Canting

Canting
Episode 2


__ADS_3

Disekolah selain sering nentir atau ngajari teman temannya, Datin juga aktif di organisasi siswa. Banyak teman laki lakinya baik yg seangkatan maupun kakak kelasnya yg naksir Datin, karena anaknya selain memang cantik juga cerdas dan gesit.


Siang itu seperti biasa selesai jam sekolah Datin ngerjakan tugas rumah di sekolah bersama teman temannya terlebih dulu, dia sampai rumah sekitar jam 15.00. bapak sama ibunya berhenti berkegiatan sekedar untuk makan bareng sama putrinya sambil ngobrol ringan. Ibunya masak ikan gabus acar kuning hasil mancing bapaknya kemarin sore. Masakan ini kesukaan Datin sejak kecil, selain balado belut goreng.


“ Nduk, ini ikannya dihabiskan supaya kamu jadi orang pinter dan sukses kalau sudah besar nanti.” Kata ibunya setiap kali dia menghidangkan makan ke anaknya, yg langsung diaminkan Datin dan bapaknya.


Setiap ada pekerjaan rumah dari sekolah, terutama matematik, Datin selalu pulang telat karena harus ngerjakan sambil ngajarin teman temannya disekolah. Datin melakukan dengan ikhlas dan senang hati. Orang tuanyapun mendukungnya agar Datin punya jiwa sosial yg tinggi.


“ Nduk itu batiknya sepertinya besok sudah selesai, kamu antar ke Juragan ya besok, sekalian ngambil lagi. Wah lumayan upahnya bulan ini nanti kalau bisa selesai banyak, meskipun mataku sampai pedes, lha truntum itu rumit, banyak ceceknya (titik-titik).”


“ Nggih buk, beres.” Jawab Datin sambil agak mikir, seperti ada sesuatu yg terlupakan. Kemudian dia melanjutkan menjelaskan: “ Oh ya, tapi mungkin agak sore ya bu, karena besok ada rapat osis untuk membicarakan acara classmeeting menjelang libur semester akhir tahun.”


“ Ya, sesenggangmu sajalah, mudah mudahan gak hujan.” Jawab ibunya.


Siang itu Datin lagi menghadap kepala sekolah bersama ketua osisnya, Buntas, melaporkan rangkaian kegiatan yg akan diadakan untuk acara class meeting tsb. Buntas adalah anak klas 2 juga, namun beda klas sama Datin, adalah putra pejabat BPN Bantul. Anaknya pintar dan bertanggung jawab, serta kelihatan rapi dan tegas. Makanya terpilih sebagai ketua osis. Sepertinya Buntas ini naksir Datin, sebatas cinta monyet anak anak SMP. Dia selalu perhatian dan membantu Datin dalam segala hal. Kadang kadang kalau pas istirahat suka nyambangi Datin diselasar sekolah sekedar ngobrol. Tentulah hal ini menjadi bahan bercandaan teman temannya dari kedua belah pihak.


“ Cie cie……aseek banget ngobrolnya, ngrembug harga beras yg mahal ya?” goda teman teman Buntas.


“ Lagi ngrembug dengkulmu yg ambleg itu!!” balas Buntas sambil ketawa, mengeluarkan balasan khas ndeso


Datin tersipu malu, dan mendorong Buntas supaya balik kekelasnya, dan dia sendiri balik masuk kelasnya. Begitu romantika gaya sir-siran anak SMP yg masih bau kencur. Mereka saling rindu kehadiran dan penampakan masing masing di sekolah sekedar untuk penyemangat.


Hubungan mereka hanya sebatas itu saja, meskipun begitu sudah banyak bikin iri dari kedua belah pihak. Pihak yg simpaty sama Datin maupun dari pihak yg simpaty sama Buntas.


Sesudah dari Kepala Sekolah, mereka kumpul sebentar dengan tim panitia untuk bagi tugas yg harus ditindak lanjuti masing masing.

__ADS_1


Saat mau pulang Buntas nawarkan untuk ngantar Datin pulang : “ Tin, aku antar pulang saja yuk, takut keburu hujan!” Buntas pulang naik motor.


“ Hah, diantar bagaimana? Aku kan bawa sepeda! Lagian rumahku dimana dan rumahmu dimana? Sudahlah yuk, keburu sore nih, masih ada tugas ortu nih.” Jawab Datin sambil ngeloyor ngambil sepeda terus pulang.


“ Mau kemana lagi Tin?, gak capek apa kamu, seperti gak punya udel aja kamu tu.”


Buntas mikir, Datin sudah telat pulang masih dihadang tugas dari orang tua lagi, terus membandingkan dengan dirinya yg serba mudah hidupnya. Dia heran dan salut, Datin bisa menjalaninya dengan ikhlas. Dia lega, terlahir di keluarga yg lebih beruntung.


Sesampai dirumah sudah jam 14.30 lebih, tanpa makan terlebih dulu, hanya ganti baju terus dia pergi ngantar batikan ke Tembi. Sholat dzuhur sudah dia kerjakan disekolah bareng teman temannya.


“ Berangkat dulu buk, keburu hujan!”


Sekitar jam 16.00, Datin sudah mau balik dari Tembi, dengan membawa batikan 3 lembar lagi didalam tas plastik dan ditaruk dikranjang depan sepedanya, dia menuntun sepedanya keluar halaman rumah juragan tsb. Saat diambang regol atau pintu gerbang halaman dan sedang mancat mau naikin sepedanya tiba tiba dari arah kiri masuk motor Honda Tiger menabrak Datin, motor masih dalam posisi berdiri dengan si pengendaranya masih diatas sadel tempat duduk motor dengan kedua kakinya menginjak tanah. Datin jatuh kekanan menjatuhi sepedanya. Meskipun motor dikendarai pelan atau tidak ngebut, tapi akibatnya cukup parah bagi Datin, sepertinya lutut dan betis kirinya bermasalah. Meskipun tidak terlalu berdarah, namun Datin kesulitan berdiri. Suara yg berderak keras mengagetkan orang didalam rumah. Bu Danu dan Rini menjerit dan menghambur keluar.


Rupanya pengendara motor tersebut putra bu Danu, Prastowo, dia menjelaskan : “ Aku gak bisa lihat kalau ada sepeda mau keluar, karena tembok pagar depan itu dari batu bata tinggi, ya seperti biasalah aku mbelok kanan masuk halaman, tiba-tiba ada sepeda muncul dari balik regol ini.”


“ Ya sudah jangan buang buang waktu kita antar Datin ke Rumah Sakit. Darno….No….kemana Darno?” bu Danu manggil sopirnya, tapi Darno masih belum pulang dari kantor pak Danu. Pak Danu masih di jalan.


“ Sudah bu sama aku saja pakai mobil mas Yudi tak antar ke RS, nanti kalau pak Darno balik suruh ngantar sepedanya kerumah……siapa namamu? Maafin aku ya, aku benar benar gak lihat.”


“ Datin namanya, iya bener sambil ngabari orang tuanya supaya tidak perlu hawatir dan nunggu dirumah saja.” Sahut bu Danu.


“ iya mas, gapapa, aku juga gak nengok nengok lagi saat mau keluar, dengar suara motor sih tapi gak nyangka kalau mau belok masuk. Kejadiannya begitu cepat.” Jawab Datin sambil air matanya ngalir karena nahan sakit yg sangat nyeri.


Akhirnya Datin diantar Prastowo sama kakak iparnya, Rini ke Rumah Sakit terdekat jl dr Wahidin Sudiro Husodo. Di IGD Rini nungguin dan bicara sama dokternya. Kemudian dibawa keruang rongen untuk mengetahui ada atau tidaknya patah tulang atau retak. Setelah satu jam nunggu di IGD, ternyata tidak ada patah tulang ataupun retak, hanya terkilir saja yg menyebabkan bengkaknya sekitar lutut. Pak Marto nyusul ke RSUD diantar pakai motor sama tetangganya. Kakinya dibalut balut untuk menahan agar tidak banyak gerak. Penanganan selesai sekitar pukul 19.30. mereka ber empat pulang diantar pakai mobil sama Prastowo. Sesampai dirumah disambut ibunya yg menangis karena hawatir. Tapi yg sedikit membuat agak lega itu karena ibunya melihat sepedanya utuh saat diantarkan kerumah sama sopir bu Danu, berarti cideranya tidak terlalu parah.

__ADS_1


“ Bu Parinah, ini putrinya terkilir agak parah, tapi hasil fotonya tidak ada tulang yg retak ataupun patah. Besok siang harus fisio terapi di RSUD. Tadi sudah diterapi sekali. Dia harus terapi satu seri yaitu 5 kali, dilihat kalau belum membaik ya ditambah lagi.” Penjelasan Rini ke orang tuanya Datin, dilanjut Prastowo :


“ Nanti saya yg akan antar Datin ke RS kalau pas fisio terapi, mungkin nanti aku jemput sepulangku dari sekolah. Mudah mudahan Datin besok bisa bonceng motor ya. Tapi Datin besok gak usah sekolah dulu, karena masih harus jangan banyak gerak dulu. Besok pakai motor ya Tin?” tanya Prastowo.


“ Nggih mas, tapi apa gak bisa diurut dirumah saja ya sama pak Parto sopir truk yg ahli pijit dan patah tulang itu pak? Yg dulu pernah ngobati pak Mangun tetangga kita saat jatuh dari motor itu? Dari pada ngrepoti mas Pras atau mbak Rini.” Usul Datin. Bapak dan ibunya sebenernya lebih cocok seperti usul Datin, tapi Rini motong:


“ Sudahlah pak, jangan coba coba, sebaiknya saran dokter yg nangani tadi kita ikuti dulu. Nanti klo sudah baikan terus mau dilanjut dengan urut ya monggo. Pun pak, gak usah dipikir ngrepoti ataupun biayanya nggih!”.


Sepulang Prastowo dan Rini, Datin langsung ambruk di dipan ruang depan karena lemes banget sejak siang belum makan apapun. Tadi ditawari roti sama Rini belum sempat dimakan karena masih diterapi.


Esoknya Datin tidak masuk sekolah karena dipakai jalan masih susah. Kalau sudah lemas ototnya, meskipun jalan masih tertatih tatih dia bisa bonceng sepeda bapaknya.


Prastowo adalah anak kelas 1 di SMA N I Bantul di jl. Wahid Hasyim, Jetis. Dekat dengan SMP N I sekolah Datin yg berada di jl. Kartini. Prastowo dulu juga dari SMP N I itu. Sebelum jemput Datin, saat pulang sekolah dia mampir makan soto diwarung dekat sekolah dulu, dia tidak pulang dulu karena arahnya menjadi bolak balik. Saat sampai dirumah Datin, Datin sudah siap, namun dirumahnya ada 2 temannya dari osis, yg salah satunya adalah Buntas, mereka bingung salah satu panitia utamanya tidak hadir dan belum ada kabar. Akhirnya perwakilannya nyambangi kerumah Datin untuk cari tahu sekaligus menanyakan tugas yg harus diselesaikan Datin.


Datin pamit kepada 2 orang temannya, dengan memakai tongkat dia berjalan sambil naik ke boncengan Pras dibantu temannya.


“ Nanti turunnya bagaimana? Bisa sendiri nggak?” tanya temannya. “ Bisalah, kaki kananku kan gak parah, Cuma memar sedikit dan inipun sudah mulai pudar, kuat klo untuk nopang badan saat naik atau turun saja. Ya gak usah seperti tadi, lebay.” Jawab Datin sambil ketawa. Sesudah pamit ibunya dan menyapa temannya Datin, Pras langsung berangkat.


“ Tin, ini bukan apa apa ya, tapi sebaiknya tangan kananmu pegangan aku saja, tangan kirimu kan bawa tongkat itu. Takutnya apes lagi kehilangan keseimbangan bisa ngglundung lagi kamunya.” Kata Pras.


Dengan sungkan Datin pegangan pinggang Pras. Tapi memang benar jadi terasa mantap stabil.


Teman Datin anak anak kecil dua tadi melihat Datin pegangan pinggang Pras terus jadi baper, Buntas digodain temannya : “ Waduh, itu Datin digondol si BOY! Bagaimana ini Tas?” Prastowo memang profil wajahnya dan postur tubuhnya mirip dengan aktor nasional Ongky Alexander, artis yg memerankan BOY pada film CATATAN SI BOY, film populair pada jamannya. Buntas memang ada sedikit rasa cemburu, tapi hubungan mereka kan sebatas kewajiban mengantar pengobatan korban yg ditabraknya, tidak lebih. Buntas menghibur diri sendiri.


Sesudah fisioterapi yg ke 3, Datin sudah merasa jauh lebih baik. Bengkak lututnya sudah kempes. Karena dirumah sering dibalurin parutan kencur sama bu Parinah juga. Dia sudah bisa berjalan tidak pakai tongkat, dan sesudah 2 hari tidak masuk sekolah maka hari ke 3 nya dia akan masuk sekolah, tapi masih harus diantar jemput dengan dibonceng sepeda sama bapaknya, kan sekolahnya tidak jauh dari rumah Datin. Dan rencana tiap pulang sekolah bapaknya yg akan ngantar fisioterapi pakai sepeda, yg hanya tinggal 2 kali lagi. Jarak RSUD ke Manding hanya sekitar 2 atau 3 km saja.

__ADS_1


__ADS_2