Canting

Canting
Episode 12


__ADS_3

Pada akhir Mei 1999, pak Danu didampingi Prayudi dan Proborini, bersama Prastowo tentunya, dan tanpa ibu Danu, datang kerumah Datin di Manding untuk melamar. Dirumah sudah disambut ibunya Datin didampingi adiknya almarhum pak Marto yg jadi Dukuh disitu.


Suasana lamaran meskipun sangat sederhana namun sangatlah hidmat dan akrab. Bahkan pak Danu yg ternyata orangnya memang suka bercanda, jauh dari bayangan bu Parinah dan Datin, sering melontarkan godaan ke putranya mengenai ketidak sabaran Pras untuk menyunting sang Kembang Desa ini.


Beliau memamitkan bu Danu tidak bisa hadir karena baru pemulihan dari sakit Typhus, yg katanya nanti konsentrasi untuk saat pernikahan saja.


Kondisi bu Danu yg sebenarnya adalah masih kaget dengan perkembangan yg ada. Ternyata semua meleset dari rencana dan harapan beliau. Bahwa Ami, sang keponakan yg dia amankan dirumah untuk calon pendamping Pras, diam diam menjalin cinta dengan sahabat Pras, Darto. Hal tsb luput dari pengamatan beliau bahwa ternyata sahabat putranya yg bebas keluar masuk rumah Pras, dan sudah dianggap seperti putranya sendiri ini mencuri hati calon menantu harapannya. Adapun Pras, maupun Datin sangat pandai dan sabar menahan diri sehingga tidak disadari bahwa hambatan bu Danu untuk hubungan mereka itu malah menjadi rabuk penyubur cinta mereka. Dan puncak kegagetannya adalah restu suaminya, KRT Danu Sutaryo, untuk hubumgan Pras dan Datin.


Bu Danu terpaksa menerima keputusan tsb karena sepertinya semuanya bahagia dengan hal tsb.


Pernikahan dilangsungkan tahun yg sama, pada bulan Agustus 1999 secara sederhana. Pernikahan dilangsungkan dirumah Prastowo yg hanya dihadiri saudara dan kerabat dekat kedua keluarga dan sahabat kedua mempelai. Kain Sida Mukti jadi dipakai untuk seragam keluarga pada upacara pernikahan Pras tersebut.


Prastowo kelihatan terpesona sekali dengan istrinya. Perias pengantin terbaik di Yogya didatangkan untuk menyulap Datin, yg pada dasarnya memang sudah cantik. Sekarang di rias menjadi sangat manglingi, kalau orang jawa bilang, yg artinya orang sampai tidak mengenali dalam konotasi positip karena saking cantiknya.


“ Ini, perasaan acaranya kok lamaaa banget ya? Aku segera pingin istirahat nih.” Bisik Pras ke Datin sambil melirik mesra dan senyum menggoda ke istrinya.


“ Iya nih, aku juga sudah ditunggu tukang urut dikamar. Mbak Rini memang baik banget, pengertian, karena dia tahu aku kecapekan, kemarin kan ikut sibuk ngurus persiapannya, terus dia bawain tukang urutnya.” Jawab Datin dengan muka lempeng serius.


“ Hah! …….yg bener Tin??? Duuuh….. ada ada saja mbak Rini itu.” Jawab Pras kesel.


Datin tidak bisa menahan geli, dia ketawa sambil menutupi mulutnya, namun dia segera kembali lagi serius karena didepannya sudah banyak para dosen, teman Pras, yg akan kasi selamat.


“ Wah bahagia banget nih pengantin sejoli ini, dari tadi mesra bercanda terus, jadi pingin ngikut nih!” kata temannya. “ Selamat ya bro!”


“ Terimakasih!, Ya…. makanya segera nyusul! Kebahagiaan kok ditunda-tunda!” jawab Pras.

__ADS_1


Sebagai hadiah pernikahan Prastowo, pak Danu membelikan rumah di Condong Catur satu komplek dan dekat dengan rumah Prayudi, yg juga merupakan hadiah pernikahannya Prayudi dari pak Danu waktu.


Bu Danu pesan sama Datin: “ Nduk cah ayu, meskipun sudah ada rumah untuk kalian, kamu kan tidak keberatan tinggal disini nemani kita to? Rumah segini besar dengan kamar banyak nanti jadi suwung (jw: kosong), lagian siapa yg bantu aku ngurus toko batik ini.”


Datin tidak keberatan tapi dia manut apa keputusan suaminya. Datin tidak menaruh dendam sama ibu Danu, karena sepertinya bu Danu sudah pasrah dan menerima keadaan dengan ikhlas.


Semula Pras menjaga perasaan Datin dengan ingin memboyong istrinya kerumah barunya tsb. Namun Datin memberikan masukan ke Pras dengan hati hati: “ Bagaimana kalau untuk sementara kita tinggal dirumah keluarga ini dulu, supaya hati ibu tidak patah, terkesan kita mbaleleo. Nanti kalau kita sudah bisa mencarikan orang yg tepat untuk membantu bisnisnya ibu disini baru kita pindah, begitu mas?.”


Akhirnya Pras dengan Datin tinggal di Tembi. Setiap hari sesudah menemani Pras sarapan dan melayani sampai Pras berangkat ke kampus baru Datin standby di pendopo, menemani Ami. Ami akan menikah sesudah iedul fitri th 2000, sekitar awal februari, jadi masih sekitar 3 bulan lagi Ami tinggal di Tembi, karena bulan puasa dia sudah harus balik ke Purwokerto.


Pagi ini pak Danu bersama ibu baru saja berangkat melayat kerabatnya di Solo. Bu Danu berpesan kalau mungkin sore baru mereka tiba, jadi tidak usah ditunggu makan siang.


Datin cepat akrab dengan Ami. Saat mereka berkesempatan ngobrol berdua sambil duduk di amben, Ami memegang telapak tangan Datin dan bicara:


“ Tin, doakan nasibku bisa secemerlang kamu ya!”, Ami berbicara sambil matanya berkaca-kaca.


Sambil menarik nafas, dan tersenyum Ami bilang: “ Ya….aku akan berusaha mencintai mas Darto dengan segenap hatiku.”


“ Lho…??? Kamu sudah mau nikah dalam waktu dekat ini masa kamu gak yakin?” tanya Datin. Datin mulai bertanya tanya ada apa sebenarnya yg sedang mengacaukan pikiran Ami ini. Ami, gadis Jawa yg cantik, dengan bulu mata lentik dan berwajah lembut sayu. Dengan rasa ingin tahu Datin melanjutkan bertanya: “ sebenarnya apa yg mengganggu pikiranmu sehingga kamu tampak ragu ragu?”


Ami memeluk Datin sambil terisak, “ Maaf kan aku ya Tin, seharusnya aku tidak mengatakan ini ke kamu. Tapi aku tahu kamu akan memaafkan aku, karena sejak aku kenal kamu lebih dekat, aku tahu mengapa mas Pras sangat mencintai dirimu, karena kamu itu orangnya tulus dan bijaksana serta ngayomi. Tiap ada didekatmu orang merasa adem tenang.”


Datin mulai bisa mengira-ira penyebab kegundahan Ami. Datin dengan bijak memberikan waktu Ami untuk bisa meluapkan uneg-uneg didadanya. Dengan lembut Datin berkata sambil mengelus punggung Ami: “ Ami…..apakah kamu mencintai Prastowo?”


Ami sambil masih dalam pelukan Datin dan kepalanya ada di bahu Datin, mengangguk dan mengatakan: “ Iya,……. semula iya.”

__ADS_1


Kemudian Ami menarik dirinya dari pelukan Datin, sambil menatap Datin dia melanjutkan bicara: “ Tapi….., kamu jangan salah mengerti dulu ya Tin. Aku jujur, bahwa aku ikhlas dan senang mas Pras menikahi kamu, dengan orang yg aku bisa dengan lepas dan percaya untuk menceritakan segala hal kepadanya.”


“ Yang aku tahu,….. bu Danu dulu sangat ingin punya menantu sesuai pilihannya, yg setahuku pada waktu itu bukan akulah orangnya. Kemudian aku mendengar dari almarhum bapakku bahwa bu Danu telah memboyong calon mantunya kerumah sambil menunggu mas Pras selesai kuliah. Itu sudah lama sekali sejak aku baru masuk kuliah, ya kira kira 5 th yl. Aku sendiripun sudah pasrahkan ini semua ke Yg Diatas, kupersiapkan mentalku untuk hal terburuk yg akan terjadi diantara kita, tapi mas Pras sendiri tidak pernah bicara apapun kepadaku. Sampai suatu saat yg kamu tahu dan menyaksikan sendiri, dia melamarku sesudah kembali dari makam bapakku tempo hari.” Papar Datin, dan kemudian dia lanjutkan: “ Selama itu lho, 5 tahun kedekatan kalian, aku tidak tahu dan tidak ingin tahu perkembangan hubungan kalian. Dan terakhir yg aku tahu kamu pacaran sama mas Darto, sahabat mas Pras yg lembut dan pemalu itu.” Sampai disitu Datin berhenti bicara menunggu reaksi Ami.


“ Aku berterus terang kepadamu, karena kamu berhak tahu, supaya tidak ada kecurigaan diantara kita ya Tin. Aku takut kehilangan teman sebaik kamu.” Kata Ami, kemudian sambil menghela nafas panjang Ami meneruskan bicara :


“ Pada waktu itu, selesai aku mengambil kursus manajemen akuntansi, bude datang dan bilang ke orangtuaku untuk mengajak aku membantu bekerja di toko beliau di Yogya. Selama saya di Yogya, bude selalu menceritakan ke aku tentang apa yg disukai dan tidak disukai mas Pras, bude mengajari aku tata cara dirumah ini dan juga membangunkan mas Pras tiap pagi sambil menyiapkan minumnya. Aku dipersiapkan untuk mendampingi dan menjadi istri mas Pras. Aku menurut apa kata bude, karena jujur bahwa semakin hari tumbuh rasa cintaku ke mas Pras.” …..sampai disini, air mata Ami sudah mulai mengucur, Datin mengambilkan kotak tisue dan menyorongkan ke Ami, dan kemudian Ami melanjutkan:


“ Sampai pada suatu hari, sekitar sudah 2 tahun aku berada di rumah ini, bude menyuruh mas Pras ngantar aku ke Klaten mengambil pesanan kain jumputan. Pada kesempatan itu, mas Pras menanyakan kepadaku apakah aku sudah punya pacar belum. Aku salah sangka, aku sangat bahagia saat itu bahwa aku kira mas Pras akan menyatakan cintanya kepadaku.


Tapi kebahagiaan itu tidak lama karena mas Pras bilang kalau dia akan mengenalkan aku ke seseorang. Aku terdiam, heran apakah mas Pras tidak tahu kalau aku itu dipersiapkan untuknya. Aku tidak mengiyakan tapi tidak menolak juga, aku kaget mengapa perkembangannya begini, mengapa mas Pras tidak dikasi tahu bude sebelumnya, mengapa aku sampai terlanjur mencintai mas Pras.


Sesampai dirumah, aku menangis dikamar, dan aku minggu depannya pamit bude pulang ke Purwokerto kangen dan pingin nengok ibu sama bapak. Karena beliau tidak bisa sewaktu-waktu ke Yogya, bapak masih dinas sebagai kepala dinas LLD di Purwokerto. Memang biasanya setiap 4 atau 6 bulan sekali aku pulang ke Purwokerto, kira kira seminggu dirumah terus balik ke Yogya lagi. Tapi aku berfikir, untuk apa lagi aku balik ke Yogya, toh sudah tidak ada yg aku tunggu lagi disini.


Belum sampai seminggu, mas Pras datang sama temannya, mas Darto. Mau menjemput saya balik ke Yogya. Mereka menginap dirumah 2 malam sambil ngajak saya main ke Baturaden dan tempat wisata lainnya. Sejenak aku melupakan kesedihanku, dan gembira bersama candaan mereka, dan aku terkesan sama mas Darto yg sangat dewasa, bijaksana dan berhati hati kalau bicara, beda sama mas Pras yg memang suka bercanda. Dan orang tuaku pun terkesan dengan mas Darto.


Akhirnya aku ikut balik ke Yogya bersama mereka, pakai mobilnya mas Darto. Sampai saya kenal kamu saat mas Pras mau pergi ke Inggris waktu itu. Selama mas Pras ke Inggris, mas Darto sering main ke Tembi, main gitar sambil ngoprek peralatan vidiografi dan fotografinya mas Pras, yg kata bude sudah biasa mas Darto begitu, sudah seperti putra sendiri. Disela sela itu kita mencuri waktu ngobrol di showroom, dan kami boleh dibilang mulai pacaran.


Sampai suatu saat saya pas ke Purwokerto, mas Darto Datang, dan melamar langsung ke orang tuaku, dan janji segera akan membawa orangtuanya ke Purwokerto. Sejenak aku bahagia melihat kedua orangtuaku berbunga-bunga bahagia, tapi ada sesuatu yg tertinggal dihati ini kok belum bisa mencintai mas Darto sepenuh hati. Meskipun sebagai laki laki mas Darto adalah ideal, postur menunjang-galant kata orang, dewasa, bijaksana, ngemong dan masa depannya bagus. Yaaa….sosok idaman lah.


Dan pada saat kami bertiga bersama mas Darto dan mas Pras datang menemuimu kemakam waktu itu, aku, mas Darto, dan kedua orang tua mas Darto baru saja balik ke Yogya dari Puwokerto, lamaran.”


Sampai sebatas itu Ami menceritakan kronologi nya, Datin termangu tidak tahu harus bilang apa. Yg jelas sekarang dia tahu perasaan Ami ke suaminya. Jadi dia tidak bisa sembarangan umbar kemesraan seperti yg Pras lakukan sehari harinya ke Datin didepan siapapun. Setidaknya 3 bulan kedepan ini harus menahan diri sedikit. Kemudian Datin kaget saat Ami kembali memeluknya sambil mengatakan:


“ Saya sekarang merasa lega, mas Pras sudah berada ditangan yg benar dan baiiiik. Aku sendiri heran mengapa aku sangat mempercayaimu bahwa kamulah orang yg tepat untuk mas Pras. Kalian berhak bahagia atas kesabaran dan keyakinan cinta kalian. Aku sudah mendengar sedikit tentang perlakuan bude kepadamu dulu. Dan dengan kesabaran kalian, bude bisa berobah, menaruh hormat kepada kalian berdua. “

__ADS_1


Datin membalas pelukan Ami, sambil menitikkan air mata. Datin berfikir, bahwa ini merupakan sisi negatif dari jalan fikiran feodal yg banyak memakan korban perasaan orang, warisan budaya yg tidak perlu dipertahankan.


__ADS_2