
Pada hari jum’at siang jam 14.30, Prastowo sudah bersiap mau berangkat main futsal, motornya sudah diparkir didepan sepulang sholat jum’at tadi. Dia memakai kaos dan celana pendek serta sepatu olahraga, dan menenteng ransel berisi baju ganti dan handuk. Yg membedakan dengan kebiasaannya kalau mau olah raga, akhir akhir ini dia selalu kelihatan fresh dan bau harum segar dari body cologne yg dia semprotkan di badan. Perbedaan ini tidak luput dari perhatian ibunya.
“ Wah kok rapi banget, Cuma mau olah raga saja kan nanti pulang juga mandi lagi to le? Sapa ibunya.
Yg disindir nyengir saja, dia tidak berani terlalu mencolok dalam pacaran, khususnya dengan Datin ini. Prastowo sedikit merasa ada yg kurang pas untuk berterus terang kalau dia berteman dekat dengan Datin. Lain dengan kakaknya, Prayudi yg menikahi putri seorang juragan batik, teman kuliahnya dulu. Prayudi adalah putra pak Danu dengan almarhum istri pertama. Usianya 10 tahun lebih tua dari Prastowo. Karena saat pak Danu menikah dengan ibunya Prastowo, Yudi sudah berumur 8 tahun.
Ibunya ikut mengantarkan Pras, panggilan dari Prastowo, sampai ke gerbang depan sambil mau kontrol tanaman asem kranji yg berjajar diluar pagar halaman rumah. Saat dia menengok arah jalannya Pras, seharusnya kalau ke gedung futsal beloknya kekanan. Sedangkan Pras belok kekiri. Maka dugaan bu Danu semakin kuat kalau Pras mau nyamperin seseorang. Bu Danu sudah mendengar kabar burung kalau putranya tengah dekat sama Datin, anak pak Marto. Bu Danu berniat mau bicara dari hati ke hati sama putranya pada saat yg tepat.
Prastowo sudah meluncur bersama Datin menuju ke lapangan futsal di jalan Parangtritis. Hari itu Pras memang sudah janjian sama teman teman SMA nya untuk main bareng. Beberapa temannya selalu hadir bersama pacarnya, yg kebanyakan juga dari SMA yg sama. Kali ini Pras pingin membawa masuk Datin kelingkaran grupnya ini
Semula Datin agak canggung berbaur dengan para senior ini, namun mereka cukup ramah dan ikut senang mengenal Datin yg sudah mengharumkan prestasi Kabupaten Bantul ini. Apalagi di grup ini ada Retno, pebasket pelatnas Bantul dari SMA N I yg satu tim basket dengan Datin saat itu, yg sudah cukup akrab dengannya. Selain itu Datin memang orangnya ramah dan supel. Prastowo bangga memamerkan Datin ke mereka. Apalagi sahabatnya, Darto, menyampaikan kekagumannya ke Pras. Saat di ruang ganti selesai main, sambil nyodok perut Pras, Darto berseloroh :
“ Wah, Arjuna satu ini, selaluuuuu aja ditempel cewek-cewek cantik. Kali ini primadona lagi.”
Yg diomongin njawab sambil bercanda: “ Prastowo gitu loh!!”
Sejak saat itu, Datin mulai akrab dengan teman teman Pras. Mereka sering pergi bareng, makan bareng, olah raga bareng………
Prastowo bahagia sekali kalau dekat dengan Datin. Karena Datin itu bersifat ngemong, dia mempunyai tingkat kedewasaan sikap yg melebihi usianya. Hal tsb karena ditempa keterbatasan hidup keluarganya sehingga terbiasa mengendalikan diri dan menolong dirinya sendiri dalam banyak hal.
Namun kalau sama keluarganya, Prastowo mengambil sikap tertutup. Dihadapan bapak dan ibunya Prastowo tidak banyak membantah. Dari ibunya terutama, Prastowo sering di nasihati tentang pentingnya BOBOT-BIBIT-BEBET dalam menentukan pasangan hidup.
__ADS_1
Sampailah pada hari pengumuman kelulusan SMA, Prastowo sangat bahagia karena dia juga lulus dengan nilai yg cukup baik juga. Cita citanya dia akan meneruskan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis di UGM. Saat sepulang dari sekolah, dia merayakannya bersama teman temannya mau makan sea food di pantai Depok- Parangtritis. Dia nyamperin Datin, dan minta ijin ke bu Parinah.
“ Mau ke Depok nak?, sekedar makan sea food kan?, jangan sampai kesorean pulangnya dan jangan mandi di laut ya nak. Saya titip dan mohon jagain Datin.” Pesan bu Parinah sambil setengah hati nglepas Datin. Selain dia sangat menjaga perasaan bu Danu, bu Parinah juga sungkan sama tetangga di desa yg sudah mulai sering membicarakan hubungan sejoli ini dengan sindiran-sindiran agak sarkastis………” wah calon besan juragan nih.”
Prastowo dengan mantap menjawab: “ Iya bu, sebelum Magrib sudah sampai rumah.”
“ Sholat Ashar dirumah aja ya nduk.” Pesan bu Parinah ke Datin, setengah memohon.
Mereka ber sebelas orang ke pantai, konvoi berboncengan. Selesai makan sea food, mereka jalan ke pantai, mereka ngobrol di saung dan bercanda. Dasar bocah remaja, mereka gatel lihat air laut, kepingin mencelupkan kakinya. Tapi mereka semua menyadari dan berpegang teguh dengan aturan setempat bahwa pantai ini tidak bisa atau tidak layak untuk berenang karena profil pantainya yg seperti goa. Tampaknya landai tapi bawahnya growong seperti goa, sehingga kalau ada orang hanyut kebawa ombak, baliknya kemungkinan besar akan nyangkut masuk ke ceruk goa tadi, sehingga tidak bisa muncul keatas tertahan atap goa. Mereka paham sudah banyak memakan korban pantai ini.
Mereka sekedar kejar kejaran di pasir dan siram siraman air, tapi saat ada ombak lumayan besar tubuh mereka terbanjur air sehingga basah kuyup. Tidak luput Datin juga basah kuyup, sehingga bentuk badannya tercetak nyata, dan kelihatan sexy. Datin malu sekali, Pras berusaha menutupi dengan memeluknya sambil membawanya ketepi menuju ke saung. Juga teman teman cewek yg lain bernasib sama.
Datin tidak berani pulang sebelum bajunya kering. Bapaknya pasti akan marah. Di saung dia diam saja dan bingung. Pras menyadari dan berusaha mencari handuk, beli di warung yg jual baju disekitar pantai. Dia menitipkan Datin ke Lastri temannya, dan kembali lagi bawa handuk untuk ngelap rambut dan baju Datin. Baju sudah agak kering saat Ashar sudah hampir meninggalkan waktunya.
Untung sesampai dirumah, baju dan rambut Datin sudah kering, namun kelihatan kusut. Sesudah menyerahkan Datin ke ibunya Pras juga langsung pamit pulang, bertepatan dengan adzan magrib. Datin tidak menunggu Pras pulang langsung lari ke kamar mandi, sambil nyamber handuk.
Mereka sholat magrib berjamaah, selesai sholat bu Parinah langsung ngajak makan malam, dia masak oseng oseng pare sama goreng tahu. Tapi Datin menolak, karena masih kenyang.
“ Bu, tadi makan siangnya saja baru selesai jam 15.30, dan makanku cukup banyak tadi. Aku biasanya juga tidak makan malam.” Kata Datin, yg sebenarnya dia ingin cepat tidur menghindari interogasi.
Ibunya maklum, tapi sebenarnya ingin ngobrol sama Datin, “ Ya sudah, kamu duduk saja ngobrol disini.”
__ADS_1
Ambyar………., Datin tidak bisa menolak, dia berjalan mendekat ke tempat mereka makan dan duduk diamben (dipan pendek) beralaskan tikar, tempat makan keluarga. Dia duduk nyandar ke dinding gebyog (dinding kayu).
Bapaknya mulai bicara: “ Nduk, bapakmu kalau nyetor batikan ke bu Danu, beliau selalu nanyakan kamu. Salah satunya nanya apa kamu sudah punya pacar belum. Bapakmu kan ya bingung mau jawab apa? Ya tak jawab aja belum punya. Kalau teman ya banyak, termasuk nak Pras dan para sahabatnya kadang juga main kesana. Tak jawab gitu saja.” Kata bapaknya, lalu beliau melanjutkan: “ Sebenarnya aku ya takut kalau beliau nyecer aku. Maksud bapak itu kamu itu sekolah yg tinggi dulu, baru milih pacar yg terserah mau anak siapa. Ngguguo bapakmu nduk (percayalah kata bapakmu nak). Begitu pendidikanmu tinggi, kamu lebih leluasa menentukan hidupmu. Kalau kamu punya kelebihan pasti dicari orang. Lain kalau halnya seperti saat ini, orang memandang kita pakai sebelah mata pun tidak. Malah ada yg bilang kita hanya mau nunut mukti (panjat sosial).”
“ Memang kalau mendengarkan omongan orang kita bisa sakit hati, tapi kalau tidak kita dengarkan dan kita ndableg (keras kepala) ya salah juga, karena kita hidup bertetangga itu ada wewalernya (norma normanya) yg harus kita jaga, yg Istilahnya bener menurut pendapat umum.” Sambung ibunya, dan dilanjutkan lagi: “ Seperti yg sudah pernah ibu sampaikan, jangan terlalu serius, nanti kalau gagal kelewat sakit. Dan siap omongan terpedas tidak hanya dari sekitar tapi dari pihak keluarga nak Pras sendiri.”
“ Nggih bu, pesan bapak dan ibu pasti aku ingat dan jalankan.” Jawab Datin, sambil menguap ngantuk dan capek karena pethakilan sesiang tadi. Mengetahui anaknya kecapekan, bapaknya nyuruh Datin tidur.
Datin tidak bisa langsung tidur, masih kebayang pelukan Pras sore tadi, dalam kondisi saling basah kuyup pula. Hatinya berdesir kalau teringat itu. Baru pertama kali Datin tersentuh orang yg dia cintai, secara dekat sekali. Ibunya melihat kegelisahan putrinya ini.
Dua minggu lagi Prastowo akan mengikuti SBMPTN atau Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negri. Dia giat mengikuti bimbel, dan tidak sempat menemui Datin. Datin sendiri tidak mau mengganggu konsentrasi Prastowo.
Sesudah test selesai, dia tidak bisa menahan kangennya ke Datin. Dia pingin langsung nemui Datin dirumahnya. Sekitar jam 11.00 Pras sampai di rumah Datin, dia minta ijin bu Parinah untuk ngajak Datin makan baso, dan dia janji mau terus pulang ngobrol dirumah saja.
Diperjalanan Pras bilang sama Datin, “ Tin, kamu kalau bonceng aku kok gak pernah meluk aku to? Mbok sekali kali aku dipeluk jadi jalannya motor itu stabil.” Kata Pras bercanda sambil tangannya narik tangan Datin dilingkarkan dipinggang Pras.
“ IdiiiiiiIh…..mas Pras ada ada saja, cuaca panas begini kok pelukan, gerah kan! Kita gak pelukan aja omongan orang sudah sampai kemana mana, apalagi pelukan, nanti dibilang seperti sibuta dari Goa Hantu sama monyetnya.” Kata Datin sambil narik tangannya.
“ Bandel ya Datin, kok ditarik lagi sih tangannya!! Aku kangen dan suka teringat saat kita pelukan dipantai itu lho!!” goda Pras sambil ketawa. Sayang Pras gak bisa lihat wajah Datin dibalik punggungnya, yg merona karena malu, sangat cantik sekali. Datin diam gak berani bereaksi takut Pras malah menjadi-jadi becandanya. Maklum Datin kan gadis daerah yg masih lugu.
Sesudah makan baso, Pras pesan 2 porsi untuk dibawa pulang, untuk bapak sama ibu Marto. Sesampai dirumah Datin, mereka ngobrol diemperan rumah, ngobrol bertiga sama ibunya yg sedang mbatik.
__ADS_1
Mereka ngobrol tentang cita cita Pras kepinginnya kalau diterima di FEB-UGM dia mau merintis jadi staf pengajar atau dosen disana. Kalau kakaknya kan baru buka praktek sebagai Notaris di Sleman, istrinya bantu bantu keluarga mengelola toko batiknya. Istrinya gak nerusin kuliah, hanya sampai tahun ke 3 fak. Hukum.
Mereka ngobrol sampai menjelang magrib, Pras pamit pulang. Pras sangat nyaman ngobrol sama bu Parinah yg sederhana. Kalau bicara teduh.