Canting

Canting
Episode 45


__ADS_3

Saat lagi istirahat sehabis keliling candi, mereka duduk ditikar dibawah pohon, Datin menceritakan kalau dia ingin membangun rumah Manding.


“ Aku kesini salah satunya ingin memberikan ibuku sesuatu yg sangat beliau inginkan, yaitu membangun rumah peninggalan bapak di Manding, katakanlah sebagai kenangan dari bapak, tapi versi baru. Tidak untuk ditinggali beliau, karena beliau ini sekarang kan tinggal bersama saya, selain untuk teman Bimo juga karena beliau ini sudah sepuh. Rumah tsb sekedar untuk singgah saja.”


“ Kenapa tidak untuk villa dan disewakan saja Tin, kalau pas lagi gak dipakai?” usul Buntas “ Apakah kamu sudah punya list angan-angan atau bahasa teknisnya design requirement.”


“ Kontraktor aku ada, yaitu yg merenovasi CH Tirtodipuran dan Kotabaru, arsiteknya juga. Lagian tanahku kan gak luas, hanya 1000 meter kurang, untuk ukuran desa lho, yg kiri kanannya sawah dan kebon. Warisan dari simbah di bagi dua sama lik Mardi, itupun sudah kepotong jalan.”


“ Wah ya besar banget itu kalau untuk cottage bisa banyak.”kata Buntas.


“ ah jangan banyak banyak, sekedar kalau untuk santai bisa ngumpul keluarga gitu.” Datin menjelaskan.


“ Begini Tin aku coba bikinkan sketsa ide. Nanti aku konsultasi kepadamu sampai pas sesuai seleramu, baru aku develop designnya, terus kalau sudah jadi gambar rancang bangunnya kamu serahkan ke kontraktormu. Nanti aku bikin anggaran biayanya untuk bahan nego dengan kontraktormu. Aku janji, gambar rancang bangun ini hadiah dari aku untuk sahabatku, gratis. Ingat ya ini kenang-kenangan untuk Sri Rudatin dan ibu Parinah. Supaya aku kamu kenang, tidak dianggap angin lalu lagi.”


“ Speechless aku Tas, terlalu banyak kamu memberi hadiah ke aku, dan aku belum membalasnya sama sekali. Jadi aku gak usah mempekerjakan Arsitek lagi kan, karena sudah di tangani arsitek Jerman.” Jawab Datin.


“ Kamu tahu nggak Tin, dengan aku bisa ketemu kamu dan ngobrol lagi itu sudah merupakan hadiah yg luar biasa. Setidaknya ada yg mengingatkan aku untuk bersikap down to earth. Aku tidak menyangka sama sekali akan ketemu dengan pelaku sejarah masa laluku yg paling berkesan.” Kata Buntas jujur.


“ Terimakasih, sama-sama, siapa sih yg gak gembira ketemu sahabat yg sudah lama tidak ketemu dan tidak tahu kabarnya, tiba-tiba ada dihadapan kita dan sudah sukses pula. Ikut bangga Tas, aku.”


“ Kamu jangan bikin aku minder, ternyata nama Canting yg tersohor sampai di Jepang dan Eropa dan bahkan negara lain mungkin yg aku belum tahu, itu adalah kamu, Sri Rudatin gadis Manding, yg aku kenal baik, yg masih semuda ini kamu sudah mendunia. Percaya gak saat kita ketemu di pameran Paris itu aku jadi ciuuuuut begitu tahu bahwa Canting itu kamu. Aku pikir akan menghadapi wanita sekitar 50 tahunan yg glamour-sombong yg dikelilingi banyak asistennya.”


“ Well, ok……kapan ya Tin kita bisa menengok lokasi, untuk survei. Gambar ukuran persilnya ada gak ya? Aku di Yogya sampai tanggal 1 pagi, siang aku balik ke Jakarta. Aku pingin tahun baruan disini, menyepi, sudah bosan dengar hingar bingar old & new suasana metropolitan. Aku kerumahmu boleh gak Tin?” tanya Buntas.


“ Satu satu aku jawab ya. Yg terakhir dulu nih kujawab, mau kerumahku monggo, tapi aku habis Isya’ mau pengajian sebentar di Manding, bersama satu kelompok tani dan saudaraku. Jangan tanya dulu untuk apa karena ceritanya panjang. Nanti selesai pengajian baru kerumah. Ya sekedar ngobrol saja sama keluargaku dan mertuaku. Rumahku sama rumah iparku kan berdampingan hanya dipisahkan jalan lingkungan, be my guest.” Kata Datin, kemudian sambungnya :” untuk gambar persil, ya hanya di sertifikat itu, dulu tahun 1992-3 itu ada pemutihan dari pemerintah, yaitu berdasarkan pengukuran tahun tsb. Dan bagaimana kalau sabtu lusa jam 10 an kita kesana?”


“ Nah iya gambar sertifikat saja, terus kita perlu cocokkan batas batasnya dilokasi dan sekalian foto situasinya, ok Sabtu lusa ya!”


Ahkirnya mereka terpaksa sholat magrib di Masjid seberang jalan Candi Prambanan. Karena keluar sudah jam setengah enam sore, dan diakhiri makan malam bakmi Jawa di warung bakmi jawa yg terkenal itu, tidak jauh disebelah barat masjid.


Datin pesan sama anak-anak :” Ini kita main sudah seharian ya, mana diselingi hujan juga, jadi nanti sampai rumah terus mandi, sholat Isya’ terus bobok. Tidak ada ngrakit-ngrakit lagi! Janji ya anak anak?!”

__ADS_1


Bimo nengok ke Yasmin, Yasmin memang sudah lelah, sedangkan Bimo sudah terobsesi dengan robocopnya, Datin tahu, kemudian dia bilang : “ Begini saja, mainan kita titip ke om Buntas dulu ya?”


“ Ah, enggak usah bu……..Bimo dan mbak Ias langsung bobok saja nanti.” Kata Bimo hawatir pisah dari robocopnya, Yasmin memang sudah merem di mobil.


Sesampai dirumah sudah jam 8 malam lebih, disambut sama bu Parinah, : “lha kok sampai malam banget to nduk, anak anak ini apa gak masuk angin, hujan hujan begitu……….Lilis,….. Yanti…….ini momongannya diberesin dulu.”


Sabtu pagi, Datin sibuk menyiapkan sertifikat tanah Manding dan suruhan Lilis untuk mengopynya dirumah Yudi, karena dirumah Yudi ada kantor mininya.


Anak anak kemarin sama nanti jatahnya bobok ditempat eyang Dibyo. Pagi ini dia sempatkan menelpon Bima terlebih dulu sebelum pergi ke Manding.


“ Hallo Bima,…….suah mandi belum?.......lho sudah jam berapa ini, sekarang hampir jam delapan, ibu gak suka kalau Bimo lupa tugasnya. Main robo nya nanti lagi sesudah mandi dan sarapan. Kok begitu kalau gak ada ibu terus lupa tugas-tugasnya?” kata Datin, karena Bimo sudah siang belum mandi.


“ Ibu, kan semalam Bimo menyelesaikan robonya itu, baru bobok sebentar, Bimo dibangunin sholat subuh sama mbak Yanti, terus disuruh bobok lagi. Jadi Bimo kesiangan, tapi sudah sholat. Sholatnya sama mbak Ias. Dan sekarang lagi maem sama eyang.” Jawabnya


Kalau keseringan pindah tempat tidurnya, urutan yg sudah dibiasakan menjadi bubar lagi, hal ini susah mbenerinnya. Kecuali disertai pengasuh yg merangkap centeng nya yg ngatur schedulenya.


“ Ya sudah, nanti malam kan masih bobok sama eyang kan? Tapi Bimo harus janji tidak boleh tidur kemalaman. Habis ini Bimo langsung mandi ya!”


“ Sorry Tin aku kepagian, habis saya sudah selesai dari jam tujuh pagi tadi, terus glundang-glundung sendiri di kamar, bosan ya langsung kemari saja. Tapi kalau Datin masih sibuk, silakan saja, aku memang yg kepagian kok, aku tak main sama Bimo saja.” Kata Buntas.


“ Lha yaini, aku baru saja telpon dia, dia kan nginep dirumah eyang Dibyo. Kemarin sama nanti malam itu jatah nginep dirumah eyangnya Yasmin. Ya sudah aku segera siap siap saja tinggal nunggu foto kopi sertifikat sebentar.” Baru selesai Datin bicara, Lilis sudah muncul membawa kopi berkas sertifikat yg dimaksud, dan langsung diserahkan Datin.


Jam sembilan lebih mereka sudah sampai tanah pekarangan rumah Datin di Manding. Tidak seperti pemandangan beberapa bulan yl dimana pekarangan masih penuh runtuhan rumah. Sekarang halaman sudah bersih. Bagian bangunan yg masih bisa dipakai sudah dikumpulkan dipinggir dan digunakan untuk membangun kembali rumah pak Mardi.


Yg tersisa adalah bagian lantai bekas bangunan rumah lama, yg lebih tinggi sekitar 60cm dari halamannya. Jadi seperti panggung. Bagian ini sepertinya sudah dibersihkan untuk dipakai pengajian pas malam tanggal satu nanti, dan tinggal memasang tenda untuk persiapan kalau hujan.


Dilokasi sudah ada beberapa orang tukang yg sedang bangun rumahnya pak Mardi, untuk bantu mencocokkan ukuran persil rumah Datin tsb dengan gambar di sertifikatnya. Mereka juga menyiapkan bangku untuk duduk Datin dan Buntas.


Buntas melakukan dokumentasi lingkungannya, “ Tin keren banget situasi rumahmu, rumahmu itu mojok menyudut dibatasi dengan dua jalan dan dilewati jalur irigasi desa serta hamparan sawah yg fantastis. 1000m2 kelihatan kecil ditengah sawah terbuka begini.”


“ Iya kan, apa kubilang 1000 kalau di Jakarta ya harta karun, kalau disini seperti lokasi wc umum saja, nyempil kelihatannya.” Sahut Datin.

__ADS_1


“ Eeeee……percayakan pada arsiteknya dong, ini lokasi keren puol, itu batas pekarangan sebelah barat itu kan lokasinya nangkring, sebelahnya langsung saluran dan sawah yg beda tinggi 2 meter lebih saya rasa. Ini nanti penyelesaiannya agak mahal Tin, harus diturap ya, supaya gak longsor. ………he tunggu tapi ini fenomenal, dilingkungan sawah namun terbukti saat gempa kemarin gak longsor tanahnya ya, meskipun rumahnya hancur?”


“ Ya sumonggo kerso, terserah yg baik menurut pak Arsitek nya saja.” Kata Datin.


“ Nanti seminggu atau paling lama dua minggu dari sekarang aku akan asistensi sketsa lay-outnya atau sama imagenya kalau keburu ya, di Jakarta.” Kata Buntas.


Mereka tidak langsung pulang, karena bu Mardi muncul bersama Citut membawa gorengan sama wedang jahe sere.


Tidak berapa lama kemudian muncul Surtini, karena tadi pas dia sama suaminya lewat melihat ada Datin sedang ngobrol sama tukang pak Mardi, kemudian dia nyamperin. Begitu melihat Buntas, pecah suasana, akhirnya mereka bernostalgia masa lalu.


“ Tas, dari awal satu pesanku jangan kamu sentuh sentuh atau hilangkan pohon sawo ini ya.” Pesan Datin.


“ Ya janganlah, kita harus pertahankan pohon pohon besar itu. Ada pohon jambu merah disudut tenggara dan mangga diujung barat laut ini, kita pertahankan semua. lha yg pohon belimbing wuluh ini juga lebat nih, tapi kita lihat saja nanti bisa dipertahankan tidak.” Ungkap Buntas……….” Emang ada apa dengan pohon sawo itu Tin, kok hanya itu yg kamu pesankan, oooo iya ini buahnya cukup lebat ya?”


“ Ya…….begitulah.” jawab Datin singkat.


“ Ah….itu kenangan Datin saat pacaran dulu dengan almarhum mas Pras Tas, seringkali tiap aku lewat Datin pas ngobrol sama mas Pras disitu, mana dia tahu aku lewat, lha lagi asyiek sendiri.” Kata Surtini.


Buntas langsung memandang Datin dengan pandangan nakal, menggoda : “ Aku tebang aja ah, kan untuk gerbang masuk utama nanti!” godanya.


“ Buntas jahat ya!, tega ya!.....tinggal itu milikku yg berharga yg tersisa disini, mau kamu babat juga Tas?” kata Datin.


Buntas langsung mengelus-elus bahu Datin sambil bilang: “ Jangan khawatir, aku kan orangnya pengertian. Kecemburuan aku dan sedihnya aku dengan tidak pernah ada bekasnya aku dalam memorimupun aku tetap sabar kan Tin?” canda Buntas dengan memelas.


“ Wouw……...kamu kesini ini dalam rangka teklek kecemplung kalen tinimbang golek aluwung balen (dari pada nyari yg baru lebih baik kembali ke masa lalu) apa bagaimana Tas???” goda Surtini.


“ Penjajagan………..!” sahut Buntas cepat.


“ Ini orang kok pada ngelantur ngomongnya ya! Sur, Buntas itu sudah mau rabi sama londo Sepanyol, jangan kamu kacaukan rencananya! Tapi ngomong-omong cerita masa lalu itu konyol tapi sangat menyenangkan ya. Kadang aku senyum senyum sendiri kalau ingat itu.”kata Datin.


“ Ayo kita makan soto pak Man yuk! Kalau mau makan bakmi jawa mbak Denok bukanya malam sih.” Kata Datin. Dan akhirnya mereka bertiga makan soto.

__ADS_1


__ADS_2