
Bertepatan dengan terjadinya krisis moneter di Indonesia tersebut, Datin telah menyelesaikan kuliahnya. Pendadaran jatuh pada bulan Mei 1998. Datin berhasil meraih gelar Sarjananya dengan predikat suma cumlaude. Namun tanpa adanya upacara wisuda, karena bertepatan Indonesia pada waktu itu sedang terjadi keos pasca penurunan Presiden Suharto pada bulan yg sama, Mei 1998.
Menjelang akhir tahun 1998, dalam suasana keprihatinan, ibunya mendapat order batikan dengan motif sido mukti dari bu Danu lumayan banyak, untuk persiapan mantu Prasetyo, sekedar untuk jaga jaga saja tutur bu Danu. Ayah Datin sudah dengar cerita ini sebelumnya dari Darno, sopir pak Danu. Pada waktu itu Darno baru datang membawa gulungan kain primisima, kain terhalus untuk batik tulis, dan Darno menceritakan ke pak Marto bahwa bu Danu mempersiapkan untuk kalau mantu nanti.
Selama Datin sering komunikasi via sms atau email dg Pras, karena pada masa itu belum ada BB apalagi WA, tidak pernah Pras menyinggung rencana pernikahannya dengan Ami, panggilan Laksmi Wulandari keponakan bu Danu. Selama ini Datin baru ketemu Ami satu atau dua kali saja. Yg terakhir saat Pras, Darto dan Ami mampir ke Boutique Batik Nusantara menjelang hari keberangkatan Pras ke Inggris dulu. Sehingga berita ini cukup mengagetkan baginya. Bagaimanapun juga bahwa sampai dengan saat ini, Pras adalah laki laki satu-satunya yg menempati hati Datin, meskipun dikampus dan lingkungan pergaulannya Datin itu banyak yg naksir karena memang penampilan dan perilakunya menarik. Dua sejoli ini semakin dalam saling mencinta, karena harus melewati rintangan atau tantangan dalam menjalaninya, sehingga harus menahan diri dan kerinduan.
Kesedihan Datin akan berita pernikahan ini memang cukup mengganggu, namun Datin tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan tersebut karena dirinya belum mendapat kabar langsung dari Pras. Dia percaya Pras. Disamping itu Datin sedang diliputi kelegaan, karena saat pendapatannya menurun akibat pengurangan jam kerja, Datin sudah berhasil meraih gelar SE nya, sehingga sudah tidak membutuhkan biaya kuliah lagi.
Hari-hari dilalui Datin dengan memutar otak melakukan sesuatu yg bisa melepaskan atau meringankan beban orang tuanya. Komunikasi dengan Pras menjadi terganggu, karena Datin membatasi diri untuk mencoba mengurangi resiko kesedihan kalau sampai mendengar sendiri dari Pras tentang rumor tsb.
Dilain pihak, Kamila dan suaminya menjadi sangat diuntungkan dengan adanya krisis ekonomi ini. Karena komoditi mereka, export udang dan lobster, bayarannya adalah dengan US Dollar, sehingga nilainya berlipat dari semula.
Kamila mendengar tentang tersendatnya pekerjaan Datin. Dia sudah menawarkan kerja untuk Datin, namun Datin masih mikir karena harus jauh dari orang tuanya, dengan meninggalkan Yogya. Datin sudah berniat akan mendampingi kedua orang tuanya sampai hari terakhir mereka.
Pada awal tahun 1999, sudah 6 bulan kondisi buruk belum ada perobahan. Dia sudah memutuskan tidak akan bekerja sebagai PNS, dia sudah menikmati dunianya saat bekerja di BN, dan akan melanjutkan wira usaha dibidang yg tidak jauh dari pekerjaan awalnya, karena sudah menguasai liku likunya.
Saat bengong bengong dirumah karena sedang giliran off 2 minggu, tiba tiba ada mobil opel blazer biru benhur berhenti didepan halaman rumah, Datin kedatangan tamu. Dia adalah pengusaha Batik rumahan yg berkualitas super halus, pak Pramono, yg dulu adalah pemasok Batik Nusantara.
“ Wah, pak Mono njanur gunung (tumben), angin apa yg membawa bapak ke gubug saya??” tanya Datin heran.
__ADS_1
“ Alhamdulillah akhirnya ketemu juga rumah mbak Datin. Saya mau ketemu di boutique kok tidak enak hati. Saya telusuri alamat ini, meskipun berliku akhirnya ketemu juga.”
“ Wah, muter muter tadi ya? Mengapa gak telpon saya? Bagaimana apa yg bisa saya bantu pak?”
“ Kondisi sedang macet begini, barang barang saya yg numpuk di Batik Nusantara cukup banyak dan belum terbayar semua, dan kapan terbayarnya hanya Tuhan yg tahu, ini yg bikin ndas ku cumleng (kepalaku pusing)!!” keluh pak Pramono, kemudian dia melanjutkan: “ Begini, saya tahu persis kolega mbak Datin kan lumayan banyak dan mbak Datin itu tenaga pemasaran yg paling dicari pelanggan di Batik Nusantara (BN), saya pingin minta tolong kerja sama untuk menjualkan batik saya, nanti mbak Datin bayar 80% dari harga saya ke BN. Terserah mbak Datin mau ngejual berapa saya merem. Seandainya tidak laku, ya kembali ke saya, istilahnya di rolling.”
Otak Datin langsung bekerja keras, “ Tawaran ini pasti akan saya pikirkan pak, tapi saya belum punya atau belum nemu polanya. Ini saya pikirkan dulu ya pak nanti 2 atau 3 minggu kedepan saya kabari bapak, atau saya sowan ke rumah bapak, itu pasti.” Kata Datin.
“ Jangan lama lama mikirnya mbak, lha sesuatu yg simpel jangan dipikir ruwet, nanti malah takut melangkah. Dan nanti saya yg kesini saja, saya kan pakai kendaraan sendiri, lebih gampang.” Kata pak Pramono sambil ketawa lega, ketemu Datin, seperti terbentang jalan keluar dari kesempitan.
Sepeninggal pak Pramono, Datin mulai membuat list para buyer yg dia kenal, dia kemudian lari ke war-net. Karena laptop jadul dia gak ada kuota. Datin seperti kemasukan segumpal amunisi yg mendorong semangat dia untuk gerak cepat menangkap peluang yg tidak akan datang dua kali.
Salah satunya adalah mr Kaburagi dari Jepang yg sudah menganggap Datin seperti anaknya sendiri. Dan satunya lagi customer dari Rusia, seorang pemuda yg kocak tapi buyer andalan Datin, Sergei Ivanov.
Disebut buyer andalan Datin karena kalau telpon ke outlet yg dicarinya Datin. Kalau pas Datin gak ada, mereka mending menunda transaksi menunggu Datin, atau mereka kontak hp nya, meskipun byar-pet alias timbul tenggelam sinyalnya karena hp jaman kolonial, tapi masih bisa diandalkan untuk sms.
Begitu dapat jawaban dari buyer, Datin langsung menghubungi pak Pramono untuk membuat semacam leaflet atau brosur tentang foto motif batik yg ditawarkan dan spesifikasi bahan dan teknik pembuatannya secara garis besar komplit biar buyer terinformasi dengan jelas dan puas. Datin memutuskan sementara tidak usah nyetok dagangan di rumah, tapi cukup dengan leaflet atau brosure.
Perasaan Datin berbunga-bunga dengan kesempatan yg tidak pernah dia duga sama sekali. Ini berkat dari ketekunan dan keprofesionalannya dalam bekerja, sehingga hasilnya sekali lagi tidak mengkhianatinya.
__ADS_1
Disela sela email bisnis yg masuk ada yg dari Pras. Dia agak gusar dan marah karena Datin tidak merespon beberapa email dan chat sms nya. Semula karena Datin takut Pras mau bicara tentang rencana pernikahannya dengan Ami, tapi selanjutnya karena sms nya ke delete karena memori full dan email ketimpa iklan iklan dan berita bisnis lainnya, kelewatan membuka.
“ Mas Pras, jangan keburu marah begitu, maaf aku lagi ruwet banyak urusan dan pikiran. Mas Pras selesaikan dulu kuliahnya, semakin cepat semakin baik, supaya segera bisa bersama lagi. Jangan ikut mikir negri tercinta ini. Apalagi ikut mikir masalah Canting. Yg Canting sangat bersyukur itu adalah saat negri ini dilanda krisis ekonomi, Canting sudah lepas dari beban yg besar yaitu selesai kuliah, meskipun boleh dibilang masih nganggur. Namun setidaknya kebutuhan biaya juga tidak sebesar sebelumya, bahkan meskipun penghasilan jauh berkurang tapi masih bisa hiduplah. Mas Pras tahu sendiri kalau selama ini Canting biasa hidup dengan banyak masalah, tapi bisa melewatinya juga kan? Kita saling berdoa saja agar kita bisa melewati semuanya dengan sukses!” tulis Datin ke Pras.
“ Kamu mau aku cepet selesai kan? Maka jangan cuekin aku!!!! Kalau tidak ada jawaban dari kamu berarti kamu lagi dalam masalah, itu yg ada dibenakku, sehingga aku jadi gusar gak bisa mikir! Tolong jawablah walau hanya satu kalimat pendek saja. Aku akhir akhir ini kangeeeen banget dan kepikiran terus sama kamu Tin, kondisi lagi gonjang ganjing begini. Aku baru ajukan perbaikan tugas akhirku, seharusnya kalau ga ada perbaikan aku bisa pulang sebelum Desember kemarin. Mudah mudahan kali ini goal jadi bisa balik sekitar bulan April.”jawab Pras.
Datin malam itu tidur dengan penuh senyum sehabis ngobrol sama Pras, hal tersebut tidak luput dari penglihatan kedua orang tuanya. Sehabis ketemu tamu tadi kok menjadi semangat sekali, kesedihan akan berita rencana pernikahannya Pras seperti tidak begitu mengganggunya lagi.
Kedua orang tuanya hanya berdoa untuk kesuksesan dan kebaikan putri semata wayangnya ini dg tiada pernah putus.
Mr Kaburagi dan Sergei mengirim order yg cukup lumayan. Resesi dunia memang, namun ada beberapa negara yg tidak signifikan dampaknya. Dari kedua buyer ini Datin mencoba bangkit dari keterpurukannya di masa puncaknya krisis ekonomi waktu itu.
Awal bulan Mart 1999, Sergei mengirim foto contoh motif yg dia peroleh dari sebuah majalah Asia. Dia menanyakan apakah bisa dicarikan, karena itu menurut majalah tsb memang berasal dari Indonesia. Tidak harus sama persis namun dengan kecerahan yg mirip dan variasinya. Ternyata itu batik motif Pekalongan dengan warna warni cerah yg ada corak cina nya.
Datin menghubungi Kamila di Semarang. Mila nyuruh Datin nginep di rumahnya Semarang dan nanti akan dia antar ke Pekalongan, sambil mencari ke pengrajinnya langsung.
Hari itu jum’at pagi-pagi jam 06.00, Datin pamit sama orang tuanya mau ke Semarang untuk beberapa hari. Pagi itu hujan turun agak lebat. Meskipun bulan Mart, namun hujan masih belum surut, bahkan hujan turun sepanjang hari sudah sejak 3 hari yg lalu. Malam sebelumnya Datin sudah ngobrol banyak sama bapaknya sampai dini hari. Ibunya sudah tidur duluan. Datin bersemangat untuk mengembangkan export kecil kecilannya ini. Karena dari buyer yg balas emailnya tersebut ada yg mencari handicraft berupa bunga sintetis kecil kecil dengan tangkai panjang yg untuk ditaruk di guci atau vas tinggi.
“ Halah itu banyak dipengrajin Kasongan itu nduk, masa kamu gak pernah lihat? Malah dekat desa kita ini saja sumbernya.” Jawab bapaknya ikut semangat.
__ADS_1
“ Ya sudah nanti sepulang dari Semarang kita jalan ya pak.” Kata Datin. Tiba tiba Datin merasa berat mau berangkat ke Semarang, pingin nglanjutkan ngobrol sama bapaknya tentang banyak hal, apalagi hujannya gak kunjung reda begini ini. Tapi karena tanggung jawab kerjaan yg sedang dia butuhkan ya terpaksa harus berangkat. Dengan pakai jas hujan Datin dibonceng bapaknya pakai motor ke Plengkung Gading tempat pool DayTrans, commuter atau travel yg ke Semarang.