Nah ya! ….bisniiiiis terus yg dipikir oleh nyonya Prastowo ini ya! Ingat….kali ini waktuku, milikku 100%, untuk bulan madu ya! Aku gak mau kamu kecapekan, terus lupa manjain aku deh!” kata Pras sambil mempererat pelukannya dan mencium pipi Datin. “ Iyalah sayang…… nanti saat aku workshop kamu kan bisa ke gallerynya Kaburagi. Selain itu banyak yg bisa dilihat di Tokyo.” Sambung Pras sambil mengelus pipi istrinya yg kemerahan karena excited, terlalu bersemangat. Pras terharu sekali , akhirnya dia bisa bikin Datin bahagia.
Pras sesudah makan, pamit mau kembali lagi ke kampus, sambil membawa berkas, katanya mau bikin ringkasan studi kasus untuk bahan work shop nanti. “ Tin, nanti aku pulang agak malam ya, jangan tidur dulu.......upahnya belum aku ambil lho!”
“ Bodo ah……..!” jawab Datin sambil matanya melototin Pras, ngingetin kalau ada Ami didekatnya. Jaga perasaanlah.
Pras mengerdipkan genit sebelah matanya ke Datin sambil nancap gasnya keluar halaman rumah, pergi ke kampus.
Sepeninggal Pras, Ami senyum senyum godain Datin yg pipinya merah karena tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. “ Duh…..mesranya, begitu ya kalau pengantin baru bawaannya kangen melulu.” Goda Ami.
“ Ah….mas Pras itu memang orangnya usil dan jahil, lha tadi itu dia pulang cuma mau ambil berkas yg ketinggalan untuk bikin bahan seminar dia, gitu ya mesti pakai drama segala.” Jawab Datin sambil melipat kain batik yg mau disimpan di lemari. Tiba tiba Datin ingat kalau sebaiknya ngabari mr.Kaburagi.
Pas mau ambil hp, tiba tiba bel berdering, setelah ditengok ternyata dari Kamila.
“ Haloooooooo yundaku yg cantiiiik, bgmn kabar keponakanku???? Du du du….. cewek apa cowok? belum sempat nelpon nih.” Kata Datin langsung nyamber saja begitu tahu Mila yg telp. Tapi suara diseberang sana kok lain, suara laki-laki.
__ADS_1
“ Halo, ini Canting? Eh Datin?” tanya diseberang sana. Ternyata Yudis yg telpon.
“ Haduh, ini mas Yudis ya? Sorry… sorry… mas, aku kira mbak Mila. Eh …..bagaimana mbak Mila gak kenapa kenapa kan? Aku kok jadi hawatir, kenapa gak mbak Mila sendiri yg telpon?” Tanya Datin menjadi hawatir, tentunya kalau gak ada masalah, Yudis pasti gak akan telp pakai telp Mila.
“ Enggak…Mila baik baik saja, masalahnya no hp mu kan ada di hp Mila ini, sekalian aja pakai hp ini aku bel kamu, ini aku pingin kasi surprise ke dia. Dia baru saja sadar 100% dan masih diruang pemulihan. Junior kami baru lahir jam 06.30 melalui cesar, alhamdulillah sehat, cewek Tin. Mila dari kemarin pingin ditungguin kamu, tapi aku melarangnya, karena kamu kan masih belum mungkin untuk keluar. Aku hanya ingin ngabari bahwa dia ngigau terus pingin ketemu kamu, dia dalam pengawasan ketat 3 dokter spesialis, karena baru ketahuan kalau ada komplikasi jantung, yg saya juga baru tahu. Sebentar ini nanti aku kasi Hp ini ke dia ya, aku minta ijin dokternya untuk support dia dengan menghubungi yg dia harapkan. Begitu.”
“ Halo Tiiiiiin, hik hik, kangen aku, alhamdulillah anakku cewek cantik, tapi kok mirip kamu ya?” canda Mila sambil nangis bahagia, dan dengan nada yg masih terdengar kelelahan serta ngantuk.
“ Aduh….ikut seneng aku, selamat ya mbak Mila, nanti aku bilang mas Pras tak suruh antar nengok ke Semarang. Aku juga kangeeeen. Kemarin pas kawinanku mbak Mila sedang harap-harap cemas nunggu mbrojolnya junior, jadi ya maklum deh.” Kata Datin.
“ Aku kemarin sempet mau telp Pras tak suruh antar kamu nungguin aku, sambil mau aku maki maki tu anak! Mencuri gadisku, peragawatiku, asetku tanpa ijin, main serobot saja. Tapi aku dilarang mas Yudis.” Kata Mila bercanda sambil masih lemah suaranya, namun sepertinya pingin curhat banyak. “ Pras itu lho, bisa nyembunyikan sesuatu yg besar dariku sampai lebih dari 4 tahun. Padahal aku tuh selalu cerita apa saja ke dia. Mbok ya bilang aku kalau dia naksir kamu, kan aku bisa bantu fasilitasi. Untung kamu belum diserobot orang ya Tin.” Kata Mila, yg menunjukkan bahwa Mila belum tahu semuanya tentang riwayat Pras dan Datin yg sebenarnya.Tapi Datin Cuma ketawa saja, membiarkan Mila cukup mengetahui cerita mereka sebatas itu saja.
Datin mengingatkan Mila untuk istirahat saja dulu biar cepat pulih, nanti dia akan segera nengok ke Semarang. Jangan banyak ngobrol dulu.
Selesai ngobrol sama Mila, Datin menyempatkan kirim email Kaburagi, bahwa dia berniat mengunjungi showroom nya yg di Sinjuku. Kaburagi seneng dan menyilakan dia menempati apartemennya yg di Sinjuku, yg memang kadang kadang dipakai istirahat Kaburagi kalau pas acara dia padat, dan gak ada waktu pulang kerumahnya yg di suburb Tokyo, karena apartemennya tidak jauh dari showroomnya.
When you visit my boutique, Batik Parlour, please give me your suggestion, your advice, I need your comment about the layout, whether I already put my Batiks in a proper place.”
Waktu Datin menunjukkan email Kaburagi, Pras komentar: “ Wah nyonyaku gak mau rugi, rajin nyari gratisan……ya baguslah, Tapi di Tokyo kan kita sudah tinggal di hotel tempat aku Seminar.
Sebelum berangkat ke Jepang, mereka menyempatkan diri nengok Mila di Semarang. Bertepatan dengan kunjungan mereka, Yudis sedang ada tamu adik bapaknya, seorang pengusaha besar meubel di Jepara, untuk nengok sang cucu keponakannya. Baskoro, sang Paman tadi dalam obrolannya mengeluhkan kondisinya yg diambang kepailitan. Kalau membicarakan dampak krisis ekonomi ini sepertinya tidak ada habisnya.
Datin dan Pras tidak menginap, mereka rencana pulang hari. Saat mereka menyinggung rencana perjalanan ke Jepang, Yudis nyautin: “ Lhah….kantor JO ku ada di Shinjuku juga, Kingu Ebi, kalau sempat mampir, ada Tosan sepupuku yg tak suruh ngurus sama partner lokalku disana.”
Datin merasakan bos Batik Nusantara (BN) semakin kesulitan untuk mempertahankan aset asetnya. Pada saat giliran Datin masuk kerja di BN, dia sedang membantu menginventarisasi barang barang yg masih numpuk di gudang belum sempat terjual. Pada hari itu melalui salah satu direkturnya, bu Meta, wanita sekitar 40 tahunan yg dekat dengan Datin, mengatakan mau menjual atau menyewakan outlet besarnya yg di Tirtodipuran. Sebenarnya kawasan ini sangat bagus karena dilingkungan turis asing dekat Prawirotaman. Namun BN lebih memilih mempertahankan boutiquenya yg di Malioboro dan Kota Baru yg menurutnya lebih srategis.
__ADS_1
Sedangkan yg di Jakarta hanya tinggal bangunan untuk boutique yg di Kemang yg masih baru saja selesai dan belum sempat didesain dan diisi interiornya keburu terjadi krisis ekonomi. Bangunan baru yg dikemang ini jadi mangkrak. Sedangkan yg di Kebayoran dijual untuk menutup sebagian hutang mereka. Sementara BN sedang konsentrasi untuk restrukturisasi usahanya.
Pengusaha batik dari Yogya, Solo dan Pekalongan yg dulu bekerja sama dengan BN menjadi ikut mengalami jalan buntu. Beberapa dari mereka mulai menjalin kerja sama dengan Datin akhir akhir ini. Sementara Datin masih tetap menjaga hubungan baik dengan para buyer, dan selalu update informasi tentang perkembangan produk. Dalam lebih dari setahun sejak krisis ini, beberapa yg ditindak lanjuti Datin sudah mulai berkembang dengan baik.
Datin otaknya tidak berhenti berfikir, mengapa perusahaan sekaliber BN bisa jatuh rudin. Yg dulu seolah olah begitu kokoh tidak tergoyahkan oleh badai serta mempunyai cabang dimana mana.
Datin ngobrol banyak sama Pras, bahwa BN inilah yg menolong Datin menjadikan orang seperti sekarang ini, dia sedih sekarang BN sekarat. Pras bilang: “ Kesalahan investasi sebabnya. Pada saat pengajuan loan LN sangat mudah waktu itu, orang banyak memanfaatkan kesempatan tersebut dan terlena, seperti halnya BN ini memanfaatkan loan tsb untuk mendirikan gedung-gedung boutique yg megah dan tidak sebanding dengan yg digunakan untuk membesarkan dan mengembangkan usahanya.”
Dua hari menjelang keberangkatan ke Jepang, Datin sedang bebenah kopor yg akan dia bawa. Dia sibuk menata souvenir yg dikasi bu Meta dan juga yg dia beli beberapa dari kasongan dan Semarang kemarin saat negok Mila, seperti dedaunan dan kerajinan wayang dari tembaga, bunga mentul, dan pernik kecil lainnya.
Pras masuk dan menegor: “ Nyonya Prastowo tercinta, jangan bawa yg berat berat, nanti habis uang kita hanya untuk bayar over weight bagasi. Belum urusan baju perang kita karena musim gugur ini kan butuh baju dingin karena selain hawanya dingin juga anginnya kencang. Nah berat berat semua itu.”
“ Enggak kok mas, gak banyak, tapi mas Pras nanti pasti berterimakasih sama saya karena gak terpikirkan kalau mau saling tukar souvenir dengan kolega kan? …..nah aku juga hanya diingatkan bu Meta sama mas Yudis waktu itu.”
“ Hmmm…..lebih dengerin mas Yudis ni ya, daripada suami?.” Pras bercanda, tapi Datin merasa sakit hati, dianggap Pras kelewatan bercandanya, nylekit. Datin gondog tapi gak bisa bales. Dia tutup kopor dan berdiri mau keluar. Sampai diluar depan pintu kamar Pras ngejar dan pinggang Datin dipeluk dan diangkat masuk kembali kekamar, kemudian dia tutup pintu dengan suara berdebam.
Bapak dan ibunya serta Ami yg sedang ada di ruang makan sampai kaget dan nengok. Ibunya bilang: “ Bocah dua itu cuma begijigan saja kerjaannya, oh ya…… itu mbok Tum sudah nyiapin jamu belum untuk Datin?, jangan jangan lupa lagi.”
Jamu yg dimaksud adalah semacam ramuan dari daun daunan dan rempah jawa yg biasa diminumkan untuk pengantin baru perempuan, jamu tradisional Jawa untuk menjaga supaya badannya tetap seger singset meskipun kecapekan. Waduh.
Mendengar suara bu Danu, Datin malu tapi geli banget dengar kata begijigan. Dia bayangin dirinya dan Pras seperti Kucing sama Anjing yg begijigan berantem, dia gak bisa nahan ketawa tapi sambil nutup mulutnya supaya tawanya tidak bersuara dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mencubit keras tangan Pras yg masih nglingkar di pinggangnya. Datin benar benar tidak bisa nahan ketawa.
“ Becanda aku Tin, Jangan ngambeg dong, iya… iya.. terimakasih ya nyah! Sudah disiapin souvenir. Tapi beresin dulu dong tempat tidur yg penuh gombalan yg mau kamu bawa ini. Jangan langsung ngacir begitu, mana kamu sudah gak ingat lagi kalau sekarang malam Jum’at kan ?, mau menjalankan sunnah Rasul, tapi tempat tidur berantakan.” goda Pras yg semakin bikin Datin jengkel karena lapar.
“ Apalagi ini?, mau malam Jum’at, malam Senin, kalau perut lapar ya gak bisa konsen. Aku kira mas Pras masuk tadi mau ajak makan, tahunya malah ngrusak semangatku. Tuh semua sudah di meja makan kita malah begijigan disini. Saya mau kesana jadi mati gaya nih, mualuu tahu!” gerutu Datin sambil memang menahan lapar, dan meneruskan bebenah.
__ADS_1
Itu romantika kehidupan sejoli pengantin baru Pras dan Datin sehari harinya, meskipun awalnya mereka mendiskusikan sesuatu yg serius, namun selalu diwarnai candaan dan kemesraan. Mereka berpacaran dalam arti sesungguhnya ya saat sesudah menikah. Karena hubungan mereka dulu kan ditentang dan sembunyi-sembunyi dari ibunya Pras.
Sekarang ibunya Pras mulai menghormati anak dan menantunya ini, apalagi saat bisnis pribadinya Datin mulai naik. Client luarnya sudah mulai rutin dan pemasoknya bukan produsen sembarangan.