Canting

Canting
Episode 23


__ADS_3

Bu Parinah tadi pesan ke bu Mardi, ipar almarhum suaminya, untuk motong ayam 3 ekor. Beliau tadi masak garang asem ayam yg dibungkus daun pisang, yg sekarang sedang dikukus di soblok besar. Karena nanti sebagian mau di bawa ke Tembi untuk bu Danu. Untuk bumbunya dia tinggal beli tomat hijau diwarung. Bumbu dapur lainya tinggal nyari dikebon. Pak dukuh rajin nanam berbagai bumbu dapur dihalaman rumah kakaknya itu. Sedangkan pohon blimbing wuluhnya tidak pernah berhenti berbuah.


“ Wah ibu bisa gak mau ke Jakarta lagi nih, dapurnya sudah bagus, bersih ada tungku tungku besar, tumpukan kayu bakar ditritisan, kompor diatas meja batu juga bersih……waaaaa dapurnya besar, itu amben pendeknya bisa untuk tidur 10 orang.” Kata Datin kagum. Itu karya lik Mardi yg bikin dapur ala dapurnya juragan desa. Biasanya orang kalau punya hajat banyak tetangga yg datang bantuin masak dirumah yg punya hajat. Dapur baru ini cukup untuk keperluan tersebut.


“ Itu lik Mardi bikin sekalian besar biar cukup kalau untuk olah-olah (masak) saat punya gawe.” Jawab bulik Mardi


“ Sudah mau mantu ya lik?” tanya Datin.


“ Ah…..embuh itu adikmu, kalau ditanya bilangnya tar sok tar sok, aku isin sama tetangga, Cuma runtang runtung terus.” Jawab bu Mardi.


“ Lho berapa umur si Citut to? Kan masih beyes kok mau dikawinkan.” Tanya bu Parinem.


Yg diomongin datang sambil bawa toples isi kering tempe-kacang dari rumahnya yg diseberang jalan, untuk teman lauk makan garang asem :


“ Lha aku kuliah saja belum kelar, aku masih 19 tahun, lha kalau runtang runtung kan ya gak hanya berdua, wong ngerjakan tugas kelompok. Dasar urip nang ndeso ki susah, bentar bentar diomongin, dirasani……..kalau semua kita dengerin ya kita gak gaul jadinya.” Jawabnya sengit…..


“ Sabar……..sabar Tut, maju terus pantang mundur! Jangan sampai mogol ditengah jalan, di Pertanian kan? semester akhir to?” tanya Datin.


“ Semester 7 mbak, he eh.” Jawab Citut.


Datin ngobrol sama bulik dan sepupunya sambil dia pijit urut. Dikejauhan terdengar gemericiknya aliran irigasi disamping halaman rumahnya. Benar benar surga dunia hari itu. Memuaskan hasrat kanak kanaknya dan berakhir di tangan mbah Mangun tukang urut. Bimo tidur kelelahan disampingnya. Wajahnya yg gantheng-cuby, mata belok, pinter….. Saat tidur suka di uyel uyel sama Datin, kadang sampai kebangun nangis.


Datin gak makan siang, karena tadi sarapan sotonya juga sudah setengah sebelas siang. Nanti mau makan garang asem di Tembi saja. Datin, Bimo dan Lilis dijemput Yanto mampir ke Tembi. Sedangkan bu Parinah tinggal di Manding kangenan sama saudara saudaranya.


Bu Danu seneng banget kedatangan Bimo. Dasar Bimo memang anaknya supel pemberani, sama siapa saja ramah.


“ Bimo tinggal disini saja nemani yanguti ya? Mau gak Mo?” tanya bu Danu.

__ADS_1


“ Sini dipangku yangkung sini, eyang kangen Bimo kalau cerita.” Kata pak Danu sambil bopong Bimo. Tapi………”E..e..e kok eyang gak kuat ngangkat lagi ini, Bimo sudah besar.”


“ Lha ngatos-atos yangkung (hati-hati), Bimo sekarang sudah besar yangkung, sudah tidak cedal lagi kalau bicara, kalo sholat tidak lupa berdoa untuk bapaknya, dan kalau malam kadang kadang bacain cerita untuk bapaknya…….kan bapaknya tinggalnya sama bintang bintang dilangit.” Kata Datin……


Bu Danu melelehkan air matanya saat Bimo bisa berdoa untuk bapaknya. “Duh Gustiiiii…….kenapa yg dipundut (yg dipanggil) bukan saya saja, kenapa harus Pras yg masih diperlukan bocah ini?”


“ Lho bu, ……..kehendakNYA pastilah yg terbaik, mas Pras sudah bahagia disisiNYA dan setiap saat ngontrol kita. Tadi pagi saja saya disuruh bawa Bimo wisata alam lewat mimpi bu,………sudah ah…. monggo dahar pakai garang asem masakan mbah-uti, kebetulan dari tadi siang saya juga belum makan.” Kata Datin sambil nyiapin lauk yg dia bawa.


Datin sempat masuk kamarnya dulu, sekedar mengenang masa-masa manis saat bersama Pras.


Demikian Datin menghabiskan libur akhir tahunnya di Yogya, tiap hari juga nyempatkan nengok outlet atau boutique sebentar, sekedar briefing staf, makan bareng dengan staf dengan dia traktir di café CH sendiri. Datin banyak disukai dan dekat dengan staf nya. Seperti bu Meta dulu juga dekat sama staf.


Pada hari Jum’at 30 Desember 2005, pagi pagi jam 06.30 Bimo sudah cakep sudah siap berangkat ke Semarang sama Datin. Dia sangat ceria dan penuh semangat karena akan ketemu mbak Ias nya, dia sudah bawain Yasmin buku cergam saat belanja ke Gramedia kemarin. Tepat jam 07.00 mereka berangkat diantar Yanto memakai mobil CH, tidak lupa bawa lapis legit L’ Gourmet yg legendaris yg Datin bawa dari Jakarta dan juga pesanan Mila baceman tempe koro dan gembus bikinan bu Parinah.


Sekitar jam 10.30 mereka sudah sampai di Candi dirumah Mila, sungguh mengherankan mengapa bisa begitu hingar-bingar rumah sebesar ini dengan hanya ada 2 bocah kecil Bimo dan Yasmin.


“ Mbak ini lapis legit kalau makan sedikit saja sudah mblenger banget, room booternya kerasa banget. Tapiiii……..mbak Mila hanya boleh nyuil sedikit ya, ini jahat banget untuk mbak Mila karena full fat dan kolesterol, ini untuk tamu tamu mas Yudis saja nanti.”


“ Wah terimakasih ya Tin sudah diperhatikan, nanti temanku gak banyak kok paling 4 atau 5 pasang saja, kolega dekat.”


Mereka langsung duduk diteras belakang favourite Datin, boleh dibilang semi balkon, kalau mau turun ke halaman agak curam dengan tangga yg artistik dilengkapi atap pergola putih yg dirambati tanaman bunga krelemi yg seperti bunga sakura kecil-kecil. Mereka ngobrol minum teh sambil makan gembus dan koro.


“ Bagaimana kursus mu Tin, sudah hampir kelar?” tanya Yudis.


“ Wah ya belum, karena banyak disambi dan yg jelas otak juga sudah mulai lemot.” Jawab Datin “ Belum ada setahun juga kan mas, justru februari depan ini mulai yg intinya, 3 kursus terakhir, agak padat jadwalnya, kalau lancar pertengahan juli 2006 kelar. Tapi kok gak Yakin ya.” Jawab Datin


“ Tin…..aku benci deh, kamu suka merendah gitu. Banyak yg bilang kamu genius lho, lihat prestasimu!!! Semuda ini kamu punya usaha yg luar biasa, dan sekarang uang yg bekerja untuk kamu, bukan sebaliknya.” Potong Mila.

__ADS_1


“ Hahahaha…..siapa yg bilang?? Lebay puoolll! Tapi ya tak aminkan sajalah, kan ini do’a yg baik.”


“ Tin……bisa dong kapan-kapan kamu aku undang untuk mengisi workshop yg diselenggarakan kadin untuk para anggotanya.” Tanya Yudis.


“ Pembicara? Pemrasaran? Tentang apa ya? Waduh belum pernah aku lho, kalau rapat sih lain ya, bisa mengalir saja. Tapi kalau….jumeneng dados bu guru, (berperan sebagai bu guru) blaen bisa ngompol gak nanti aku?” jawab Datin bercanda.


“ Hahahaha…….bisa aja kamu Tin, kan kita tidak hanya dari kalangan akademisi yg kita undang, kadang waktu itu seorang ibu lulusan SMA saja tapi usahanya sukses sebagai pemasok kacang telor diberbagai supermarket. Bisa lancar transfer of ideanya lho.” Kata Yudis.


“ Lha …..ya gak gitu lah, kalau ngundang Datin kan juga harus merupakan perpaduan kesuksesan dengan teori strategy bisnis yg dia dapatkan dari Harvard itu juga dong.” Selak Mila.


Tiba tiba pembantu Mila datang sambil menyodorkan telp rumah ke Mila, “………..dari resto Sagara.”


“ Ya, hallo……..wah kirim aja via email usulan set menunya, Yg jelas menu andalan jangan lupa, Lobster dua rasa, lobster telor asin dan lobster lada hitam.” Jawab Mila, rupanya chefnya menanyakan rangkaian menu tahun baru besok yg harus disiapkan. Dan nanti disiapkan asisten yg akan melakukan bakar bakaran.


“ Mbak Mila untuk keperluan 2 resto, Semarang dan Surabaya ini kebutuhan beras, gula, dan bahan bahan pokok lainnya tentunya banyak ya. Tentunya lebih dari kebutuhan untuk satu lingkungan. Apa gak kepikir memenuhi kebutuhan sendiri dengan membikin semacam toko P & D gitu. Kan sekalian bisa untuk melayani lingkungan. Bikin toko sembako plus itu katakanlah margin kecil tapi kita mengharapkan dari volume, Jatuhnya ya besar juga. Dan kebutuhan pangan orang tidak ada matinya dalam situasi apapun. Sampai sekarang aku itu masih kepikiran pingin punya warung P&D begitu, cita cita masa kecil hahahahaha…………” kata Datin


“ Halah bu direktur fashion dengan omset milyaran dengan busananya yg selalu chic dan selalu harum ini, nanti jadi bau bawang deh!” kata Mila.


Datin memang kalau berbusana untuk kerja atau keperluan pergi-pergi sekarang cenderung memakai kain sebagai bawahan setengah betis atau kadang sebatas lutut dari motif songket atau batik, dengan atasan kebaya modern atau blouse batik, dengan dandanan rambut kadang disanggul simpel kadang dilepas tergerai lebat sepunggung. Kebiasaan busana tersebut sekaligus mempromosikan fashion yg ada di boutique nya. Datin memang anggun.


“ Bau bawang gak masalah mbak, itu cita cita saya saat masih kecil. Kalau punya warung itu bayangan saya pasti orang kaya, hahahaha……….Dulu kalau waktu masih kecil disuruh pergi ke warung beli gula, terus yg jual nanya mau beli apa lagi, sepertinya isi warung itu macam macam, apa yg kita sebut selalu ada, terus bayangin enak banget kalau punya warung gak perlu susah-susah beli sudah ada semua disitu. Itu pasti orang kaya dan gak pernah susah seperti orang tua saya!” kenang Datin akan masa kecilnya.


Obrolan mereka terhenti, tiba tiba Bimo lari kepangkuan Datin sambil bilang: “ Ibu….ngngng anu…Bimo boleh makan es cream nggak, mbak Ias punya di kulkas.”


“ Ya….boleh tapi nanti sesudah makan, baru makan es creamnya ya sayang.”


“ Horeeee….boleh, Bimo minta maem dulu!”

__ADS_1


__ADS_2