
Hari jumaat sore menjelang pengajian yg akan diselenggarakan bakda Isha’, rumah Condong Catur kelihatan rame, bapak dan bu danu yg di kursi roda, Prayudi dan Proborini dan putrinya yg sudah tumbuh menjadi remaja 16 tahun yg manis, Mayang. Dan saudara saudara lainnya, serta tidak ketinggalan Yudis, Mila, bu Dibyo serta Yasmin.
Begitu ketemu Yasmin, Bimo ceria sekali, dia menjerit sambil lari meluk kakak Yasminnya. Keduanya langsung terlibat gambar menggambar untuk hadiah bapaknya Bimo.
“Duyu…duyu…Bimo suka celita ma bapak dicini…dicini ini lho…Bimo duduk dicini, bapak bobok.” Cerita Bimo ke Yasmin sambil menunjuk bekas tempat tidur bapaknya, tempat tidur untuk orang sakit. “ Cekayang bapak cudah pindah Yumah diculga sama bintang-bintang dicana…..” kata Bimo sambil menunjuk ke langit, kemudian dia cerita lagi… “ becok kata ibu kita ke pintu culganya bapak.”
Sesudah selesai pengajian keluarga terlibat pembicaraan hangat, Ichikawa juga ikut menikmati rangkaian acara tadi dengan tidak berhenti merekam vidio.
Mila memperhatikan kegiatan Ichikawa dengan penuh ingin tahu. Bagaimana akrabnya Datin dengannya, ngobrol dan menjelaskan saudara saudaranya ke Ichikawa. Saat ada kesempatan ditariknya Datin sambil bisik bisik : “ Tin, itu calon gantinya Pras apa bagaimana ya?”
“ Hihihihi…hik, kok gampang banget nemu ganti, seperti anak kucing wae mbak Mila ki ada ada saja. Hihihi….” Mila ketawa geli, “ Kuwi pak guruku mbak, mentor kursus on-lineku di Harvard, ngelantur tenan mbak Mila ki.”
“ Lha habis sejak dia ketemu kamu di Grand Opening CHK itu dia nempel mulu ke kamu, lhaaaaa sekarang ikut lagi kesini.” Kata Mila penuh selidik. Mila sudah kelihatan seger sekarang.
“ Halah, dia itu atase atau kasi ekonomi di kedutaan Jepang sana, dan Doktor lulusan Harvard, ya sejalan dengan urusanku kabeh to. Gak kerjaannya, gak jurusan kuliahnya.” Jawab Datin dengan logat medok jawanya.
Paginya saat di makam Pras, Ichikawa gak ikut, karena dia mau melancong ke candi-candi, dan tripnya sudah diatur sama CH. Yg ikut kemakam Pras, Datin sekeluarga dan Yudis sekeluarga tanpa bu Dibyo, prayudi sekeluarga dengan bapak dan ibu Danu.
Bimo kelihatan tercenung dimakam, dibimbing Datin untuk mendoakan bapaknya. Mila memandangi makam Pras, diluar kuasaannya Mila menitikkan airmata jongkok disamping Datin. Datin kaget karena dia sendiripun sudah tegar tidak menangis. Sambil memeluk bahu Mila Datin menenangkan : ” Ssssh ……mbak kenapa nangis, mas Pras sudah bahagia, aku bisa merasakannya.”
“Iya….tahu saya, hanya suka keingat kehebohan kita dulu aja aku.” Kata Mila tersenyum sambil menghapus air matanya. Yasmin melihat mamanya nangis, jadi sedih dan ikut mewek nggelendot mamanya.
Ekspresi Bimo lucu banget sambil jongkok memandang Yasmin tanpa berkedip dengan matanya yg belok dan pipinya yg cabi seolah ingin nolong, tapi gak tahu harus bagaimana. Pokoknya sahabatnya gak boleh sedih. Bimo nengok ibunya sambil nunjuk Yasmin dan bilang : “ mbak Ias ais….!” Ibunya disuruh nolong.
Karena drama dari dua badut kecil yg nggemesin ini semuanya jadi tergelak ketawa…..
Sesudah dari makam Pras, semua pulang kecuali dua keluarga Datin dan Mila yg lanjut mau bernostalgia. Sebelumnya mampir ke makam pak Martodikromo dulu, kemudian ngedrop bu Parinah ke Manding. Datin dan Bimo ikut mobil Yudis, dan mobil Datin balik ke CH Tirtodipuran.
Saat ngedrop bu Parinah ke Manding, mereka sempat mampir sebentar. Bangunan dan halamannya kelihatan terawat, di titipkan pak Dukuh adik pak Martodikromo.
__ADS_1
“ Tin, rumah Manding ini artistik lingkungannya lho. Disamping itu ada irigasi kecil bunyinya gemericik merdu disamping halaman. Kenapa gak dibikin villa saja?” kata Yudis. “enak sekali santai dibawah pohon sawo disini ini.” Sambungnya.
Datin tersenyum :” Hiks…..itu pohon nostalgiaku sama mas Pras dulu. Mas Pras kalau kesini parkir disitu, trus kita ngobrol disitu.”
Bu Parinah nimbrung : “ Oh……lha kalau mau nawari duduk didalam gak ada kursinya ya Tin, adanya amben dan tikar, nanti dikira mau kenduren.” (pengajian untuk memperingati sesuatu).
Semua jadi tergelak, ternyata bu Parinah itu bakat jadi pelawak juga. Meskipun demikian Mila dan Yudis merasakan adanya sedikit kepedihan di masa lalunya Datin. Mereka salut dan terselip rasa hormatnya sama almarhum Pras, sudah gantheng, anak pejabat kaya, dia begitu yakin dan mantap serta tidak gengsi memacari gadis miskin dengan setia gak nengok nengok gadis lain yg banyak naksir dirinya. Tapi pilihannya memang tepat, karena pakai mata hati, mendapat gadis dg kualitas unggul, cantik, setia dan smart.
Rencana Minggu sore Datin, Bimo dan mbah-uti mau balik Jakarta. Minggu pagi itu Datin sama Bimo menyempatkan ke Palagan, karena Yudis dan keluarga akan balik ke Semarang dengan mobil Minggu pagi ini. Datin sempat pesan empal 2 kg dan gudeg komplit 2 kendil untuk dirinya dan keluarga Mila, masing-masing 1 kg dan 1 kendil.
“ Yasmin ini nanti untuk makan siang di rumah ya, sama papa. Nanti Mama makan gudeg saja.” Pesan Datin.
Sesudah basa basi sebentar, Datin langsung balik ke condong catur mau siap-siap, karena masih mau mampir ke Tembi sebentar.
Pas pamit ke Tembi bu Danu nangis: “ Nduk…..maafin ibu ya! Ibu sepertinya banyak nyusahkan kamu.” Terus pandangannya beralih ke Bimo sambil mengulurkan tangan meluk Bimo : “ Le….jaga ibumu baik baik ya! Kamu itu titisane Pras, wis jibles banget, bapakmu itu penyayang dan cerdas. Kamu belajar yg rajin biar jadi anak pinter ya…..”
“ Ibu tidak usah menggalih (mikir) yg macam macam, pokoknya bikin senang hati dan jaga kesehatan diri ibu dengan baik baik ya bu. Ikuti kata suster. Kalau perlu apa apa dawuh telpon saya.” kata Datin.
Sekarang Ichikawa sudah bisa sedikit sedikit bahasa Indonesia. “ It is easy to learn Indonesian language, it seems by mastering the vocabularies, then you can speak Indonesian.” Katanya dengan semangat, “ Ibu Sumitomo teaches me, dan sedikit sedikit saya bicara bahasa dengannya.” Ichikawa belajar bahasa dari staf kedutaan Japang sendiri.
Pada saat selesai asistensi tugas, Datin break ngopi dengan Ichikawa di coffee shop President Hotel dekat kedutaan Jepang. Mereka berbincang tentang kehidupan pribadi mereka. : “ Datin san, saya ada foto bersama Prastowo san dan grup, I’ii give it to you, mungkin bisa untuk dipasang on the wall.” Kata Ichikawa dengan bahasa gado-gado nya.
“ Oh ya….let me see, thank you very much.” Sambil menunggu Ichikawa mencari dalam map nya, Datin menanyakan : “ Do you have some others?”
Ichikawa menyodorkan foto official atau foto resmi Pras dan grup saat workshop di Jepang dulu itu dengan latar belakang bendera jepang dan bendera negara peserta dalam ukuran 5 R. Saat mengambil foto tersebut ada yg terjatuh, foto seorang wanita cantik dari barat dengan mata belok. Datin menunjuk sambil menanyakan: “ Haaa….is she your fiance? How beautyfull she is! May I see her picture?”
Ichikawa tersipu malu, sambil menyodorkan foto dimaksud: “ Sure,… Ini fotonya.”
“ What a beautyful lady she is, Ichikawa san! Where is she now? Is she Spanish lady? look……… how beautyfull eyes she has, huh!” komentar Datin.
__ADS_1
“ Alejandra Lopez, she was a project secretary……waktu saya bekerja membuat feseability study developing a new airport in Equador, she is Equadorian.”
“ Ah ya ya ya……You will have beautyful children with beatyful eyes then, and smart like his father! Sure I mean it.” Kata Datin bersemangat.
Ichikawa tersipu, dia menjawab: “ Ya….I thought so, but now I became doubtful since I am falling in love with someone else.”
“ Oh….poor Ichikawa, torn between two lovers. So you have to consider carefully, supaya tidak salah pilih, who suits to you….. take your time, because you’re still young.” kata Datin simpatik, dengan bahasa gado gadonya. Ichikawa memang masih muda, dia sebaya Datin dan lebih tua Datin kira kira 7-8 bulan.
Ichikawa tersenyum lega lepas dari diskusi yg membingungkannya. Dan kemudian mereka janjian mau asistensi lagi besok sambil makan siang di CHK, karena November harus sudah di upload atau diserahkan.
Datin berencana akhir tahun mau ke Semarang sama Bimo, Mila minta dia menghabiskan malam tahun baru di Candi-Semarang dirumah Mila yg besar, bagus dan viewnya sangat indah. Untuk bisa menyaksikan kembang api dari rumah Mila dibukit Candi.
“ Tin, kita jadi ya ber old n new di Candi rumahku, gak usah hotel hotelan, anak kita gak happy kalau pesta begitu. Aku yg orang tua saja bosan. Klo dirumah kan bisa sambil klesetan.” Mila mengingatkan Datin.
“ Insya Allah, Siyaaaap.” Jawab Datin, “ Mau dibawain apa mbak dari Jakarta? Kalau gembus dan koro bacem ya sudah pasti aku bawain nanti dari Yogya, aku apal kelangenandalem (kegemaranmu)! Yg lainnya yg untuk snack tamunya mas Yudis?”
“ Wah lha ya itu mauku, yg lainnya gak penting !”
Yudistira, adalah pebisnis yg cerdas dan sukses, dan terkenal cukup agresif dalam mengembangkan bisnisnya. Usaha lainnya yg cukup sukses adalah rumah makan seafood yg terkenal, Sagara Seafood House.
Sagara baru ada dua, di Semarang yg sudah sekitar 5 tahun, hampir seusia Yasmin, dan satu di Surabaya yg belum ada setahun. Saat akan menggeber pembukaan seafood Sagara diberbagai kota, terkendala karena konsentrasinya terbagi dengan perawatan penyakit Mila.
“ Nanti rencananya mas Yudis Cuma mau mengumpulkan beberapa kolega bisnisnya, yg sebagian kamu juga sudah pada kenal. Hidangan sudah kita boyong saja dari Sagara Seafood. Kita kalau bosan ya nongkrong di Balkon favouritmu saja.”
“ Waduh sungkan gak ya aku nanti dikalangan mereka, jangan jangan jadi sapi ompong nanti aku.” Kata Datin.
Disisi lain Yudistira adalah sosok yg banyak mendapat kepercayaan dari para kolega bisnisnya. Dia sejak mahasiswa aktif berorganisasi, dan pernah menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa.
Pada hari Rabu tanggal 21 Desember 2005 sampai dengan hari Jumat 23 Desember 2005, sebelum Datin mengambil libur akhir Tahun, ada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Canting House yg diselenggarakan di Jakarta.
__ADS_1
Dalam kesimpulannya, keuntungan usaha tahun 2005 lumayan besar, sehingga para pemegang saham mengantongi deviden yg cukup gendut.
Selain itu berdasarkan perkembangan market yg bagus di beberapa negara, target pengembangan CH selanjutnya adalah Paris, Jepang, Sydney dan Inggris. Namun sebelumnya akan dilakukan perhitungan yg lebih detail, diacarakan rapat-rapat khusus dan akan direalisasikan secara bertahap.