
Hari Jumat 23 Desember, merupakan hari terakhir RUPS dengan Flight terakhir Datin, Bimo dan bu Parinah berangkat ke Yogya.
“ Ibu nanti saya bersama Bimo menjelang tahun baru akan ke Semarang, belum tahu pastinya tgl 30 atau 31 Desember, nanti tanggal 1-1-2006 siang saya balik Yogya, baru besoknya tgl 2-1-2006 kita berngkat ke Jakarta.” Kata Datin
“ Yo wis, silakan, nanti ibu kadang di Condong Catur dan kadang ke Manding yo nduk. Waktu sugengane (peringatan wafatnya) Pras itu kamu kan suruhan lik Mardi benerin dapur, sama ruang tidur ku to, mau tak anyari (mau dicoba), hehehehe…..sudah kangen je meskipun blm ada 3 bulan kesana. Kadang kalau pas masak didapur itu terus ingat bapakmu kalau pas naruk ember isi belut.” Bu Parinah bernostalgia.
“ Yo wis, selamat mimpi indah ketemu bapak ya bu besok. Aku yo tak janjian dengan almarhum mas Pras, hehehe.” Canda Datin.
Sabtu pagi sehabis sholat subuh, Datin tidur lagi karena sudah diniati ingin mbangkong atau bangun siang, melepas kepenatan sehabis berbulan-bulan berkutat dengan kursus, meeting, baca dan evaluasi laporan keuangan dan serangkaian kepadatan jadwal Datin sehari-hari. Bimo juga masih nyenyak tidurnya. Tapi belum sampai 2 jam tidur, setengah tujuh pagi Datin kaget kebangun. Dia mimpi ngejar Pras yg ketawa-ketawa sambil lari lari kearah sungai yg biasa dia berenang kalau pas ikut mancing pak Marto. Datin keringatan, dia memang tidak menyalakan AC karena bulan Desember ini Yogya kebetulan hawanya sejuk. Namun semalam tidak turun hujan, hanya mendung saja, jadi udara terasa agak gerah.
“ Bimo…..Bimooo….kemana kamu nak?” Datin teriak teriak karena Bimo yg tidur disampingnya kok tempatnya sudah kosong. Datin sempat terkesiap, takut, dia pikir masih di apartemen Kemang. Kalau Bimo keluar pintu, gak ada yg tahu kan berbahaya.
“ Lha pagi pagi kok bengok bengok (teriak) seperti kesambet sawan celeng, ada apa to??? Kalau bangun siang ya memang mimpinya terus jelek. Itu Bimo sudah minta mandi sama si Lilis terus main bola sama teman-temannya diluar.” Kata bu Parinah.
“ Oh alhamdulillah……aku pikir kita tu di apartemen yg mangkruk mangkruk diatas seperti pegupon burung itu, lha Bimo ilang tak pikir dia turun sendiri…… ya ampuuun! Tapi mimpiku indah lho bu, ketemu mas Pras tak kejar lari ke Anak Sungai Opak itu…….ini nih gara gara aku pakai bekas bantal mas Pras.” Kata Datin.
Ibunya ketawa, “ Ternyata kamu dulu yg ketemu.”
“ Bu nanti sehabis aku mandi kita sarapan sotonya pak Man yg di jalan Bantul itu ya bu sambil sekalian ke rumah Manding, oh ya lapis legitku sudah dimasukkan kulkaskan bu? Itu aku beli di le Gourmet Jakarta, muahal puol, tapi untuk jamuan tahun baru tamunya mas Yudis.” Kata Datin.
“ lha itu ada roti tawar dan sudah dibikinkan nasi goreng sama Lilis.”kata bu Parinah.
“ Oalaaaah…..gak di jakarta, gak di Yogya, gak dialam mimpi ……. nasi goreeeeng terus, nanti lama-lama bisa budeg lho. Sekali kali lupakan jaman susah kita bu!, seneng seneng dikitlah. Nostalgia kuliner Yogya. Apalagi roti tawar, kalau gak kepepet ogah makan itu, perutku kan perut ndeso kalau diisi roti berasa belum makan.” Datin ngomyang, apalagi dalam bayangan Datin RUPS kemarin baru dapat angka deviden yg dia terima jumlahnya menakjubkan, bisa beli Mercedes Benz GLA -Class baru, lha kok ketemu nasi goreng lagi.
Datin keluar mau ngelihatin Bimo, ternyata dia ditungguin Lilis lagi dilapangan rumput sudut komplek main bola sama Gopal dan teman lainnya.
__ADS_1
Sesudah mandi dan rapi Datin telpon Rini ngajak makan soto.
“ Wah, juragane rawuh (bos datang), siyaaaap gan, laksanakan kita pergi nyoto ya!” sahut Proborini dari seberang sana, “ tapi mas Yudi gak bisa ya, ….biasa ada pengukuran lahan di Cebongan situ. Aku nanti pergi ke Kotabaru siangan dikit lah, kan instruksi ngawal bos besar.” Kata Rini.
“ Ah jangan gitulah mbak, isin (malu) aku. Aku ingat saat aku nangis habis di nasihati ibu dulu (bu Danu), hahaha…. mbak Rini yg menghibur aku.” Kata Datin mengingat kesedihan masa lalu.
“ Nah bener kan kataku! Kamu akan sukses melebihi kami! Begitu kan kataku dulu. Ternyata gak butuh waktu lama semuanya menjadi berbalik ya Tin.”
“ Ah sudahlah, kalau gak melalui seperti itu, mungkin aku ya tetep ndlosor terus mbak. Kalau suruh milih, aku mau lho dimarahi ibu lagi tapi mas Pras tetap disampingku terus, hiks………. Wis ini nanti jadi gak berangkat berangkat, aku tutup dulu ya.”
Datin siap-siap bawa baju ganti Bimo dan dia sendiri, karena rencananya mau ngajak Bimo main dikali tempat dia suka berenang dulu, kemudian mau pijet urut ngundang mbah Mangun di Manding, dan sore mampir rumah Tembi, makan malam di Tembi, baru balik Condong Catur.
Pak Yanto, sopir CH sudah didepan rumah, dan ngopi di teras, Datin dan ibunya sudah siap, dan Bimo lari nyamperin ibunya begitu dia lihat semua sudah siap pergi. “ Bimo ikuuuut, kok Bimo ditinggal?” tanya nya setengah mewek berasa mau ditinggal. Bimo sekarang sudah tidak begitu cedal lagi kalau bicara. Sudah pinter.
Sesampai di rumah Proborini, Prayudi baru siap siap mau jalan ke Cebongan, karena akan ada pengukuran lahan. “ Tin, apa kabar? Wah sorry ya Tin gak bisa ikut nyoto, ada janji kerjaan.”
“ Wah mas nyetak duit terus ni ye! Duwit sudah gak ada serinya lagi.” Kata Datin. Prayudi memang notaris sukses di wilayah Sleman DIY. Dia baru beli lahan disebelah kantornya dan sekarang lagi dibangun untuk perluasan kantor, dan pavilion untuk istirahat dia.
“ Mbak, nanti habis nyoto ngedrop kita dulu di Manding ya, baru pak Yanto ngantar ke jalan Suroto, kalau akhir tahun gini malah lagi rame ramenya ya, tapi yg Tirtodipuran.” kata Datin
Mereka makan soto empal pak Man dipinggir jalan raya Bantul tidak jauh dari tikungan kalau mau ke Manding. Tempatnya sangat sederhana, lantai plester, dinding dari bilik bambu, tempat duduk lincak atau bangku panjang dari bambu dengan beberapa meja panjang. Namun dimeja depan dapur yg berfungsi sebagai counter saji, sudah tersaji daging empal, peyek paru, bacem tahu tempe dan bacem usus babat yg masih hangat dan harum baunya. Makanan disajikan ditutup dengan tutup saji besar dari anyaman bambu juga. Disampingnya sudah disiapkan piring piring kecil untuk kalau mau ambil.
Aroma aneka baceman dicampur aroma uap kuah soto daging tadi membuat asam lambung melonjak dan menggugah selera makan. Kalau sudah sampai disini, meskipun terhidang sajian full kolesterol, namun tidak dirasakan adanya penyakit lagi, karena penyakit adanya hanya di rumah sakit, kata orang begitu.
Datin makan lahap, dia teringat Pras :” Disini ini warung soto kesukaan mas Pras, saya sering diajak mampir sini. Ya saya sueneng banget, perbaikan gizi yg jarang banget ketemu dirumah. Protein dirumah itu balado belut goreng sama ikan gabus acar kuning…..top markotopnya. Itu juga hasil mancing.”
__ADS_1
Bu Parinah ketawa sambil bilang: “kamu jangan lupa asal usulmu nduk, nanti kamu gak bisa merasakan nikmatnya apa yg sudah kamu capai.”
“ Lho….makanya aku bilang, top markotop, lha masakan ibuku, nyonya Martodikromo, itu gak ada tandingannya lezatnya. Lha bikin tempe bejeg saja uenak banget lho….itu dikasi kencur itu lho, bikin lapar.”
Proborini mendengarkan obrolan nostalgia ini dengan terharu. Dia masih ingat Datin remaja rambutnya diikat ekor kuda, pakai sepeda bawa batikan, mondar mandir Manding-Tembi untuk membantu orangtuanya mengupayakan sesuap nasi. Sekarang sudah jadi pengusaha wanita papan atas yg sukses.
Datin sudah ganti baju pakai kulot jeans dengan kaos hitam lengan pendek dan topi serta memakai sepatu sendal gunung. Dia siap jalan menyusur pedestrian desa menuju ke Anak Kali Opak : “Bimo cah bagus, ayo cepat sini nanti keburu bedug. Liiiis…… jangan lupa pelampung bebeknya Bimo dibawa ya. Yuk jalan.”
Bimo ceria sekali sambil teriak teriak dia lari lari dan Lilis mengejar dibelakangnya. Datin sedikit terkesiap, dia ingat mimpinya dini hari tadi seolah olah dia mengejar Pras yg lari lari dijalan ini, kejadiannya dia mengejar-ngejar Bimo yg adegannya mirip di mimpi itu. Datin merinding, rupanya dia diingatkan Pras untuk momong Bimo di alam bebas ini.
“ Tiiiin, Datiiiin…..ini Datin kan ya?” teriak seorang prempuan yg sedang nyapu halaman rumahnya.
Datin nengok dan kaget : “ Hah……Surtini ya? Ealaaah, lha kok ya kebetulan banget bisa ketemu. Iya, ya akulah Datin sahabatmu dulu, bukan jadi-jadian. Piye kabarmu? Dimana kamu sekarang?”
“ Hahahaha…… soalnya kamu sekarang cantiiiiiik banget, aku bener bener pangling lho Tin. Aku kan kerjanya di Kejaksaan Negri Bantul sini. Lha ya aku tetep tinggal dirumah sini, karena kedua kakakku kan diluar kota semua, ibu gak ada temannya. Tin aku ikut berduka ya, gak nyangka mas Pras gak panjang yuswo (umur).”
“ Terimakasih, Ya sudah pestinya (takdir) begitu, aku sudah mengikhlaskan, dan dapat gantinya usilnya sama, itu dia.” Kata Datin sambil menunjuk Bimo yg lagi jongkok ngamati daun putri malu.” Lha suami dan anakmu mana?”……..
Surtini manggil anaknya sekalian mau ikut ke kali: “Hastoooo sini le….kita renang di kali yuk…., bojoku jaksa juga tapi dinasnya di kejari Sleman, dia lagi ke Yogya ada perlu.”
Akhirnya mereka main ke kali nostalgia mereka, kedua anak mereka cepat akrab. Datin begitu cekatan kalau nangkap anaknya karena memang dia biangnya kecebong dulu, dan dia memakai alas kaki sandal gunung yg nyengkeram atau tidak licin kalau di batu, sampai pakaian mereka pun basah kuyub.
Sejenak Datin dan Surtini lupa kalu dia sudah bukan anak anak lagi, ketegangan karena kerjaan terbang melayang sejenak, sampai saat cuaca tiba tiba berobah mendung, karena bulan Desember memang saatnya musim penghujan, baru mereka menyudahi kegiatan mereka. Dengan baju yg basah kuyub mereka jalan pulang. Sampai banyak orang desa yg memandangi mereka sambil menyapa dengan ramah.
Sesampai dirumah mereka mandi ganti baju, Datin ganti baju daster batik jaman dulu dia gadis yg masih tersisa dilemari, terasa adem dan tiduran dikamar bu Parinah yg sudah rapi habis direnovasi dan dilengkapi tempat tidur dan kasur yg baru empuk dan seprei batik.
__ADS_1