Canting

Canting
Episode 19


__ADS_3

Paginya mereka sarapan seadanya, roti dengan isi selai nanas atau selai kacang tanpa keju sambil ngrebus dan bikin omelet telur untuk semua kecuali Mila. Sedangkan khusus untuk Mila, Datin bikinkan roti bakar tanpa mentega lauk sup tomat peras bikinan express Datin sendiri, serta susu skim. Untung supermarket kem-chick tinggal turun kebawah.


Sesudahnya mereka pergi, Datin didrop di CHK oleh Yudis dan Mila yg mereka akan langsung ke RS lagi. Untuk siangnya nanti akan ketemu di CHK.


Kesibukan persiapan grand opening Canting House Fashion & Interior terus berlangsung sampai malam. Namun Datin, Mila dan Yudis saat menjelang makan siang sudah keluar makan, meskipun sudah disiapkan makan siang juga, dan mereka langsung pulang ke apartemen untuk istirahat. Datin Rencananya akan balik lagi sesudah sholat Isya’ untuk cek terakhir.


Saat cek terakhir itu Datin tadinya mau jalan kaki sendiri saja, nanti pulangnya diantar driver seperti biasa. Tapi ternyata Mila dan Yudis pingin ikut juga, akhirnya mereka ber 3 jalan kaki.


Dilokasi segenap bos BN hadir melihat persiapan dan juga Susan yg sejak dari pagi tidak pulang. Datin cocok kerjasama dengan Susan ini, Susan jatuhnya seperti kakak bagi Datin, sekitar 7 tahun lebih tua dari Datin, namun dia dibawah komando Datin yg sebagai Managing Director CH Group. Susan sangat care sama Datin, terutama sejak Pras meninggal.


Begitu melihat Datin, pak Wibisono menghampiri sambil melontarkan pujian dan bangga: “ Selamat bu Datin, kerja anda luar biasa. Arsitek Interior kita juga sudah paham bener tentang mau bu Datin.”


“Mau saya….? atau mau kita pak Wibi. Saya kira tidak ada kesuksesan ataupun kegagalan tunggal. Yg ada adalah kesuksesan atau kegagalan kolektif, bukan begitu pak?” jawab Datin. Tapi Wibisono ini memang mengagumi Datin dalam arti sesungguhnya, bahwa Datin adalah wanita muda yg benar benar profesional. Meskipun baru belum lama terkena musibah, namun kerja tetap profesional. Sedangkan usianya ya beda beda tipis dengan anak pak Wibisono sendiri, namun sepak terjang Datin jauh lebih profesional dan bertanggung jawab.


Saat melihat Mila, Wibisono kaget, langsung nyamperin dan nyalami dan meluk Mila dengan hangat, karena memang sudah seperti anak sendiri: “ Hallo Mila…..aaa maaf bu Yudistira ya, I am very very glad to see you today, I am surprised…….hahahaha, pak Yudistira istrimu membawa keberuntungan bagiku. Beliau mengenalkan aku kepada seorang gadis sederhana, lugu tapi smart, Sri Rudatin, and then……at the end of the day she turned out to be an Angel who rescue Batik Nusantara.”


“ Tunggu…tunggu Tin, pendengaran lo ada yg salah gak, atau jangan jangan cuma gua yg soak kupingnya. ……….Pak Wibiiiiiiiii……I miss Uuuuuu too, long time no see pak. I’ve been being a fisherman now, not a mannequin anymore, hahaha. Kenapa sih pak Wibi manggilnya pakai bu…bu..bu segala, jadi aneh ditelinga.”


“ Itu sudah harus begitu, dulu anda anda ini semua masih pada beyes, sekarang sudah jadi kolega pengusaha saya semua lho. Siapa yg gak kenal pak Yudis yg punya PT Artha Sagara dan Kingu Ebi ini?, dan by the way kandidat kuat untuk the next chairman kadin jateng lho!.”


“ Oh ya bu Datin, besok kita juga ngundang beberapa atase perdagangan dari beberapa negara asal pelanggan kita. Juga mr Kaburagi buyer besar kita.”


Grand Opening Canting House Kemang berjalan cukup padat tidak bertele tele dengan semua berjalan sesuai tepat waktu, yg dipercayakan kepada EO langganan. Datin tampil cukup menawan dengan busana nasional modern dengan outfitnya dari koleksi boutique CH Fashion. Dia membacakan sambutan selaku Managing Director CH group. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pembukaan oleh Gub DKI pada masa itu.


Acara puncaknya adalah peragaan busana dilanjut dengan lelang busana yg diperagakan. Disini muncul pertama sang Direktur, Sri Rudatain, dilanjut Susan, Yudis tidak ketinggalan diminta bantuan Datin untuk memperagakan baju tidur berpasangan sama Mila, dan juga peragawan dan peragawati ibu kota yg diminta untuk memperagakan koleksi fashion CH ini. Semua baju yg diperagakan sold out.

__ADS_1


Saat acara santai pas para bos BN grup dengan Yudis dimana disitu juga ada Datin sedang beramah tamah, kemudian wakil dari kedutaan Jepang nyamperin Datin. Orangnya cukup tinggi untuk ukuran orang Jepang, memakai Jas setelan abu abu muda dan kemeja putih, tampak bersih dan tampan serta terkesan berkelas. “ Hallo mrs. Rudatin, I hope you still remember me, Ichikawa, mr Prastowo colleague, remember?” katanya sambil kemudian memperkenalkan diri ke grup yg sedang beramah tamah disitu.


“ Aaah ya ya ya, I remember now, nice to see you again Ichikawa San. But, …. what a pity my husband now…..” belum selesai Datin bicara, Ichikawa kemudian memegang lengan Datin dengan maksud menentramkan sambil bilang :


“ Ssshh……ya I know…I know, I am sorry to hear that. Kaburagi san told me this morning. I just arrived in Jakarta last week for my new position in Japan Embassy in Indonesia. Kaburagi san told me that Prastowo san has already passed away, and the bos of this Boutique is his wife, Sri Rudatin. Aaah ya…..….. ………..and then I remember the pretty young lady, his wife, that Prastowo san intruduced me to……….my deep condolences for your husband.” Ucap Ichikawa simpatik.


“ Thank You very much sir. Ya…….it had happened so fast until his death. By the way, you mean you will stay in Jakarta for a certain period, won’t you?”


“ Yak……, how lucky I am, I can see you again here in Jakarta, you are my first business colleague here hahahaha……… By the way I couldn’t recognize you when I saw you this morning, you seem like a different person I’ve met.”


Percakapan Datin dan Ichikawa kelihatan seperti akrab sekali, kemudian Kaburagi nimbrung serta beberapa buyer setia CH.


Kehidupan kembali seperti semula dengan rutinitas sehari hari. Bedanya sekarang, ada kesibukan tambahan untuk tambahan jadwal kunjungan periodik ke Jakarta untuk CHK, dan bisnis dia jalankan sendiri tanpa Prastowo. Hal tersebut kadang kadang terlintas dalam pikiran Datin seolah olah ingin menghentikan kegiatannya karena putus asa, karena sebenarnya itu impian mereka berdua Pras, bukan dia sendiri. Tapi begitu melihat Bimo yg cerdas, keputus asaannya mendadak terbang lenyap, dan ingat akan janjinya kepada almarhum, membuat Datin menjadi bangkit dan semangat kembali.


Pada saat ada urusan di Kedutaan Jepang untuk urusan bisnisnya dengan Kaburagi, Datin menemui Kepala Seksi Ekonomi yg ternyata dijabat Ichikawa.


Melihat bisnis yg di tangani Datin prospek kedepannya sangat bagus dan pasti akan berkembang seperti bola salju yg tidak terbendung lagi, disini sebagai sahabat Ichikawa memberikan saran ke Datin, kenapa dia tidak mengambil atau meneruskan ke MBA, karena itu sangat membantu memecahkan hal hal strategis.


Datin keberatan dengan waktunya yg tidak mungkin, karena dia selain pebisnis juga sebagai single parent yg mengurus anak yg sedang butuh pendampingannya.


“ Hahahaha,….. it is not a big deal Datin san, every top university in the world provides online courses nowdays, you can manage it. And also Harvard Business School, where I went to college, there are online cources available. ……. come on Datin san, I’ll help you, I’ll assist you….promise!” begitu dukungan Ichikawa ke Datin.


Ichikawa adalah S3 alumni Harvard Business School, yg pada waktu Pras seminar di Tokyo 5 tahun yl itu dia adalah S2 alumni Harvard Business School yg baru akan mengambil S3 nya. Pada waktu itu dia sebagai salah satu pemrasaran dalam work shop yg diikuti Pras.


Atas dorongan sahabat barunya, Datin mantap akan mengikuti online cources dari Harvard Business School dimana Ichikawa paham seluk beluknya seandainya harus menanyakan segala sesuatunya.

__ADS_1


Datin adalah Sarjana Ekonomi, merupakan post graduate participant atau student yg akan mengambil S2 atau Master Degree. Dia bisa mendapatkan Master Degree dengan mengikuti kursus on-line, dengan syarat mendapatkan seluruh sertifikat dari kredit yg dipersyaratkan program Master yg dimaksud.


Tiap kursus yg wajib diikuti harus mendapat nilai A, atau A-, atau B+ agar bisa diperhitungkan sebagai kredit. Dan seluruh macam kursus yg terkait dalam persyaratan untuk mendapatkan titel tsb harus diselesaikan dalam waktu paling lama 3 tahun.


Kalau peserta yg fokus dalam studynya biasanya bisa selesai kurang dari 1,5 tahun. Tapi dengan banyaknya urusan Datin merasa ragu untuk bisa ngebut.


Begitulah dia mulai mengambil kursus on-line dari Indonesia, yg waktunya bertepatan awal musim semi di Harvard Business School (HBS) di Boston sana. Mart 2005, jadi paling lama seluruh kredit harus sudah selesai di November 2007. Datin tertarik dengan spesialisasi: Enterpreneurship & Innovation.


Datin sudah dipadati kesibukan barunya. Untuk memudahkan pekerjaan dan sekaligus kursusnya, untuk sementara Datin menetap di Jakarta. Bisnis yg di Yogya boleh dibilang sudah berjalan dengan baik, on the track, dan sudah dipegang orang-orang lama kepercayaannya.


Bimo sama bu Parinah sudah diboyong menetap di Jakarta, di Kemang.


“ Mo, cah bagus……nanti kamu disini kalau main gak boleh keluar-keluar sendiri ya, harus matur sama mbah-uti.”kata Datin menghawatirkan karena unitnya ada di lantai 8. Meskipun pintu balkon selalu dikunci dobel.


“ Hmm apa bu, kita kok dikamal teyus, gak bica main bola cama teman. Gopal sama wowo kok gak diajak cini bu, aku gak ada teman, aku bocen.” Keluh Bimo.


Datin trenyuh sedih, anak biasa lari lari dihalaman rumah sekarang dipenjara di apartemen. Meskipun apartemennya besar 146m2, tapi kalau keluar masih di selasar dianggapnya masih didalam rumah, sehingga terkesan disekap di kamar.


“ Gopal sama Wowo ya tinggal sama ibunya di Yogya, nanti kalau libur kita sambangi mereka ya?, Bimo disekolah kan punya teman baru, gantinya Gopal.”


“ Hiks…..aku kangen bapak, gak bica main ke tempat bapak, bapak bobok cendiyi dicana, gak bica bacaain ceyita untuk bapak yagi.” Rengek Bimo pagi pagi pas mau berangkat sekolah.


“ Duh…..jian bocah ini pagi-pagi malah ngrojeh ngrojeh hati maknya….sabar ya Mo, Bimo anak pinter to?, sayang ibu to? nanti malam kita cerita sama bapak lagi ya, bapak ada dilangit sama bintang bintang itu.”


“ He eh, nanti mayam ya bu! Acik acik!” kata Bimo baru sumringah dijanjiin ngobrol sama bapaknya, dan dengan gagah gandeng mbah-uti ngajak berangkat. Dibawah sudah ditunggu sopir.

__ADS_1


Begitu Datin sampai atas lagi sehabis ngantar turun Bimo dan mbah-uti, dia nangis sambil ngomong sendiri: “ Mas Pras, itu anakmu pinter godain ibunya, persis kamu mas! Sesudah mak-nya sedih dia nggembelo lagi.”


__ADS_2