Canting

Canting
Episode 26


__ADS_3

Sesudah Yasmin tertidur sekitar jam 21.30, Datin ganti baju dengan baju Carla dan menggantungkan bajunya di kamar Yasmin untuk dipakai lagi besok pagi, dia sholat Isya dan dia lanjut dengan membaca surat Yasin disamping jenazah yg sudah dimasukkan dalam peti di ruang keluarga. Ada beberapa saudara dan kerabat dekat Yudis dan Mila yg perempuan masih duduk disekitar peti jenazah, tidak banyak, karena sebagian besar kolega Yudis, banyak yg masih berada diruang tamu dan teras luar.


Selesai baca Yasin, Datin berdiri melihat wajah Mila yg masih terbuka dengan ditutup tile transparant diatas petinya. Wajah Mila seperti hanya sedang tidur, cantik sekali. Datin lama sekali memandangi wajahnya, sambil air matanya tidak berhenti mengalir, serta pikirannya yg melayang layang seperti melihat bioskop, flashback mulai dari saat mereka berkenalan, saat Mila meyakinkan dirinya untuk menerima tawaran pekerjaan yg jauh melebihi harapannya, yg kemudian menjadikan lompatan besar dalam sejarah kesuksesanya, saat Mila mengajarkan modeling kepadanya, saat Mila menyemangatinya pada kesempatan apapun, ketawa ketawa bersama Pras dan Mila……………………, tiba tiba sekelilingnya menjadi gelap.


Datin kebangun karena mendengar samar-samar Yasmin menangis disampingnya, “ Ibuuuuu….kenapa ibu juga ikut mama……,ibuuuuu……jangan tinggalin Yasmin sendiri….hiks…hiks……,” menyadari dirinya terbaring disamping peti jenazah dikerumuni Carla serta kerabat perempuan Yudis lainnya, serta bau minyak angin menyengat membaluri leher dan keningnya, serta Yasmin yg nangis disampingnya, Datinpun buru-buru bangkit dari tidurnya, duduk dan memeluk Yasmin yg tampak lega melihat dia bangun.


“ Tin, kamu juga perlu makan, saya lihat sejak tadi kamu tidak makan sama sekali, bahkan mungkin sejak tadi pagi dari Jakarta, ini makanlah sedikit.” Kata Carla sambil menyodorkan dimsum hangat dan secangkir teh panas.


Datin malu, “ Wah, aku ini memalukan sekali, malah jadi gawenya banyak orang, maaf….. maaf……maaf.” Kata Datin sambil menerima piring berisi dimsum yg disodorkan kepadanya, kemudian dia makan dua potong dimsumnya, dan dia minum teh panasnya. Badan menjadi lumayan agak segar, dan nyawanya sudah ngumpul lagi.


Jam Junghans dipojok ruang keluarga ini berdentang satu kali, bahwa saat ini sudah jam 01.00 dini hari. Jam 03.00 jenazah mau ditutup dan akan diberangkatkan di masjid komplek sekitar jam 03.30 pagi, dan akan di sholatkan disana.


Datin membimbing Yasmin balik kekamarnya. Carla yg sudah sempat tidur sebentar saat Datin sholat tadi, mulai menyiapkan baju Yasmin.


“ Aku pamit ngluruskan badan dulu ya Carla, nanti jam setengah tiga aku siap-siap.”


Sesudah disholatkan di masjid komplek, Rabu 15 Mart 2006, jam 06.00, iringan mobil Jenazah berangkat ke Yogya. Yudis ikut mobil Jenazah. Datin dan Yasmin ikut mobil Carla dan suaminya bersama Keisya.


Iring iringan Jenazah masuk kota Yogya sekitar jam 09 lebih, setengah jam yg lalu Yanto sopir CH sudah bersama bu Parinah dan Bimo. Dia telpon Datin “ Bu kami sudah dibersama ibu sepuh dan Bimo, apa ke Palagan dulu?”


“ Gak usah, langsung ke makam Blunyah saja, kita juga sudah mau masuk Yogya dan langsung ke Makam, tidak mampir Plagan dulu.”


“ Siap.” Jawab Yanto……” eh bu ini Bimo mau bicara.”


“ Ibu…ibu…ibu dimana? Main kembang api lagi ya dirumah mbak Ias, Bimo kok ditinggal?”


“ Eh, hallo cah bagus, ibu kangen. Ibu enggak main kembang api Bim, tapi mau ngantar mamanya mbak Ias nyusul kerumah bapak sayang. Sudah dulu ya nanti ketemu dipintu rumah mama Mila ya, ini kasihan mbak Ias masih bobok, nanti kebangun kalau kita berisik, ok……mwuah mwuah mwuah.”

__ADS_1


Pelaksanaan pemakaman berlangsung dengan cepat tapi tidak mengurangi kehidmatan upacaranya. Sambutan keluarga dibacakan oleh Seno, adik Yudis.


Yasmin sama eyang putrinya duduk dikursi keluarga. Bersama pelayat yg sudah sepuh lainnya. Ibu Sudibyo kelihatan sangat tegar, tersenyum ramah dengan para pelayat, disampingnya istri kakaknya Mila yg di Surabaya, menjaga beliau.


Pengajian dengan suara merdu, yg membuat Datin tidak bisa menahan airmatanya. Tingkah Bimo memang simpatik, melihat ibunya nangis, Bimo yg digendong ibunya menempelkan bibirnya ke pipi Datin sambil tangannya meluk leher Datin, dengan maksud meredakan kesedihan ibunya. Banyak yg tersenyum menyaksikan tingkah simpatik Bimo ini.


Sesampai di Condong Catur Datin mandi lagi dan ganti baju yg bersih kemudian pamit mau tidur sebentar : “ Wah lega rasanya sudah ganti baju bersih luar dalam, tadi sudah seperti gulali rasanya. Badan gatel dan lengket karena satu setengah hari gak ganti baju. Bimo, ibu bobok sebentar, Bimo juga ya, bobok sama ibu sini. Nanti malam kita kerumah mbak Ias sampai malam.” Bimo memang capek karena jam 02.30 tadi sudah bangun siap siap ke bandara. Dia langsung tidur dalam pelukan ibunya.


Malamnya, Datin, bu Parinah dan Bimo menghadiri pengajian wafatnya Mila ke Palagan. Keluarga besar Yudis juga masih lengkap hadir disana, mereka bermalam di Yogya.


Yasmin sudah bisa merasakan kesedihan atas kepergian ibunya karena umurnya sudah 6,5 tahun dan duduk di klas 1 sekolah dasar. Wajahnya yg cantik diselimuti kemurungan. Bahkan kehadiran Bimo yg biasanya menggugah keceriaannya, kali ini tidak terlalu berpengaruh ke mood nya. Bahkan sejak kehadiran Bimo yg kemudian selalu nggelendot ke ibunya, menjadikan Yasmin semakin kesepian ingat mamanya, karena Datin yg tadi selalu bersamanya menjadi terenggut darinya.


Datin paham akan hal tersebut, kemudian dia bilang ke Bimo : “ Bimo anak ibu yg pinter, mbak Ias sekarang sedang sedih, sedang butuh teman, karena mamanya kan pergi pulang kerumah barunya, dilangit sana, seperti rumah bapak yg dilangit itu. Ibu boleh ya nemani mbak Ias, Bimo juga boleh ikut kok.”


“ Boleh, tadi Bimo ajak main mbak Ias gak mau.” Jawabnya.


Selesai pengajian mereka lanjut makan malam. Datin membimbing Yasmin, yg lagi termenung ditemani Carla dan Keisya :” Carla kamu makan dulu ge, aku mau suapin Yasmin sama Bimo dulu.”


“ Ibu aku gak lapar, aku gak mau makan, aku mau bobok saja pingin ketemu mama.” Kata Yasmin sambil mau nangis, ia ingin ketemu mamanya dalam mimpi, seperti yg sering Mila katakan. Mila bilang ke Yasmin, bila saatnya tiba mamanya harus pulang ke rumah barunya, Yasmin nanti kalau mau ketemu mamanya melalui mimpi.


“ Wouw, ya Allah…..seneng sekali, ibu juga mau ikut boleh?? Kata Datin sangat terkejut, hatinya runtuh merasakan kesepian dan kerinduan Yasmin ke Mila.


“ Tapi kita harus makan dulu dong…. karena kalau mama ngajak main nanti Yasmin sudah ada tenaga, gak lemes lagi, yuk Ias - Bim.” Bujuk Datin


Yasmin ngikut aja saat Bimo juga antusias :” Ayyyuuk, Bimo juga mau ikut, yuuuk mbak Ias kita maem dulu ya.”


Datin menyuapi kedua anak itu, Bimo yg paling lahap, sedangkan Yasmin setengah hati melakukannya karena segera pingin bobok. Dengan sabar Datin menyuapi dan membujuk Yasmin ditiap suapannya. Kemudian Datin pamit bu Dibyo mau menemani Yasmin tidur.

__ADS_1


Datin duduk diatas tempat tidur sambil menyandarkan punggungnya ke dinding dan dipangkuannya ada kepala Yasmin dan sebelah lagi kepala Bimo. Dia belai kepala kedua anak ini, Datin mulai bingung memikirkan cara untuk bisa mengawal pertumbuhan Yasmin, tidak terasa air matanya meleleh. Carla juga tertidur bersama anaknya ditempat tidur sebelahnya, dia kecapekan juga karena sejak kemarin dan pasti juga siang tadi dia tidak sempat tidur.


“ Mbak Milaaa……tidak hanya Yasmin yg merindukanmu, akupun juga merasakan kepergianmu terlalu cepat. Tapi aku sudah janji akan mengawal pertumbuhan Yasmin. Istirahatlah dengan tenang mbak.”


Yudis malam itu mengenakan setelan jeans hitam dan kemeja hitam. Dengan baju yg serba hitam tersebut wajahnya yg bersih dan tampan semakin kelihatan menonjol, namun kali ini ketampanan wajahnya diwarnai guratan duka yg tidak bisa dia sembunyikan. Dia duduk di karpet, hatinya sepi ditengah kerumunan kolega dan saudaranya yg bertakziah ke Palagan. Dia ingat Yasmin, dan ingin bersamanya saat ini.


Yudis bangkit dan mencari Yasmin, bu Dibyo bilang: “ Yasmin ada dikamar Mila, tadi sesudah selesai disuapi, Datin membawanya tidur.”


Yudis melongok kekamar Mila, kamar Mila waktu masih kuliah dulu, dalam keremangan kamar dia melihat Yasmin pules tidur dipangkuan Datin. Sejenak Yudis terkejut seperti melihat Mila yg sedang menidurkan Yasmin. Dengan pelan pelan dia mendekati tempat tidur, kemudian dia belai rambut Yasmin. Datin yg tadinya duduk ketiduran, merasa ada yg mendekat diapun terbangun. Melihat Datin terbangun, Yudis bilang: “ Yasmin nanti biar tidur sama saya, sekarang biar aku pindahkan dulu dia ke kamar sebelah, disini nanti biar untuk Seno.” Seno adalah adik Yudis, suami Carla.


Datin mengangguk, kemudian setengah berbisik Datin juga mohon pamit: “ Ok mas, sebentar aku tak bergeser dulu, dan sekalian aku juga mohon pamit dulu, Bimo juga sudah kecapekan.” kemudian Yudis mengangkat Yasmin dipindah ke kamarnya.


Saat itu sudah jam setengah sepuluh malam, Datin menelpon Yanto untuk ngangkat Bimo ke mobil, dia ngajak bu Parinah pulang dan pamit ke bu Dibyo yg masih duduk diruang makan bersama kerabat lainnya: ” Ibu, Datin mohon pamit dulu, ibu juga harus istirahat, jangan sampai kecapekan nanti gerah (sakit).”


“Terimakasih ya nak, aku tu merasa Mila masih hidup saja kalau melihat kamu itu nduk, Mila tu kalo nyeritain kamu gak ada habisnya, penuh semangat. Mila itu tresno (sayang,jw) banget sama adiknya ini.” Bu Dibyo bilang ke kerabatnya yg diruangan itu. Kemudian meluk dan mencium Datin. “ Ya sudah sana pulang dulu, kasihan Bimo.”


“ Terimakasih ya Tin, besok kamu pulang ke Jakarta? Jam berapa?” tanya Yudis


“ Besok dengan Garuda jam 15.30 mas, tapi pagi aku mampir kesini dulu.” Jawab Datin


“ Besok sarapan disini saja ya nduk, biar Yasmin juga mau makan kalau ada Bimo ini. Sama siapa saja kalau sudah sedih gak mau makan, tapi kalau sama kamu aku gumun lho nduk, kok mau saja, seperti kebo dicocok hidungnya.” Kata bu Dibyo.


Datin kemudian kaget dengar Bimo nangis, karena merasa disekap di mobil. Dia digendong Yanto nyusul ibunya.


Yudis mengantar sampai depan, “ Sekali lagi terimakasih ya Tin, aku minta tolong sering-seringlah telpon Yasmin ya Tin.” kemudian Yudis mencium Bimo, dan cipika cipiki sama Datin.


“ Pasti mas, insya Allah pasti!” jawab Datin.

__ADS_1


Sepeninggal Datin, Yudis kembali menemui koleganya yg masih berkumpul duduk di karpet ruang tamu. Yudis adalah pengusaha sukses dan merupakan salah satu fungsionaris Kadin Jateng. Dan di akhir periode jabatan kali ini banyak dukungan untuk menjadikan Yudis Ketua Kadin Jateng. Mereka sering kumpul kumpul untuk merembug pencalonan Yudis ini. Tidak terkecuali malam ini juga.


__ADS_2