
Saat ini, pertengahan Desember adalah menjelang rapotan dan libur akhir tahun. Datin keluar kelas menuju tempat parkir motor, dia tertegun kok banyak anak anak pada menyempatkan nengok dan melihat orang dibawah pohon dadap. Ternyata mereka melihat Pras sama Kamila duduk dibawah pohon ngobrol sama guru olah raga, pak Giarto, gurunya Pras juga dulu. Jelas yg menjadi pusat perhatian itu si peragawai cantik Yogya ini, Kamila, yg sering menghias poster poster iklan di DIY. Datin tertegun berhenti dan memperhatikan mereka, pak Giarto menunjuk ke Datin, kasi tahu ke Pras kalau Datin ada diparkiran.
“ Waduh…….ada kunjungan selebriti, pantesan satu sekolah nengok kesini.” Kata Datin saat sudah mendekat dan bersama mereka. “ Apa kabar, mas, mbak? Pasti ada hal penting nih.” Sambung Datin sambil ikut duduk di bangku.”
“ Sudah ya aku pamit dulu, tadi mau pulang lihat Pras mampir, jadi ngobrol dulu.” Pak Giarto pamit pulang.
“ Silakan pak Gik, terimakasih ditemani ya pak, salam untuk keluarga pak.” Kata Pras sambil melambaikan tangannya.
“ Haiiii Tin…..apa kabar???? Aku yg nodong Pras ngantar kesini, belum makan kan? Tuh dibawain soto sama Pras, eh…dimana Pras sotonya? Ketinggalan ya?” kata Mila, “ Oh sorry lupa, aku taruk disangkutan tas di motor Pras tadi, nanti dibawa pulang aja ya Tin. Begini aku gak lama kok, ada berita bagus untuk mu Tin. Ada Show room dan boutique batik besar di Yogya, yg bersedia menerimamu dengan kondisi seperti yg kamu bilang Tin. Begini, dia butuh orang di bagian penjualan atau pramuniagalah bahasa terangnya. Kamu datang saat kamu jam kosong, dia buka dari jam 09.30 sampai jam 22.00, asal jumlah jamnya 8 jam/ hari. Kamu harus bersedia memperagakan busana yg ada disana saat dibutuhkan, misalnya pas lounching baju-baju baru, atau pas ada rombongan khusus, ya….yg begitu begitulah.”
Datin kaget dan senang sekali dan diluar dugaan sama sekali, tapi sekaligus gamang begitu mendengar kata fashionshow, nampak adanya keragu-raguan di wajahnya yg cantik yg sedang tersenyum itu. “ Aku? Fashionshow? Haa….?” Kata Datin sambil ngelihat ke Pras, untuk minta pendapat. Pras mengacungkan ibu jari, sambil mengerdipkan satu matanya, genit, ke Datin.
“ Halah….gak usah takut, kan ada aku. Semua ada trainingnya, ya practical traininglah, yg kadang juga mendatangkan coach khusus. Aku juga biasanya diundang saat ada lounching baju baru. Dan jangan lupa, juga ada training bahasa inggris everyday. Khusus dialog dialog praktis seputar penjelasan produk sih. Karena banyak rombongan orang asingnya juga customernya.”………”Pokoknya OK ya Tin….aku tidak menerima kata NO!”
Datin tiba tiba menjadi semangat dan mantap dengan cara Mila mengajak tersebut. Dia merasa secure dengan Mila. Datin terharu, Allah mendengarkan dan mengabulkan do’a nya. Sambil matanya berkaca-kaca dia bilang: “ Bagaimana saya bisa menolak untuk kesempatan yg melebihi harapan saya ini, bagaimana saya harus mengucapkan terimakasih kepada mbak Mila, saya tidak ada ide, speechless. Tapi bagaimana saya tahu kalau langsung bisa diterima kerja, mereka melihat atau ketemu saya saja belum. Takutnya mereka lihat outlook saya terus ilfil.”
“ Duuuu du du du….., jangan nangis dong sweety, sayangku, saya yakin kamu bisa!” kata Mila sambil meluk Datin. “ Saya sudah ceritakan perihalmu, kalau ada yg sampai tidak tertarik dengan posturmu, berarti matanya rabun dan katarak, so mari kita tinggalkan orang tsb dan jangan pernah bekerja sama dengan orang bodoh semacam itu, OK?”
Pras bersyukur dan sangat berterimakasih sama Mila dalam hati. Memang bener kalau tadi pesan tersebut dititipkan Pras, yg keluar malah benang kusut dan sangat tidak menarik. Mila harus ngambil marketing spesialisnya. Pras mencuri pandang ke Datin, menikmati wajah gadisnya yg sedang bahagia ini, dan sekali lagi Pras bersyukur, sebenarnya ingin dia merayakan kebahagiaan ini dengan menemani Datin sehari untuk memuaskan rindunya. Tapi dia selalu ingat pesan Datin untuk menahan diri tidak sering bersama berdua dulu. Break dan brake.
Akhirnya, Mila dan Datin janjian untuk ketemu ownernya, wawancara, dan bos nya merasa puas karena Datin selain posturnya memang kapstok alias spt mannequin, juga kalau bicara cerdas.
__ADS_1
Waktu berjalan, Datin langsung masuk kerja pada pertengahan Desember ini, karena tamu justru berdatangan pada liburan akhir tahun dan liburan liburan lainnya. Kebetulan Sekolah libur sekitar dua minggu kalau akhir tahun, sehingga Datin bisa masuk pagi. Training bahasa inggris sehari 45 menit saat jam 15.00 yg biasanya pas sepi tamu, langsung dipraktekkan antar pramuniaga itu sendiri. Paket yg dipakai adalah metode conversation kuno dengan buku nine hundred, 900 conversation praktis sehari hari, dg penyesuaian konten seputar produk dagangan yg ada di show room itu.
Di Batik Nusantara ini juga ada pelajaran untuk bisa secara mandiri mengerjakan make up dan simple hair do atau dandanan rambut sederhana, belajar jalan ala di catwalk dan menggelar kain. Kegiatannya secara keseluruhan sangat bervariasi sehingga tidak membosankan. Datin sangat menikmati kegiatan barunya. Kadang dirumah meskipun sudah larut malam suka diulang ulang didepan orang tuanya,
Seolah-olah orang tuanya customer, Datin mengatur intonasi suara dan melancarkan kalimat pembuka ke customer secara standart.
“ Dah …sudah tengah malam nih, bubar bubar tamunya dah ngantuk!” teriak ibunya kecapekan, karena sudah jam 12 malam lebih. Ibunya bahagia melihat Datin sudah tidak nelangsa lagi. “ Kok seperti orang stres, Datin apa gak capek itu mulutnya, ngomyang mulu. Wis ah …tidur.”
Datin dinasnya kadang di outlet Kota Baru, kadang Tirtodipuran, kadang Malioboro. Yg terbesar adalah Tirtodipuran. Rencana kalau Datin sudah mulai sekolah lagi akan ditaruk di Tirtodipuran, sehingga gak begitu jauh dari Bantul. Tapi juga melihat tingkat kesibukannya juga, kalau musim turis domesik maka boutique Malioborolah yg sibuk.
Honor setengah bulan saja pada bulan Desember kemarin sudah sangat lumayan bagi keluarga ini. Belum katanya kalau ada pesanan export banyak maka tambah jasa produsi diluar gaji atau disebut juga dengan istilah bonus, juga lumayan. Datin berencana menabung untuk biaya kuliah nanti.
Haripun berganti, tidak tersasa sudah hampir Desember lagi, berarti Datin sudah hampir setahun bekerja sebagai pramuniaga merangkap pemeraga busana di show room boutique Nusantara ini. Datin selalu diantar jemput bapaknya. Pernah suatu saat Pras bilang ingin jemput pulang Datin : “ Tin sekali kali aku jemput gak apa apa to? Aku kasian pak Marto sudah sepuh nunggu sampai ngantuk ngantuk.”
“ Mas………..” itu jawaban Datin sambil memandang Pras dengan tajam tanda tidak setuju.
Datin sudah bisa membeli telepon celuler sederhana sekedar untuk komunikasi dengan Pras. Lebih tepatnya janjian untuk ketemu disela sela waktu mereka. Datin memakai nama CANTING yg tercatat di phone book nya Pras. Nama sandi sekaligus panggilan kesayangan pemberian Pras untuk Datin di HP. Kalau kode ketemu, mereka memakai istilah asistensi atau konsultasi. Hal tsb sudah menjadi rahasia mereka berdua, yg dirasakan menambah keromantisan hubungan mereka.
Kamila sudah 2 kali melakukan acara fashion show bareng Datin, pada saat acara launching koleksi baru. Dandanan Kamila dan Datin sudah mirip, gaya jalan sudah terlatih dg matang, dan saat mereka muncul bersamaan banyak yg kagum dan disambut tepuk tangan meriah para undangan, mereka seperti the Twin Angel. Baju yg dia peragakan pasti sold out, karena orang pada melihat kerennya baju tersebut saat nempel di tubuh mannequen nya. Datin sangat berterimakasih dan sangat menghormati Kamila, Kamila merupakan bidadari penolong yg dikirim Allah untuknya.
Tiap acara fashion show Datin, Pras pasti hadir. Suatu ketika pas break, Pras mendekati Datin sambil berbisik: “ Tin, maaf ya, aku mau jujur sama kamu,…….. aku sedang bingung sekarang ini.” Pras berhenti sebentar, kemudian melanjutkan: “Seseorang telah memaku perhatianku dan membuatku tidak bisa melupakan dia. Aku pingin kenalin dia ke kamu, menurutku cantik sih. Aku pingin minta pendapatmu.”
__ADS_1
Datin seperti disengat kala jengking. Dia hampir jatuh terduduk dikursi. Yang dihawatirkan Datin akhir akhir ini adalah gadis yg sering diceritakan ayahnya Datin. Saat ngantar batikan ke Tembi, sekarang Rini selalu ditemani gadis manis yg jaga di Show room Tembi, yg katanya adalah keponakan jauh bu Danu. Datin menahan air matanya sekuat tenaga. Hal tersebut memang sudah dalam pembicaraan waktu itu, kalau ada perobahan sebaiknya dibicarakan agar terkomunikasikan dengan jelas. Meskipun sakit, tapi jujur.
Datin tersenyum kecut, dan mengangguk. : “ Ada disinikah mas anaknya? Atau dia itu seseorang yg sudah aku kenal?” Dia menanti dengan gemetar, kemudian dia duduk di kursi dengan lunglai.
“ Eh…. sebentar ya, aku ambilkan fotonya dulu.” Pras mengambil ransel kuliahnya, kemudian mengambil bingkai kecil dari dalam ransel dan langsung di ditunjukkan Datin.
“ Perhatikan ya Tin, jujur ya jawabnya.” Begitu Datin melihat yg ada dibingkai itu, Datin nyubit pinggang Pras keras banget, sambil meluncur airmatanya karena lega. Ternyata yg disodorkan itu cermin kecil, dan wajah Datin yg cantik dengan make up tipis lah yg muncul dicermin itu. Pras kesakitan, tapi dia seneng banget lihat reaksi Datin yg cemburu berat. Hampir saja dipeluknya Datin untuk minta maaf karena telah bikin shock, tapi dia langsung ingat kalau sedang ditempat umum.
Tiba tiba muncul Kamila nanya, “Lho kenapa Tin? Seru banget becandanya ketawanya sampai nangis?”
Gelagepan Datin sambil geli nyautin sekenanya :” Ini mas Pras, becandanya nyebelin, masa aku dibilang ludruk, dandan sudah mentok berakhir seperti ludruk,…. dipuji kek!”
“ Hah……….kelewatan memang! Aku pingin lihat nanti bininya seperti apa, pasti norak ga boleh ini, ga boleh itu sama dia. Aku heran deh banyak anak kampus yg naksir dia, cantik cantik, ada satu yg ngejar dia si bohai Zahra, gak mempan juga. Emang terlalu sadar kalau gantheng dia, sok keganthengan tepatnya. Mungkin yg bantu bantu di SGPC (warung nasi pecel di kampus) itu kali yg cantik menurut dia.” Nyerocos Kamila ngata-ngatain Pras. Ybs diam saja gak marah, hanya senyum senyum saja. Tapi Datin merasa dosa, dia kasihan Pras dibantai gara gara dia.
Sampai dengan saat sekarang Mila belum tahu kalau Datin itu pacar Pras. Memang seperti itu yg dikehendaki.
Rudatin kinerjanya bagus, dia sangat menikmati pekerjaannya. Pada saat outletnya ke banjiran customer, dia melihat ada staf yg masih ngobrol maka dia akan tegor karena risih. “ Hei ini duwit yg datang, ini bakalan bonus kita, masa pada dicuekin sih! Hayo hayo hayo….” Sambil becanda dia mengingatkan temannya. Akhirnya mereka pada kembali ke tugas masing masing. Datin memang cukup akrab dengan temannya. Apa yg dia lakukan tulus, teman-temannya menaruh hormat ke dirinya.
Kalo menangani customer all out, sehingga selama hampir setahun disitu, nama Datin sudah dikenal beberapa pelanggan, baik dari manca negara, maupun dalam negri.
Pernah ada buyer dari Jepang datang, langsung menanyakan “ Where is Datin san?, I wanna see her.” Sesudah di ketemukan dengan Datin ternyata dia hanya minta dilayani Datin karena rekomendasi koleganya yg pernah kesitu. Karena tamu tsb ingin barang yg sama dan Datin yg bisa menjelaskan dan melayani dengan tuntas. Hal hal yg sama juga terjadi pada pelanggan dari berbagai negara.
__ADS_1