
Buntas sangat menikmati hidangan yg super duper mewah ini, bahan dari gudang Yudis, koki dari Canting Café.
Sambil makan ice cream Buntas ngobrol sama Yudis, “ Pak Yudis, tidak sama bu Minati?” pertanyaan yg akan diajukan oleh siapa saja yg sudah sering berhubungan kerja dengan Kadin Jateng, namun yg bukan orang dalamnya Kadin sendiri, karena mereka mengira Minati itu calonnya Yudis, dari melihat caranya melayani Yudis. Kalau orang dalam sudah pada tahu yg sebenarnya.
Yudis kaget, ternyata benar banyak orang yg sudah salah sangka kepada hubungan mereka. Yudis sendiri orangnya tidak tegaan, meskipun sebenarnya dia suka merasa risih dengan sikap Minati ini.
“ Bu Minati pulang kampung ke Menado, lagian dia kan gak ada hubungan kerabat dengan kami. Ini kan acara keluarga.” Jawabnya.
Buntas mengernyitkan keningnya, tapi tidak mendesak menanyakan lebih lanjut. Buntas hanya bilang: “ Ah saya beruntung, bukan kerabat tapi bisa ikut pesta!”
“ Lho pak Dipto kan guest of honor nya Datin.” Jawab Yudis sambil merangkul Buntas.
Akhirnya mereka melihat sketsa ide yg dibawa Buntas. Sketsa image masa nya bagus, seperti free hand dari Buntas. Tapi layout tapak bangunannya digambar pakai autocad.
Bangunan terdiri 2 masa, villa utama dg 3 kamar tidur dilantai atas dengan 2 kamar mandi, lantai dasar dipakai untuk living room atau ruang keluarga dan rest room atau wckecil; dapur bersih dan ruang makan; serta beranda atau teras depan yg cukup luas untuk ruang duduk.
Villa ke 2 kecil dg satu kamar tidur dan satu kamar mandi dilantai atas, lantai dasar untuk living room; dapur bersih dan ruang makan; serta beranda depan untuk ruang duduk.
Dua villa dihubungkan dengan swimming pool ukuran 3,5 x 10 menghadap ke sawah dengan beda tinggi lebih kurang 3 m dengan sawah. Dengan kedua ujung swimming pool berupa pool deck untuk meletakkan sun bed.
Carport cukup untuk 3 mobil bejajar sejajar kolam renang terpisah jalan setapak yg menghubungkan kedua villa dan langsung di akses dari.
Yudis mengagumi kecerdasan Buntas dalam mengolah persil sehingga bisa efisien dan artistik.
Datin hanya mengoreksi sedikit untuk jendela kaca yg menghadap ke saluran irrigasi dan sawah itu agar dipikirkan pengamannya. Bagaimana pagar yg transparan tapi aman.
Nanti kalau sudah jadi layout denah dan tampak arsitekturnya mau di bawa ke Kemang untuk asistensi.
Sesudah selesai semua sekitar jam satu dini hari, Buntas pamit pulang. Bu Dibyo sudah tidur dikamar tamu. Bimo dan Yasmin sudah tidur dikeloni bu Parinah dikamar Bimo. Yudis mau bangunin mereka ngajak balik merasa gak tega, apa lagi bu Dibyo yg sudah sepuh yg sudah tertidur dari setengah sebelas malam tadi.
Akhirnya Datin bangunin bu Parinah untuk pindah kekamar Datin dan minta tolong Yudis mindah Bimo kekamar Datin. Kemudian Datin minta Yudis tidur disebelah Yasmin di kamar Bimo yg tempat tidurnya memang ukuran besar.
“ Mas ini pakailah kaos mas Pras untuk tidur, dan baju mas Yudis nanti digantung di hanger ini ya. Dah selamat tidur dan terimakasih untuk jamuan makan malamnya.” Kata Datin sambil tersenyum.
“ Sama sama, yg menjamu kan kamu.” Kata Yudis.
__ADS_1
Datin keluar sambil menutup pintu kamar. Kepala sudah berat sekali karena selama dua hari penuh Datin kurang istirahat.
Pagi dini hari sesudah sholat subuh, Datin melihat Bimo masih pulas sekali tidurnya, mau bangunin gak tega:
“ Bim, kamu kok boboknya nglintek to, enak banget, ibu ikutan ah.” Sambil mencium Bimo kemudian dipeluknya Bimo dan Datin ketiduran lagi.
Sekitar jam setengah delapan, Datin merasa badannya gerah, meskipun kamarnya pakai AC, namun karena tidak kebiasa bangun siang jadi merasa risi.
Datin kaget terbangun belum ngatur sarapan, dengan masih memakai baju tidur kimono batik jumputan warna maroon yg kontras dengan kulitnya yg bersih, dia cuci muka dan gosok gigi, kemudian mengikat rambutnya dan menyangkutkan keatas sembarang asal tidak berantakan saja.
Kemudian dengan tergesa gesa dia kedapur, sambil teriak: “ Bimo ayo bangun sayang kita kesiangan nih!” Saat melewati ruang makan, bu Dibyo, Yudis sudah duduk sambil minum kopi di meja makan, sedangkan bu Parinah dan Lilis menyiapkan hidangan semalam steam kerapu dan sup kerapu yg masih banyak yg sudah dipanaskan, dibantu Yanti didapur.
Yudis tersenyum melihat Datin yg kalang kabut. Dia melihat wanita satu ini semakin mempesona saja dalam kondisi agak berantakan bangun tidur : “Biar saja Tin Bimo molor, Yasmin juga aku biarin masih tidur karena kecapekan.”
“ Lis tolong ambilin sisa sate jerbung yg belum dibakar kemarin, lepasin dari tusuknya mau aku goreng mentega untuk bocah bocah nanti. Terus kamu bikin sisa cuminya digoreng tepung saja.” Kebetulan masih ada sisa saus tempura, bisa untuk makan cumi.
Selagi mau mindahin udang goreng mentega di pinggan besar, muncul Yudis dipintu dapur sambil bilang: “Apa yg bisa saya bantu nyonya?”
Datin kaget banget :“ aduh!...Lha ini kenapa mas Yudis sampai kedapur, sudah duduk saja, ini sebentar lagi udangnya sudah siap.”
“ Sudah lama bangunnya? Sudah mandi? Duh aku dong yg gak tahu diri.” Kata Datin
“ Aku habis subuh gak bisa tidur lagi, kira kira jam setengah tujuh tadi aku duduk didepan TV. Yg ada bu Parinah saja sama Lilis dan Yanti sibuk didapur. Aku sih belum mandi, baru gosok gigi dan cuci muka, tadi pagi bu Parinah bagi bagi sikat gigi. Ah …….ok aku mandi dulu sebentar ya!” kata Yudis, tapi keburu tangannya ditarik Datin sambil berbisik ke Yudis :
“ Mas,….Mandi nanti saja sesudah sarapan ya!”
Yudis tersenyum dan mengikuti Datin ke ruang makan.
“Monggo bu Dibyo ini udang goreng mentega, sama cumi goreng tepungnya!”
“ Wooo….aku sudah makan pakai steam kerapu, yg lain itu verboden aku.” Jawab bu Dibyo tidak berani makan selain kerapu.
“ Ini anak anak sarapannya nanti saja nunggu dia bangun, sekarang kita menolong diri kita sendiri baru menolong anak kita, begitu kan anjuran untuk menyelamatkan diri saat naik pesawat udara?” kata Datin dan semuanya ketawa, tapi tiba tiba……….
“ Bu……..aku lapar!” kata Bimo nyamperin ibunya sambil matanya kriyip kriyip.
__ADS_1
“ Oh selamat pagiiii…. lapar chayank ya? Ok Bimo duduk sini ya, yuk hup..la, ibu ambilin piring Bimo dulu.” Kata Datin sambil menolong Bimo duduk ke kursi
Saat Datin mau mengambilkan nasi, Bimo menolak. “Bimo gak mau itu!”
“ Ok mau sup, biasanya suka sup ikan kan? Kata Datin
Bimo menutup mulutnya pakai tangan sambil menggelengkan kepalanya. “ Enggak mau.!”
“ Ayo Bimo jangan rewel, mau maem apa? Katanya lapar? Jangan nyari yg gak ada ya, anak pinter?” tanya Datin lagi.
Kemudian Lilis masuk bawa satu dos koko krunch dan talam berisi susu hangat: “ Bimo mau ini ya?” tanya Lilis.
“ Iya….Bimo mau itu!” katanya sambil semangat.
“ Lho dapat dimana itu kamu Lis?”
“ Itu kemarin sore waktu anak anak datang sudah bawa ini dari Palagan, kata pak Yudis untuk sarapan anak-anak.”
“ Ah ya lupa aku, kemarin pas aku beli pisau cukur itu anak-anak minta itu, aku lupa.” Jawab Yudis
Yasmin akhirnya juga gabung dimeja makan, dan mereka semua menikmati sarapan masing-masing sambil ngobrol.
Bu Dibyo menyaksikan kegembiraan pagi ini dengan bahagia. Seolah olah Mila hadir kembali dalam sosok Datin. Beliaupun bermunajat dalam hati : ya Allah, persatukanlah mereka yg sedang bahagia ini dalam satu keluarga, dan jangan Engkau pisah-pisahkan lagi hingga ke Jannah. Aamiin.
Sesudah selesai sarapan dan mandi, tiba saatnya mereka pamit pulang. Yudis siang ini juga akan balik ke Semarang dengan Yasmin setelah ngedrop bu Dibyo dan bebenah baju di Palagan, karena lusa Yasmin sudah masuk sekolah.
Yasmin kelihatan sedih, demikian juga Bimo. Keduanya kelihatan lesu. Yasmin sambil nunggu ayahnya, dia duduk sambil memeluk dinosaurus yg agak kecil yg dikasi Bimo.
Datin tidak tega melihat pemandangan ini, kemudian menghibur: “ Besok kalau libur semesteran Bimo main kerumah mbak Ias ke Semarang ya, katanya mau ikut mbak Ias ke perpustakaannya mas Dewa.”
Diingatkan tentang perpustakaan mas Dewa, baik Yasmin maupun Bimo seperti dicharge baterainya, “ Benar ya bu kita kesana besok ya.” Ajak Bimo.
“ Ok……the party is over!....let’s go back to daily routine!” kata Yudis dengan hati berat juga dia pamit.
Sesudah pamit bu Parinah, menggendong dan menciumi Bimo sambil bilang : “ Papa Ias kehilangan partner main nih Bim!”, kemudian dia cipika-cipiki ke Datin sambil menepuk-nepuk punggungnya.
__ADS_1
Ingin rasanya aku memelukmu dan menciummu Tin, tapi belum saatnya. Tunggu waktu yg tepat ya sayang aku akan melaksanakan amanah Mila dan juga amanah hatiku, melamarmu. Batin Yudis.