Canting

Canting
Episode 16


__ADS_3

Sampai dirumah Datin tiduran. Sekitar jam 3 siang Lagi liyep-liyep mau tidur kok ada berisik orang ngobrol di teras rumah Induk. Dengan penuh rasa ingin tahu, Datin bangun dan keluar. Begitu lihat Datin bu Danu manggil : “ Tin sini nduk, ini kenalin bu Sumi, sepupuku dari Purwokerto, saudara ibunya Ami juga. Ini yg akan nggantikan Ami nemani aku nanti.”


“ Wah ini istrinya Pras to? Uayune….. piye wis bathi durung (bagaimana sudah untung/hamil belum)?” tanya bu Sumi. Orangnya ramah dan wajahnya sumeh selalu senyum.


“Nyuwun pangestu lan donganipun mugi enggal dipun paringi Gusti Allah (mohon doanya mudah mudahan segera dikasi sama Allah SWT).” Jawab Datin sambil cium tangan. Tapi tidak berapa lama kemudian Datin merasa mual lagi dan lari kekamar nyamber handuk dan lari kekamar mandi sekalian mau mandi karena juga sudah sore.


Sesudah muntah muntah, terasa ringan badan. Berasa meriang juga enggak, sambil ngeringin rambut Datin mikir kenapa dia begitu lihat tamu pak Wibisono tadi jadi mual, kemudian dia tersentak, dia ingat sepertinya sudah hampir dua kali menstruasi dia tidak dapat. Bulan lalu tidak datang bulan dan sekarang ini harusnya minggu lalu dia datang bulan, tapi sampai saat ini belum. Datin mulai gelisah, tapi dia tidak ingin kasi tahu suaminya dulu kalau belum melakukan test urine. Dia sudah beli test pack nya, namun baru akan dia lakukan besok pagi hari sesudah bangun tidur, sehingga urine masih pekat.


Pagi hari sehabis mandi Datin hatinya merasa berbunga bunga, hasil test pack menunjukkan bahwa dia hamil. Dia genggam dan dibawa kesana kemari test pack tadi menunggu Pras selesai berpakaian dan siap sarapan. Melihat Datin gelisah, Pras menegur : ” Ada apa Tin kok seperti seterikaan mondar mandir?”


“ Eh…anu, hmmm….. ini lho, tapi belum pasti juga sih……” kata kata gak beraturan meluncur keluar dari mulut Datin sambil menyodorkan test pack ke Pras.


Menyadari apa yg tertera di test pack tadi, Pras berteriak bahagia: “Alhamdulillah….!!!” Kemudian dia peluk dan diciuminya istrinya, sambil bilang terimakasih berulang kali ke Datin. Mereka kemudian keluar sarapan bareng, tapi mereka belum mengumumkan masalah kehamilannya, karena menunggu hasil konsultasi ke dokter sore nanti.


Hari hari pun berlalu, suasana rumah menjadi penuh dengan kebahagiaan menyambut kehamilan Datin. Bu Parinah sering datang membawakan jamu-jamu Jawa penguat rahim dan untuk menyegarkan badan. Pras semakin sayang dan protektif terhadap Datin. Semula rencanya Januari Pras akan pindah ke rumah barunya, tapi dengan perkembangan terakhir ini bu Danu tidak mengijinkan mereka keluar dari rumah itu. Konon orang yg lagi hamil tidak boleh pindah rumah, nanti umur kehamilannya menjadi muda kembali. Bahkan bu Danu bilang ke bu Parinah agar sering nginep ke Tembi, karena ada kamar banyak nganggur. Tapi bu Parinah bilang : “ Saya juga harus menjaga gubug tinggalannya bapak Datin to bu, nanti bapaknya kecewa kalau rumah gak saya bersihkan.”


Hanya saja ada kebiasaan Datin yg baru sejak hamil ini, kadang Pras saat berangkat ke kampus sambil ngedrop Datin ke Manding, sekedar Datin kepingin tiduran disamping ibunya saat mbatik dan bener bener tertidur kalau mendengar semprat-semprit tiupan canting ibunya. Nanti siang Pras jemput pulang. Atau berangkat siang, dijemput sore. Datin merasa tenang dan adem hatiny, mengulang kebiasaan masa kecilnya dulu.


Bu Danu berobah 180 derajat perlakuannya ke Datin. Datin memang orangnya supel, santun, dan rendah hati. Selain itu mrantasi di pekerjaan rumah serta teliti kalau melayani Pras.


Selama hamil, Datin tidak merasakan ngidam yg berlebihan. Bahkan orang Jawa mengatakannya ngebo alias ndableg. Mual dan muntah hanya diawal awal kehamilan saja. Sesudah menginjak 3 bulan sudah biasa lagi.

__ADS_1


Pesanan dari Sergei Ivanov dari Rusia yg sedang top topnya, menyebabkan Datin sering mondar mandir ke Pekalongan. Pras yg mengantar Datin ke Pekalongan. Dan tiap kesana pasti mampir dan harus bermalam di Rumah Mila di Candi. Selain untuk menjaga agar Datin tidak terlalu lelah, sekalian untuk ngobrol dengan sahabat yg sudah seperti saudara, bahkan lebih dekat dari pada saudara sendiri. Dan sering bertukar fikiran tentang perkembangan dan prospek usaha kedepan.


Tiap mampir ke rumah Mila, Pras sama Datin yg masak extra untuk bersama, menu andalan lobster dua rasa, dimana bahan dasarnya dari gudang Yudis. Kesukaan Datin kalau dirumah Mila adalah duduk diteras belakang yg menghadap ke lembah sambil menyantap makanan, atau sekedar minum teh.


“ Sudah merasakan jadi kacung terhormat belum Pras?” tanya Yudis ke Pras. “ Dulu Mila bentar bentar bilang…..mas pindahin bantal kesini,…..mas redupkan lampu,………mas pijit betisku………. Seolah olah kehamilannya adalah kesalahanku, hahaha…… gitu kan Mil?!” sindiran mesra Yudis ke istrinya.


“ Hah gitu ya?....tidak hanya ke mas Yudis lho! Ke aku aja dulu Mila kalau minta tolong bukannya memohon, tapi mrintah dan diakhiri umpatan! Itu mah bakat alam, bukan bawaan bayi!...hahahaha.” goda Pras, dan diakhiri timpukan bantal Mila ke Pras. Datin senang melihat persahabatan Pras dengan Mila yg tulus dan abadi meskipun gaduh.


“ Kalau nyonyahku anteng mas, alhamdulillah, malah semakin rajin masakin aku. Kalau ngidam dia nyari bahan sendiri, masak sendiri, terus maksa suaminya suruh habisin, dia hanya ngicipi saat masak. Kalau aku gak habis karena kekenyangan dia yg marah ngatain mubazirlah, pemborosanlah, blaiiiiiik………….lhah yg masak siapa yg salah siapa.” Kata Pras sambil meluk Datin dan mencium kepalanya biar gak marah. Yg lagi diomongin nyengenges saja.


Berawal dari permintaan buyer lewat foto dan desain yg dikirim ke Datin, kemudian Datin dan Pras yg keliling nyari, sehingga saat ini suplier Datin sudah banyak jumlahnya, mulai dari Batik sampai dengan Gentong, lampu, home apliences dan kerajinan dari tembaga ex Cepogo-Boyolali, bahkan ada yg pesan buthub Tembaga untuk memenuhi permintaan beberapa hotel di Eropa dan Rusia yg sudah mulai berdatangan.


Pada hari saat Pras tidak ke kampus, Datin dan Pras mengumpulkan mereka untuk maksud tersebut. Pada awalnya mereka keberatan, karena selama ini dengan pola bisnis yg sudah dia kerjakan dengan Datin sudah berjalan.


“ Selama ini bisnis hanya mengandalkan buyer yg butuh dan yg sudah tahu ada produk itu, tapi kalau dengan ada display room, suatu produk baru akan terpajang disitu, mudah dilihat orang dan marketnya akan meluas. Atau dengan melihat barang yg didisplay disitu maka tiap pengunjung akan berkembang idenya untuk menggunakan barang yg dia lihatnya, sesuatu yg baru.”


Mereka pada ngedumel dengan nada keberatan. Tapi kemudian dipotong Pras: “ Bagi yg tertarik monggo ikuti memajang di boutique kami dengan aturan tadi, yg bertahan konvensional ya monggo. Ini tujuannya untuk perluasan bisnis kita dengan cara menjemput bola. Perkara terbebani biaya-biaya tadi….kan tinggal dihitung dan ditambahkan ke harga pokok barang masing-masing.”


Pras kemudian melanjutkan lagi : “ Kalau bapak mau bikin toko sendiri kan juga harus keluar uang, dan belum tentu mendapat kunjungan buyer sebanyak atau sesering kalau di area display yg memajang multi produk, one stop shoping. Pengrajin yg tersebar di pelosok kampung dan desa kita, bisa menunjukkan produk uniknya secara terpusat dan mempermudah buyer memilih variasi barang yg berkembang di pasaran dan yg update, hanya dengan mengunjungi showroom atau boutique, kemudian order lewat boutique juga. Sesama pengrajin yg setara tidak usah banting bantingan harga. Bahkan bisa saling bantu memesan kelebihan ordernya ke pengrajin kecil lainnya dengan kontrol kwalitas. Nanti kita juga pasang iklan bersama untuk anggota.”


Pertemuanpun berakhir, dengan kesimpulam mereka masih pikir-pikir. Sambil menunggu Pras lagi ke kamar kecil, Datin duduk di teras boutique Tirtodipuran. Dia sedih memandangnya yg sekarang seperti gudang mangkrak karena sebagian furniture bagusnya sdh dipindah di boutique Kotabaru. Padahal ini outlet terluas, dan lingkungannya merupakan perkampungan & penginapan turis, yg Datin yakin bahwa saat ekonomi sudah mulai kembali membaik, outlet ini akan menjadi area display yg strategis.

__ADS_1


Tiba tiba dia disamperin pak Pramono, suplier besar Datin dan pengusaha senior. Dia membisikkan ke Datin: “ Mbak, seandainya lantai atas saya ambil semua saya dapat diskon sewa ruangnya tidak ya? Kalau konsesinya sudah cocoklah klo 14% karena masih kena sewa ruang juga. Sementara kalau konsesi murni biasanya dikenakan 30% - 34% dan free sewa ruang. Saya dari tadi terdiam karena saya bisa memahami keuntungannya, namun saya tidak ingin dicap waton suloyo (asal beda) dengan yg lainnya.


“ Alhamdulillah akhirnya ada yg bisa memahami upaya meraih keuntungan bersama ini, mudah mudahan segera diikuti yg lain. Baik pak nanti pembahasan selanjutnya kita nunggu suami saya.”


Sebelum pulang mereka sempat berdiskusi dan besok akan diinformasikan hitungan detailnya oleh Pras. Dan sesampai dirumah Pras memuji Datin, “ Ibu Rudatin yth. Saya coba membuatkan ilustrasi yg ibu tugaskan,dan nanti segera kami laporkan, semoga usaha ibu semakin sukses meroket.”


Datin ketawa sambil mencium punggung tangan Pras dan berterimakasih: “Maturnuwun ya mas semoga ini menjadi rejeki kita dan sekaligus bisa membalas jasa orang yg sudah mengentaskan saya, aku belajar dari cara mas Pras berbisnis.” Kemudian diciumnya punggung Pras dan memeluk suaminya dari belakang.


Begitu masuk, diruang makan kok lagi rame ada tamu keluarga rupanya.


“ Ini Prastowo anak saya, dan Datin ini istrinya. Pras ini Panji putrane bu Sumi yg jadi asisten Chef di Hyatt dan satunya, nak Tomo ini teman Panji, yg juga sbg *** Chef hotel Saphire.”


“ Wah …..kok bisa keluar bareng bareng hari gini?” tanya Pras


Dan merekapun ngobrol, bahwa seperti yg lain juga bahwa mereka juga mengalami 2 minggu masuk dan 2 minggu dinas sejak September 1998 yl. Selama 1,5 tahun ini mereka bisa lewati dengan menerima job panggilan secara bergantian kalau lagi off.


Datin sama Pras pamit mau sholat sebentar, kemudian saat selesai sholat dan sebelum bergabung dengan mereka kembali, Datin usul ke Pras: “ Bagaimana mas, kalau Panji kita suruh njalankan mini resto dilantai bawah outlet Tirtodipuran itu, nanti dinasnya gantian sama temannya yg beda shift. Tirtodipuran dijalankan chef yg lagi off, supaya Tirtodipuran kita segera jalan.”


Pras tertegun dan memandang istrinya dengan penuh kekaguman. Sebenarnya apa isi kepala Datin ini sebenarnya, yg kelihatannya penurut, dan seolah olah menggantungkan dirinya ke suami, tapi selalu melontarkan kejutan kejutan yg Pras sendiripun tidak terfikirkan. Dan Pras selalu menangkap bola yg dilempar Datin dan digarapnya dengan serius serta atas ijin Allah menjadi sukses.


“ Siyaaap……. Wah saya memang berpartner dengan pemain basket andalan Bantul, sang penembak jitu.” Jawab Pras sambil melipat sajadah dan bangkit, mengajak Datin menemui Panji.

__ADS_1


__ADS_2