Canting

Canting
Episode 49


__ADS_3

Hari Rabu 10 Januari 2007, Datin dipanggil kesekolah Bimo untuk penjelasan awal saat masuk ke kelas 2. Pelajaran baru berjalan seminggu, menurut gurunya sejauh ini Bimo bisa melalui tanpa kesulitan.


Barli, pendamping Bimo dari Tunas Bangsa juga datang ikut mendengarkan untuk penyelarasan. Barli akan datang 2 x seminggu, dan bilamana diperlukan kalau ada hal-hal yg khusus bisa ada extra kunjungan, atau dengan menelpon.


Secara periodik ada pertemuan dengan orang tua atau wali anak di Tunas Bangsa (TB) ini untuk laporan dan saran tindak kepada si anak. Rencana sepulang dari Labschool akan langsung ke Barito, kantor Tunas Bangsa. Datin menunggu Susan yg sedang memastikan pengiriman bahan-bahan di EMKL Tanjung Priok, karena tadi perginya bareng satu mobil dan ngedrop Datin ke Rawamangun terlebih dahulu.


Sesampai di Barito mereka berdua turun dan masuk, Datin menemui team evaluasi bimbingan TB, sedangkan Susan menunggu di ruang tamu. Pada saat menunggu tiba tiba bos TB, Suwandi, keluar mengantar keluar tamunya orang jepang mau pulang.


Bos TB melihat Susan kemudian menghampiri, “ Ada yg bisa kami bantu bu, nama saya Suwandi?” dia mengira Susan mau konsultasi, dan dia mengenalkan diri.


“ Ah…tidak pak, saya menunggu bos saya sedang didalam, saya menunggu disini, terimakasih, nama saya Susan.” Jawab Susan


Tapi Suwandi ini tidak segera masuk keruangannya, tapi memandangi Susan seperti sudah mengenal. “ Sebentar, mohon maaf sebelumnya kalau salah, tapi saya seperti pernah mengenal anda. Apakah anda dulu tinggal di Surabaya?”


“ Iya benar, orang tua saya.”


“ Di jl. WR Supratman?”


“ Iya benar, kok anda tahu ya?”


“ Ah….anda Susan kecil, putrinya pak Kowara, sebelah rumah, nomor 11, aku no 9.”


“ Oh anda koh Swan ya, ya ampun kok bisa ketemu disini, dulu seingat aku sehabis koko married terus pindah ke Jepang ya?”


“ Ah iya, kamu masih remaja dulu itu, suka latihan band digarasi rumahmu sampai suaranya bikin kaca rumahku pecah, hahahaha….!”


“ Ih koko masih ingat ya? Malu aku kalau ingat jaman pecicilan. Putranya berapa sekarang koh, ci’ Lani sehat sehat saja kan?”


Suwandi langsung terdiam sebentar, baru kemudian menjawab: “ Anak saya satu, laki laki umur 12 tahun, istri saya meninggal 4 tahun lalu karena penyakit lupus. Aku juga baru tahu ada penyakit aneh yg mematikan begitu.” Katanya agak sedih.” Ayo ditunggu diruanganku saja yuk.”


“ Sebentar, aku takut bu Datin mencari saya. By the way, aku ikut prihatin koh, mendengarnya!”


“Sebentar, aku bilangin coach nya dulu kalau ditunggu diruanganku. Biar kalau sudah selesai langsung diantar keruanganku. Aku pingin ngobrol dulu sama tetangga kecilku.”


Sesudah kasi tahu stafnya, Susan keruang Suwandi. Ruangannya diatur dengan furniture dan perlengkapan modern. Dilengkapi pantry kecil ada kulkas, microwave dan coffee maker. Ada sofa tamunya yg cukup nyaman meskipun ruangannya kecil dan TV 48”


“ Kamu anaknya berapa sekarang dan suamimu kerja dimana?”


“ Ah…..cerita saya tidak menarik koh, aku belum married, apalagi punya anak.”


Suwandi mengkerutkan keningnya, dia pikir wanita secantik Susan dan berpenampilan sangat menarik, dan seingat dia masa remajanya dia saja sudah banyak yg naksir, yg ngapel banyak, kok bisanya belum menikah. Pasti usianya sudah diatas 30an. Tapi dia tidak berniat menanyakan lebih lanjut.


“ Kamu tinggal dimana sekarang, boleh minta nomor telponmu dan alamatmu? Aku tinggal di Kedoya. Ini kartu namaku ya.” kata Suwandi sambil menyodorkan kartu nama.

__ADS_1


“ Aku sementara tinggal diapartemen The Mansion@Kemang, ini kartu namaku.”


Tidak begitu lama terdengar pintu diketuk dan muncul Datin bersama coach yg mengantarnya.


“ Oh silakan bu Rudatin! Bagaimana bu Bimo? Everything going on the road? Saya lihat Bimo itu social behaviornya bagus bu, cerdas tapi berjiwa sosial. I am proud of him!” kata Suwandi.


“ Ya begitulah pak, makanya saya percayakan Bimo ketangan yg benar supaya berkembang sesuai harapan.” Jawab Datin.


“ We will do our best bu.”


Setelah berbasa basi sebentar, mereka pamit pulang sesudah sempat ngopi bikinan Suwandi sendiri.


Diperjalanan berdua ngobrol menceritakan bahwa Suwandi adalah CEO Tunas Bangsa yg berpartner dengan orang Jepang. Dia pria 40 tahunan.


Sesampai di CHK, Marsih memberi tahu kalau dimeja ada surat dari HIPMI Pusat, tentang undangan untuk mengisi acara sebagai salah satu nara sumber dalam acara pembekalan para anggota baru hipmi.


Datin disini sebagai anggta HIPMI DKI yg sudah gabung sejak CHK berdiri, sebelumnya dia anggota HIPMI Yogya sejak tahun 2000. Bisnis CH ini dianggap sukses dibawah komando Datin, dan karena hal tbs Datin diminta memberikan sharingnya kepada para anggota baru. Usulan tersebut mengemuka saat seringnya Datin terlibat satu acara dengan para pengurus HIPMI dan yg sudah mengenal baik dirinya.


Acara diselenggarakan pada bulan Mart tgl 5 s/d 7, 2007, di Hotel Mulia Senayan.


Seminggu menjelang acara, Datin ditelpon Yudis memberitahukan bahwa Seno akan ikut pada acara tersebut sebagai peserta. Adiknya ini kan mewarisi salah satu usaha bapaknya dibidang real estate. Nanti kalau waktunya pas dia akan mampir dan hadir menengok acara tsb. Kebetulan dia ada urusan ke Singapore Senin besok, pulangnya akan mampir dan sekalian silaturahmi dengan penyelenggara yg kebanyakan adalah koleganya.


“ Hallo Tin, mudah mudahan waktuku pas ya bisa melihat Sri Rudatin SE MBA sebagai pemrasaran.”canda Yudis.


“ Wah gitu ya mas, tapi sayang aku sudah membatalkan acaraku untuk minggu depan ini lho.“


“ Aku batalin karena ada inspektur dari Kadin Jateng, jadi agak ngeri.” Kata Datin bercanda.


“ Ah…aku kira beneran! Hari apa sih jadwalmu?”


“ Hari ke dua Selasa 6 Mart jam 13.30 sehabis isoma (istirahat, sholat, makan), jadi aku kebagian menina-bobok kan peserta. Pastilah pada ngantuk.”


“ Panitia pinter, pemrasaran cantik harus diplot sesudah isoma, biar untuk penyegaran, obat ngantuk.” Kata Yudis


“ Hiii-ich bisa aja bapak ini.”


Tiba tiba Marsih masuk………..” Bu ada pak Dipto di Lobby.”


Yudis mendengar dari seberang sana, kemudian mengakhiri pembicaraannya. “ Ada tamu ya Tin? Ya sudahlah, cu next week.”


Hmm…. akhir akhir ini Pradipto alias Buntas semakin sering berkunjung, asistensi gambarlah, atau sekedar nostalgialah, apa yg mereka bicarakan?, masa hanya sekedar konsultasi gambar saja?…….batin Yudis mulai kepo.


“ Tin, ini hasil revisi design dari dua kali pembicaraan kita minggu lalu dan sebelumnya. Mudah mudahan kali ini sudah sesuai dengan kemauan pemberi tugas ya. Paling tidak mendekati, dan kalau masih ada koreksi tinggal dilakukan di lapangan sambil jalan saja.” Kata Buntas

__ADS_1


Begitu melihat gambar prarencana yg sudah dalam bentuk CAD disertai image perspektif dari rumah tsb, Datin menjadi terbungkam, terharu, dan dia bilang: “ Apakah ini benar benar rumah yg nanti aku miliki dan akan berdiri di Manding?”


“ Ya iyalah, bagaimana to ibu Direktur ini. Kamu sebenarnya mampu mempunyai yg lebih mewah di Jakarta Tin. Nanti aku desainkan ya kalau bikin lagi!”


Datin masih speechless, bagunan ini dengan menonjolkan dinding batu alam yg dominan kombinasi kaca dan kayu. Yg menyelaraskan dengan lingkungan adalah bentuk atapnya yg limasan dengan menggunakan bahan genteng, meskipun di glassur. Sangat asri dengan arsitektur Jawa modern.


“ Aku sreg banget Tas, RAB nya juga masih dalam batas sisa kantongku. Karena terus terang untuk rencana bisnis sembako ku kemarin itu cukup menyedot dana.” Papar Datin.


Buntas kagum sekali dengan naluri entrepreneur Datin, serta kesuksesan financial Datin yg luar biasa dalam usia semuda itu. Dibandingkan dengan dirinya yg malang melintang di Eropa masih belum bisa menyamai Datin, meskipun juga bisa dibilang cukup sukses.


“ Ini sudah bisa dimulai untuk penjelasan ke kontraktornya untuk mengajukan penawaran Tin. Nanti beberapa gambar detailnya bisa segera menyusul gak masalah, karena ini hanya bangunan sederhana, rumah tinggal 2 lantai. Kontraktor juga bisa kita minta mengusulkan modifikasi sistem yg lebih efisien.”


“ Kira kira kapan Tas kamu ada waktu ke Yogya sehari atau dua hari saja untuk penjelasan ke kontraktornya?” tanya Datin.


“ Dalam bulan Mart ini aku masih senggang, awal Mei dan setiap awal bulan aku ke Singapore 2 minggu terus ke Jakarta lagi bolak balik. Nanti basis kantorku ada di Singapore dan Jakarta Tin.”


“ Baik kalau begitu aku segera atur waktu ketemu kontraktor terus kamu aku pesankan tiket dan hotel sekalian di Yogya ya Tas, sesudah ada kesepakatan harinya.”kata Datin


“ Hotel ma gak usah Tin, aku bisa dibanjur air sama pakde ku kalau gak nginep Sagan.”


“ Begitu ya?, ok nanti kita telponan kalau sudah ada kepastiannya.”………” Berapa lama ya bangun seperti ini pembangunannya?” tanya Datin.


“ Itu konstruksi bangunan sederhana 2 lantai dengan luas 2x100m2 dan 2x48m2 serta kolam renang 3,5x12 m, kira kira 6 bulan kelar Tin. Kalau kelamaan kontraktornya yg rugi.”


“ Ijin-ijin, seperti IMB dlsb kalau di Bantul bisa sambil jalan kata lik Mardi. Nanti beliau yg mau nguruskan.” Kata Datin.


Berhubung Buntas tidak mau dibayar fee nya dan juga sering kali Buntas memberikan suvenir atau kado untuk Datin atau anak nya, maka Datin merencanakan akan memberikan bed cover dari kain Dodod yaitu kain batik untuk busana Pengantin Kebesaran ala Kraton yg kainnya lebar sekali sehingga bisa dipakai untuk bed cover extra King Bed, harganya paling murah sekitar 40 juta rupiah, bahkan ada yg ratusan juta rupiah, yg dipesan para konglomerat.


“ Tas, kamu itu menetapnya dimana? Singapore atau Jakarta? Maksud saya rencanamu bersama Marion. Karena aku ingin kasi kamu bed cover untuk kamar pengantinmu nanti. Special Tas untuk kamu dan istrimu. Ini batik kualitas prima, untuk pesanan khusus. Peradanya juga yg kualitas baik.”


Buntas memandang Datin dengan tatapan ragu-ragu, atau kosong, seolah ingin mengesampingkan sementara urusan pribadinya. Melihat keputus asaan sahabatnya ini Datin tergelitik untuk komentar :


“ Hallo sobat, maaf sebelumnya ya, kamu sahabatku, teman dekatku yg aku kenal baik, aku merasa harus mengatakan ini, kamu seorang profesional muda yg berprestasi dan keren. Sudah terbukti dong dari kiprahmu yg sudah punya nama di manca negara, Eropa terutama. Punya calon istri yg sekualitas, dan kamu mengakui cocok. Pernah terbayang gak olehmu seandainya dua bintang ini bersatu, bersinergi, betapa dahsyatnya duet kalian bisa berkibar di bisnis yg kalian tekuni ini?”


Buntas tersenyum sinis, “ Kamu tahu pasti bagaimana situasiku kan Tin? Aku sudah yakin banget membangun karir disini, Asia. Sementara Marion bersikukuh dengan kemauannya. Kamu bilang duet dua bintang yg bersinergi akan sangat dahsyat. Ya memang, bagaimana kalau saling meniadakan seperti kasusku ini? Hmmmm………….. tadinya aku ingin melamarmu, tapi begitu mengetahui siapa Rudatin sekarang aku jadi minderwertigkeit, ciuuuuut, merasa gak pantas aja, hahahahaha…….…………sungguh Tin, aku seperti becanda ya, tapi yg aku rasakan kalau berbicara sama kamu itu adem, segala yg sulit itu menjadi mudah kalau sama kamu.”


“ Ayolah Tas, fokuslah pada masalahmu, jangan membelokkan permasalahan. Berpikirlah kamu bisa bersinergi, maka pasti kamu bisa! Karena kamu belum maksimal saja meyakinkan Marion. Saya pikir sangat wajar Marion gamang, karena dia seperti in the midle of no where, maka yakinkanlah dia!................ …… Begini, aku mau cerita sedikit kenapa aku sampai keposisi ini. Aku melihat sedikit celah saat krisis moneter 1998. Aku punya hubungan sangat bagus dg para buyer ditempat aku bekerja, dan tidak semua negara atau pebisnis mengalami resesi pada waktu itu, dan beberapa dari buyerku masih tetap exist. Dilain pihak para pengrajin mencari aku untuk menjualkan barangnya untuk mencarikan buyer. Kemudian bosku dalam keterpurukannya menyerahkan nasib outletnya atau showroomnya sekedar bisa bayar overhead cost. Dengan kondisi seperti itu, bola tak lempar ke mas Pras, dengan teorinya yg tentunya lebih matang dari pada aku waktu itu, mas Pras mengemasnya menjadi seperti sekarang ini, dan pelaksanaannya dilempar kembali ke aku, dia tidak bisa menjadi direktur karena dia dosen atau PNS. Jadilah bisnis yg seperti kamu lihat sekarang ini, bos ku menjadi partnerku sekarang………….” Datin berhenti sebentar melihat reaksi Buntas, karena Buntas masih menyimak dengan baik ceritanya, maka Datinpun meneruskan:


“ …….itu tadi sekedar memberikan ilustrasi bagaimana aku bersinergi dengan mas Pras. Sayang beliau begitu cepat dipanggil Sang Khaliq, namun aku berjanji akan meneruskan apa yg sudah kita mulai bersama waktu itu. Begitu juga aku melihat prospek pasangan seorang Arsitek dengan seorang Interior Designer, berkarya sambil pacaran seumur hidup. Itulah dulu yg aku impikan untuk bisa berduet dengan mas Pras, tapi Allah berkehendak lain, tapi cita-cita kita harus tetap hidup dan aku melanjutkannya dengan semangat cinta mas Pras yg saya yakini masih tetap menyala dihatiku.” Panjang lebar Datin menyemangati sahabatnya ini……….


Kemudian penegasan Datin ke Buntas : “ Kamu sudah punya semuanya dan masih lengkap berdua, tapi tidak meyakininya, tidak memperjuangkannya. Semua kemabali ke diri kita masing-masing mau kita wujutkan ataukah kita kubur.”


Buntas termangu. Dia mulai merasakan bahwa yg dikatakan Datin adalah benar. Masalah akan selalu ada di kehidupan ini, masalah harus diatasi bukan dihindari.

__ADS_1


“ Terimakasih Tin, aku telah mendapatkan pencerahan darimu. Kamu tidak keberatankan kalau aku kadang kadang menghubungimu untuk urusan pribadi?”


“ Ayolah Tas, bukankah sekarang ini aku juga ngrusuhi kamu untuk urusan pribadi juga. Anytime Tas, pintuku selalu terbuka untukmu. Ajaklah Marion kesini.”


__ADS_2