
Jam19.30, Datin baru masuk apartemen, Bimo nungguin terus sejak jam 18.00, dia tidak mau beranjak dari layar monitor CCTV unit apartemennya. Begitu didepan lift ada yg nunggu mau masuk dan itu adalah ibunya, dia teriak teriak kegirangan.
“Mbah uti itu ibu datang, mbah bukain pintu dong ibu mau masuk!!!” pintu selalu dikunci dan kunci ditaruk di vas bunga diatas credensa dimana Bimo gak tahu, karena dihawatirkan Bimo buka pintu sendiri.
Begitu ibunya masuk Bimo langsung menghambur dalam pelukan ibunya dan gak mau nglepasin.
“ Bu ini ada mangut kepala manyung mau aku panasin dulu, aku lapar belum makan.” Kata Datin.
“ Sudah kamu mandi dan ganti baju dulu sana biar seger, aku yg nyiapin semuanya.” Kata bu Parinah sambil membuka plastik yg berisi mangut tadi untuk dipanasi.
“ Bimo sudah makan bu, makan sup telor kecil kecil, mbah uti masak sup telor bu.” Yg dimaksud Bimo adalah sup telor burung puyuh.
Mangut Kepala Manyung sudah terhidang hangat hangat di pinggan besar : “ Bimo sini makan lagi bareng ibu saja, ibu suapin ya?” Bimo merayap menjauh, dia jijik lihat kepala ikan yg melotot matanya itu.
“ Enggak itu huhah (pedas), aku gak suka bu, aku sudah kenyang.”
Bu Parinah ketawa geli melihat ekspresi wajah Bimo yg seperti ngeri. “ Sudah, dia sudah makan tadi, kalau mau ngasi dia daging pipi ikan itu disuwiri dilepas dari kepalanya dulu terus ditaruk diatas nasi. Kalau masih utuh begitu anak kecil pasti gak selera. Jangan disamakan dengan dirimu yg dibesarkan dengan makanan ikan kali, hahahah…..kalau lihat ikan sudah seperti kesetanan!”
Bu Parinah nyamperin Bimo yg duduk didepan TV, menjauh dari ibunya yg lagi berkutat dengan Kepala Manyung itu sambil bilang : “ Wah Bimo nggak tidur nungguin oleh-oleh dari ibunya, ternyata yg dibawa lauknya sendiri ya Bim, apes kowe cah bagus.”
“ Hahahahaha….maaf ibu saking kelaperan, ini juga cuma dibawain bukan beli, dan Keisya tadi nitip untuk Bimo, bentar ibu ambilkan di tas ya, sampai lupa aku!” kata Datin bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya: “ Bu tolong ambilkan bungkusan marsmelow didalam sini, tanganku kotor.”
Bimo langsung kegirangan menerima sekantung besar marsmelow, permen yg gembus-gembus empuk. “ Makasih ibuuuuuu…….mwuah!” Bimo langsung nyamperin dan mencium pipi Datin.
“ Sayang, besok bilang terimakasih, telpon mbak Ias sama mbak Keisya ya, mereka beliin kamu dengan uang patungan mereka lho.”kata Datin
Hari Rabu 3 Mei 2006, jam 09.00 Datin dan Bimo sudah sampai di Labschool Rawamangun. Dia mengantarkan berkas Bimo yg mau masuk SD. Sebenarnya saat sekolah Bimo menyerahkan berkas dan catatan evaluasi belajarnya yg dilengkapi catatan psycholog sekolahnya, Bimo sudah pasti bisa diterima di Labschool ini.
Namun saat wawancara dengan fungsionaris Labschool, disarankan untuk test IQ, serta serangkaian test EQ dengan menggunakan simulasi simulasi. Karena Bimo ini sosok yg diatas rata-rata, supaya penanganannya tepat, dan jangan sampai malah anak nanti menjadi bosan. Mereka memberikan surat pengantar untuk test di Lab Psi UI di Salemba.
Datin langsung mengantarkan Bimo kesana, kemudian Bimo melakukan serangkaian test disalah satu ruangan di lantai 3, sedangkan Datin menunggu di ruang duduk diluar ruangan test tsb.
__ADS_1
Tiba tiba telp berdering :” Ibu ada janji dengan mr Ichikawa?” suara Marsih diseberang sana. “ Beliau mencari ibu di CHK.”
“ Perasaan gak ada janji ketemu lho, karena jadwalku jelas, pagi ini khusus ngurusin pendaftaran Bimo. Coba aku mau bicara.” Kata Datin.
“ Hallo Datin san, apa kabar? Saya tidak ada janji khusus, tapi saya mengantarkan undangan untuk memperingati Japan Children’s Day, you can go with Bimo, he must be very happy since there will be lots of children’s games. In japan every 5th of Mei we celebrate Children’s Day. Please do not miss it. Take your time. Saya hanya mampir tadi. Ok cu on Friday 5th of Mei.”
“ Thank you, saya usahakan bisa datang ya. Cu!”
Mereka sudah lancar dan terbiasa memakai bahasa gado-gado sekarang.
Datin meluncur menuju apartemen: “ Hai anak ajaib, sekarang Bimo sudah punya sekolah baru, tinggal Rabu minggu depan kita ambil hasilnya ya. Dan lusa ibu mau ajak Bimo main lagi.”
Datin mulai berfikir bagaimana menangani anak yg genius ini. Dia bangga sekaligus hawatir karena Datin tidak mengiinginkan Bimo kehilangan masa kanak kanaknya.
“ Mas Pras, alhamdulillah putra kita terlahir sangat pinter, bagi Bimo sekolah itu masalah kecil, tapi bagi aku kadang susah menjawab pertanyaan pertanyaannya yg kadang memang sulit. Bismillah sajalah aku dalam mendidiknya. Kamu pasti bangga mas punya Bimo.” batin Datin mengadu ke Pras.
“ Lusa Main kemana bu?” tanya Bimo
Hari jumat 5 Mei 2006, jam 10 pagi, Datin bersama Bimo sudah sampai di Kedutaan Jepang di jl MH Thamrin. Ichikawa sudah menunggu didepan. Suasana sangat meriah dan penuh warga jepang yg tinggal di Indonesia bersama anak anak mereka. Sebagian ada anak anak Indonesianya, biasanya anak pejabat atau undangan seperti dirinya.
“ Haik……welcome Bimo, hallo Datin san, you look so beautiful today!” sapa Ichikawa hangat.
“ Hallo…..” sahut Bimo sambil ngasi tangan untuk salam ke Ichikawa, lucu, tindakannya yg ramah ini mengagetkan Ichikawa.
“ Aaaah…….how lovely you are young man!”
Ichikawa mengajak mereka kenalan sama beberapa anak kecil Jepang yg sedang memainkan alat alat seperti untuk uji ketangkasan.
Yg membuka party tsb wakil dubesnya, karena dubesnya lagi dinas ke Surabaya. Mereka sudah mengenal Sri Rudatin dengan baik karena sering berurusan ke kantor ini. Dan para staf lokal pada kasak kusuk ngomongin kalau Datin adalah pacar Ichikawa.
Tidak berapa lama Bimo sudah terlibat permainan sama anak anak itu, mereka main dipandu instruktur gamenya. Dinilai dari ketangkasan dan daya nalar mereka. Tidak sulit bagi Bimo untuk membaur dengan teman baru. Bimo itu cerdas tapi tidak autis.
__ADS_1
Sementara Bimo main, Datin minum teh sambil makan snack dan terlibat obrolan dengan sang wadubes, dan mereka pun foto bersama wadubes. Banyak dari komunitas Jepang tsb yg mengagumi pengusaha wanita yg cerdas ini, dan Datin cukup dikenal dikomunitas mereka, sehingga Datin seperti celebrity yg banyak di request untuk foto bersama. Busana Datin memang chic banget hari ini, sarung jumputan sutra merah maroon mixed violet dipadu blus model kebaya warna hitam lengan 3/4 dari cotton silk, dengan kalung blood coral merah pas leher dg anting senada. Sepatu dan clutch warna hitam merk Dior, dan rambut di sanggul simpel. Aura kecantikannya terpancar keluar maksimal.
Tiba tiba Datin di kagetkan sapaan seseorang yg sudah dia kenal baik suaranya: “ Ada celebrity yg sedang sibuk melayani foto fans rupanya.”
Datin menengok kaget :” Aih…..mas Yudis, kapan datang, kok tau-tau muncul aja? Ikut lomba ketangkasan juga ya?” sapa Datin sambil bercanda.
“ Aku baru mau minta foto bersama lho, hahaha. Enggak aku 2 hari disini nanti sampai besok sore, ada rapat untuk pameran produksi September nanti. Bukan masalah udang, tapi aku terlibat disini, kasihan Yasmin, untung bu Dibyo pas disana.” Tutur Yudis.
“ Rapatnya disini?” tanya Datin.
“ Ah, enggak, di Rasuna Said, kebetulan ada waktu kosong jadi nyempetin sekalian urus perpanjangan visa kesini. Ini ketemu beliau terus diajak makan siang sekalian di pesta ini.” Yudis menjelaskan sambil merangkul Ichikawa.
“ Ya, I told pak Yudistira, kalau Datin san juga ada disini. It must be very fun.”
Saat jam 12.30, mereka break untuk makan siang. Wadubes, Datin, Ichikawa, Yudis, dan 2 pejabat Indonesia lainnya ada dalam satu meja bundar.
Bersamaan dengan saat makan siang, diumumkan para pemenang permainan ketangkasan tadi. Nama Aryo Bimo disebut berulang ulang, karena tiap permainan yg dia ikuti, dia juaranya. Bimo mendapat 3 piala. Datin heran, tapi bangga dan senang.
“ Ibuuuu…….ini untuk ibu.” Kata Bimo menyodorkan 3 piala kecil berupa patung bocah ke Datin, kemudian Datin mencium pipi Bimo.
“Untuk ibu ini?” tanya Datin.
“ Iya….” Jawab Bimo simpatik, yg mengundang haru para hadirin, disertai tepuk tangan meriah.
Begitu melihat Yudis, Bimo menghambur ke Yudis sambil teriak: “ Papa Ias….!!!.” langsung ditangkap dan digendong Yudis, dan diciumnya Bimo.
“ Wah Bimo hebat ya?” puji Yudis
“ Mbak Ias mana, mbak Ias ikut lomba apa???”
“ Mbak Ias nggak ikut, mbak Ias dirumah.”
__ADS_1