
Kamis tanggal 27 Desember 2007, sekitar jam 10.00 Datin pergi bersama pak Mardi, Dadang dan Citut, diantar Yanto menengok lahan untuk gudang utama sembako. Hari ini akan ada penanda tanganan Berita Acara pengukuran lahan untuk kelengkapan sertifikat yg dihadiri pihak penjual maupun pembeli. Lahan berupa bekas sawah yg sedang dalam proses pengeringan seluas kurang lebih satu Ha. Dilokasi sudah terlihat ada Prayudi mendampingi PPAT setempat. Karena Prayudi PPAT wilayah Seleman maka dia kasi ke koleganya yg wilayah Bantul.
Datin merencanakan membuat gudang utamanya disitu, sebagai tempat penimbunan bahan yg akan didistribusikan ke outlet-outletnya. Perusahaan nya berbentuk PT dengan nama PT LUMBUNGKU
Kontraktor sudah ditunjuk, untuk mulai kerja awal januari nanti, dan akan selesai selama 3 bulan karena hanya bangunan blong blongan saja.
Sekaligus Datin membangun outlet yg diawali dengan 10 outlet yg tersebar di DIY dengan modal pinjaman bank dengan model sewa lahan 5 tahun dengan opsi bisa diperpanjang.Termasuk sebagian rumah pak Mardi juga dibuat satu outlet. Ukuran outlet seluas outlet indomart.
Selama akhir tahun 2007 ini Datin disibukkan dengan persiapan untuk segera dimulainya pembukaan 10 outlet tadi secara serentak trisemester pertama th 2008 depan ini.
Datin dibantu beberapa tenaga ahli untuk merealisasikannya. Dan sepertinya semuanya berjalan sesuai rencana.
Pada hari Senin 31 Desember 2007 diadakan lagi acara akhir tahun seperti yg sudah dilakukan tahun lalu, dia mengundang petani grupnya untuk kumpul makan malam sambil konsolidasi. Kali ini di lahan gudang dengan membuat panggung setinggi 20 cm dan tenda. Yg hadir 2X tahun lalu karena anggota nya sdh semakin banyak.
Acara sarasehan kali ini lebih santai tidak buru-buru karena tidak ada acara lain lagi sesudahnya seperti tahun lalu itu. Tanya jawab berlangsung lebih efektif langsung dijawab ahlinya yg dari fakutas Pertanian dan Dinas Pertanian Bantul. Dalam acara tsb juga disisipkan penyuluhan disertai pemutaran film contoh teknisnya.
Datin punya dokumentasi lengkap diawali mulai dari pertemuan tahun lalu, kemudian saat penyuluhan teknis dilapangan selama ini yg di kawal Dadang dan Citut, pembuatan akta notaris tentang usaha ini, sampai dengan pertemuan terakhir ini. Rencana akan dibuat semacam company profile.
Bimo sudah bisa mengikuti ceramah ceramah dimana ibunya aktif tampil. Semua terekam dengan baik di otak Bimo.
Masa liburan Bimo dihabiskan untuk membantu penataan warung pertama, yaitu outlet yg dirumah Citut. Saking semangatnya bantu bantu menata warung, Bimo menjadi lupa untuk main. Bimo punya kepuasan tersendiri dengan kegiatan ini meskipun capek juga. Kadang kadang Citut lupa kalau Bimo itu masih bocah, karena kalau disuruh sudah nyambung aja, mereka jadi asyiek bekerja sama. Toko sembako plus atau mini marketnya nanti dikasi nama seperti nama PT nya, Lumbungku.
Liburan yg yg padat kerja sudah berakhir, kehidupan sudah kembali ke rutinitas masing masing.
Sore diawal bulan Februari, sepertinya kantor agak longgar, tidak padat kerajaan seperti akhir tahun, Datin mau pulang cepat, sekedar ingin ngobrol dg Bimo yg semakin menakjubkan saja kemajuannya. Di CHK kelihatan mobil pak Suwandi parkir, Datin pas mau pulang papasan sama pak Suwandi di Lobby. Pak Suwandi seperti teringat sesuatu terus negor Datin:
“ Bu kok seperti buru buru banget, mau kemana?”
“ Ah enggak, pupung senggang saja dan Bimo sudah dirumah, ya pingin buru buru ketemu anak lanangku, pingin nanggap kegiatan dia seharian ngapain saja.”
“ Hahahaha…..justru kami kemarin yg minta dia cerita selama liburan ngapain saja, e…..dia cerita runut mulai dari menata warung sampai ikut kegiatan rapat pak Tani katanya.”
“ Pak, ngomong-omong apa nih yg perlu dibantu untuk persiapan pernikahan bapak, bu Susan kan kerabatku sendiri, jangan sungkan.”
__ADS_1
“ Ah kami kan tidak pesta besar, selain pemberkatan dari gereja, kita hanya mengadakan syukuran saja sekedar sahabat dekat tahu kalau kita menikah, we are not young couple anymore, jadi tidak ada perlu ono-ini, itu dia Susan sdh nongol.”
“ Aduh, lagi bahas aku nih pasti!” kata Susan.
“ Ya bahas kita berdualah, ayok sudah siap?”
“ Ah iya maaf nih bu Datin, mau buru-buru nih, pamit duluan ya!” kata Susan.
“ Duh bahagianya yg sedang merenda masa depan!” kata Datin sambil tersenyum, ikut bahagia melihat sahabatnya segera mentas dari keterpurukan cinta nya.
Datin bisa merasakan nelangsanya Susan, kekasihnya yg mau dinikahinya, selingkuh dengan sepupu Susan yg disayanginya dan dibiayai kuliahnya dari uang hasil sambilan proyek Susan saat kuliah yg tidak seberapa. Kemudian mereka menikah dan sepertinya bahagia, meninggalkan Susan yg menjadi dingin terhadap siapapun yg mendekatinya waktu itu.
Sekarang Susan mendapatkan calon suami yg jauh lebih mapan dan sejahtera, serta profil laki-laki yg simpatik dan galant. Tindakannya dewasa seiring usianya yg sudah 40 tahun, terpaut 8 tahun dengan Susan, tidak umbar kemesraan namun tampak menghormati pasangannya.
Ada saja disekitarku yg membuat aku baper terharu. Tidak selamanya Tuhan akan menempatkan kita dalam kesedihan dan penantian terus, ada saatnya kebahagiaan hadir menghampiri kita, dan kebahagiaan itu terasa sangat manis karena datangnya tepat waktu……………….Batin datin
Sesampai dirumah Datin melihat jagoannya sedang mencermati computer, ditegornya Bimo :
Bimo sadar, terus menghampiri dan meluk ibunya.
“ Eh ibu, kok tumben sudah pulang, maaf Bimo keasyiekan ngerjain PR yg baru nemu caranya. Hehehe…….abisnya ibu kecepatan pulangnya!” ……dhielz malah Datin di skakmat, menyadarkan kalau selama ini ibunya pulangnya ngaret.
“ Ah bisa aja kamu bacain ibu Mo, dasar cah pinter!” kata Datin geli sendiri sambil menciumi Bimo yg sudah mulai besar.
Hmm…..semakin besar semakin mirip dia dengan mas Pras, ganthengan Bimo malah, dan juga jeniusnya ini nurun siapa ya?……terimakasih ya Allah, engkau telah mengirimkan Bimo yg selalu membakar semangatku untuk berjuang………. Batin Datin
“ Mo sudah dapat kabar dari mbak Ias belum, ibu juga belum sempat telpon bu Tari, siapa tahu kamu telpon telponan.” Tanya Datin.
Sekarang Bimo agak jarang telpon Yasmin karena kesibukannya di sekolah. Ini yg dikhawatirkan Datin, takut Bimo tumbuh jadi robot science. Biasanya masih ada keterikatan dengan mainan, saat sekarang perkembangan arah minat mereka berbeda. Bimo ke angka, Yasmin arah seni.
“ Ah iya aku lupa bilang ibu, mbak Ias kapan itu telpon aku, nanya sekolah di tempat Bimo senang enggak? Dia pingin sekolah bareng aku di Jakarta, katanya.” Kata Bimo.
“ Hah……kenapa, biasanya kan sudah asyiek, gak bisa ninggalin perpustakaannya bu Tari? Coba aku telpon bu Tari.” Kata Datin kaget.
__ADS_1
Dari hasil pembicaraan dengan bu Tari, dilaporkan bahwa anaknya masih mau belajar tapi sedikit kurang bersemangat. Rencananya bu Tari mau lapor saat rapot bayangannya keluar.
Carla juga bilang kalau Yasmin itu lagi gusar, karena bapaknya mau ngajak Yasmin pindah ke Darwin.
Muka Datin seperti disiram air panas. Dia batin dalam hati dengan perasaan marah dan sedih:
Mas Yudis sudah benar benar melupakan persahabatan keluarga kita, dia punya rencana sebesar ini tidak memberitahu aku. Bahkan upayaku untuk kebaikan Yasmin sudah tidak ada artinya saja. Setidaknya permisi basa-basi mau mencabut Yasmin dari binaanya, pantauannya. Selama ini mana mas Yudis pernah meluangkan waktu untuk acara acara sekolah Yasmin, mana ada waktu bicara dari hati ke hati dengan putrinya. Mereka dekat karena ikatan darah antara ayah dan anak saja. Jangan-jangan………. Dia mau menikahi Nyai Blorong itu!!!! Karena sungkan sama semua, maka dia menepi menjauh dari lingkarannya selama ini………..yah pasti Nyai Blorong itu penyebabnya, apa sudah terlanjur berbuat yg terlalu jauh???? KETERLALUAN.!!! …..
Datin suudzon, cemburu, marah campur aduk menjadi satu.
Ya Allah……apalah dayaku, apa hakku untuk menahan Yasmin, atau menahan mas Yudis untuk tidak jauh dariku. Aku sudah bahagia dengan disapanya setiap ada kesempatan, ditanya tentang kabarku, kesehatanku, dipandangnya dengan kagum prestasiku………..semua itu sudah cukup bagiku ya Allah, sudah sangat menyemangati hidupku, bahwa didunia ini aku tidak sendiri, tapi ada dukungan orang yg aku sayangi, yg sangat berarti bagiku dan juga sangat berarti sebagai figur ayah bagi Bimo. Ya Allah, Ya Rahman Ya Rahim…….kuatkanlah hamba, kalau memang ini kehendakMU. Jadikanlah semua baik-baik saja, tidak hanya bagi Bimo dan hamba, tapi juga buat Yasmin dan mas Yudis sendiri. …….keluhan dan curhatan Datin ke Sang Khaliq.
Datin malam itu tidur sendiri, Bimo disuruh tidur dikamarnya sendiri sama mbah uti. Datin menangis semalaman. Sampai pagi harinya matanya sembab. Pas sholat subuh dia membasuh mukanya berulang ulang, namun bekasnya tidak bisa hilang. Karena biasanya dia sholat bareng Bimo, malu kalau ketahuan menangis.
Kali ini Datin sholat duluan dan langsung manas manasi lauk dan menyiapkan sarapan pagi. Karena terkena uap rebusan air maka bintit matanya menjadi samar.
“ Ibu sholat kok gak bangunin Bimo? Tadi Bimo sholat sama mbah uti saja.” Protes Bimo.
“ Maaf le, ibu tadi keburu lapar terus sholat dulu baru nyemil didapur.” Jawab Datin bohong.
Datin telpon Susan kalau mau datang agak siangan, nanti kalau ada yg penting agar diselesaikan oleh bu Susan. Dia juga telpon Marsih.
Datin perlu menata hatinya, dia mau merenung sendiri sebentar. Sesudah Bimo berangkat sekolah, Datin pamit bu Parinah mau tidur sebentar untuk jangan dibangunin. Karena kepala sedikit pening. Datin mulai merenung dikamarnya:
Saya dulu menahan diri tidak boleh pacaran sama mas Pras, kita berdua berjanji dan menyepakati, menjalani hubungan tanpa status, yg teruji selama kurang lebih 8 tahun, dengan tidak ada kepastian bahwa mas Pras akan memilih saya untuk jadi istrinya ataupun sebaliknya. Ternyata saya maupun mas Pras bisa melewati semuanya dengan mulus tanpa cela, tidak pernah ada yg iseng berpaling sementara kelain hati.
Sekarang saya menjalani hubungan tanpa status juga, namun tanpa Janji atau kesepakatan diantara saya dan mas Yudis, meskipun aku yakin kami masing masing merasakan saling menyayangi, tapi tidak pernah terucapkan.
Mengapa sekarang saya harus menangis dan sedih. Toh belum pernah ada kesepakatan. Ini tidak pada tempatnya, tidak layak ditangisi, tapi di ikhlaskan saja karena tidak pernah ada yg menjanjikan.
Datin akhirnya sampai pada satu kesimpulan untuk belajar ikhlas yg kedua kali.
Kemudian Datin mencoba kembali beraktifitas seperti biasa. Mencoba menerima kenyataan dan mengikhlaskan.
__ADS_1