Canting

Canting
Episode 30


__ADS_3

Belum sampai bubar, Yudis pamit Datin, nanti kalau tidak kemalaman akan mampir. Kalau gak di boutique ya di apartemen, kan berdekatan.


“ Tapi gak janji nginep ya, kalau sekarang bisa di grebeg hansip nanti, hahaha.” Kata Yudis bercanda, Datinpun terbahak karenanya. Datin heran mengapa hatinya berdesir ya.


“ Ya… maksudku kalau ke Jakarta ya jangan terus plepar-pleper gak mampir, mbok ya kadang Ias dibawa dititip ke apartemen, biar tidak kesepian.” Kata Datin.


Yudis tersenyum manis banget, kemudian cipika cipiki langsung naik ke mobil yg sudah dijemput sopir didepan lobby. Yudis yg sekarang agak berobah pendiam, namun tetap sebagai sosok yg tampan berkharisma, meskipun dengan kesedihan yg masih menggurat diraut wajahnya.


Hal tersebut juga disadari oleh Datin. Perjodohan yg diusulkan almarhum Kamila mulai mengganggu pikirannya, bayangan Yudis selalu hadir menguasai pikirannya, senyum nya, murungnya, seriusnya……. Namun hal tersebut suka terlupakan sejenak manakala dia disibukkan urusan kerjaan.


Saat Datin mau pulang, dia didekati salah satu instruktur game tadi, dia orang Jepang, orang IT, tapi sudah bisa bahasa Indonesia dengan lancar.


“ Ibu,…………. Aryo Bimo ini punya kemampuan yg outstanding, sayang kalau tidak dibimbing dengan benar. Dia bisa menyelesaikan tantangan yg diperuntukkan usia rata rata 8 tahun dengan lebih cepat dan jalan singkat. Amazing. Kita ada jasa untuk pembinaan dan pendapingan anak anak genius begini. Nanti saya kirim via email ya ibu.” Katanya


Sesudah memberikan email addressnya Datin pun pulang. Dijalan dia ciumi Bimo karena akhir akhir ini Bimo memberikan kejutan indah terus ke ibunya.


“ Ibu kenapa ciumi Bimo terus, Bimo pinter ya bu.” Tanya Bimo.


“ Bimo itu, selain pinter, anaknya juga baiiiik banget, sayang sama ibu dan juga sayang temannya. Itu yg lebih penting dari sekedar pinter.” Tutur Datin.


“ Hihihihi……Bimo tadi seneng dapat piala sama hadiah banyak, besok ada lomba lagi gak bu?” rupanya Bimo sudah menemukan keasyikannya dengan mendapat apresiasi dari orang selain ibunya.


Malam hari sekitar jam 19.45, saat menemani Bimo dan membacakan buku cerita, tiba tiba hp berdering yg ternyata dari Yudis.


“ Tin kalau sekarang aku ke apartemen kemalaman enggak? Nanti dicafe bawah saja.” Tanya Yudis.


“ Ah enggak, gak pa pa mas, datang saja nanti kalau sudah dekat aku ditelpon saja, tak turun.”


“ Ok,…..aku sudah di café bawah sekarang.” Jawab Yudis.


“ Ah, begitu rupanya. Ok 5 menit ya mas.”

__ADS_1


“ Bimo, ibu ada tamu dibawah, Bimo bobok sama mbah uti dulu ya.” Pamit Datin


“ Bimo gak ikut bu?” tanyanya. “ Ah ini sudah malam nak.”Datin melarang Bimo untuk ikut turun. Kemudian Datin ganti dasternya dengan celana panjang garis garis besar hitam putih dengan padanan atasan lengan pendek putih, dan rambut diikat dan ditekuk keatas sembarang, memakai sepatu sandal. Kemudian dia semprotkan parfum Angel tipis tipis. Kemudian turun kebawah.


Di Café, Yudis sudah duduk minum kopi, begitu melihat Datin langsung nanya mau minum apa, kemudian Datin bilang ke waitress nya: “samakan saja ya mbak.”


“ Baik bu Datin, seperti biasa bu?” tanya waitressnya lagi.


“ Yak, seperti biasa, terimakasih.” Jawab Datin.


“ Ah…… biasa ngopi sendiri disini Tin ?” tanya Yudis


“ Ya….kalau ada client atau teman, paling enak ya di temuin disini atau di resto kem-chick didalam. Burgernya enak, kesukaan Bimo.” Jawab Datin.


“ Teman….?”selidik Yudis keceplosan. Yudis menyesal terucap nada yg penuh selidik itu.


“ Ya,……. kalau aku asitensi tugas kuliah dengan Ichikawa kadang disini, tapi seringnya ke coffee shop President Hotel dekat tempat kerja dia.” Kata Datin, “ dilantai 3 lobby apartemen ini juga ada living roomnya, tapi gak ada restonya. Hanya ada vending mechine.” Untung Datin jawabnya lempeng-lempeng saja tanpa merasa curiga atas nada selidiknya.


“ Terimakasih.”


“ Oooo biasanya Datin minum itu? Black coffee single tanpa gula. Jadi kalau di balkon rumah Candi itu dia selalu minta bikin sendiri itu karena ukurannya sudah tertentu.” Batin Yudis.


“ Tin, tak pikir Bimo ikut turun, ini aku bawain coklat Toblerone, kemarin aku bawa dari Singapore.”


“ Ah, tadi mau ikut turun tapi aku larang, dia sudah cuci kaki ganti piyama siap mendengar pelajaran budi pekerti dari mbah uti, hahahaha……. Mbah uti kalau ndongeng kan gak baca buku, tapi diluar kepala plus selingan kidung atau tembang jawa yg isinya nasihat. Kalau aku dulu dinyanyiin kidung jawa itu terus liyer liyer bablas, kalau Bimo malah mecicil, nanya artinya.” Papar Datin. “ terimakasih ya mas Toblerone nya nanti aku sampaikan Bimo, wah pasti excited dia.”


“ Hahahaha………seneng aku dengar cerita masa kecilmu itu, terus aku bayangin rumahmu yg bisa


mendengarkan gemericik air dari saluran irigasi disamping halaman rumah. Damai rasanya.”


“ Begitu ya menurut mas Yudis? Itu rumah perjuangan mas. Bisa makan nasi sehari dua kali sudah bersyukur. Protein satu satunya ya ikan kali dan belut sawah yg gratis dari alam. Wader cethul lauk sekaligus snack legendaris itu. Hahaha……”

__ADS_1


“ Sssshhhh…..tapi sekarang mau borong ikan sak pasar-pasarnya sekaligus sudah gak pakai mikir kan?” kata Yudis, “ Ikan kali hasil mancing bapak itu yg menjadikan Canting Srikandi Manding ini terbang setinggi awan tanpa ada yg bisa menghadang.”


“ Duh tersanjung aku, alhamdulillah ya RAB, tapi………saat aku sudah mampulah beli ikan dipasar waktu itu, bapakku malah meninggal hanyut di sungai yg sebenarnya sudah bapak kuasai betul medannya. Hanya ingin saat aku balik dari Semarang dulu itu sudah tersaji makanan kesukaanku dari hasil mancing beliau sendiri, ikan gabus acar kuning…..hmmm ck.” Kenang Datin sambil menggelengkan kepalanya.


“ Sudah…sudah ganti topik yuk ceritanya jadi sumbang.” Kata Yudis sambil mengusap usap punggung tangan Datin untuk menenangkan.


“ Tapi sebelum aku ke Semarang saat tahun baru kemarin, aku bersama Bimo, lilis yg momong Bimo, Surtini teman SMP ku dan anaknya sempat mandi di kali itu lho. Aku belum cerita ya?” tutur Datin semangat.


“ Astaga Tiiiin……kamu itu kok ya nekad, bagaimana Bimo bisa kamu ceburkan di kali itu, tega banget ah.” Yudis mendengar ceritanya malah ngeri, sedangkan Datin mengharapkan pujian.


“ Wo……” Datin hanya bisa bilang itu, dan topik kali atau sungai memang harus diakhiri.


“ Mas Yudis mau makan apa? Pasti belum makan kan? Disini adanya makanan londo (bule), nggak tahu nendang enggak bagi mas Yudis? Bangsa Spagheti, Schotel, ada pastel tutup enak ini lumayan…..” Datin mengingatkan Yudis untuk makan.


“ Ayuk, kamu juga kan…?


“ Aku sudah makan, tapi bolehlah aku makan croquette saja atau bahasa Jawanya perkedel kentang, kok susah susah ya nulisnya bacanya malah bikin lidah bundet !” kata Datin, Yudis tersenyum.


“ Mbak, kita pesan satu porsi pastel tutup dan satu porsi croquette, dan dua mineral water.” Kata Datin.


Akhirnya mereka berdua makan sambil ngomongin rencana pameran produksi kerajinan di Unesco Paris September mendatang. Mereka masing-masing memang akan menghadirinya. Yudis mau bawa Arsitek langganan Kadin kalau ada pameran di Asia, seperti Singapore, Thailand, Hongkong….


Saat Yudis pamit dia sempat bilang: “ Tin……kapan kapan ceritain aku keasyiekanmu kalau mandi atau berenang di kali ya! Your stories are always inspiring, kata Mila.”


Kemudian Yudis balik ke hotel dikawasan Kuningan dengan sopirnya.


Yudis tidak bisa langsung tidur, belum lama istrinya meninggal, didalam kesedihannya, kenapa dia bisa mengagumi wanita lain, Datin adalah wanita yg dia kagumi.


“ Mila, maafkan aku, mungkin karena setiap saat engkau selalu pesan kepadaku, untuk menyunting Datin sebagai penggantimu, bahkan idemu yg gila menyuruhku menikahi Datin sebagai madumu saat kamu berjuang melawan penyakitmu, yg saat itu aku menolak tegas permintaan gilamu itu, bukan karena aku tidak menyukai Datin, tapi kepatutan dan etika yg menahanku kuat untuk tidak melakukan permintaanmu. Sekarang ini aku menjadi kepikiran terus. Dan setiap berjumpa dirinya aku semakin mengaguminya. Bahkan mulai sering merindukannya. Maafkan aku, salahkah aku Mil?”


Yudis baru tertidur sekitar jam tiga dini hari, dalam tidurnya dia bermimpi melihat Mila sedang duduk di balkon dan tersenyum kepadanya. Yudis kaget dan terbangun karenanya. Dia terduduk ditempat tidur dan kemudian kerinduan kepada almarhumah istrinya merayapi hatinya. Yudispun menitikkan air matanya. Dia kemudian membaca Al Fatihah.

__ADS_1


Datin mulai berkutat dengan boutique dan urusan kursusnya. Satu paket kursus pelajaran inti, merupakan kursus terakhirnya. Paket tsb terdiri atas tiga pelajaran utama, dimana dua pelajaran sudah diselesaikan dengan baik. Kalau lancar pertengahan Juli ini bisa kelar.


__ADS_2