
Pada pertengahan bulan Agustus, Susan mengecek kesiapan materi pameran yg akan dibawa ke Paris, Selain produk Fashion, yg menampilkan busana Batik dan songket etnik yg digarap oleh para perancang busana terkemuka di Indonesia, CH juga akan mengeluarkan fabric interior seperti bahan curtain, cushion upholstery, bed cover dan sejenisnya. Semuanya produk dari pengrajin tenant Canting House. Materi tsb akan dikirim beberpa hari sebelumnya hari H nya bersama 2 orang staf yg merupakan anggota tim teknis pameran CH sebagai counterpart kontraktor décor nya.
Datin, Susan dan satu orang staf akan berangkat menyusul dan akan siap dilokasi 1 hari sebelum hari H nya.
Datin sedang memeriksa kiriman gambar layout dan dekorasi ruang pamer mereka, dia puas dengan rancangan penataan stand Indonesia oleh interior designer yg ditunjuk panitia dari Indonesia untuk pameran di Paris mendatang.
Untuk pameran heritage di Unesco House Paris ini, delegasi Indonesia diketuai oleh Yudistira. Penunjukan ini sudah ditetapkan sejak Yudis belum diangkat menjadi Ketua Kadin Jateng. Nanti dia bersama tim inti akan tinggal disana selama kurang lebih 8 hari. Tepatnya 3 hari sebelum dan sesudah hari H nya.
Hari Selasa 5 September 2006, jam 06.00 waktu setempat, pesawat Singapore Airline yg ditumpangi Datin, Susan dan satu staf senior CHK mendarat di Bandara Charles de Gaule - Paris jam 06.00 waktu setempat. Mereka membawa excess baggage atau kelebihan bagasi, karena ada beberapa bahan pemeran yg super mewah harus dibawa khusus.
Setelah selesai pemeriksaan paspor, mereka menunggu di conveyor belt tempat pengambilan bagasi. Karena ini penerbangan dari far east, atau timur jauh, istilah orang barat untuk menamakan negara negara dari asia tenggara, maka turunnya di terminal Charles de Gaule I, yaitu bangunan terminal yg dibangun sekitar tahun 1980 an yg menyerupai bentuk nuclear power plant seperti kerucut terpancung. Terminal ini mempunyai konsep satelite, dimana ruang tunggu dan ruang kedatangannya terpisah dari bangunan induknya yg dihubungkan dengan terowongan dibawah tanah dan diangkut memakai conveyor atau disebut travelator. Sedangkan diatas terowongan ini dipakai sebagai apron atau untuk parkir pesawat.
Sesudah selesai pengambilan bagasi, terus mereka antri untuk custom declare, tapi biasanya ya tanpa hambatan lolos saja kecuali bagasi yg dicurigai atau suspect dan sudah ditandai dari bandara asal atau kalau tidak dari mesin X Ray sisi udara bandara ybs yg sudah diendus atau dicurigai oleh security atau oleh bea cukai setempat.
Sekitar jam 08.30 waktu setempat Datin dan rombongan sudah meluncur menuju Hotel yg ada di pusat kota Paris, dekat dengan Unesco House tsb. Karena membawa bawaan lumayan banyak, mereka tidak memakai public transportation, namun mereka menyewa mobil SUV dari penyewaan mobil AVIS Bandara yg nanti akan disewa selama tim CH berkegiatan di Paris.
Hotel yg ditawarkan oleh panitia dari Indonesia ada dua klas, Hotel Le Walt bintang 4 untuk para pimpinannya atau executive, sedangkan Art Hotel bintang 3 untuk level staf pelaksana. Kedua hotel tersebut letaknya berdekatan, section 75007 Paris dan 75015 Paris. Keduanya dekat Unesco House sekitar seperempat jam jalan kaki. Dan juga dekat Menara Eiffel. Namun kalau mau memilih sendiri hotelnya juga gak masalah.
Datin dan Susan mesan satu kamar di Le Walt Hotel tsb karena Datin lebih seneng ada teman ngobrolnya dan sekaligus memudahkan untuk koordinasi, selain lebih ngirit tentu saja, sedangkan stafnya ke hotel Art Eiffel tadi gabung dengan temannya yg sudah lebih dulu datang. Kamar hotel Datin yg mempunyai view ke Menara Eiffel. Kamarnya spreinya kenceng, bersih dan harum. Interior hotel ini terkesan mewah karena banyak memajang replika lukisan lukisan jaman renaissance.
Sesudah mandi dan bersiap diri, Susan menyiapkan barang yg harus dibawa, kemudian dia titipkan di front desk, sementara Datin dan Susan ke resto dekat hotel untuk makan siang, di La Terrasse.
“ Bu Susan, ini aku milih menu yg aman aman saja, kalau cari McD pasti ketelan, tapi jalannya agak jauh sana, aku sudah gempor ini.” Kata Datin
“ Tenang bu, ada photonya kok, nanti kita nunjuk sambil nanya ini apa, tapi gendengnya orang Perancis itu banyak yg gak bisa bahasa Inggris, gak mau.” Kata Susan
__ADS_1
“ Tulisannya itu lho huruf matinya numpuk kok ya bisa bunyi kalau bahasa Perancis itu. Wis aku manut bu Susan wae. Eh…….ini….ini bu …aku ini saja….. poulet de champignons Yg ini jelas pitik (ayam) ya bu, biar ususku gak ngeyel.” Pesan Datin, sambil menunjuk foto seperti ayam jamur kancing kuah creemy warna kuning seperti sayur jawa bumbu rujak
Tiba tiba telp Datin berdering, tapi namanya gak muncul dan kodenya beda karena provider yg melayani C.E.L. “Hallo, bonjour madame, comment allez vous?”
Tapi Datin sudah kenal baik dg suara Yudis, karena sering koordinasi di telpon. “ Tres bien, wilujeng sedayanipun kamas, merci.” Jawab Datin.
Terdengar gelak tawa dari seberang sana: “ Dimana ini, kok belum nongol, aku sudah nunggu dari pagi di hotel,…. di Le Walt kan?, tapi aku keburu meeting terus berangkat.”kata Yudis.
“ Ya kan banyak yg diurus. Ngedrop staf dulu ke Art Hotel, baru ke Le Walt, mandi, siap-siap, sekarang makan dulu baru kesana.” Kata Datin
“ Lhoooo….kenapa gak makan disini saja, kan ada resto nya gede di ruang pamerannya ini, piye to jeng?” kata Yudis
“ Lha aku kan gak tahu, dari pada gambling, janganlah coba coba berhitung sama perut! Beresi dulu cacing-cacing yg sudah menganga, baru urusan yg lain, kan begitu kata orang bijak?” canda Datin, sambil mengisyaratkan untuk mempersilahkan Susan makan dulu karena pesanan sudah tersaji.
Deg!! Hati Datin tercekat dengar kata kangen dari Yudis. Tapi Datin segera abaikan dan langsung mulai makan, karena Yudis bilangnya juga sambil lalu saja. Tapi dia melihat kenapa Susan diam saja belum mulai juga, “ Lho kok Cuma di lihat makanannya, buka dan makanlah!” ajak Datin, makanan Susan disajikan dengan penutup dari stainlessteel bundar seperti penyajian room service hotel supaya menjaga tetap hangat. Dia pesan pitza belut.
“ Bener kata ibu, aku kuwalat, sok jadi orang Perancis, aku pesan pitza belut bu, bayanganku seenak belut masakan jepang, bayanganku sudah kesana!, tapi coba deh ibu buka.” Kata Susan ke Datin.
Begitu dibuka, tersaji pitza bulat dengan belutnya dihias ala seni cuisine francaise, belut kecil utuh dioven dalam posisi melingkar, kepalanya yg kecil seperti ekornya, tapi ada matanya, mencuat tegak seperti cobra yg siap mathok. Mungkin rasanya enak, namun tampilannya mengerikan. Tadi sama Susan dibuka sebentar terus ditutup lagi.
“ Ya ampuuuun, ini makanan mau disantap malah ngajak berantem. Belut itu makananku saat kecil, tapi yg ini memang mengerikan sih posenya.” Kata Datin
Kelamaan menganalisa, akhirnya bumbu rujak ayam jamur dengan french fries tadi dimakan berdua, sambil menunggu order tambahannya satu porsi french fries lagi, takut gak nendang. Mereka menghabiskan minuman jus d’orange pesanan mereka kemudian berangkat ke Unesco House dengan mobil yg tadi, setelah mengambil bawaan yg dititip di front desk Hotel. Pitza Belut yg sudah dibagi 4 dan dibungkus, dia take away untuk siapa yg mau nanti.
Arena pameran di Segur Hall di House of Unesco lantai 7. Mereka melewati House of Peace, yg disebut juga dengan emblematic hall, merupakan hall luas yg dikiri kanan nya penuh dengan artwork yg merupakan simbool simbool. Lebih dari 600 artwork yg terpajang disana
__ADS_1
Sebelum masuk ada pemeriksaan security dulu, dan biasanya benda-benda metal, hp, kunci dll disuruh nitip disitu, tapi panitia sudah mengurus semuanya, dan dibagi tanda pengenal magnetik untuk bisa membawa semuanya.
Karena Datin yg datang, Yudis menjemput sendiri ke bawah ketempat security check tadi. Seperti kebanyakan panitia delegasi indonesia lainnya yg semuanya mengenakan baju yg ada sentuhan batiknya, demikian juga Yudis memakai celana jeans biru merk Escada dipadu dengan hem batik lengan pendek warna latar biru muda motif mega mendung dari cootton silk yg lembut tapi licin, dan memakai sepatu Air Jordan eminem 313 warna biru tua kombinasi biru muda dan hitam. Secara keseluruhan memang keren sekali penampilan duda 35 tahun ini, belum wajahnya yg tampan dengan guratan sisa sisa duka yg menambah kewibawaannya.
“ Bienvenue madame.” Kata Yudis sambil cipika cipiki ke Datin, kemudian menyalami Susan. Dia membawa sendiri tanda pengenal Datin. Dan karena Susan bersama Datin maka sekalian dia bawakan.
Segur Hall memang sudah 95% selesai di tata untuk pameran heritage ini, mereka langsung menuju ke pavilion Indonesia. Dari arah berlawanan menyambut seorang wanita yg memang cantik harus diakui, dengan busana yg sedikit seksi dan berani menurut Datin. Memakai dress rawsilk polos maroon sebatas lutut dengan pinggang keatasnya yg ketat sehingga menonjolkan dadanya yg padat berisi dengan belahan depan bagian atasnya berbentuk V yg overlaping sebatas nyaris pada belahan dadanya, kemudian dia memakai outfit Batik merah maroon lengan 3/4 sepanjang dress nya, memakai hill Gucci coklat tua, dan rambut diikat dan dijatuhkan kesamping dadanya, serta make up flawless yg elegant.
Datin maupun Susan terkagum melihatnya. Duh cantik benar penampilan wanita ini, dandanannya sempurna mungkin yg dibilang orang hampir menyerupai kecantikan Nyai Ratu Kidul. Batin Datin.
“ Ah ……..lha ini apa, bapaknya, hmmm….. dicari cari kemana tau, tadi ada konsultan kita nyari bapak.” Kata si wanita tadi sambil membetulkan krag baju Yudis dan membersihkan kotoran dipundak Yudis.
“ Ah kenalkan ini Bu Datin dan bu Susan dari Canting House, dan ini bu Minati dari kadin Jateng.” Kata Yuidis.
“ Ah, saya sudah banyak dengar tentang ibu Sri Rudatin ini, kan sering muncul di mass media tentang kegiatan beliau, senang sekali saya bisa ketemu langsung. Kalau bu Susan itu bos nya CH Kemang ya?” begitu sambutan ramah dari seorang Minati yg luwes.
“ Ah saya KARO, bu Minati, jabatan saya maksud saya.” Jawab Susan sambil senyum nakal, mringis. Semua pada menengok ke Susan, tidak terkecuali Datin sambil senyum juga, karena dia tahu Susan pasti sedang nyleneh.
“ Oh…Kepala Biro maksudnya? Biro apa?” tanya Minati penasaran.
“ Enggak…….KARO- CO……alias Kroco.” Jawab Susan yg disambut gelak tawa semuanya.
Datin berjalan menuju ke booth CH, dia ngobrol dulu dengan staf CH yg sedang menggelar bed cover batik sutra motiv bunga sakura, warna dasar biru muda pucat ditengah dan semakin kepinggir warna dasarnya menua, bunga sakura kecil kecil dibatik dengan warna merah jambu pekat dan ranting ranting dipinggir dengan ditumbuhi bunga sakura merah jaambu ringan. Secara keseluruhan sangat fantastis mewah dan elegant. Para peserta pameran dari negara lain sangat terpaku dengan bedcover yg baru datang ini. Lukisan bunga sakuranya di steelir dengan model lukisan batik.
Nanti para undangan pameran heritage ini juga banyak dari kalangan designer interior juga, selain kalangan fashion.
__ADS_1