
Jam 19.30 Yudis bersama bu Dibyo, Seno dan Carla serta Yasmin dan Keisya datang tiba di rumah duka ConCat. Ternyata Palagan aman aman saja.
“ Bu Dibyo lenggah didalam saja, di sofa bersama ibu.” Kata Datin sambil membimbing beliau. Carla, Keisya dan Yasmin duduk disekitar jenazah, Yudis dan Seno dikursi yg sudah disiapkan di teras bersama dengan kerabat laki laki yg lain.
“ Terimakasih Carla, jam berapa dari Semarang?” tanya Datin. Bimo langsung duduk dibawah membaur dengan Keisya dan Yasmin, mereka ngobrol dengan bahasanya sendiri.
“ Tidak lama sesudah mas Yudis berangkat ke Solo, kita disuruh langsung ke Palagan. Tiba disana sekitar jam 12.00.” jawab Carla.
Salah satu pelayat ada yg saudaranya bu Danu, sepupunya Ami, yaitu drs. Hartono, PNS, salah satu pejabat di Pemda Jateng - Semarang. Kebetulan sudah 2 hari ini rakor di Yogya, dan dia bersama istri selamat dari musibah, karena bertepatan kejadian gempa yg meruntuhkan sebagian hotel Jayakarta tempat mereka menginap dan rakor, pas mereka lagi jogging diluar hotel.
Istrinya namanya Lestari, adalah lulusan IKIP Karang Malang Yogya jurusan Fakultas Ilmu Pendidikan. Anaknya satu dan tahun ini mau masuk SMA, kadang dia mengisi waktu luang dengan memberi les tambahan. Pas ngobrol sama Datin, kemudian Datin teringat kalau sedang mencari pendamping buat Yasmin.
Lestari ini wanita berkepribadian lembut, dan santun. Datin maupun Carla sreg sama Tari ini, yg usianya 5 tahun diatas Datin. Datin setengah memohon kepada Tari. Tari tertarik dan akan mengusahakan, karena dia tinggal di jl Jangli-Tlawah kalau ke Graha Candi Golf tidak terlalu jauh, hanya dia mau lihat dan atur waktunya terlebih dulu.
“ Yasmin, sini sayang ibu mau bicara sama Yasmin.” Datin memanggil Yasmin, kemudian mengenalkannya ke Tari. “ Ias ini bu Tari, nanti bu Tari yg akan menemani Ias belajar setiap harinya, dan juga untuk baca cerita juga boleh kalau pas tidak ada ulangan atau PR.”
“ Ias sekarang ada bu Sugi yg ngajar ngaji bu!” jawab Yasmin.
“ Ngaji jam berapa Ias?” tanya Datin
“ Jam 5 sore, satu jam, hari selasa dan jum’at.” Jawab Yasmin.
“ Nanti kalau Ias sudah kelas 2, ibu kesana ngrobah jadwal waktu belajarnya, nanti ngaji sesudah magrib sampai jam7.” Kata Datin…..” Bu Tari punya buku cerita bagus bagus lho.”
“ Yasmin suka Harry Potter gak? Dan juga Lord of the Ring, cerita sihir sihir,….” Kata Tari, karena memang koleksi buku anaknya banyak banget. Kalau anak seusia Yasmin mungkin dengan buku-buku tebal begitu lebih suka diceritain.
“ Sihir bangsa peri-peri gitu bu Tari?” tanya Yasmin.
“ Bangsa peri……coba nanti dicari ya, Dewabrata anak ibu kan cowok, koleksinya seperti gundam, wayang Mahabarata…..pernah dengar gak? Haaaa ya ada…… …..Aladin, kan nanti ada putri Yasmin disitu, seperti namamu Yasmin kan? tapi nanti ibu cari dulu.” Kata Tari
“ Iya bu, bener, mauuuu…. Kalau yg bangsa Sailor Moon, ada gak bu Tari?” tanya Yasmin sudah mulai tertarik.
“ Kalau Sailor Moon, Pikacu dll kan kamu dan Keisya sudah punya koleksi, tinggal baca sendiri kan .” kata Carla….” Dan juga baca ceritanya dihari hari yg tidak padat ulangan dan PR, nanti diselingi ya sayang.”
“ Aku juga ikut Ias ya ma belajarnya, aku kerumah Ias nanti.” Kata Keisya.
“ Lha tiap hari mama ngantar kamu ya gempor dong. Kamu kan belajarnya sama mama dirumah, kadang kadang kita tengok Ias, gitu.” Jawab mamanya.
Datin mengamati, Tari memang ada bekal pengetahuan pendidikan, dia paham bagaimana pendekatan ke anak.
__ADS_1
Saat Datin mengantarkan tamu tetangga mau pulang, dia jalan kedepan menemani sampai pintu pagar depan. Sesudah tamunya pulang, Yudis nyamperi Datin sambil bilang: “ Tin, ada makanan gak, terus terang dari tadi siang aku belum sempat makan?”
“ Ada…waduh bu Dibyo dan yg lain tentunya belum juga ya,……ayuk mas ke dalam.” Ajak Datin
“ Ah yg lain sudah pada makan, tadi saya waktu tahu bu Dibyo baik baik saja, saya terus pergi lagi nyari toko buka, mau nyari kaos dan baju dalam untuk ganti, ngelarik sepanjang jalan akhirnya nemu di jl Magelang sana. Yg lain selesai makan malam, saya baru selesai mandi. Ya sudah tanpa makan langsung berangkat.” keluh Yudis sambil berjalan ngikuti Datin. Saudara saudara dan kerabat yg bertakziah lainnya sudah pada makan selepas sholat magrib tadi.
“ Tin, cerita apa sama anak anak dan ibu tadi kok kelihatannya seru, dari tadi aku mau manggil kamu mau minta makan jadi sungkan.” Kata Yudis.
“ Aduh kasihan…kenapa gak langsung masuk aja sih, kan ada ibu, ada Lilis.” Sambil melayani Yudis makan Datin cerita kalau dia sudah dapat kandidat pendamping belajar untuk Yasmin.
“ Nanti selesai ini mas Yudis aku kenalkan ya.” Kata Datin sambil manggil Carla :“ Carla, sini ikut aku.” Akhirnya Carla menemani Yudis makan serta menceritakan pembicaraan tadi. Datin ngurus anak anak yg pada mau tidur atau main dikamar Bimo.
Keesokan harinya, pemakaman dilangsungkan jam 08.00 pagi setelah sempat di sholatkan dulu di masjid lingkungan Concat saat sholat subuh tadi. Bu Danu dimakamkan satu kelompok dengan makam Prastowo.
Selesai pemakaman Yudis dan keluarga Semarang langsung pamit balik ke Semarang. Sedangkan Datin dan keluarga masih tinggal untuk sementara waktu.
“ Kabar kabar ya Tin kalau perlu apa apa, kalau mau pulang mau dijemput apa bagaimana?” tanya Yudis.
“ Ya nanti aku pasti update kabar. Kalau mau pulang kan sudah ada Yanto, mobil CH kan ada beberapa. Bereslah kalau untuk pulang saja.”
Selesai pemakaman prayudi, Rini, Datin, dan bu Parinah akan mengunjungi rumah Manding dan rumah Tembi. Mereka mengantar pak Danu, Bimo dan Mayang pulang ke Concat
Pertama, mereka ke Tembi, sepertinya daerah Tembi tidak ada rumah yg masih utuh 100%, banyak yg rata tanah, dan juga yg hancur sebagian.
Rumah Batik Tembi bagian tambahan belakang yg untuk mengerjakan pewarnaan dan finishing batik sudah hancur rata tanah. Rumah Induk Joglo atapnya hancur tinggal konstruksi kuda kuda atapnya masih berdiri dan dinding gebyognya roboh, namun masih bisa direkonstruksi lagi. Kaca pendopo hancur. Datin menangis tersedu dan duduk di puing kamar Pras yg penuh kenangan itu, tegel merk kunci yg bagus terbelah dan lemari meja serta tempat tidur ringsek ketimpa gebyok.
Sejak kemarin Prayudi sudah menyuruh orang kepercayaannya memimpin penyelamatan perabot yg masih bisa diselamatkan. Dia menyuruh tukang dari Purwodadi langganan dia yg sedang merenovasi kantornya yg di Concat, untuk pindah sementara ke Tembi, untuk membuat gudang besar pada bagian bangunan yg bisa di rekonstrusi, yaitu bagian pendopo dengan menutup bekas partisi kaca yg ambyar dengan kayu.
Kemudian orang orang kepercayaan nya mengumpulkan benda benda yg pertama adalah perhiasan bu Danu yg lumayan banyak. Hal tsb mudah dilakukan, karena tinggal dibawa sekalian lemari besinya yg didalamnya ada surat surat berharga lainnya, dan untuk yg satu itu sudah diselamatkan bersamaan saat mengevakuasi jenazah kemarin. Lemari besi langsung dibawa ke rumah Prayudi.
Kemudian benda-benda seperti kuningan dan porselain yg banyak terpajang dalam rumah itu, juga batik-batik yg ada di showroom dan seluruh barang dan benda yg masih bisa diselamatkan langsung diamankan dan disimpan di gudang yg baru dibikin itu.
Untung ada tukang dari Purwodadi yg masih full team. Karena tukang dari Yogya dan sekitarnya tidak bisa disuruh lagi karena mereka juga terkena musibah.
Saat mereka beralih ke rumah Datin yg di Manding, Datin tidak terlalu direpotkan oleh perabot atau barang berharga yg harus diselamatkan, karena memang tidak ada. Bangunannya memang sudah roboh rata tanahlah boleh dikata, karena konstruksinya sendiri kan memang hanya struktur rumah kampung.
Sejak beberapa bulan yg lalu Datin memang sudah berencana mau merombak total bangunan rumah Manding ini, tapi malah keduluan kejadian gempa.
Hanya yg di prihatinkan adalah pak dukuh Mardi, adiknya pak Martodikromo bersama keluarga sementara tinggal di penampungan, karena rumahnya hancur. Tinggal dinding rumah utama yg baru dibangun namun atap dan jendelanya hancur.
__ADS_1
Saat mendengar berita itu, kemarin langsung Datin ngontrak rumah kecil dekat komplek rumah Datin untuk pak Mardi sekeluarga. Mereka hanya bertiga bersama istrinya bu Mardi dan Citut anaknya yg sedang akan maju pendadaran. Sementara Citut tinggal dikost temannya dijalan Kaliurang yg sebenarnya juga bengkah temboknya..
“ Tin, terimakasih sekali aku kamu kontrakkan rumah, itu sangat menolong sekali terutama untuk adikmu yg lagi skripsi. Kemarin dia sampai ngengleng ngoprek puing rumah sekedar mau ambil komputernya yg hancur. Tugas akhirnya disitu semua.” Kata pak Mardi.
“ Sudah lik, sekarang barang yg bisa diselamatkan segera diangkut kerumah kontrakan itu, yg penting Citut bisa kerja ngejar ujian akhir semester ini kan. Dan sementara makan dirumah saja minta tolong Lilis masak seadanya. Komputer langsung suruh nyari yg baru.” Kata Datin sangat memperhatikan adik sepupunya yg pinter, calon Insinyur Pertanian. Keluarga pak Martodikromo memang semua cerdas termasuk Datin sendiri.
“ Lha omahmu piye kiyi nduk……”kata pak Mardi…” Yu Parinah mesakne.”
“ Pun lik Mardi gak usah menggalih (mikir) itu, itu gak ada isinya, isinya sudah disimpen rapi disini sama disini, kenangan thok.” Kata Datin sambil memegang kepala dan dadanya.
“ Bu, sudah kita pulang, gak usah dioprek nanti malah kena paku bisa inveksi.” Kata Datin…”
“ Aku gak pingin pergi dari sini rasanya Tin, ingin nunggu beberesnya.” Keluh bu Parinah.
“ Wis mbah uti sudah lupa, dulu ngingetin aku jangan makan kenangan, sekarang mbah uti kesandung kenangan sampai mengalahkan cucunda.” Kata Datin.
“ Gak melas sama Bimo to bu, nungguin dirumah.” sambung Datin.
“ Mbakyu wis kundur wae (mbakyu sudah pulang saja), disini tidak ada yg untuk istirahat, semua rata tanah, tidak ada yg jual makanan, nanti kalau mbakyu sakit malah kasihan Datin. Nanti sehari harinya saya kan disini among warga yg sedang kerja bakti, nanti aku amankan barang-barang mbakyu yg masih bisa digunakan.”
Datin tidak bisa sebentar di Yogya ini, dia harus memberikan arahan renovasi CH Tirtodipuran, serta merapatkannya dengan para fungsionaris CH.
CH dan BN meluncurkan bantuan tidak sedikit untuk gempa Yogya ini. CH mengirim 100 buah tenda kapasitas keluarga, sembako dan selimut. selain itu juga dana cash untuk iuran perbaikan infrastruktur yg hancur.
Untung Bimo sudah libur dan tinggal masuk kesekolah barunya pertengahan juli nanti. Mbah uti kadang minta diantar ke Manding, sekedar ikut nungguin puing rumah sama ngobrol bersama sahabat sahabat tetangga yg tinggal dipenampungan dengan membawa makanan kecil untuk mereka.
Selama Datin di Yogya, Carla sempat menelponnya : “ Halo Tin, wah kamu pasti capek sekali ya, kiranya kamu butuh apa yg bisa aku kirim dari sini, disana belum banyak orang jualankan? Nanti bisa aku kirim via travel begitu.”
“ Saya kira sementara cukup ya. Kita juga sudah mau balik ke Jakarta kok. Terimakasih.” Jawab Datin.
“ Tin aku bisa bicara sedikit tentang bu Tari, gak apa apa ya?”
“ Ya ga papalah, ada apa ya? Tanya Datin.
“ Aku sudah sempat kerumah bu Tari, iseng-iseng mampir sambil kemudian aku bawa dia ke rumah Graha Candi Golf yg jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Saya juga ketemu pak Hartono suaminya dan Dewabrata putranya. Aku bawa Yasmin dan Keisya, wah mereka berdua nguplek aja diperpustakaannya Dewabrata, karena koleksi bukunya banyak. Untung Dewa gak marah perpus nya diacak acak anak dua ini, malah dengan sabar nolong mengambilkan yg dimau mereka.” Carla berhenti sebentar…..
“ Begini, mungkin bu Tari tidak 6X seminggu datangnya, tapi yg pasti 4X seminggu, tapi dia akan ngatur pas hari dibutuhkan belajar, tapi saat senggang dia mungkin bisa datang diluar yg 4X rutin perminggu tsb. Masalah cerita atau santai bisa diselipkan diantara yg rutin itu. ……. Di -OK- in saja ya Tin, aku bener bener sreg sama bu Tari dan keluarganya ini lho. Daripada nyari nyari lagi yg belum tentu kwalifikasinya seperti bu Tari.”
“ Ya setuju aku, nanti yg 2X kan jatah mas Yudis, dia juga harus andil megang Ias dong.” Kata Datin.
__ADS_1