Canting

Canting
Episode 20


__ADS_3

Mobil dan sopir baru saja sampai di CHK dari ngedrop Bimo dan bu Parinah ke sekolah Bimo. Pulangnya hari ini Bimo akan dijemput mobil operasional lain karena nanti mobil yg biasa jemput akan dipakai Datin untuk menyelesaikan banyak urusan. Datin sudah sampai duluan ke CHK dengan jalan kaki, yg kebetulan tidak sampai 500m dari apartemen. Dia beberes kerjaan sebentar di boutique dan terus mau jemput Mila ke airport langsung mengantar ke RS Jantung Jakarta di Matraman.


“ Bu Susan sayang, aku hari ini gak ke boutique mungkin, aku segera pergi jemput ke airport dan ngatar bu Mila konsultasi, titip kalau ada yg urgent do not hesitate to call me ya.”


“ Ok dear ibu cantique, take your time. Salamku untuk beliau ya. Prihatin juga ya sama beliau itu. Semoga baik baik semuanya, amin.” Jawab Susan sambil mengantar Datin kelobby.


Dari airport Datin sama Mila langsung meluncur ke RS Jantung Jakarta di Matraman, sedangkan Yudis yg semula mau ngantar Mila dulu, disuruh Datin langsung saja pisah dan lanjut sama koleganya untuk urusan ke Kadin Pusat, biar tidak mondar mandir.


Di RS, sesudah dokter menjelaskan hasil MRI, yg memang kondisinya tidak mungkin lagi untuk dilakukan by pass, maka selanjutnya hanya mengandalkan obat saja dan pengaturan pola makan dan istirahat. Dokter meminta Datin untuk ketemu sebentar karena ada yg mau disampaikan, tanpa Mila.


Sementara Mila menunggu di ruang duduk, dokter bilang ke Datin bahwa ada catatan laporan hasil general check up Mila dari Semarang yg menyatakan Mila harus dirujuk ke onkologi karena ada benjolan di serfiks. Itu harus ditangani juga oleh ahlinya.


Datin terduduk lemas sambil air matanya meluncur tak tertahankan lagi. Dia gemetar sampai dokter menyodorkan air minum kepadanya. Datin bingung harus ngomong apa kepada Mila dan Yudis. Datin menanyakan apa bisa minta dari sini rujukan ke onkologi.


“ Itu dari lab di Semarang sdh ada rujukannya, tapi mungkin dari ambil hasil belum sempat ke dokter untuk dibacakan, langsung dibawa kesini, karena fokusnya ke jantung.”


Tidak buang waktu lagi, Datin menelpon RSCM Kencana untuk konsultasi ke onkologi, dan sangat kebetulan hari ini ada onkolog di Kencana yg jadwalnya sampai jam 15.00., sedangkan hari lain untuk spesialis apapun disitu rata rata hanya sampai jam 10.00 dan paling lat jam 12.00, kecuali mendatangi tempat praktek privat mereka. Disarankan oleh dokter yg tadi untuk ke RSCM saja karena semua ahli ada disana. Datin menelpon Yudis janji ketemu ke poli Kencana RSCM.


Selesai konsultasi, saat Mila lagi ke kamar kecil, Datin sempat ngobrol berdua Yudis:


“ Mas, sekalian saja biar mbak Mila di Jakarta dulu untuk terapi disini sama aku. Mas Yudis nanti kalau sudah selesai urusan bisa pulang dulu, kasihan Yasmin. Percayakan ke aku mas, aku sudah biasa ngerawat alm mas Pras dulu, ini tahap pertama perlu satu seri Radioterapi (sinar - X) paling perlu 7 sampai 10 hari, bulan depan satu seri lagi sampai total 28 sampai 32 kali.” Kata Datin sambil menahan isak.


Yudis mendongakkan wajahnya yg tampan dan bersih, yg kemudian menjadi memerah menahan sedih. Datin tersayat hatinya melihat Yudis, dia bisa merasakannya seperti perasaannya saat mengetahui Pras sakit dulu.


“ Aku rasa Yasmin diboloskan saja sekolahnya seminggu untuk nemani ibunya disini, setidaknya biar ibunya besar hati. Adakah yg diutus ngantar Yasmin? Aaaah ya, atau dititip pramugari sebagai penumpang UM (Unaccompanied Minor), nanti aku jemput di airport.”kata Datin


Yudis bangkit dari duduk megang bahu Datin sebagai ungkapan terimakasih, tanpa berkata apa apa dia jalan keluar. Yudis menangis dibelakang istrinya dan Datin. Kadang kadang diperlukan juga menangis, sesudah mengetahui serangkaian penyakit yg disandang istrinya.


Dua hari kemudian sepulang sekolah Bimo kelihatan excited dirumah ada teman baru, tapi masih malu mau negor. “ Bimo sini kenalin ada mbak Yasmin disini.” Datin manggil Bimo, “ Ayo Bimo kenalan dulu sini, sesudah itu ganti baju cuci tangan dan kaki terus makan sama mbak Yasmin. Itu ibu sudah beli ayam badut kesukaanmu.” Bimo kalau nyebut ayam Mc Donald adalah ayam badut. Bimo lari sambil ketawa kegirangan ke kamar mandi untuk ganti baju sama membersihkan badan dibantu Datin.


Mila seperti seneng banget dikasi kejutan kedatangan Yasmin, yg sebelumnya tidak dikasi tahu. Datin sendiri yg jemput di bandara, karena Yasmin sudah akrab dengan Datin, jadi tidak takut. Dipeluk dan diciuminya Yasmin.

__ADS_1


“ Tin matursuwun ya sudah ngatur segalanya, adikku sing ayu tenan kamu itu.” Kata Mila sambil meluk Datin. Mila tiap harinya diantar Marsih staf CHK yg dipercaya Datin. Kadang juga Datin sendiri yg ngantar, toh durasinya tidak lama sekali penyinaran.


Apartemen menjadi heboh tidak lama setelah dua bocah kecil itu akrab. “Mbak Ias…mbak Ias..cini deh Bimo gambal capi tadi di cekoah, nanti mayam dikaci ke bapak… nunggu bapak dicana nanti…cana lho di cana cama banyak bintang bapak nanti.” Kata Bimo sambil nunjuk nunjuk kelangit dari pintu kaca yg ke balkon.


“ Iya Bim benel? Bapakmu lumahnya dicana? Nanti klo mau cana naik apa, yuk ikut cana yuk……” kata Yasmin pingin jadi peterpan terbang ketempat bintang bintang.


Bimo bingung sambil nengok ke ibunya : “ nanti kecana bu?”


“ Waduh…. Kita dari sini saja, nanti bapak dengerin cerita Bimo dan lihat gambar Bimo dari sana, ya.”


Mila tiduran di sofa menghadap ke balkon, dia tersenyum bahagia ngikuti percakapan kedua bocah ini, karena lelah sehabis penyinaran dengan radioterapi tadi diapun tertidur akhirnya.


Datin balik lagi ke boutique, disana dia untuk sementara bisa memfokuskan ke kursus online yg akan diadakan minggu depan selama 6 minggu atau 1,5 bulan, 5 jam per minggunya. Dia harus fokus supaya nilainya paling tidak harus B+.


Malam harinya sesudah makan malam, sebelum bocah-bocah ini tidur, Datin menepati janjinya untuk menemani mereka ngobrol sama bapaknya Bimo yg dilangit bersama bintang-bintang. Dan anak anak seneng banget mereka balapan bicara sahut sahutan. “ Pak becok mbak Ias mau itut Bimo cekoah mau gambar empus buat bapak……” Kata Bimo dan kemudian Yasmin motong: “ iyaaa….tapi gambalnya buat papa Ias.”


Tanpa sadar Mila nyeletuk :” yasmin nanti kirim gambarnya ke mama, kalau mama sudah sampai sana.”


“ Iya iya….mama juga punya yumah badus juga nanti dicana ya, Ias juga mau itut cana.” Sahut Yasmin.


“ ayo…ayo… anak anak cuci kaki, cuci muka, ganti baju dan terus bobok, besok sekolah kan? Yasmin besok jadi ikut?” tanya Datin. “ ibu bisa megang anak 2 ini gak ya? Repot gak? Atau Yasmin ikut tante saja ke butik sambil nunggu mama pulang?” tanya Datin ke mbah uti


“ Aku ikut mama aja…..”


“ Sayang, mama nanti masuk ruang periksa lama, Yasmin gak ada teman sayang. OK Yasmin ikut tante aja ya.” bujuk Datin.


“ Yasmin anak mama yg pinter kan, harus nurut mama ya? Yasmin ikut tante.”tegas Mila.


“ Ibu…Ibu…mbak Ias itut Bimo aja ke cekoah, kan mau gambal empus untuk papanya? Bimo nyamber aja.


“ Iya, aku gak mau itut ibu……aku itut Bimo kecekolah aja!” kata Yasmin, ikutan Bimo manggil ibu ke Datin.

__ADS_1


“ Iya…ayuk ayuk besok harus bangun pagi ya cucu-cucu yg cakep cakep ini, besok sama mbah uti ikut kesekolah Bimo. Sekarang bobok ya, sudah ma…laaam.” Kata mbah uti sambil mapah bocah dua tadi ke kamar mandi.


Kegaduhan apartemen sudah tidak terasa lagi, Mila dan Yasmin sudah balik ke Semarang. Sesi pertama sudah dilewati, tinggal bulan depan mulai lagi sesi ke 2. Sampai total kira kira 28 – 32 kali penyinaran, atau 3 sesi lagi. Dan akan selalu tinggal di apartemen Datin, karena Datin memaksa akan mengurusnya.


Tidak terasa sudah sudah bulan oktober saja, Datin sudah menyelesaikan beberapa paket kredit dari kuliah onlinenya. Sangat bervariasi, misalnya untuk satu paket kursus ada yg memakan waktu 6 minggu dengan durasi 5 jam per minggunya. Ada yg 4 minggu dan 8 jam per minggunya. Dan untuk yg akan dan harus diikuti pada bulan February 2006 tahun depan adalah 3 paket kursus selama 17 minggu, jadi baru akan selesai di pertengahan juli 2006 dan durasi perminggunya 8-15jam. .


“ Bu Datin, urusan boutique percayakan saja ke saya, nanti kalau ada yg penting penting aku diskusikan sama ibu disaat ibu sudah senggang. Take your time ibu.” Kata Susan simpatik,


“ Terimakasih ya bu Susan, aku tuh merasa mantap dengan ini dipegang bu Susan yg jam terbangnya tidak diragukan lagi. Mudah mudahan bisa ku kebut kuliah kuliah ini. Apalagi pak Ichikawa sangat membantu. Beberapa tugas ku excelent lho di mentori dia, banyak ngantongi nilai A sama A- aku.”


“ Iya bu ini aku mau bicara sama bu Datin tapi sepertinya gak tega lihat ibu seperti jumpalitan antara kerjaan dan kursus……….. Ini mengenai rencana pameran Industri ke rajinan di Unesco Paris.” Kata Susan.


“ Wah sayang sepertinya saya gak bisa ngawal. Karena justru th 2006 dari februari itu saya padat. Karena itu mata kuliah utama, 17minggu. Jadi sampai mid Juli saya padat. Nanti bu Susan sendiri sama bu Meta.” Jawab Datin.


“ Kali ini diselenggarakannya awal September sepertinya bu, awal Autumn. Ibu sampai kapan sih?”


“ Oh begitu, aku sampai pertengahan Juli sudah senggang. Tapi ya lihat nanti. Persiapan memang sudah harus di mulai dari sekarang, menyeleksi materi.”


Memperingati setahun wafatnya Pras Datin ingin mengadakan pengajian ke Yogya. Hari itu mereka ber tiga sudah diantar mobil sama pak Wukir, sopir khusus yg melayani Datin di Jakarta.


“ Lho pak kenapa ditutup seperti ini bunderannya ya, jadi agak macet pas ditikungan ini.” Kata Datin hawatir kalau muter muter.


“ Enggak bu, kemarin saat saya jemput pak Wibisono dari Semarang bunderan ini baru mau di bedeng, nanti kalau sudah dibuka jalan lurusnya akan lebih lancar. Katanya sih gak sampai akhir bulan, kan sedang akan bikin Terminal 3 katanya.” Kata Wukir menjelaskan. Gak sampai 10 menit dari bunderan ruwet tadi mereka sudah sanpai di Terminal F.


Selesai check in, sebelum sampai di boarding lounge, Datin berhenti menerima telpon dari Ichikawa: “ Ya Ichikawa san, I am on the way Yogya now, ya my driver will pick you up at Adisutjipto, tomorrow afternoon wright?”


“ Ah no..no..no, I can go by taxi, drop my luggage at Melia and then to Condong Catur, it’s ok.” Jawabnya.


“ Noooo…….everything has been organized by CH, the driver will show you a sign with your name. OK?” setelah menyudahi pembicaraan di telpon tadi Datin bertiga dengan Bimo dan mbah uti atau bu Parinah langsung menuju ke boarding long.


Menunggu boarding, Bimo asyik main mobil mobilan nggelendot ke ibunya sambil ngomong sendiri. Sedangkan bu Parinah duduk sambil memandang sekeliling boarding lounge, tidak terasa air matanya menitik, dia mensyukuri pencapaian putri semata wayangnya yg diluar perkiraannya…..” Pak, kamu pasti bangga dengan apa yg sudah dicapai putrimu. Kesuksesannya seperti jalannya roket melebihi harapan kita. Nak Pras, istirahatlah dengan tenang, ibu akan menjaga istri dan putramu yg gantheng dan cerdas ini selama ibu masih diberi umur sama Allah SWT.” begitu suara batin bu Parinah mensyukuri kehidupan barunya.

__ADS_1


“ Tin besok kalau sudah selesai sugengan (pengajian untuk memperingati orang meninggal) dan habis nyekar, ibu tinggal di Manding barang satu atau dua hari ya. Mau beres beres.” Kata bu Parinah.


“ Nggih bu, nanti nyambat orang saja to ibu tinggal mandori.” Jawab Datin. Datin mengerti pasti ibunya juga ingin bernostalgia dengan peninggalan suaminya. Datin berencana mau mugar rumah Manding.


__ADS_2