Canting

Canting
Episode 51


__ADS_3

Pada bulan Mart itu juga Datin dan Buntas jadi melakukan penjelasan pekerjaan ke kontraktor, dan kemudian pembangunan rumah Manding pun segera dimulai sesuai rencana pada awal April 2007. Perkiraan selesai pembangunannya paling cepat akhir oktober atau awal November 2007.


Hampir setiap bulan Datin balik ke Yogya untuk mengecek kemajuan pekerjaan pembangunan rumahnya. Dan saat pengecekan hampir selalu berdua Buntas. Kadang tidak bermalam, hanya tolak saja, pergi pagi pulang sore.


Kegiatan Datin memantau pembangunan rumahnya tersebut dia lakukan ditengah-tengah kesibukan pekerjaannya.


Pada hari Senin 4 Juni 2007, Datin bersama Susan dan seorang document specialist CHK menghabiskan waktu hampir separo hari dari pagi sampai siang menyiapkan dokumen pengiriman kain batik untuk wall paper dan bahan batik untuk upholstery kursi rapat sebuah function hall Hotel di Nice Cote d’azur- Perancis. Setelah itu mereka ke showroom lantai 3 dan 4 untuk mengambil foto sampel bahan sebagai lampiran dokumen.


Saat menuju lantai 3 Datin disamperin Marsih sekretarisnya yg memberitahukan bahwa ada tamu yg mencari Datin, tapi karena dijawab kalau Datin lagi sibuk, maka dia bersedia menunggu sampai selesai. Orangnya sedang di lantai 3 melihat lihat bahan bahan untuk interior yg di pajang.


Datin melihat beberapa tamu yg memang sedang melihat lihat di showroom tersebut, namun ada yg mencolok perhatiannya yaitu seorang wanita cantik hampir mirip Nadin Candrawinata memakai dress simpel setinggi lutut warna hitam polos tanpa lengan, yg sangat kontras dengan warna kulitnya yg putih bersih. Dia sedang terpaku melihat sofa dangan upholstery batik hijau lumut. Kemudian Marsih menunjuk bahwa orang tsb yg mencarinya.


“ Siapa Sih namanya dan dari mana?” tanya Datin ke Marsih.


“ Namanya Marion dari Jerman katanya.” Jawab Marsih.


Deg! Datin sangat terkejut kedatangan Marion tanpa memberi kabar sebelumnya, dan tanpa disertai Buntas. Dan setahu Datin saat ini Buntas sedang ada di Singapore selama 2 minggu.


“ Ok baik, tks ya Sih, tak samperin aja. Tolong bilangin bu Susan kerjaan dilanjutkan aja toh tinggal foto-foto sampel, aku ada tamu.” Kata Datin sambil nyamperin Marion.


“ Hallo, saya Datin, anda Marion?”


Yg disapa kaget dan menatap Datin dengan pandangan tajam dari bawah sampai atas, kemudian tersenyum dan menjawab:


“ Hallo nice to meet you Datin, ya saya Marion, maaf saya speak bahasa sedikit sedikit, but it’s Ok.”


“ Well let’s speak english then, I thing it’s better we chat in my room, it will be more comfortable.”


“ Ok, thank’s, kita speak bahasa saja, saya ingin melancarkan. But karena saya masih belajar dan belum lancar, so please correct me if I am mistaken.”


Marion mengikuti Datin keruangannya dilantai 2.


“ Mau minum apa? what would you like to drink Marion, tea or coffee or colla?”


“ Tea please, teh panas saja no sugar, thank’s.”

__ADS_1


Kemudian Datin mesan teh 2 cangkir berikut poci nya dengan gula dipisah seperti biasa, karena tidak semua tamu suka teh manis.


“ So……I am verry glad to see you, finally I can meet you. But what a pity Buntas doesn’t come with you.”


“ Yes, I have been here without him knowing on purpose.”


“ Really? Why? What’s wrong with him?” tanya Datin ingin tahu banget, dan mulai kurang nyaman.


“ Ya, maaf………….” Marion terdiam sambil menatap lantai dengan pandangan kosong. Datin menunggu penjelasan Marion, Kemudian Marion melanjutkan:


“ I have to apologize to you before, maybe it will make you feel uncomfort.” Marion berhenti lagi, memandang Datin dengan tersenyum tipis serta melanjutkan bicara: “ I wanna ask you something that bother me, it is rather delicate matter, but please do not be offended. Please Datin, saya benar benar minta maaf dan minta waktumu.”


“ Sure, what would you like to know from me? So please do not hasitate. Silahkan…. …take your time.” Jawab Datin dengan tetap tenang dan ramah, dia sudah mulai bisa menduga bahwa pasti ada kesalah pahaman.


Marion mulai agak nyaman dengan keramahan Datin. Dia mulai tenang, dia mengamati penampilan Datin, busana Datin yg perfect, bisa menilai bahwa Datin bukanlah orang sembarangan.


Marion menarik nafas panjang dan memulai berbicara lagi: “ Sorry, I’ll try to deliver in bahasa, saya coba ya. Pertama, saya perkenalkan diri saya dulu, saya Marion, Dipto’s fiance. Meskipun Datin sudah tahu ya, hahahaha……..”


“ Well,…… maksud saya, sebelum ngobrol it is better we’ve already known each other, wright? Dan saya juga sudah tahu siapa Datin, karena Dipto pernah menceritakan kepada saya setelah ketemu Datin di Paris last year.” sambungnya.


“ I know your address and CHK phone number from booklet that has been delivered for Heritage exibition last year.”


Karena Datin merasa prolog Marion sudah cukup panjang, dan didorong segera ingin tahu pasti tentang hal yg mengganggu pikiran Marion, maka Datin memotong prolog Marion dg pertanyaan:


“ I wonder what matter that makes you feel bothered actually?”


“ Well, maybe you’ve already known, kalau Dipto dan saya……..sedang ada masalah mengenai dimana kami nanti akan hidup, we are still trying to find a solution. But,……..tiba-tiba saya dengar Dipto feel desperate, dan……..tiba-tiba lagi saya mendengar, Datin and Dipto are getting married?, akan menikah? Is that true kabar ini Datin?” Marion memaparkan dengan runut tentang hal yg memenuhi kepalanya itu. Kemudian dia melanjutkan:


“ Rumors you know! It is rumors, but it is very annoying. And then saya putuskan utk menanyakan dan mendengarkan sendiri penjelasan dari the first party, dari Datin. That is why I came here witout prior notice and I didn’t tell Dipto on purpose. Saya menghidari bertanya ke Dipto, saya lelah always argue with him.”


“ Wouw…..oh wouw, …… Oh my gosh, how poor I am! And how poor Dipto is! Kasihan sekali saya ini dan juga Dipto, mengapa sampai kamu bisa percaya berita ini tanpa konfirmasi dulu dengan orang yg kamu cintai, Dipto. You love him, don’t you?......but You trust other people more than your own lover.” Kata Datin menampakkan ekspresi wajah yg kecewa.


“ I am sorry, saya benar benar bingung, desperate, saat saya sedang memikirkan untuk mengikuti permintaannya moving ke Indonesia, I heard such kind of rumor which drive me crazy. I love him of cource, I do love him.” Marion menjelaskan sambil matanya berkaca-kaca.


“ Let me tell you. there is no merriage between us, Dipto and I. Tidak ada pernikahan dan tidak akan terjadi pernikahan diantara saya dan Dipto. We are best friend not lover!. You can trust me!”……….. Datin menegaskan, dan kemudian dia lanjutkan:

__ADS_1


“ Dipto is very excited about his new job and new office in Singapore, and I know from him that he will incharge for Jakarta office. He has a great network here in Asia and a great future.” Kata Datin


“ I don’t understand why do you hesitate to move here in Asia, kamu akan pergi dengan calon suamimu yg luar biasa hebat, mengapa kamu meragukannya, mengapa kamu tidak yakin akan bahagia bersamanya? You love each other, don’t you? and as I know Dipto is very much adore you.”


“ Dipto has helped me a lot, he’s made the design of my house in my village, and now the construction is on going progress. Almost every month Dipto and I visit on that project. You can also go there with us sometimes, if you want. Yes he does help me a lot!”


“ Oh….I am very sorry, but I am relieved now. Terimakasih Datin sudah menjelaskan yg sebenarnya. Thank you………how stupid I was, yg saya dengar, Dipto sedang membangun rumah untuk tinggal bersama Datin.” Kata Marion menyesali.


Akhirnya mereka menjadi ngobrol santai, dan Marion merasakan kenyamanan mendengar sendiri penjelasan Datin. :


“ Datin, I apologize for this inconvenience, but saya membutuhkan kebenaran ini untuk mengambil keputusan kedepannya, everything is clear now. Dan sekali lagi saya minta maaf, I’ve disturbed you in the midst of your busy schedule.”


“ Ok forget it, I do not want to know the guy who told you such kind of rumors that make you so upset, I really do not care. Yg penting kamu sudah tahu sendiri kebenarannya dari saya, it is much more important.” Jawab Datin.


“ Thank’s a lot Datin, I appreciaate it.”


Mereka kemudian berpelukan, sebelum pamit Marion sempat menyatakan ketertarikannya dengan bahan bahan interior koleksi CHK.


“ Datin, boleh aku main kemari sometimes?, I am interested dengan koleksi bahan bahan interior mu, it is really magnificent.“


“Sure,………my pleasure!” jawab Datin.


Melihat sendiri bahwa sebenarnya Marion sangat mencintai Buntas, dan mau berkorban untuk mengikuti Buntas ke Asia, Indonesia, dan Buntas sendiri pernah cerita kalau dia mengagumi Marion, maka tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak bersatu. Sejak saat ini Datin mulai berfikir, bahwa bukan Buntaslah masa depannya. Dia harus tegas terhadap Buntas, yg kadang kadang menyindir-nyindir, atau mancing-mancing tentang kemungkinan mereka bisa bersatu kembali. Tapi jawaban Datin selama ini sudah on the track, belum memberi kesempatan, dan akan menjadi tidak memberi kesempatan. Selain itu Datin sudah semakin nyaman dengan sosok Yudistira.


“ Hedeh ….hedeh….habis sepenggal hariku ngurusin londo bingung-londo cembokur, padahal rencana mau beliin kado untuk ulang tahun Bimo. Ya sudahlah, yg penting kesalah pahaman bisa dijernihkan. Pasangan yg tidak muda lagi tapi masih udrek yg gak jelas. Ternyata Marionnya mau mempertimbangkan untuk pindah, tidak stubborn seperti yg Buntas bilang.” Kata Datin menjawab pertanyaan Susan, yg merasa heran mengapa londonya pakai nangis segala.


“ Cantik ya bu tungangannya pak Dipto, pasangan sudah serasi begitu kok ya ada saja masalahnya. Kurang apa coba ?” kata Susan.


“ Kurang akur! Hehehehe…….mereka itu seperti dua matahari, selama gak ada yg ngalah ya bakal udrek terus. Sama ini ……kurang percaya pasangan!” kata Datin…..tiba tiba Datin ingat sesuatu:


“ Bu Susan, aku bicara sebagai sahabat ya, ayo bu Susan, mulai mikir kebahagiaan diri sendiri sekarang! Tidak baik memendam dendam masa lalu. Nantinya berbalik merusak diri kita sendiri. Coba, mulailah dengan memaafkan, kemudiaan ikhlaskan dan senyumlah pada dunia………., believe me, hidup akan menjadi lebih mudah.”


“ Hehehehehe………aamiin, semoga takdir baik segera mendekatiku.” Kata Susan. Kemudian Susan membisikkan ke Datin:


“ Mohon doa nya, aku dilamar pak Suwandi, saya bahagia, ya itu tadi mengapa kok ada yg belum pas, mungkin belum bisa move on!”

__ADS_1


“ Oh……alhamdulillah, aku ikut senang bu! ayo……mulailah dengan memaafkan diri sendiri dulu, kemudian memaafkan dan mengikhlaskan orang-orang yg sempat membuat kita mandeg! Insya Allah dilancarkan semuanya. Aku dukung bu!”


Susan tidak bisa menahan haru atas ketulusan atasannya ini, yg selalu membuka kedua tangannya untuknya. Kebetulan tinggal mereka satu flat, hanya beda lantai. Susan dilantai 6 yg type stodio. Mereka sering ngrumpi ngopi bareng dibawah kalau senggang. Susan memeluk Datin dan tidak terasa air mata bahagianya meleleh.


__ADS_2