
Sebulan sesudah meninggalnya Pras, Datin sudah mulai berbenah diri untuk merapikan pekerjaannya. Bu Parinah adalah wanita paruh baya yg sangat kuat, sudah terbiasa tertempa keadaan dari pengalaman hidup beliau. Bu Parinah sempat sedih sesaat, melebihi dari kesedihan saat beliau ditinggal meninggal suaminya, karena melihat Datin yg sejak kecil tidak pernah mudah hidupnya, baru sebentar dia mendapatkan kebahagiaan dan kemudahan dengan bersuamikan Pras yg sangat menyayanginya, tiba tiba terenggut dari sisinya. Tapi bu Parinah cepat bangkit, untuk bisa menjadi sandaran Datin saat membutuhkan.
“ Tin, kamu tidak bisa makan kenangan terus. Kamu punya kewajiban yg mulia, yaitu mengantar Aryo Bimo menjadi orang beriman dan berprestasi. Pupung ibu masih kuat, aku akan mendampingi kamu sambil bantu jaga Bimo.”
“ Inggih bu. Insya Allah, itu janji saya ke almarhum bu.” Jawab Datin sambil membelai rambut Bimo. “ Saya sekarang terlanjur diserahi tanggung jawab tentang boutique Kemang ini yg harus saya bereskan. Desember akan grand opening bu.” Lanjut Datin.
Datin selalu berusaha tampil tegar dihadapan siapapun, namun tidak jarang dia menangis diruang kerjanya mengenang kebahagiaan dan kemudahan saat hidup berdampingan dengan Pras, candaannya, romantisnya, kasih sayangnya, protektifnya, kesetiaannya……… Kadang Datin sampai terisak.
Siang itu Datin, Bimo dan bu Parinah diantar sopir meluncur ke Tembi, ditelpon bu Sumi kalau bu Danu jatuh dari kamar mandi. Sesampai di Tembi, bu Danu ada di tempat tidur tapi badannya yg sebelah kiri seperti kesemutan dan ngilu, sama Datin langsung dibawa paksa ke RS Bethesda Yogya. Sementara pak Danu diungsikan ke Prayudi karena meskipun pembantu banyak namun tidak ada yg nemani ngobrol. Bu Danu mengalami stroke. Dan sesudah dirawat 10 hari dibolehkan pulang, namun tetap harus dilakukan fisioterapi untuk pemulihan gerakannya. Namun sepertinya kondisinya tidak bisa pulih seperti sediakala. Meskipun sudah dibilang lumayan namun bu Danu kalau jalan seperti diseret kaki kirinya, sementara tangan kirinya gerakannya terbatas.
Bu Danu mengalami goncangan saat Pras divonis mengidap penyakit kanker, kemudian menjadi sakit-sakitan. Puncaknya pada saat Pras meninggal 1,5 bulan yl, beliau seperti depresi. Datin sering mengirim Bimo ke Tembi, ditemani bu Parinah dan pengasuhnya untuk menghibur bu Danu saat kangen Pras. Kalau sudah begitu seolah olah Datin kekuatannya menjadi berlipat. Tegar.
Sejak itu kegiatan toko batik Tembi ini diserahkan full ke bu Sumi untuk operasionalnya. Datin berupaya mempertahankan kelangsunagan pabrik batik Tembi ini, dan sudah terfikirkan akan mencoba membuat batik cap untuk upholstery sofa, yg memang saat itu sedang banyak permintaan. Bu Parinah sendiri sebagai salah satu tukang batik utamanya sudah berhenti mbatik sejak kehadiran cucunya, Aryo Bimo.
Saat ada rapat Dewan Direksi dan Komisaris CHK, untuk mondar mandirnya Datin ke Jakarta perlu ada tempat singgah di Jakarta, akhirnya diputuskan untuk beli apartemen di Kemang, The Mansion @ Kemang.
Sepeninggal Pras, Datin harus memutuskan segala sesuatunya sendiri. Kadang kadang konsultasi ke Mila dan Yudis. Datin fokus mengurus putra semata wayangnya, selain itu dia memang sedang di puncak kesibukan mengurus bisnis barunya, penyiapan CHK. Hal tsb untuk sementara bisa membunuh waktunya agar tidak sempat bersedih mengingat kenangan manisnya bersama Pras. Selain hal-hal tersebut, Datin juga masih mengurus perawatannya bu Danu, meskipun sebatas mengarahkan perawatnya. Jadi Datin sendiri menjadi tidak sempat merasakan sedih karena selalu dihadang urusan.
Menjelang peresmian CHK Datin sudah 2 minggu full di jakarta. Bimo dan bu Parinah di boyong juga ke Jakarta, karena Datin tidak mau ketinggalan perkembangan pertumbuhan putra semata wayangnya. Datin mondar mandir antara apartemen dan boutique, karena letaknya berdekatan dan bisa dengan jalan kaki.
Hari ini sepertinya Datin sangat padat dengan jadwal meeting baik dengan vendor maupun dengan para tenant. Banyak masalah memenuhi kepalanya yg seakan akan kepalanya sudah mau meledak, saat selesai untuk urusan hari itu dia masuk keruangan duduk dan menelungkupkan badannya ke meja kerja: “ Mas Pras ………….., bantulah aku mas untuk ngatasi semua ini. Hik..hik…… ini semua konsepmu. Kamu jangan nyerahkan semuanya ke aku. Katanya kamu mau mendukungku……..kemana kamu mas!!!!” Datin seperti ngomong sama dirinya sendiri setengah putus asa. Suaranya merintih sedih.
Tiba tiba punggungnya dibelai seseorang: “ Tin, yg sabar ya, kasihan Pras nanti jalannya tersendat. Kamu kan bisa telfon ke kami, setidaknya kita bisa saling menguatkan. Bukankah itu kebiasaan kita dari mahasiswa dulu.” Datin kaget sampai terlonjak. Dia sampai gak tahu kalau sudah ada Mila dan Yudis disampingnya. Ya persahabatan mereka itu sudah teruji waktu.
Datin ketawa sambil mengusap air matanya, dia malu pas lagi ngeluarin uneg uneg ke diri sendiri ketahuan Mila. “Lho kapan masuknya kok aku gak dengar pintu dibuka, hehehe aku lagi ngengleng (stres) ini mbak?” katanya.
__ADS_1
“ Apa?... orang pintunya mlongo gak ditutup kok, ya aku langsung aja masuk. Aku tadi nanya sama Susan, ditunjukin kalau kamu baru saja balik keruangannya, ya aku samperin langsung.”
Datin ketawa, memang tadi dia ngloyor masuk langsung ngambruk di mejanya dan ngomyang seperti orang kesurupan tadi itu, sehingga dia lupa tidak nutup pintu.
Mereka kemudian pindah duduk di sofa, dan ngobrol. Mila baru kontrol ke RS Jantungnya dr Munawar di jakarta Timur. Sebenarnya sudah disarankan by pass untuk 2 th yl, tapi karena Yasmin masih kecil dia gak mau.
“ Tin, semua orang itu punya masalahnya sendiri. Wang-sinawang (orang memandang orang lain sepertinya lebih baik dari nasibnya, demikian juga sebaliknya) kalau orang Jawa bilang. Aku semasa mudaku dulu seperti tidak pernah ada masalah dalam hidupku, tapi begitu saat aku mendapatkan kebahagiaan menjadi seorang ibu tiba tiba masalah besar menghampiriku…………..” sampai disini Mila tidak kuasa menahan tangisnya. Dan Yudispun memeluknya dengan raut wajah yg tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Datin bangkit menutup dan mengunci pintu, dia kasi tahu ke staf nya untuk tidak menerima tamu dulu. Karena lusa sudah grand opening, persiapan sudah 90% lebih, tentunya banyak yg harus digarap. Namun sementara urusannya diserahkan dan sudah ditangani Susan dengan baik.
“ Iki opo maneh sih mbak, aku ketinggalan berita yo. Biasanya aku sama alm mas Pras yg ngrecoki panjenengan terus.” Tanya Datin sambil ikut berkaca-kaca matanya.
Yudis mengisyaratkan untuk nanti cerita dirumah saja, kan Mila sudah janjian mau nginep di aptm Datin saat menghadiri peresmian CHK ini. Dalam rangka menghadiri peresmian tsb Mila dan Yudis menyempatkan kontrol ke RS jantung di Jakarta Timur ini.
Kemudian mereka pulang menuju ke the Mansion, Datin ikut mobil Mila, Mila dapat pinjaman mobil dari kolega bisnis Yudis selama di Jakarta, sedangkan mobil operasional CHK yg sering ngantar jemput Datin tetap standby di CHK untuk keperluan operasional lainnya. Di The Mansion @ Kemang tsb, kantor menyiapkan type unit menengah yg ada disitu, yaitu type 2 kamar dg luas total 146m2 di lantai 8.
“ Tadi pagi sempat dilakukan test ulang dengan kateterisasi untuk mengetahui seberapa jauh sumbatannya. Setelah berjalan beberapa saat salah satu dokter yg menangani bilang sama koleganya bahwa penyumbatannya terlalu masif, ini sudah bukan klas ring lagi tapi by pass langsung, namun dia masih harus menunggu hasil MRI, karena kalau dari kateter ini sepertinya pembuluh arteri yg sehat tidak cukup untuk nyangkutkan cangkokannya.” Berhenti sampai disitu Yudis sepertinya susah untuk meneruskan ceritanya.
“ Kalau kita bawa ke Singapore bagaimana mas? Setidaknya segala upaya kita tempuh dulu supaya tidak kecewa nantinya……..” Kata Datin terputus karena nahan isaknya ditenggorokan.” Kata orang untuk second opinion begitu.” Lanjutnya kemudian.
“ Tin,…..ingat gak 2 bulan yl saat Pras meninggal, itu aku baru pulang dari sana kan? Dan sama dokter sana untuk secara periodik dipantau terus dengan merujuk RS yg saya berobat sekarang ini. RS baru memang, namun peralatannya tidak kalah canggih kok, dan siapa yg tidak kenal dokter saya itu?” sambung Mila yg sepertinya lebih tegar dari pada suaminya.
“ Tapi….. ya mungkin akan segera saya lakukan untuk test yg sama ke Singapore Tin.” Kata Yudis.
“ Aku ikut antar, apapun kesibukan saya aku akan atur waktu dan bawa Bimo juga. Insya Allah.” Sahut Datin tegas.
__ADS_1
“ hahahahah…….Pras!….. hei jelek!, dengar gak lo? Kita lagi diskusi penyakit nih! Seakan akan kita sedang merencanakan tour wisata…….” Kata Mila keluar aslinya, seolah olah Pras ikut hadir disitu sambil ketawa memecah ketegangan sambil becanda. Yg lain kaget namun kemudian ikut ketawa.
“ Kita biasanya kalau ngumpul kan ya seperti ini…. Tidak ada yg berobah kebiasaan kita, hanya konten pembicaraannya yg sekarang menyesakkan dada. Mulai horor diawali saat ngantar Pras berobat ke Singapore dulu, pembicaraan menjadi berbeda topik. Tapi aku tetap tidak ingin kehilangan momen momen indah kita.” Lanjut Mila.
“ Aku sama mas Pras andil salah juga, karena saat kita kumpul di Semarang kita selalu masak lobster, karena yg gratis dan ready. Itu adalah pantangan bagi penderita penyakit Jantung. Kenapa itu gak terpikirkan olehku, meskipun mbak Mila ambilnya sedikit, tapi tetep nyoba juga kan, karena tergoda.” Sesal Datin yg sdh tidak ada gunanya.
“ Ah enggaklah, kan dulu saya juga selalu masak kukus baronang atau kukus kerapu sebagai pilihankan? Sudahlah kenangan indah kok disesali.” potong Yudis.
“ Ini sekarang Yasmin sama siapa? Kenapa gak diajak?” tanya Datin.
“ Terpaksa aku tinggal dan eyang Dibyo sekarang banyak nungguin di Semarang. Dia kan sudah TK besar sekarang. Bimo TK kecil ya? Kalau masih play grup atau TK kecil ya tak bolosin aja.” Jawab Mila.
Yudis mulai ngantuk, dia mengingatkan Mila jangan asal senang saja tapi lupa istirahat. Juga mengingatkan kalau Datin besok kan sudah harus gladi bersih untuk pembukaan lusa, dan besok Mila juga harus MRI.
“ Iya, ….mas Yudis bobok aja dulu, aku masih mau sedikit bernostalgia sama Datin dulu, aku segera nyusul bobok nanti.” Kemudian Yudis meluk dan mencium istrinya sebelum masuk kamar.
“ Tin aku kasihan sama mas Yudis, sejak aku hamil dan hasil usg-nya menunjukkan kalau saya mengandung bayi perempuan, si Yasmin anakku itu, dia bahagia sih memang, tapi berencana segera untuk punya anak lagi, supaya dapat anak cowok, untuk teman main bola katanya.”kata Mila tersenyum sedih, “ Ternyata saat kehamilanku itu, kondisiku seperti selalu kelelahan dan sesak nafas, dari tensi dan serangkaian test lainnya ketahuan kalau jantungku ada gangguan. Cepat lelah, nafas pendek, seperti itu, dan diputuskan kelahiran diajukan dengan cesar. Aku dalam pengawasan 3 spesialis saat itu, salah satunya jantung. Bener Tin, aku gak ngerti kalau aku mengidap penyakit jantung, gak pernah check up juga kan kita ya. Dan sejak itu aku disarankan atau bahasa terangnya tidak boleh hamil lagi.” sambung Mila sambil mengusap air matanya.
Datin memeluk Mila, kemudian sambil melelehkan air mata Datin bilang: “ Mbak rasanya aku pingin remaja terus, mahasiswa terus, dunia gak usah berputar, biar persahabatan kita yg indah dan penuh keceriaan seperti dulu itu tidak diwarnai noda noda hitam kesedihan seperti sekarang ini.” Mereka berpelukan sambil ketawa ironis ingat keadaan mereka sekarang. Tuhan kasi kecukupan materi tapi ditukar dengan mengambil sebagian kebahagiaannya.
“ Aku itu kalau gak ada Bimo, mungkin sudah tumbang gak bersemangat hidup mbak.” Keluh Datin.
“ Tin………….” Kata Mila, terputus lama seperti mikir.
Datin menyimak tapi kok tidak berlanjut, lalu dia nanya: “ Ya mbak? Mbak Mila mau ngomong apa?”
__ADS_1
“ Aku bukannya mendahului YME, seandainya aku gak ada umur……..aku titip Yasmin dan mas Yudis ya?.....bersediakah kamu Tin?” tanya Mila berbisik. “ Berjanjilah kamu Tin…..?”
“ Mbak Mila mengigau-ngelantur, mbak Mila gak akan kemana mana, semangatlah untuk Yasmin. Mbak Mila sudah lelah, ayo kita tidur!!!” jawab Datin, kemudian memapah Mila sampai didepan pintu kamarnya sambil nangis miris mendengar permintaan Mila tadi. Datin gak bisa tidur, nangis sedih kesepian atau tepatnya ngelangut. Baginya dunia sudah tua, yg dia cintai meninggalkannya satu persatu…..pak Marto .….Prastowo……dan siapa lagi……