
Datin sedang membereskan meja kerjanya yg numpuk surat-surat yg harus dia tanda tangani, kemudian terdengar pintu diketuk dan Susan masuk. Dengan wajah merah jambu, sedikit malu-malu dia menghampiri Datin sambil menyodorkan undangan:
“ Bu Datin, hmm……ini saya mau menyampaikan undangan rencana syukuran pernikahan kami, saya dengan koh Swan. Ini baru ibu yg saya kasih. Yg lainnya, yg tidak banyak juga sih, kurang dari dua minggu nanti baru aku sampaikan. Aku Cuma mau konsultasi sedikit sama ibu. Aku sudah bisa meyakinkan hatiku sendiri, tidak gamang lagi, karena koh Swan bisa meyakinkan aku. Anaknya koh Swan, Willem yg sudah besar hampir 13 tahun, ini masih sedikit jaga jarak sama saya, kurang bisa santai kalau komunikasi dengan saya. Tadinya saya minta waktu ditunda sampai komunikasi saya bisa benar benar cair sama Willem ini. Tapi koh Swan gak setuju, kata dia semakin cepat semakin baik, itu bisa sambil jalan. Ya sudah saya manut, hanya saya khawatir dia akan menjadi duri dalam daging.” Kata Susan.
“ Duh, pertama selamat dulu lah untuk bu Susan. Gercep juga ya, hahaha……aku ikut lega rasanya. Kapan ini, aaaa……7 juni 2008 Sabtu, insya Allah aku kosongkan waktuku. Di ……oh di Surabaya? Ok, Ok. Begini bu Susan, pertama bersihkan hati dan fikiran kita, ikhlas dan siapkan diri menerima yg menjadi tanggung jawab kita kedepan. Pak Suwandi benar, kapan bu Susan bisa akrab kalau jarang ketemu. Kalau sudah serumah atau kalau sudah sering mendampingi pak Suwandi otomatis akan sering ketemu Willem juga. Ya dari sinilah mulai jalin konumikasi secara intens dengan ybs kan?”
“ Begitu ya bu?”
“ Hei…..ya iyalah! Ini point of no return, mantapkan, dan jalankan.”
Susan memeluk Datin, sambil membisikkan: “ Bu Datin, anda lebih muda dari saya, tapi saya belajar banyak dari anda, belajar ikhlas, berprasangka baik, senyum sama semua orang, saya berterimakasih sama om Wibi yg sudah menarik saya kesini, sehingga bisa ketemu ibu. Ibu juga jangan lama lama ya, kasihan Bimo!”
“ Insya Allah, hahaha…..minta sama Allah dulu saya.” Jawab Datin.
Baru saja tahu kalau mau ditinggal cinta platonik ku kok disuruh buru-buru menyusul. Piye? karo sopo? Batin Datin.
Belum lama Susan keluar dari ruangannya Hp Datin berdering, dari Carla, Datin buru-buru mengangkat: “ Tin lagi sibuk ya?”
“ Barusan beresin tumpukan di meja, dah kelar kok, ada apa ya kok seperti urgent?”
“ Rada gawat ini, Yasmin bentrok sama papanya, dia gak masuk sekolah!” kata Carla agak gemetar.
“ Bentrok bagaimana? Ini sing gak waras yg gerang!(ini yg gak benar yg dewasa!), kok bisa, jiaaaan mas Yudis itu lama lama bikin darah tinggi semua orang. Bocah sudah ditata manut, berprestasi, jadi anak manis. Mana pernah Yasmin jahat sama papanya? Ya kan?” jawab Datin menjadi tersulut emosi. Tapi bias penyebab emosinya, antara kasihan sama Yasmin sekaligus disulut cemburu badai sama Nyai Blorong sebagai sebab koplaknya Yudis, menurut Datin.
__ADS_1
“ Kamu yg sabar to Tin, aku jadi tambah bingung ini. Bagaimana menenangkan Yasmin. Papanya sudah ngurus surat surat disekolah Yasmin untuk pindah. Ini yg menyebabkan Yasmin ngamuk.” Kata Carla…….
Tiba tiba Marsih masuk, “ Bu ini ada telpon dari bu Tari, guru yasmin katanya.” Karena mau ke Hp susah sedang sibuk.
“ Carla sebentar ini ada bu Tari telpon, sudah dulu ya, nanti kita lanjutin!” kata Datin.
“ Hah….bu Tari? Pasti Yasmin kesana, aku mau kesana!”kata Carla.
Ini apa to kok pating blasur ……….Batin Datin bingung.
“ Ya bu Tari Asalamuallaikum, bagaimana bu?”
“ Wallaikumsalam, iya jeng Datin, ini Yasmin ada disini, tadi diantar mang Diman. Dia mau jeng Datin kesini jemput Yasmin. Dia marah gak mau pulang. Coba bicara sama dia ya, dia mau bicara sama jeng.” Kata bu Tari.
“ Halo……, halo……, halo Yasmin ini ibu! Bicaralah nak, ibu tidak mengerti masalahmu, bagaimana ibu mau bantu?” Datin menunggu Yasmin, tapi ybs mungkin masih terisak sehingga susah bicara.
Dengan terisak, serta nada memelas, dan suara yg nyangkut ditenggorokan Yasmin menjawab:
“ Sekarang Yasmin yg sedih bukan papa, papa bentak Yasmin………. hhhhh.” Yasmin mencoba bicara tapi gak sampai selesai karena kepotong tangis nelangsanya saat bilang kalau dibentak papa……
“ Sudah…. sudah jeng aku gak tega, biar dia melepaskan kesedihannya dulu baru nanti aku telpon lagi.” Kata bu Tari juga sudah mau kebawa nangis.
“ Bu….bu Tari, bilangin ke Yasmin, aku besok ke Semarang ketemu dia, dan tolong bujuk dia pulang. Anak satu saja kok ya gak bisa nyrateni, anaknya halus perasa lho, kok ya dibentak, lagian ngoyo nyari duit dibledig sampai ujung mberung itu untuk siapaaaa kalau malah bikin ambyar semua, nyuwun sewu mbak Tari sampai bikin gaduh panjenengan!”
__ADS_1
Datin gondok dan menumpahkan uneg unegnya ke Tari.
Datin pulang benah benah kopor sambil cerita kondisi Yasmin sama bu Parinah. Bimo mengerti kalau ibunya mau pergi ketemu Yasmin, dia ikut mendengarkan cerita ibunya, kemudian dia lari kekamarnya, dan kembali sambil membawa dos berisi wonder woman yg sudah dirakit setinggi 30 cm.
“ Buk, ini titip untuk mbak Ias, suruh majang dikamarnya, bilangin yg cat woman baru aku rakit gitu ya bu.” kata Bimo.
Datin terharu sama si gantheng yg sudah besar dan berempati sama kakaknya ini. Simpatik sekali Bimo tahu kalau Yasmin sedang sedih. Sebentar lagi keduanya sudah remaja. Sekarang mereka kan 8 dan 9 tahun.
“ Baik Bim, kamu memang anak ibu yg baiiik banget. Kamu insya Allah menjadi orang sukses besok nak. Karena sukses itu ditentukan karena kecerdasan emosi, bukan sekedar otak pinter.” Diciumnya Bimo, sambil batin dalam hati mencium Yasmin juga. Karena Datin sedih siapa yg akan mencium Yasmin saat musuhan sama papanya.
Bu Parinah pesan ke Datin :
“ Tin, kamu yg hati hati dan tahu diri ya nanti, Yasmin itu siapa, Yudis itu siapa dan kamu itu siapa? Kamu jangan mengambil peran Yudis. Haknya Yudis mau mengajak Yasmin putrinya kemana. Kamu hanya bisa memberikan masukan dan pertimbangan. Apalagi katamu Yudis sudah punya calon sisihan. Kamu jangan membabi buta campur aduk karena cemburu juga. Benar benar harus dihadapi dengan kepala dingin, hati bersih, tidak pamrih. Ini urusan bocah yg punya perasaan. Jangan kamu malah bikin bingung memberi kesempatan Yasmin punya pilihan….jangan! Giring….. kasi pengertian ke yasmin untuk mau ikut papanya. Pahala menantimu nduk.”
Deg, hati Datin tercekat manakala ibunya bisa membaca pikirannya dan hatinya. Unsur cemburu memang ada, tapi Datin berjanji akan mengemban amanah ibunya yg SD saja gak tamat namun sangat bijaksana ini.
“ Inggih bu, Datin akan mengingat ingat itu.”
Kira kira jam 10 malam telpon Datin berdering, dari Carla:
“ Tin, Yasmin sudah pulang sama aku. Sekarang aku, mas Seno dan Keisya tidur di Candi semua. Yasmin takut, gak mau ditinggal. Tadi mas Yudis sudah minta maaf dan meluk Yasmin. Aku miriiiis banget Tin, masa anak takut tidur serumah sama bapaknya, nangis aku lihat Yasmin!” kata Carla
“ Oh ya besok kamu seperti biasakan setengah delapan sampai Semarang, aku yg jemput.”
__ADS_1
“ Iya, tapi kalau kamu masih urus Yasmin sama Keisya aku naik taxi saja gak apa apa!” jawab Datin.
Datin mewek mendengar cerita Carla kalau Yasmin ketakutan tidur serumah sama bapaknya. Bisa membayangkan ketakutan seorang anak yg harus tinggal sendiri dirumah bersama orang yg ditakutinya, sepinya gak ada tempat bersandar.