Canting

Canting
Episode 59


__ADS_3

Hening beberapa saat, Datin pusing mendengarkan cerita Yudis yg banyak celah kemubaziran kalau tidak boleh dibilang celah kedunguan.


“ Hmm …….begitu rupanya mas. Banyak yg sebenarnya simpel, tapi dibuat ruwet sendiri, sehingga hal yg tidak diharapkan mungkin bisa terjadi. Begini mas………


Bagi perempuan pada umumnya, khususnya saya dalam hal ini, saya berprinsip bahwa saya tidak akan mencari pasangan, namun saya menunggu yg datang, kemudian menyeleksi. Aku akan memilih yg bersedia mengambil aku dan Bimo dan sekaligus yg sreg dihatiku.


Mas Yudis bilang bahwa merasa tidak bertepuk sebelah tangan saat mendekati aku. Ya betul…….itu karena hatiku sudah sreg sama mas Yudis. Aku dan Bimo mencintaimu mas!.


Namun apa peganganku kalau mas Yudis mau mengambilku sebagai istri? Mas Yudis tidak pernah mengatakannya. Bahkan mengucapkan satu kata cinta saja ke saya juga gak pernah.


Ini, selain perasaan sreg, perempuan juga butuh lisan yg jelas, sehingga dia tidak akan membuka pintunya untuk yg lain.


Jangan dikira saya tidak bingung mas, dengan kehadiran bu Minati yg penuh perhatian dan sangat melayani mas Yudis begini. Apa peganganku?


Mengapa mas Yudis saat sudah merasa pasti atau sreg, tidak langsung bilang saja memintaku, tapi nikahnya nanti nunggu saat apa begitu, itu lebih tepat. sehingga mas Yudis didekati seribu Minatipun saya gak sungkan menanyakan. Demikian juga sebaliknya kalau ada yg mas Yudis curigai langsung menanyakan ke saya.


Kalau sekarang ini semuanya ngambang, hati sudah sreg tapi gak jelas tujuan akhirnya. Ditambah lagi…..


Mas Yudis mengolah sendiri apa yg dilihat, menyimpulkan sendiri, memutuskan sendiri, ruwet sendiri……….


Benang kusut yg sulit dicari ujungnya ini, ternyata ada di CPU nya mas Yudis sendiri.


Sekarang apa yg bisa saya bantu untuk mengeluarkan mas Yudis dari masalah ini. Katakan saja! Dari mana saya harus masuk untuk menjernihkan ini.?”


Yudis termangu menyadari kebodohannya sendiri. Dia bergumam:


“ Disaat kemarahanmu tadi aku mendengar kamu mengatakan bahwa kamu masih menungguku sampai saat ini, apakah itu benar?, ataukah aku memang sudah terlambat Tin?”


“ Mas Yudis menanyakan terlambat untuk melamarku? Iya terlambat bangetlah!, tapi……………………. aku masih tetap setia menunggu mas Yudis untuk memperistriku!” kata Datin sambil tersenyum nakal menggoda singa koplo ini.


“ Apa Tin??? Aku gak salah dengar??.....” kata Yudis langsung cerah wajah nya, seperti ada aliran hangat keperut Yudis, ingin dia memeluk Datin.


Datin menggeser duduknya menjauuuuh……


“ Tunggu……tunggu…….aku gak mau kejadian tadi siang terulang! Tadinya sudah lama aku mengharapkan, mengkhayalkan mas Yudis melakukan kepadaku sesuatu yg romantis, lembut, mesra, penuh perasaan……seperti kalau mas Yudis suka menyindir-nyindir itu lho, tapi bukan spt tadi siang yg mengerikan itu.” Kata Datin sambil bangkit berdiri nyamber tas dan cabin luggagenya.


“ Aku curiga, jangan jangan mas Yudis dapat pelajaran dari bu Minati ya?” kata Datin sambil terus jalan menjauh dari Yudis, dan kemudian bilang ke pramusajinya:


“ Mas, nanti bos saya itu yg bayar ya, tolong ditahan dulu dia, jangan dimasukkan ke bill kamar saya, saya kan belum check in.” katanya sambil terus ngeloyor ke lobby mau check-in


Yudis semakin gemes banget sama wanita pujaannya ini.

__ADS_1


“ Awas ya nanti!” ancam Yudis ke Datin, sambil senyum-senyum geli bahagia.


Dunia seakan semakin berwarna, beban yg selama ini memberati fikirannya sirna seketika. Kembalian uang dari kasir resto yg masih lumayan banyak dia tinggal saja, ingin segera memburu Datin.


Yudis sudah berniat harus mendapatkan sesuatu dulu dari Datin sebelum pulang mandi. Yudis tidak mau buang waktu lagi, malam ini dia mau habiskan ngobrol merancang masa depan mereka.


Baik petugas check-in maupun para manajer hotel disini sudah banyak yg kenal sama Yudistira ini, karena sering mengadakan acara di hotel-hotel besar Semarang, dan memang Yudis adalah pengusaha beken dikota ini.


“Mengantarkan tamu pak Yudis?”


“ Iya tamu istimewa, …….adinda!” jawab Yudis yg direspon senyum hormat dari petugas hotel tsb.


Selesai check-in Yudis mengantar Datin membawa kopor cabinnya keatas. Datin senyum senyum penuh pengertian. Jantungnya berdegup kencang, melihat Yudis sudah senyum senyum sambil berjalan disampingnya.


“ Sebelum balik mau mandi, aku mampir kekamar sebentar naruk kopor ini sama mau minta tip nya.” Yudis menggoda Datin, hatinya berbunga-bunga bahagia.


Sesudah masuk kekamar dan naruk kopor ditempatnya, Yudis tanpa buang waktu langsung meraih tubuh Datin kedalam pelukannya, kemudian sambil medekatkan hidungnya ke hidung Datin dia bilang: “ Mau ambil TIP nya bu.”


“ Huh, kelamaan….!” Kata Datin sambil langsung menarik leher Yudis, memeluk dan mencium Yudis dengan mesra penuh perasaan, dan merekapun berpelukan, berciuman, dan bercumbu melepaskan kerinduan mereka yg membuncah selepas perang dingin yg dilayangkan Yudis ke Datin beberapa bulan belakangan ini.


Cumbuan mereka tidak akan pernah selesai kalau Datin tidak menggelitik pinggang Yudis sambil bilang: “ Duh sayang ini yg tadi siang aku cakar ya, maaf …..……stop, stop sudah stop, ini duda sama janda bisa kebablasan ini nanti.” Kata Datin sambil merenggangkan pelukannya, dan tersengal agak sesak nafas.


“ Sayang……”protes Yudis, dengan suaranya yg parau sambil mempererat pelukannya, dan kembali mau mencium bibir Datin. Datin mengelak sambil bilang:


“ Hmm….iya… iya nanti dicukur, dapat ilmu karena disiksa renjana berbulan bulan, hiiih!” kata Yudis gemes, digigit nya lengan Datin.


“ Mas Yudis gak kasihan aku pagi tadi bangun jam berapa dan belum istirahat ini, …..ah!”


Akhirnya mereka melepaskan pelukannya, dan Yudis sesudah cuci muka di Washtafl terus pamit pulang.


“ Nanti satu jam lagi aku kemari ya!” Yudis pamit sambil mengecup bibir Datin.


Yudis menuju keparkiran sambil memukul-mukul pipinya sediri. Dia hampir tidak percaya kalau situasi bisa berbalik 180 derajat. Bahagianya tidak bisa dia lukiskan dengan kata kata. Dia menelpon Seno.


“ Nok…….. besok ikut ke Jepara ya, sowan bapak-ibu. Sama Carla dan anak anak sekalian hari Sabtu. Aku mau atur lamaran dan pernikahanku, rapat keluarga. Aku mau honey moon ke Mindill, Ajun nanti aku suruh incharge di Mindill. Aku mundur.”


Yudis tidak melewatkan waktu sedikitpun untuk mengontak orang orang yg terkait.


“ Hallo Bimo……..papa Ias kangen ini!”


“ Hallo papa Ias, Bimo juga kangen papa Ias. Ibu ada gak? Mbak Ias ada gak?”

__ADS_1


“ Ibu lagi isrtirahat sebentar di hotel, mbak Ias masih dirumah ini papa baru nyampe rumah.”


“ Ibu kok di hotel? Gak sama mbak Ias?”


“ Iya…….???? Hmm Bimo, papa Ias Senin ke Jakarta ya kerumah Bimo!” bingung menjawab alasan Datin tidur di hotel.


“ Bener?! Aseeek ……nanti bobok sama Bimo saja. Nanti Bimo belajarnya sore saja gak sampai malam.”


Iya sekarang bobok sama Bimo dulu, sesudah halalin ibunya bagaimana ngomong pindah kamar tidurnya nanti?, ……..ah urusan Datin nanti, Datin selalu punya cara yg bijak. Batin Yudis.


Malam harinya Yudis hanya nyamperin Datin untuk makan makanan ringan sambil ngopi saja, karena makan siang tadi baru selesai setengah lima sore lanjut ngobrol sampai jam tujuh malam lebih.


Yudis membicarakan segera akan melakukan lamaran ke Yogya bertepatan dengan peringatan dua tahun meninggalnya Mila 2 minggu lagi, menikah tidak lama sesudahnya, karena Yudis berencana mengajak bulan madu Datin ke Mindill Beach sekalian ngurus kerjaan.


Datin hanya mendengarkan urutan rencana Yudis dan menyetujuinya. Karena dia merasa sudah mempersiapkan Bimo untuk hal ini sejak Mila wafat.


Keesokan harinya, hari Sabtu 9-02-2008, pagi jam 7 mang Diman sudah menjemput Datin untuk membantu Yasmin menyiapkan diri. Tanpa Sarapan Datin langsung berangkat. Praktis Datin tidur tidak sampai 5 jam malam itu. Karena Yudis baru balik jam setengah satu malam.


Begitu melihat Datin, Yasmin bahagia banget dan bersemangat. Tadinya sewaktu papanya ngajak ke Jepara dia tidak bergeming sama sekali, masih ngambek. Setelah siap Yudis, Datin dan Yasmin berangkat nyamperin Seno dan keluarga. Mereka mengendarai mobil SUV Alphard.


Datin bilang ke Carla : “ Aku ijin merem dulu selama perjalanan, aku slonjor di jok belakang saja, karena badan saya kok mulai meriang kurang istirahat. Sejak kemarin pagi itu saya baru tidur sekitar 4 jam lebih. Kalau mau sarapan jangan ditinggal tapinya!” canda Datin sambil nyindir ngingetin kalau dia belum juga sarapan.


“ Oh….kasian, ok aku temani!” kata Carla.


Datin sudah masuk sama Yasmin dan Keisya diikuti Carla, dan Datin sudah mapan di jok belakang.


Akhirnya Datin tidur di jok belakang kepalanya dialasi bantal pikacunya Keisya. Lumayan. Yudis duduk depan disamping Seno yg pegang setir, kemudian Carla, Keisya dan Yasmin di bangku sap kedua kiri dan kanan, dengan memasang kursi cadangan tengahnya.


Ditengah perjalanan mereka berbincang mau sarapan dimana, ada wacana Nasi Gandul, atau Nasi Pindang Kudus, untuk itu mereka ingin menanyakan ke anggota istimewanya:


“ Tin……kamu pingin sarapan apa, tadi pagi gak sempat sarapan sudah disamperin mang Diman?” tanya Yudis.


Yg dipanggil gak nyautin, Yudis nengok kebelakang :


“Lha Datin duduk mana sih?”


Datin seperti baru saja melepaskan beban berat dan jatuh dikasur air. Pikirannya sudah kembali tenang, tinggal fisiknya yg baru terasa hancur, capek berat. Sehingga belum ada sepuluh menit perjalanan dia sudah tidur lelap dan mimpi indah dipagi hari.


“ Sst….pelan pelan dia pamit tidur sebentar, katanya semalam kurang tidur, cuma tadi pesan kalau sarapan suruh bangunin.”


“ Ooo….Ok, kalau gitu sarapan di pasar Kudus saja ada Nasi Pindang enak, sekalian biar Datin boboknya agak lama sedikit. Ini baru sebentar dibangunin, pusing nanti.” Kata Yudis.

__ADS_1


Datin akhirnya bisa tidur pulas diatas lajunya kendaraan yg membanting-banting dirinya di jok belakang mobil Yudis. Dia tetap bisa merasa nyaman bahkan bermimpi indah, karena dia tahu pasti saat ini sedang dalam perjalanan menuju masa depannya yg bahagia bersama orang yg dia cintai.


__ADS_2