
Datin tidak ingin langsung pulang, tapi dia muter muter dulu sambil menghilangkan bengkak dimatanya bekas tangisnya tadi. Tapi yg ada malah airmatanya tidak berhenti mengalir disepanjang jalan. Perasaannya nelangsa, sakit dan pedih karena secara langsung bu Danu menganggap Datin penyebab kurang ajarnya sikap Pras ke ibunya. Ada bibit ketidak sukaan Datin kepada bu Danu.
Sesampai dirumah sudah jam 16.30, tadi berangkat dari rumah jam 12.15, bu Parinah sudah hawatir sekali. Datin menjelaskan: “ Tadi pas jalan pulang itu aku ketemu Seno, teman SD ku dulu, sama ibunya lagi derep (panen padi), aku berhenti ngobrol sama dia sambil makan tempe koro bacem dan minum aren dikasi mereka.” Kata Datin.
“ Halah, ada ada saja kamu itu, lha sawah lik Darni kan jauh di selatan sana to? Kok jadi sampai nyasar kesana?”
“ Pingin jalan jalan saja, gak sengaja kok ketemu dia, malah sekalian ikut ngemil. Enak banget lho, sudah lama gak minum aren.”
Sejak itu, Datin mulai menjauh dari Pras. Kadang kadang kalau Pras nyambangi kerumah, ibunya disuruh bohong, kalau Datin sedang nentir temannya. Kalau Pras jemput kesekolah, Datin sudah siap dengan motornya mau kerumah temannya bikin tugas. Kadang kadang juga ketemu sebentar, karena sesudahnya Datin harus pergi acara ekskul sekolah.
Datin membuat kedua orang tuanya heran. Dan kemudian Datin menceritakan duduk perkaranya. Tapi Datin bijaksana, tidak menceritakan detailnya agar hubungan antara bu Danu dengan ibunya tidak canggung, atau dengan kata lain ibunya tidak sakit hati terhadap bu Danu, karena bagaimanapun juga itu penghasilan tambahan yg signifikan. Datin hanya mengatakan kalau bu Danu menginginkan Pras lebih fokus belajar, dan bu Danu minta tolong Datin untuk menyampaikan. Cara yg tepat salah satunya adalah mengurangi intensitas pertemuan. Hal tersebut disambut gembira oleh kedua orang tuanya Datin. Karena sekaligus menghindari omongan tetangga.
Sampai suatu saat, Pras balik dari rumah Datin dengan uring uringan. Karena pas ulang tahun Pras, dia ingin ngajak Datin makan di café. Ternyata Datin nonton pameran komputer dengan teman temannya di JEC Yogya. Kenapa nggak ngajak Pras. Dan padahal Datin tahu banget hari itu ulang tahun Pras.
Saat sampai di pendopo, kakak iparnya Rini, yg kasihan lihat Pras dan sudah lama ingin kasi tahu tapi belum ada kesempatan yg pas juga. Kebetulan hari itu mertuanya baru saja berangkat kondangan ke koleganya pak Danu. Langsung dia samperin Pras.
“ Pras, sebentar sini mbak mau ngobrol sedikit sama kamu.” Pras sangat menghormati kakak dan istrinya ini. Karena lebih bisa diajak bicara dari hati ke hati dari pada dengan ibunya yg hanya satu arah komunikasi saja, perintah.
“ Ya mbak, ada apa ya?” tanya Pras sambil duduk di amben pendek diruang display. Dia merasa heran tidak biasanya kakak iparnya ini seserius ini.
“ Pras, kamu yg sabar ya. Mbak tahu kamu uring uringan akhir akhir ini, ini masalah kamu dengan Datin kan? Apa bener begitu? Aku tanya dulu, jangan jangan ada masalah lain.” Tanya Rini.
Pras terkejut dan heran, kenapa Rini tahu tentang masalahnya akhir akhir ini. Sambil memandang Rini dengan heran, Pras mengangguk : “ Sepertinya Datin itu sekarang berubah menjadi selebriti mabuk, songong dan jual mahal gitu lho. Kesel juga aku lama lama.”
Rini berpikir bahwa sebenarnya Datin sudah sukses membuat Pras benci dan menjauh darinya dengan tidak merusak hubungan ibu dan anak, karena Pras tidak mengetahui penyebab perobahan sikap Datin. Rini kagum atas matangnya kecerdasan emosi Datin, gadis yg masih bau kencur, sangat belia. Tapi Rini tidak rela bahwa Datin sudah mengorbankan diri dan perasaannya, hanya karena status sosialnya yg mengharuskan dia dikalahkan. Ini kejam dan tidak adil.
Sesudah konsultasi dengan suaminya, Prayudi, dengan mantap Rini mau menjelaskan duduk masalahnya kepada Pras : “ Begini Pras, Datin bersikap begitu itu demi kebaikan dan kesuksesanmu.”
__ADS_1
“ Kebaikan dan kesuksesan bagaimana! Kehancuran kalee!” teriak Pras sengit.
“ Kebaikan dan kesuksesan, menurut ibu.”
Pras kaget seperti disengat kala. “ Apa mbak?, mbak tolong jelaskan sama aku semua yg mbak ketahui. Apa sebenarnya yg terjadi dibelakangku ini.”
Rini menceritakan kejadian saat terakhir Datin ketemu bu Danu di rumah ini. Rini tidak secara detail mengetahui pembicaraan ini, tapi dia tahu garis besar nya karena bu Danu pernah menceritakan rencana tsb ke Rini. Rini jelaskan juga bahwa sikap Datin yg membuat Pras jengkel terus membenci Datin dan akhirnya meninggalkan Datin, itu adalah pengorbanan Datin untuk menjauhkan diri Pras darinya, tapi hubungan ibu dengan anak tetap terjaga baik. Hal ini yg mengganjal nurani Rini, menjadi tidak rela Datin terinjak tanpa bisa menolak: “ Kamu jangan salah vonis Pras, kasihan Datin yg sudah mengalah, masih kamu caci maki juga. Tapi……….. kalau kamu dalam hal ini langsung frontal memusuhi ibu, ……Datin dan keluarganya juga yg akan menjadi korban. Diputus sama ibu pekerjaannya! Believe me……. Kalau sudah begitu, makan apa mereka?” kata Rini.
“ Kejam dunia ini ya Pras! Keberuntungan hampir selalu tidak berpihak kepada wong cilik dan si miskin.” Kata Rini sambil melelehkan air matanya.
Pras demikian juga tidak bisa membendung air matanya, ingin sekali rasanya saat itu memeluk Datin yg tidak punya bargaining position.
Rini menyarankan Pras ketemu Datin membicarakan jalan keluar yg terbaiknya bagaimana.
Pras menjadi pemurung. Sikapnya terhadap ibunya menjadi dingin, bicara seperlunya. Ibunya merasakan perobahan ini, tapi Pras sekarang lebih banyak dirumah, berarti Datin tidak menghianati janjinya. Ibunya lega, dan menganggap dengan berjalannya waktu pasti Pras akan kembali cerah seperti semula.
Pras berfikir akan ketemu Datin sebelum minggu depan. Saat dia bicara sama Rini dan Yudi, kakaknya menyuruh bertemu dirumah kakaknya yg di condong catur saja, jadi tidak ditempat umum dimana pasti akan ketemu banyak orang.
Siang ini Pras sengaja nyegat di SMA N I, untuk membuat janji sama Datin, hari saptu besok mau dijemput untuk menjernihkan permasalahan mereka. Dia menunggu duduk sama pak Simin, penjaga sekolahnya. Tidak berapa lama bel berbunyi, Saat Datin keluar kelas mau ngambil motornya keparkiran, Pras narik tangannya dari belakang, betapa kagetnya Datin.
“ Oooh…mas Pras, kok tahu tahu muncul disini? Sedang ada acara apa mas?” tanya Datin, tapi tatapannya tidak bisa menipu kalau ada kerinduan disinarnya. Datin melihat Pras sedikit kuyu seperti kurang tidur. “ Sudah mulai sibuk ya mas, kok seperti lelah sekali.” Datin melanjutkan bicaranya karena Pras hanya diam saja memandangi Datin.
Pras juga rindu sekali, rasanya ingin meluk gadis ini, tapi gak berani karena banyak orang, dia speechless. Akhirnya Pras bicara: “ Tin, aku tidak berlama lama, hanya mau bilang kalau besok aku akan menjemput kamu sekitar jam 10 gitu di rumah untuk kerumah mbak Rini. Aku sudah tahu semuanya, kamu tidak usah berpura pura sibuk lagi. Besok aku pingin mendengar penjelasan darimu langsung. Mas Yudi yg nyuruh ketemuan dirumahnya, biar leluasa bicara. Tolong jangan menghindar!” sewaktu Datin mau menjawab, Pras menunjuk Datin sambil bilang “ besok jam 10 pagi !” akhirnya Datin mengangguk.
Keesokan harinya, Pras bangun pagi bersiap seolah olah mau pergi ke kampus. Orang rumah tahunya Pras panitia Dies Natalis UGM. Ibu maupun bapaknya tidak curiga. Kalau bapaknya memang tidak terlalu ikut campur tentang urusan pacar putran-putraya. Yg menerapkan persyaratan tertentu dan rewel itu bu Danu.
Jam 09.30 Pras sudah sampai dirumah Datin. Melihat Pras sudah didepan, Datin mengambil tas terus keluar menemui Pras. Datin sudah menceritakan ke orang tuanya tentang permintaan bu Danu. Namun pada bagian yg menyudutkan Datin, anggapan bu Danu tentang peran Datin yg membawa pengaruh negatip ke Pras, tidak dia ceritakan. Dia rahasiakan benar dari orang tuanya demi menjaga perasaan mereka yg pasti akan jauh lebih sakit dari perasaan Datin sendiri. “Saya sudah siap mas.” Kemudian Datin pamit keorang tuanya: “ Pak, bu kami pergi dulu ya.”
__ADS_1
“ Ya, hati hati dijalan.” Pesan ibunya, “ Yg sabar jangan grusah grusuh ya nduk.” Datin memang sudah bilang ke orang tuanya, bahwa dia akan menjernihkan masalah ini ke Pras, serta akan menyampaikan saran orang tuanya ke Pras.
Sesampai di Condong Catur, mereka disambut Rini sama anaknya umur 4 tahun. Rini kali ini pamit tidak ke Tembi dengan alasan kondangan. Tapi sebenarnya mau menemani Datin. Sedangkan suaminya pagi pagi sudah berangkat karena ada pengukuran tanah di Genthan.
Sesudah basa basi sebentar, Rini memberikan kesempatan sejoli ini menyelesaikan permasalahan mereka, dan meninggalkannya di ruang tamu depan.
Sesudah mereka hanya tinggal berdua, mereka saling pandang bingung mau mulai dari mana. Mereka berdua sedih campur rindu. Dengan reflek Pras menarik Datin kedalam pelukannya. Datin sudah tidak bisa lagi menahan untuk menumpahkan kesedihan atas perasaannya yg seperti tertindas selama ini, dia terisak didada Pras. Pras miris melihat kepedihan Datin lewat isakannya ini, dia mencoba menenangkan Datin. Dia tidak bisa mengerti mengapa ibunya sampai hati memojokkan Datin yg polos dan sederhana ini, dengan menganggap sebagai pembawa pengaruh negatif pada Pras. Ada rasa kecewa yg dalam sama ibunya.
Sesudah suasananya tenang, mereka duduk berdampingan sambil Pras menggenggam tangan Rudatin dengan erat, dengan maksud untuk menguatkan Datin atau lebih tepatnya saling menguatkan.
Sambil masih disertai genangan air mata, yg kadang menitik, Datin mulai menceritakan maksud bu Danu. Datin sudah membicarakannya juga kepada orang tuanya, dan pada dasarnya jauh hari mereka sudah bisa menduga bahwa ini pasti akan terjadi, dan mereka memahami sikap bu Danu ini. Tiap orang pasti menginginkan yg terbaik untuk putranya.
Pras luka hatinya, dan dengan geram dia mengatakan, bahwa dia akan keluar dari rumah, dan mau bekerja sambil kuliah.
Datin, meskipun usianya jauh lebih muda dari Pras namun kepalanya dipenuhi seribu satu macam pertimbangan panjang, karena sudah ditempa kesulitan hidup yg dilewatinya.
“ Mas Pras jangan berfikir satu atau dua tahun kedepan. Kita masih amat sangat muda. Dengan sedikit mengalah, pada waktunya kita akan bisa melompat lebih jauh, orang tuaku berpesan seperti itu mas, dan saya yakin itu.” Kata Datin, “ Cobalah berfikir dengan kepala dingin, tidak harus memutuskan dengan cepat, tapi dengan tepat.”
“ Apa aku harus diam dengan hak ku diinjak injak, aku tidak bisa punya pilihan sendiri. Semua diatur seperti aku ini robot tak berperasaan!!” potong Pras dengan suara keras dan nada kesal.
“ Mas Pras jangan marah marah to, aku jadi tambah bingung!” suara Datin memelas terdengar tersendat karena tersedak isaknya. Kalau Pras teriak teriak, yg sudah tersusun dikepalanya jadi ambyar.
“ Saya mohon mas Pras lebih bijaksana dalam mengambil keputusan. Karena kalau sampai salah, semuanya tidak ada yg diuntungkan. Saya pun akan putus sekolah, karena pasti bu Danu murka, dan memutus pekerjaan ibuku.” Lanjut Datin.
Pras kaget, menyadari betapa sulitnya posisi Datin, dia sedih dan kembali memeluk Datin dengan putus asa. “ Terus apa saranmu?”
“ Mas Pras kan juga masih butuh dukungan dana untuk meraih mimpi mas? Selama ini dana dari orang tua lancar, itulah yg diharapkan. Memang sih mas Pras bisa sambil kerja, tapi apa yakin bisa menutup kebutuhan kuliah dan hidup? Bisa tapi lama! Ingat mas, lama! Pikirkan juga kendala kendalanya, seperti kecapekan kerja terus sekolah terbengkalai!” sambung Datin.
__ADS_1