
Sementara Pras masih diam mikir, Datin melanjutkan lagi: “ Mas Pras fokus aja kuliah, kalau dijalani 4 tahun itu tidak lama, seperti mimpi. Dan sementara itu kita jalani hidup kita masing masing dulu, toh kalau kita jodoh pasti kita akan bersatu.”
Pras terbelalak, “ Maksudmu???”
“ Ikuti dulu kemauan bu Danu, nanti kalau mas Pras sudah lulus dan punya pekerjaan yg baik, dan istilahnya itu menjadi seseoranglah, baru mas Pras memutuskan sendiri kehidupan yg terbaik menurut mas Pras. Simpel.”
“Trus sementara itu hubungan kita ???.... HTS Tin? Hubungan Tanpa Status?” tanya Pras sarkastis.
“ Ya gak usah sinis begitulah mas. Hubungan kita merupakan bagian dari rencana hidup yg lebih besar kan mas? Kita lebih menahan diri. Kita jalani aja dulu. Kita kan hidup dikota yg sama, kita tetap berteman. Tidak sering sering ketemu, tapi kan kita bisa bicara kalau dirasa ada perobahan.” Kata Datin, terus dia lanjutkan: “…… Bahkan mungkin dalam perjalanan kuliah mas Pras ternyata kecantol cewek yg lebih pas, bagaimana? Mau munafik? ….atau ternyata wanita yg dijodohkan dengan mas Pras itu lebih pas dan cocok dihati mas Pras?, ya harus jujur kan?. Kita bicarakan nanti.”
Pras masih bingung: “ Kamu sebenarnya bicara apa to? Aku kok tambah pusing ya?”
Datin putus asa, sambil sedih dan berkaca kaca matanya dia bilang ke Pras: “ Mas,…selama ini diantara kita tidak pernah ada yg menyatakan ini, tapi sekarang aku mau bilang bahwa aku mencintai mas Pras dan takut kehilangan mas Pras, saya sungguh sungguh. Tapi cinta ku tidak buta, masih bisa melihat kenyataan, dan harus realistis menghadapi segala kemungkinan.”
Pras terharu, dia menarik kepala Datin kedalam dekapannya, mencium dan membelai rambutnya disertai perasan sedih karena tidak bisa melindungi hatinya. Pras mengagumi kekasihnya yg usianya jauh dibawahnya, namun kecerdasan emosinya jauh melebihi Pras.
Datin lega sudah bisa mentransfer dengan bahasanya sendiri pesan pesan orang tuanya untuk kebaikan semua pihak.
Meskipun makan siang yg disiapkan Rini sangat lezat tapi Pras dan Datin tidak terlalu menikmatinya karena ada perasaan sedih dan seperti ada yg hilang.
Sesampai dirumah, Datin langsung nangis dan tertidur di kamar, bapak dan ibunya tidak berani mengganggu. Demikian juga Pras sesampai dirumahnya langsung masuk kamar dan tidak keluar sampai pagi.
Pras sedang ada brieffing untuk persiapan Temu Kangen alumni FEB di kampusnya. Mahasiswa baru dari FEB yg terlibat kepanitiaan ada 2, Pras dan Kamila. Pras bagian staf dokumentasi, karena hobinya vidiografi sdh dikenal seniornya. Adapun Kamila memang mahasiswi favourite selain cantik juga peragawati terkenal dari Yogya. Dia nanti yg akan memperagakan baju batik pada acara fashion show diacara temu kangen ini. Selain dari FEB, ada satu lagi mahasiswi baru dari Fak. Budaya atau Satra yg ikut fashion show, yaitu Zahra. 3 panitia dari mahasiswa baru ini yg kompak selalu bersama, karena belum banyak kenalannya.
“ Aku belum sempat nyari tas dan bungkus untuk door price. Batik dari sponsor lumayan banyak. Ini ada yg dari tempatmu juga Pras.” Kata Kamila.
“ Kalau besok sore masih keburu kan? Toh ini untuk acara Temu Kangen Desember nanti kan? Sekarang sudah jam 8 malam, besok pagi ada shooting acara Napak Tilas sampai sebelum dzuhur, Siangan aja besok kita ke Gramedianya ya. Bonceng motor alergi gak?” Jawab Pras. Motor Pras adalah Honda Tiger GL Pro warna biru benhur, motor mewah pada masanya.
__ADS_1
“ Halah, aku yg bawa, lo yg bonceng juga hayoo, siapa takut, Tiger kan motor lo?” jawab Kamila.
“ Woii…….nanti aku digibeng sama mas Yudis, blaik.” Jawab Pras.
Yudis adalah pacar Kamila, senior di FEB tahun ke 3. Saat ospek dulu Yudis mepet Mila terus, takut disamber orang, karena mereka berpacaran sejak bangku SMA. Kamila adalah putri bungsu dari ibu Sudibyo yg tinggalnya di Palagan-Yogya. Almarhum ayahnya dulu salah satu VP di Pertamina. Dia punya satu kakak laki laki yg tinggal di Surabaya dan satu kakak perempuan yg tinggal di Canada ikut suami bulenya.
Sementara itu, malam hari itu Datin dirumahnya sedang baca surat panggilan wawancara untuk kerja part time, rencana besok siang sehabis pulang sekolah rencananya Datin langsung ke wawancara itu. Datin berniat kerja part time untuk mendapatkan uang saku sekedar untuk beli bensin motornya serta untuk beli buku. Kadang kalau bapak atau ibunya kepepet tidak ada uang sama sekali, motor dia taruk dirumah, dia kembali memakai sepeda bututnya. Datin sudah bilang ke orang tuanya bahwa jangan disuruh ngantar batikan lagi ke bu Danu. Mending dia gantiin ayahnya beberes kebon, dan ayahnya yg menggantikannya ke Tembi. Dia masih trauma dan sekedar mengurangi kemungkinan ketemu bu Danu dan juga Pras.
Sore keesokan harinya, dia keluar dari ruang kantor Gramedia, selesai wawancara mau terus pulang. Pas lagi lewat belakang rak yg berisi aneka kertas kado, dan kartu greeting dan mau turun tangga, tasnya ada yg narik, dia menoleh dan kaget ternyata Pras, kemudian dia menyapa :” Lho kok disini mas, sedang mau nyari apa ya?”
“ Eh itu, lagi nyari kertas kado, lha harusnya aku yg nanya, kok siang hari begini sudah sampai sini, lagi nyari apa?” tanya Pras ingin tahu bener.
“ Ada panggilan wawancara kerja mas, tapi saya gak bisa ambil karena kerjanya harus gantian shift, saya bisanya hanya siang sampai malam, karena kalau pagi kan sekolah.” Pras seperti nelangsa hatinya melihat perjuangan hidup Datin yg tidak mudah.
Tiba tiba Kamila datang mendekat: “ Pras kalau dos yg sudah jadi beginian lebih ekslusif kali ya, isinya juga batik keren kok, bagaimana menurutmu…..eh lagi ada temannya ya….. sorry?” tanya Kamila sambil menyorongkan kotak karton motif ke Pras, dan kemudian dia tersenyum ramah ke Datin.
“ Ah ya,….teman SMA dulu ya?” tanya Mila sambil menjabat tangan Datin.
“ Eh bukan……, saya putrinya tukang batik ibunya mas Pras.” Jawab Datin komplit. Pras mengernyitkan keningnya.
“ Saya dengar tadi lagi wawancara kerja? Kerja dimana? Tanya Mila
“ Disini mbak, tapi saya gak bisa karena kan kerjanya shift gantian, sedangkan saya kan bisanya siang sepulang dari sekolah, sampai malam ga apa apa.”
“ Oh…….. masih sekolah? Part timer ya yg dicari? Dan bisanya siang sampai malam ya? Waaa….bagus tuh, kalau aku dulu nyambinya ya fashion show, nyoba nyoba jadi model kan bisa milih waktu.” Kata Mila excited.
“ Hahahaha……… gitu ya mbak, eh ngomong omong ini saya harus segera pulang, tadi pamitnya ibu gak sampai sore kok. Saya pamit dulu ya mbak, mas!” Datin pamit sambil jalan turun keparkiran diikuti pandangan Pras dengan perasaan yg tidak menentu, sedih-senang-rindu. Mila meninggalkan kesan menyenangkan bagi Datin, Mila cantik dan ramah, serta dari penampilannya kelihatan kalau orang kaya. Sangat fashionable, tapi jauh dari sombong…….. Apa pacar mas Pras yg baru ya?, tapi aku ikhlas ikhlas aja kalau mas Pras dapat orang seperti dia. Gak sombong………. Batin Datin.
__ADS_1
Dijalan Mila gak berhenti bahas Datin, “ Pras….gelok temen lo itu, body nya model banget! Tinggi, semampai, slim. Aku pikir tadi itu Caroline Zachri dia! Tahu gak lo siapa Caroline Zachri? Bukan penjual gembus di pasar Bantul ya! Tapi pragawati top yg very famous, aaah…. pasti lo gak update deh. Postur tubuh Datin itu dia banget, aku kalah tinggi, kenapa gak coba modeling saja?”
“ Dia pemain Basket SMA N 1, orang manggil dia Zaenab nya si Doel Anak Sekolahan, Maudy Kusnaedi maksudnya!” kata Pras.
“ Aaaaa iya bener… bener… bener…lo, pantesan tadi gua pikir kok tidak asing wajah ini ya, tingginya juga.” Jawab Mila.
Mendengar evaluasi Mila tentang Datin, Pras bangga banget, ingin dia teriak…..dia itu pacar gue….. Tapi yg keluar dari mulut Pras: “ Apa mau dia ya? Coba kalau ketemu nanti tak tanya.”
Saat perjalanan pulang kerumah Pras kepikiran tentang Datin, ada kebutuhan apa sampai dengan serius nyari kerja di kota.
Sementara itu Rudatin sudah beberapa kali dapat panggilan wawancara, tapi selalu terkendala mentok sama waktunya atau jam kerjanya.
Pada waktu malam Temu Kangen di FEB, acara berlangsung akrab dan meriah. Acara dari sponsor gabungan para produsen Batik ternama berupa fashion show dan lelang baju batik exclusive, berlangsung sukses dan laris manis diborong para eksekutip muda, para alumni FEB.
Kamila banyak kenal sama para pengusaha tersebut, karena sering memperagakan busana mereka. Kamila kepikiran dan ingat Datin, kenapa si cantik itu tidak bekerja dikalangan para pengusaha fashion ini saja. Kamila bicara dengan mereka tentang Datin.
Anak SLTA, part time Job, waktu selepas sekolah, sangat bisa untuk dilatih memperagaakan kain dan baju, satu lagi: postur tubuh menunjang sebagai model, itu kondisi yg ditawarkan ke pengusaha tsb, yg mungkin cocok ditaruk di bagian sales.
Siang itu jam 11.00, sehabis rapat pertanggungan jawab acara Dies, Kamila nyamperin Pras yg lagi bersiap mau ke kantin. “ Pras, bisa gak lo anterin gue ke teman lo itu, aku pingin bonceng motormu yg keren itu. Ke Bantul ya?.”
“ Kapan dan mau ngapain ketemu Datin? Jauh lho! Dititip aku juga gapapa pesannya. Ntar kusampaikan. Dia kan ga ada hp.” Pras menawarkan diri.
“ Besok Lebaran Kuda!..... Ya sekarang lah! Semakin cepat semakin baik. Kalau tak titip ke kamu nanti gak nyambung ngomongnya. Justru dia ga ada hp itu aku perlu ketemu. Karena selain sekedar nawarin kesempatan, juga ada unsur briefingnya dikit, supaya dia tertarik, atau tidak merasa sulit gitu……. Ah lo brisik banget, bawel kaya emak emak! Mau enggak????” cecar Mila.
“ Duuuh….hayuk hayuk hayuk!!! Iiiih nenek satu ini, mengerikan kalau perintah, bagaimana nanti kalau sudah jadi direktur ya?” kata Pras sambil mengerdikkan bahunya sebagai ekspresi ngerinya, kemudian dia melanjutkan bicara: “ Ah ya…ya….. kita samperin kesekolahnya saja, sebelumnya kita makan soto empal di pak Man dulu, didekat sana, Mak Nyus, dari pada di kantin. Sedeng selesai makan, pas jam pulang sekolah kan?”
“ Waaaa…… kadang kadang kamu itu suka cerdas! Yuk tunggu apa lagi. ”Puji Mila sambil nepok bahu Pras.
__ADS_1