
Pada hari Rabu 10 Mei 2006, Datin meluncur ke Salemba untuk mengambil hasil test IQ dan EQ seminggu yl, kali ini tanpa Bimo. Karena Bimo sedang ada acara pesta perpisahan disekolahnya.
Saat psicholognya membacakan hasilnya, Datin meskipun sudah menduga tapi tetap saja mengejutkannya.
“ Ibu, selamat ya bu, putra ibu luar biasa. IQ Bimo meskipun tidak tergolong anak genius tapi kecerdasan otaknya mendekati anak genius dengan IQ 138. Sedangkan kategori genius adalah mulai dari 140 keatas. Sedangkan rata rata anak normal adalah 100-120. Ini perlu penanganan khusus bu, supaya anak tidak kontra produktip menjadi mudah bosan karena yg dihadapi jauh dibawah kemampuannya, atau terlalu mudah.”
“ Alhamdulillah, dia nanti mau saya ikutkan ke program akselerasi disekolahnya. Dan mudah-mudahan saya bisa menemukan pendamping belajar untuk Bimo yg tepat.”jawab Datin
“ Tapi bu yg lebih membanggakan lagi dari Bimo, dia mempunyai kecerdasan emosi yg excelent. Dia ditest dengan pertanyaan pertanyaan lisan yg harus menyempurnakan kalimat dengan waktu terbatas sehingga si anak tidak sempat mengarang kecuali apa yg memang dia rasakan. Semua jawabannya menunjukkan kenyamanan dia sebagai seseorang, juga selalu menyebut nama nama lain sebelum diri sendiri yg menunjukkan sianak ini perduli terhadap lingkungannya, dan kesimpulan lengkapnya ini nanti akan saya lampirkan di hasil testnya. Adapun materi quiz itu menjadi rahasia lab.”
“ Oh alhamdulillah…….” Kata Datin sambil menitikkan air mata karena bahagia dan bersyukur.
“ Sekali lagi selamat ya bu, semoga dengan penanganan yg benar Bimo menjadi seseorang yg membanggakan tidak hanya bagi orang tuanya tapi juga bangsa dan negara ini.”
Pada tanggal 27 Mei 2006, sekitar jam 06.00 kurang sedikit, saat Datin sedang menyiapkan makan pagi, terasa sedikit ada getaran yg menyebabkan lampu gantung kristal diruang duduk nya bergerak. Di lantai 8 apartemennya sedikit terasa ada goyangan. Sedang shock tiba-tiba bel peringatan dari apartemen berbunyi, dan ada perintah melalui loudspeaker di hall tiap lantai kepada seluruh penghuni agar turun pelan pelan lewat tangga darurat. Lift dikunci. Datin pun teriak:
“ Bimoooooo………!!! Ibuuuuuu…..!
Si Bimo yg diteriakin ternyata sudah disamping Datin, ngeliatin Datin sambil ketakutan. Bukannya takut gempa, tapi takut ibunya seperti kesakitan. Tidak pernahnya ibunya histeris seperti ini. Melihat Bimo langsung digendongnya, meskipun sebenarnya Bimo sudah terlalu besar untuk digendong. Tapi karena ketakutan sehingga kekuatan Datin menjadi berlipat. Dia cek kompor sudah mati, kemudian dia memberikan aba aba:
“ Ayo turun lewat tangga……..”
Sesudah mengunci pintu, Bu Parinah, Bimo, Datin dan seluruh penghuni apartemen beriringan turun lewat tangga darurat. Goncangannya terasa lembut, tidak heboh, namun sudah menyebabkan kepanikan para penghuni. Datin menurunkan Bimo:
“ Bimo pegangan ibu yg kenceng dibelakang ibu ya!”
Bimo sudah mulai tenang dan bisa mengikuti jalannya rombongan orang orang tadi menuruni tangga 8 lantai. Sesampai dihalaman luar banyak orang pada duduk di halaman parkir sambil nyelonjorkan-meluruskan kakinya, sambil menenangkan diri, juga bu Parinah yg sangat kelelahan karena usianya. Bimo memeluk leher mbah utinya, berusaha menenangkan mbah uti sambil mau nangis. Datin dan beberapa orang lainnya sibuk mencari tahu.
Goncangan hanya sekali dan hanya beberapa detik. Sesudah itu ditunggu sampai setengah jam lebih tidak terjadi lagi getaran susulan. Kurang dari satu jam, TV di lobby bawah menyiarkan breaking news, bahwa telah terjadi gempa bumi di Yogyakarta dengan kekuatan 5,9 skala R yg pusatnya dari pantai selatan, belum tahu titik pastinya. Yg getarannya bisa dirasakan sampai Jakarta. Namun kerusakan parah terjadi di daerah sebagian besar pantai selatan DIY.
Datin langsung lemes, pastilah ini menghancurkan daerah kehidupan masa kecilnya. “ Bu, hatiku kok gak enak ya. Sepertinya ada sesuatu yg aku gak bisa menjelaskan.” Kata Datin ke ibunya.
Datin meraba saku celana panjangnya, ternyata hp nya ketinggalan. Tidak kebawa.
Setelah satu jam dan dinyatakan aman, penghuni diperbolehkan kembali ke unit masing-masing, dan elevator sudah bisa digunakan.
Sesampai diatas Datin buru-buru ambil HP dan ngebel Proborini. Beberapa kali tidak diangkat. Kemudian ngebel Yudi suami Rini, demikian juga beberapa kali tidak bisa nyambung. Datin mulai panik. Kemudian dia ngebel bu Metayani….. tidak bisa nyambung juga.
“ Bu sebaiknya kita siap siap berangkat ke Yogya, hatiku sudah tidak enak banget. Semua dihubungi tidak bisa nyambung. Bimo ayo mandi dan siap siap kita berangkat ke Yogya.”
“ Marsih tolong aku dipesankan tiket ke Yogya ya untuk 3 orang, segera siang ini.” Instruksinya ke sekretarisnya.
Semua data Datin bertiga sudah tersimpan rapi di HP Marsih dan Susan, sehingga untuk mendadak mendadak begini sudah tidak masalah lagi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian ada telpon masuk.
“ Bagaimana Marsih, ok kan tiketnya? Sekarang Wukir surung meluncur ke Kemang ya.” tanpa nengok siapa yg telpon, Datin langsung nyerocos terus. Ternyata……..
“ Halo…halo Datin???” suara dari seberang.
“Duh siapa sih yg telpon, lagi emergency begini pakai nelpon segala,” batin Datin.
Datin menjepit HP nya dengan dagu dan telinga, karena tangannya sedang bebenah kopor. Sehingga dia gak bisa lihat data si penelpon.
“ Aku Yudis Tin, kamu mau bicara sama siapa?” kata Yudis, ternyata yg telpon Yudis. “ kamu tidak bisa menghubungi Yogya, karena signal seluruh kota zero, ambleg. Yogya rusak parah.”
“ ooooh….bagaimana ini aku… aku…hiks.” Datin tidak bisa menahan emosinya, hatinya kacau.
“ Tenang…tenang Tin, kamu tidak bisa ke Yogya …….”
Belum selesai Yudis bicara telpon apartemen berdering.
“ Mas …mas sebentar aku terima telpon dulu, jangan ditutup.”
“ Ya Sih, bagaimana? Gak ada penerbangan ke Yogya? Bandaranya tutup, bentar Sih jangan ditutup….??” rupanya Marsih menghubungi HP Datin, sibuk, terus telp apartemen.
“ Mas ini aku lagi ngurus tiket, sementara ditutup dulu ya…….” Belum selesai Datin bicara Yudis memotong kalimat Datin: “ Tin, kamu tenang dulu, kamu pesan tiket ke Semarang atau Solo mana saja yg dapat duluan. Nanti segera ngabari dapatnya ke mana, aku jemput disana dan aku antar ke Yogya. Jelas ?, tenang dan jalankan.”
“ Baik bu, ini yg ke Solo masih 3 jam lagi, klo yg ke Semarang ibu gak keburu ke Cengkareng. Ok jadi ke Solo ya. Baik bu, Wukir sudah siap dibawah bu.”
Dalam setengah jam mereka sudah meluncur menuju Halim. Tidak sampai satu jam dia sudah ketemu Marsih di Halim dan sudah di Check-in kan, tinggal drop bagasi.
Mereka sudah duduk di boarding lounge, waktu masih sekitar 1,5 jam lagi untuk boarding. Saat duduk, Datin baru ingat belum ngabari Yudis.
“ Mas, aku dapat penerbangan yg ke Solo, ini satu setengah jam lagi boarding.”
“ OK……kamu yg tenang ya, aku segera meluncur ke Solo, mengatasi masalah jangan grusah grusuh, ingat kamu kepala keluarga sekarang!” Yudis mengingatkan karena Datin seperti kehilangan kontrol, padahal dia bawa anak dan orang tua.
“ Iya, maaf, terimakasih ya mas.” Datin agak malu akan kelakuannya yg kekanak-kanakan.
Tepat jam satu siang, mereka sudah meluncur menuju Yogya. Yudis bersama sopir menjemput Datin menggunakan mobil barunya jenis Toyota Alphard, sehingga cukup longgar.
Disepanjang jalan perasaan Datin sudah tidak karuan. Dia mulai menangis tapi dia tahan takut kedengaran Yudis yg duduk didepan, karena pas mulai masuk wilayah kota Klaten dikiri dan kanan jalan disepanjang jalan Yogya-Solo bangunan hancur roboh, banyak yg rata tanah. Dari ring road mereka langsung menuju wilayah Bantul, ternyata jalan ditutup sedang dilakukan evakuasi dari bangunan- bangunan yg roboh. Kendaraan dari luar tidak boleh masuk.
Bu Parinah yg biasanya sabar dan tenang, bahkan saat kematian suaminya dulu beliau begitu tegar, namun kali ini wajahnya menunjukkan kemasygulannya. Desanya seperti kuburan masal.
Mereka belum pada makan. Sedangkan tidak ada satu warungpun yg buka di Yogya pada waktu itu, apalagi restaurant. Bimo bingung dan tidak nyaman karena semua menunjukkan kepanikan. Bimo sudah besar sekarang, meskipun lapar dan capek dia tidak rewel lagi.
__ADS_1
“ Bimo, maaf ya, kamu pasti kelaparan sekarang, kita pulang ke condong catur dulu, mudah mudahan rumahnya masih ada.” Datin tidak bercanda, karena memang banyak bangunan hancur, juga tadi saat lewat Tirtodipuran, CH Fashion sebagian rusak.
“ Sabar ya Bim, sebentar lagi sampai condong catur, nanti papa Ias cari supermi atau apa yg bisa dimasak.” Hibur Yudis.
Kondisi bangunan yg di pusat kota Yogya sebagian besar masih berdiri kokoh, tidak begitu terdampak termasuk CH Interior. Saat mampir di CH interior-Kotabaru, Datin suruhan satpam nyusul Yanto untuk bawa mobil ditunggu di Condong Catur untuk melayani Datin, karena Yudis mau ke Palagan menengok kondisi ibu Dibyo.
Sesampai di Condong Catur, Datin sedikit lega karena bangunan rumahnya tidak terdampak. Lilis ART yg nunggu rumah condong Catur, menyambut kedatangan Datin dan keluarga dengan gemetar, serta mulai menangis melaporkan kejadian di Tembi: “ Ibu, saya disuruh tetap dirumah nunggu ibu, pak Yudi sama bu Rini sedang ke RS Pugeran, ibu sepuh sedo, ketimpa runtuhan bangunan dan di bawa ke RS itu, bapak Sepuh juga dalam perawatan disitu, tapi tidak parah kata sopir pak Yudi tadi saat ambil baju ganti untuk bapak sepuh.”
“ Mas Praaaas……..!” Datin setengah menjerit mendengar bu Danu meninggal, saat Datin lemas merayap mencari tempat duduk tubuhnya ditangkap Yudis, dipapahnya ketempat duduk.
:” Mas Pras aku gak bisa jaga ibu dengan baik, maafkan aku mas…….” Datin menangis merintih sambil menyandarkan kepalanya kelengan Yudis. Bimo melihat ibunya menangis sudah tidah tahan lagi dia peluk ibunya sambil ikut nangis. Bu Parinah juga seperti shock tidak bisa berbuat banyak.
Yudis bilang ke Lilis, ada makanan apa dirumah, ternyata Lilis sudah nanak nasi, tapi tidak masak karena tidak ada tukang sayur jualan. Hanya persediaan telor saja, dan satu dos indomie yg sudah tinggal separo.
“ Mas Yudis, itu Yanto sudah datang, sebaiknya mas Yudis nengok bu Dibyo dulu. Apa telpon kita sudah bisa bunyi sekarang? Nanti kabar kabaran lagi.”
“ iya bener, Aku tinggal dulu ya Tin nanti aku kesini lagi, jangan lupa perut diisi dulu, juga Bimo itu yg sudah kelaparan. Lilis itu Bimo diurus dulu makannya ya.” Sesudah ngatur ini itu, Yudis pamit ke Palagan yg tidak terlalu jauh dengan Concat.
Sopir Prayudi datang diperintah untuk menyiapkan tempat menyambut kedatangan Jenazah.
Datin sudah pengalaman saat pemakaman Prastowo dulu. Dia suruhan Yanto menghubungi pak RT untuk melaporkan adanya berita duka dan sekaligus menggerakkan karang tarunanya untuk membantu persiapannya.
Dalam waktu satu jam kursi sudah terkumpul dan tertata rapi di halaman juga karpet untuk didalam rumah serta perlengkapan lainnya. Semua sudah rapi dipersiapkan, tinggal menunggu kedatangan jenazah.
Dari Canting House datang bantuan kue dalam dos dan minuman dalam jumlah yg sangat banyak untuk para pelayat. Serta juga sedang disiapkan masakan untuk keluarga dan tamu keluarga, karena Yogya seperti kota mati terpaksa mendatangkan dari Catering di Magelang.
Semua sudah mandi dan ganti baju bersih menunggu jenazah di rumah. Tepat saat adzan magrib jenazah masuk kerumah.
“ Ibu yangti didalam peti ini ya, ibu kok semua- muanya pada pulang, kita nanti juga pulang ya bu?” tanya Bimo, “ dulu bapak, terus mama Ias, terus yangti……” Bimo ngedumel sendiri.
“ Iya Bim, semua pada akhirnya akan pulang kerumah Allah SWT di Surga sana. Bimo kan sering ngobrol sama bapak kan, tapi kita tidak tahu kapan akan pulangnya. Nanti semua ketemu lagi disana.” Jawab Datin.
“ Ayo Bimo, sholat magrib langsung sholat jenazah.”
Semua keluarga berkumpul dirumah Datin, juga kolega Pras dari kampus, Direktur dan komisaris Canting House Yogya dan BN yg diwakili pak Wibisono dan bu Metayani.
“ Sekarang komunikasi sudah jalan lagi, beberapa BTS langsung sudah dibenahi.” kata Rini.
“ Mbak tadi ibu kondisi jazadnya seperti apa? Apakah sampai remuk to mbak?” tanya Datin.
“ Enggak, sebenarnya ibu itu kepala bagian belakangnya yg ketimpa kusen saat duduk di Mushola. Memar saja, tapi gegar otak lah ya. Tapi tidak mengerikan jazadnya. Bapak lecet sedikit, tapi kagetnya itu yg ngaruh ke jantung. Sekarang biar di rumahku dulu saja, biar istirahat. Disini terlalu banyak orang nanti gak bisa sare.” Kata Proborini
Rumah Proborini ada disebelah rumah Datin hanya terpisah oleh jalan lingkungan. Jadi sama sama rumah sudut.
__ADS_1