Canting

Canting
Episode 54


__ADS_3

Bimo sudah mulai libur pada hari Rabu 19-12-2007, demikian juga Yasmin. Bimo mau berangkat ke Yogyanya hari Senin 24-12-2007, karena Datin tgl 19 nya masih RUPS. BOD dan BOC menghendaki deviden dibagi sebelum akhir tahun.


Bimo sementara main ke Tunas Bangsa yg di drop dan dijemput Susan. Karena Susan sekarang adalah calon istri CEO Tunas Bangsa tsb, jadi sekalian ketemu calonnya. Mereka rencana mau menikah Juni 2008.


Sementara Yasmin akan berangkat hari Selasa 25-12-2007. Untuk sementara mengisi waktunya, bu Tari memberikan tambahan les menggabar. Belajarnya ke teman Dewa yg merupakan tetangga komplex.


Bimo sama Yasmin selalu telpon telponan, meng-update kegiatan mereka. Yudis memperhatikan hal tersebut dengan hati yg pedih. Karena harus memisahkan dua sahabat yg sudah saling mengisi dan mendukung.


Hari Sabtu dan Minggu tgl 22 dan 23-12-2021, dimanfaatkan Datin untuk belanja kebutuhan untuk rumah Manding.


“ Bimo, ibu mau belanja banyak, sekalian Bimo kalau mau beli kebutuhan untuk belajar, buku-buku, atau mainan yg mau dibawa ke Yogya. Nanti sekalian dibagasikan.” Kata datin ke Bimo


Selama 2 hari itu Datin belanja banyak ditemani Marsih, seperti pecah belah, sprei, bed cover, dll sampai total seratus kilo lebih. Pecah belah dan peralatan dapur dia paketkan khusus sebagai uncompanied baggage, sedangkan sebangsa linen dia bawa sendiri dengan resiko bayar over wight.


Harin Senin 24-12-2007 itu Datin memakai pesawat yg jam 10.45 sehingga dia tidak buru-buru mengurus bagasi dlsb.


Sesudah sampai di bandara dia sempatkan telpon Yasmin terlebih dulu:


“ Ingat pesan ibu ya, jangan lupa sholat 5 waktu, dan temani papa ya.” Pesan Datin.


Kemudian dia mencoba telpon Yudis, telpon berdering 3 kali tapi Yudis belum angkat juga hanya memandanginya saja hp nya, baru deringan ke 4 telpon diangkat Yudis dengan suara lesu, tidak bersemangat seperti kalau menerima telpon dari Datin sebelumnya:


“ Hallo Tin, bagaimana sudah siap berangkat, kamu hati hati ya, selamat bersenang-senang dan selamat tahun baru ya Tin. Ciumku untuk Bimo.”


“ Iya mas, aku berangkat dulu ya, saya harap kalau ada waktu libur lagi mampir ke Yogya, bermalam di villa Manding sama keluarga. Mas Yudis juga jangan ngoyo, manfaatkan liburan ini untuk istirahat sambil momong, lebih mendekatkan diri dengan Yasmin yg sudah mulai sering merindukan figur papanya, nikmatilah suasana baru biar gak stres terus. Sudah ya mas, salam hormatku ya mas, dan salam untuk semua.”


Yudis merasa tenggorokannya tersekat. Datin belum menyadari kalau Yudis sengaja menghindarinya, sehingga nadanya biasa-biasa saja. Dia menghindari Datin, karena kalau sudah mendengar suaranya pasti akan merindukannya.


Hari Selasa tgl 25 Desember 2007 jam 08.00, keluarga Yudistira dan Senoaji berangkat pakai pesawat Garuda yg akan transit di Bali selama hampir 12 jam, dan mereka akan melanjutkan ke Darwin memakai pesawat Qantas yg langsung terbang dari Bali ke Darwin International Airport. Dari Bali jam 23.30.


Mereka ke Balinya sengaja memakai flight pagi supaya masih sempat jalan jalan dulu di Bali, menyempatkan makan siang di Warung Made dan membeli Pia Legong, Pai Susu untuk camilan di Mindil Beach.


Sehabis makan siang tsb, Yudis duluan ke bandara, dia mau kerja saja. Namun dalam kesendiriannya itu dia mendadak malas mau melakukan apapun, dia istirahat di lounge, mencoba memejamkan matanya. Namun yg ada dia malah flash back teringat kejadian yg membuat dia memutuskan mundur atau tepatnya mengevaluasi niatnya menyunting Datin.


Kejadiannya pada saat ada food festival di Hongkong akhir bulan Juni 2007 lalu, pas istirahat Yudis sedang ngobrol sama Buntas yg pada waktu itu sebagai pemenang tender penyiapan penataan GOR sebagai booth-booth pameran. Pada saat itu juga ada Minati disamping Yudis, saat itu Datin telpon Buntas karena tukangnya mau bicara, untuk konsultasi bahan finishing. Yudis tahu bahwa itu telpon dari Datin. Selesai telpon Buntas menjelaskan :


“ Datin menanyakan material finishing.”


“ Persahabatan pak Dipto dengan Datin itu teruji waktu ya, salut aku lho.” Kata Yudis.

__ADS_1


“ Hmm……..dia first love saya pak! Meskipun katakanlah cinta monyet, namun sesudah itu saya gak pernah ada yg nyangkut dihati kalau pacaran pak.” Buntas menceritakan riwayat pertemanannya dengan Datin.


“ Lha masak sampai seusia mapan begini belum ada yg nyangkut juga. Terus dulu indo cantik yg sering bersama pak Dipto itu siapa?” Tanya Yudis.


“ Nah….akhirnya aku ketemu Marion itu pak. Saya mencintai dia pak, cekatan, smart, dan pola pikirnya mirip-mirip Datin begitu pak. Saya baru nemu yg sreg, ya Marion ini. Saat saya sudah mantap ingin membangun karier saya di Asia masalah mulai timbul, dia ragu-ragu, gak mau pindah ke Asia. Berantem, berdebat, dia bertahan di Eropa dimana karir dia sudah mapan.”


“ Kenapa gak anda yg menetap di Eropa saja seperti kata dia?” tanya Yudis.


“ Pertanyaan bapak persis seperti yg Datin tanyakan ke saya,………… ya itu tadi saya bisa besar di Eropa sebagai ekor, sedangkan di Singapore atau Asia lah saya bisa besar sebagai kepala, ya mekipun kepala mulai dari kecil dululah. Karena dua partner saya yg orang Singapore ini bukan mulai dari nol, tapi melanjutkan network orang tuanya yg memang sudah mapan.”


“ Marion gak mau ngerti juga?” tanya Yudis.


“ Saya capek pak berdebat. Lelah saya pak. Kemudian dengan tidak sengaja saya dipertemukan dengan Datin lagi ini, kerabat pak Yudis itu. Semenjak saya dekat lagi sama Datin karena sering ketemu saat bikin villanya yg di Manding ini, perasaan saya gak bisa bohong pak, saya merasa seperti pulang kerumah. Apalagi kalau melihat Bimo yg cerdas itu. Kalau bicara sama Datin itu selalu adem dan menawarkan solusi.


Beda kalau dengan Marion, saya itu memang banyak cocoknya untuk urusan kerja, saya 100% klop dengan dia. Tapi akhir akhir ini kalau melihat sifatnya yg stubborn itu, kalau untuk pendamping hidup saya mulai ragu.” Tutur Buntas panjang lebar, dan dia mengira kalau Yudis itu kerabatnya Datin, seperti yg Yudis katakan ke Buntas saat malam tahun baru Desember 2006 lalu dirumah Datin di Yogya. Dan Buntas mengira bahwa Yudis ada hubungan spesial dengan Minati, seperti yg dia lihat sekarang ini, si wanitanya selalu nempel terus. Siapapun yg melihat pasti berpendapat sama.


“ Terus sekarang langkah apa yg mau pak Dipto ambil?” Tanya Yudis sudah mulai stres.


“ Saya akan melamar Datin pak. Tadinya saya akan menyelesaikan terlebih dulu rumah Manding itu sebelum melamar dia, supaya kedepan tidak ada beban lagi kalau mau melangkah ke hal yg lebih serius. Namun setelah saya pikir sepertinya kok buang-buang waktu ya.” Jawab Buntas tegas.


Deg…………..jantung Yudis mau copot, mukanya seperti disiram air panas. Kemudian Buntas melanjutkan dengan nada minta pertimbangan ke Yudis:


“ Menurut pak Yudis, bagaimana ya pak kalau saya melamar Datin sepulang dari sini nanti, kebetulan saya sudah janji sama Datin kalau mau ketemu?. Paket hemat ini pak, metik ibunya sekaligus mendapat anak yg santun dan cerdas. Saya sudah jatuh cinta sama Bimo pak. Dulu saat saya selesai S 1 sebelum melanjutkan ke Jerman, saya sudah keduluan mas Pras. Hahaha………. Tapi mas Pras itu idola saya, saya banyak niru sikap almarhum yg galant.” Buntas minta pendapat Yudis.


“ Good luck, coba saja pak.” Katanya sambil tersenyum menyudahi ngobrol yg mengusik kenyamanan Yudis.


Minati mengikuti terus pembicaraan tadi, pada kesempatan yg santai dia mengadu ke Yudis :


“ Menyambung pembicaraan dengan pak Dipto tadi siang, saya juga sudah menduga, pasti pak Dipto ingin kembali ke masa lalu. Saat hari terakhir di Paris itu, pas bu Datin mau pulang itu pak Dipto nyamperin ke hotel. Pak Dipto tidak bisa ngantar bu Datin karena ada kerjaan di Swiss. Sepertinya mereka berpelukan lama, pak Dipto seperti sedih, dan saat bu Datin sampai keruang makan itu seperti habis menangis.”


Cerita Minati ini tidak salah, namun sesuai interpertasi pribadi Minati, atau sepenglihatan Minati. Sedikit banyak hal ini menjadikan kegamangan Yudis juga akhirnya.


Yudis sebenarnya sudah berencana bicara serius ke Datin saat moment akhir tahun 2007 ini. Namun dengan perkembangan pada Juni 2007 tersebut membuatnya mengambil sikap menunggu. Dia tidak bisa berfikir santai karena juga banyaknya urusan bisnis dan juga organisasi yg menguras energi.


Sesampai di Yogya, seperti biasa Yanto sudah menjemput di bandara Adisutjipto Yogyakarta denganmemakai mobil SUV baru, sama dengan mobil di Jakarta yaitu Land Cruiser Prado. Peremajaan mobil CH grup dilakukan serentak untuk yg level executive dulu. Kelebihan bagasi sudah pasti, karena semua cabin habis untuk menempatkan bagasi, hanya tersisa nyempil untuk bu Parinah dan Bimo. Sedangkan Datin di jok depan samping sopir. Besok masih harus ngurus pecah belah dan alat dapur yg dikirim via EMKU.


Sesudah naruk kopor isi baju ke Concat, Datin berangkat lagi ke Manding. Datin sudah janjian dengan dengan staf CH Kotabaru untuk bantu ngatur dan menyiapkan sprei dlsb


Begitu sampai d Manding semua tertegun, 2 masa bangunan dg bangunan utama 2 lantai 2x100m2 3kamar tidur&2KM di lantai atas, kitchen, dining R, Living R. dilantai bawah.

__ADS_1


Terhubung dengan kolam renang 3,5x12m’ dengan air yg overflow, pelapis keramik Swimming pool dari Buchtal cerayon ceramic ukuran 5x5 cm2 warna belang-belang biru muda.


Bangunan pavilion ukuran 2x48m2, 1KT&KM lantai atas, kitchen, dining R, Living R. dilantai bawah.


Villa nya luar biasa megah dengan lantai parket kombinasi granito atau homogenous tle. Dinding batu susun sirih dicoating mengkilat, sebagian dinnding bata plester finish Cat, pintu kaca dorong lebar lebar. Genteng keramik glassur.


Interiornya juga mewah dengan kasur pegas kualitas premium tebal 40 cm. Tirai sebagian dari wood blind sebagaian dari rolling blind dan curtain, elemen interior garapan Marion memang klas dunia. Selain itu untuk curtain, upholstery, bed cover pillow case sofa, semua dari batik CH interior dominasi warna biru muda ke biru tua.


Sudut sudut halaman ada gazebo.


Carport dengan atap limasan untuk paralel 3 mobil.


Bu Parinah tidak bisa menyembunyikan keharuannya, diapun menangis, yg kemudian diketawain Bimo:


“ Mbah uti itu dibikinin rumah bagus kok malah nangis. Ketawa dong mbah. Yuk sama Bimo berenang.”


“ Woooo…simbah bisa klelep (tenggelam) wong gak bisa renang, sana sama ibumu yg keturunan kecebong itu!”


“ Ayo Mo entar sore sama ibu ya berenang, sekarang ibu mau beberes dulu.” Kata Datin.


Pak Gatot kontraktornya yg teman Seno itu menyerahkan kunci dua grup dan satu master key.


“ Bu ini kunci-kunci terdiri 2 grup, satu grup rumah induk dan satu grup pavilion, dan satu master key. Dan ini ada gardu travo khusus untuk rumah ini dipojok barat, karena listriknya cukup besar jadi diusulkan ada travo sendiri.” Kata pak Gatot.


Bimo akhirnya lupa sama mbak Iasnya, dia seneng banget glundang-glundung di kamarnya.


“ Bu mbak Ias pasti seneng banget kalau kesini. Besok kalau mbak Ias sudah pulang suruh kesini saja bu, sama papa Ias juga. Nanti Istana Lego kalau sudah jadi dipasang di kamar Bimo yg disini saja ya, di jakarta sempit.” Kata Bimo.


Bimo sudah dewasa dan kelihatan kedisiplinannya diusianya yg masih 7,5 tahun. Mengerjakan sesuatu selalu berakhir dengan rapi, tempat kerjanya tidak berantakan. Dia sudah bisa disuruh bantu-bantu dirumah, terutama membereskan kamarnya sendiri. Dia cenderung perfeksionis. Sehabis gosok gigi selalu kran dan washtafl dia lap agar tidak ada flek. Itu kebiasaan yg diajarkan Datin.


Selasa sore, jadi keesokan harinya, paket perabotan dapur dan pecah belah sudah sampai dan sedang diambil ke kargo Adisutjipto.


Sesudah pekerjaan beberes rumah kelar, tinggal menata pecah belah dan alat dapur, para staf CH pulang. Datin dibantu Citut, bu Mardi dan bu Parinah membereskan dan menaruk gelas, cangkir, piring, perabot dapur dilemari dapur yg sudah tersedia. Semua dia kerjakan sampai jam sengah sebelas malam. Datin mengerjakan semuanya dengan excited penuh semangat, rumah baru yg dipersembahkan untuk peringatan almarhum pak Martodikromo. Bimo menemani sambil nonton TV di living room. Tiba tiba hp Bimo bunyi :


“ Bimo lagi ngapain? Ini aku kata tante Carla satu jam lagi naik pesawat. Aku pamit dulu ya, gak ada kamu gak seru deh. Nanti minta dioleh olehi apa?”tanya Yasmin.


“ Aku lagi bantu ibu beberes lemari dapur, lha disana ada apa, yg ada disana saja, mbak Ias kalau ke Yogya nginep rumah baruku deh, seperti di hotel, baguuuus banget!” kata Bimo


“ Iya? Bener Bim? Pingiiiin, aku males nih pergi, aku sebenarnya sih pingin ikut ibu aja, kalau sama ibu asyiek selalu main kita ya! Tapi aku disuruh ibu nemani papa.” Kata Yasmin bersungut.

__ADS_1


Yudis melirik yasmin dan dengerin curhatannya ke Bimo. Sebenarnya sedih juga karena telah membuat anaknya tidak bahagia. Tapi Yudis menguatkan hati:


kita harus belajar mandiri, tidak tergantung Datin dan Bimo, pasti bisa……batin Yudis.


__ADS_2