Canting

Canting
Episode 63


__ADS_3

Sesampai dikamar Datin melihat suaminya tidur sangat nyenyak karena kecapekan perjalanan dari Surabaya dan sehari sebelumnya mengerjakan stock opname cold storage Surabaya untuk warung tendanya yg di Surabaya dan sekitarnya. Dia semakin sayang sama Yudis ini yg telah menunjukkan tanggung jawabnya untuk keluarga. Bagaimana dulu berjas-dasi perlente, sekarang berkaos dan jeans turun kelapangan juga Ok, dan beres.


Bahkan kerjaan PT Lumbungkupun Yudis sama Bimo juga ikut ngurus. “ Ibu ngurus anak empat sama sulung satu yg rempong ini saja sudah capek banget kan. Hal hal yg bisa kita tangani akan saya kerjakan sama Bimo. Ibu urus CH saja yg aku gak ngerti. Nanti kalau ibu capek aku gak kebagian apa-apa blaen!” kata Yudis waktu itu.


Bimo bangga akan papa sambungnya ini. Selalu terdengar kata kata Bimo yg sejuk: “ Biar Bimo saja pa yg ngerjakan ….., biar Bimo saja pa yg ngecek ……,biar Bimo saja pa yg distribusi…….papa kasi tahu saja Bimo harus ngapain, papa sudah kerja keras kemarin, sekarang istirahat dulu ganti Bimo………” padahal Bimo juga capek dengan angka-angka.


Datin menunaikan sholat Qiyamul lail, takut gak kebangun tahajut. Kemudian sebelum tidur dia mencium kening Yudis dengan penuh rasa sayang, dan mengucapkan terimakasih ke Allah telah dikaruniai suami yg baik, dan sangat mencintainya, seperti doa Pras saat sakaratul maut dulu.


Hampir setengah lima baru kedengar adzan subuh, Yudis sudah lebih dulu bangun sekitar jam 3 lebih untuk Tahajut sebelum adzan Subuh. Kemudian dengan hati-hati dia bangunkan Datin untuk sholat berjamaah dengannya. Diciumnya pipi istrinya, Datin tersadar agak terlambat bangun.


Datin sebelum mengambil air wudhu dia sempatkan gosok gigi dan kumur dengan listerin, kemudian sesudah wudhu membalurkan ke tengkuk, leher dan pergelangan tangan dengan eu d toilet segar dan ringan, karena dia masih teringat janjinya dengan Yudis sehabis subuh nanti. Dia akan melayani suaminya dengan baik, karena suaminya sudah menjalankan tugasnya sebagai kepala rumah tangga dengan sangat bertanggung jawab.


Pagi itu Datin agak terlambat turun, biasanya setengah tujuh bahkan sebelumnya sudah standby di pantry untuk menyiapkan makanan bersama Tarti, asisten chef C Café yg rutin bantu menyiapkan masakan mulai dari breakfast, dan untuk menu hari itu siang dan malam. Sesudah masak dia pulang. Jam kerjanya mulai dari jam 6 pagi sampai jam 10 pagi. Adapun yg manasi untuk makan siang dan makan malam adalah Datin atau Yasmin atau bu Parinah kadang juga Bimo.


Pagi ini sesudah menunaikan kewajibannya dia mandi kramas baru dia turun sekitar jam 8 pagi. Anak anak ada yg sedang sarapan, ada yg sudah selesai sarapan dan mengerjakan tugas sekolahnya, Yasmin sedang main piano. Anak anak sudah kebiasaan mandi pagi sesudah sholat subuh. Kalau toh mau tidur lagi pasti sudah mandi kecuali sakit.


Pagi ini menu sarapannya pancake saus cocktail buah atau marmelade yg mau, tapi selalu ada pendamping masakan panasnya bervariasi tiap harinya, untuk hari ini yaitu bakmi goreng komplit. Tinggal pilih.


Yudis kelihatan baru masuk dari gerbang depan bersama Bimo pulang dari rumah pak Mardi melihat warung. Bimo naik kekamarnya sedangkan Yudis kemeja makan nyamperi istrinya mau sarapan.


“ Kopi apa teh mas? Sarapan pancake atau mie goreng?’ tanya Datin.


“ Kopi sama mie goreng dulu, sesudahnya pancake dg topping d’ cocktail, lapar bener kalau habis olah raga itu!” Yudis mendongakkan kepala kearah Datin mengerdipkan sebelah matanya sambil memeluk pinggang Datin yg berdiri disamping Yudis saat menuang kopi.


“ Hm…hm…hm…dilihat Bayu sama Zaza dari sana tu, papa nya genit banget pikirnya.”kata Datin.


Tiba tiba Hp dikantong Datin bunyi, ternyata dari bu Tari.


“ *** wrwb jeng, sedang sibuk ya?” suara dari bu Tari.


“ Ah, sedang ini nemani sarapan mas Yudis, nanti kalau setengah jam lagi saya telpon bagaimana?” kata Datin karena nanggung belum sarapan juga.

__ADS_1


“ Oo ok jeng baik.”


“ Ok, setengah atau satu jaman lagi ya mbak, biar beres semua dulu, aku juga mau cerita banyak nih.”


Sandy sama Febri datang untuk cleaning rumah, loundry dan seterika. Mereka ini sebenarnya butler villa Manding ini yg diambilkan dari staf hotel kenalan Panji untuk pindah bekerja di Villa ini. Mereka mencuci baju dan kadang juga seprei dengan mesin cuci yg ada di masing masing villa kemudian menyeterika.


“ Febri tolong seprei villa kecil diganti ya, sudah seminggu itu, juga handuk.”


“ Baik bu.”


Sesudah beres sarapan dan mengatur ono-ini, Datin mulai mapan dibawah pohon sawo, mau ngrumpi sama bu Tari.


“ *** wrwb mbak Tari……”


“ walkslm wrwb, sudah beres jeng?, sudah lama nih kita seperti satwa kebon binatang, dikandang terus, gak pernah nengok rumah Semarang ya jeng?”


“ Enggak diijinkan mas Yudis. Apalagi ke Jakarta, wis forbiden city itu bagi mas Yudis. Bagaimana mbak ada berita yg menyenangkan?”


“ Yasmin juga cerita sama saya panjang lebar, dia malah bilang Dewa ngajak nikah langsung sesudah Yasmin lulus. Yasmin barusan lulus awal bulan ini. Setelah aku tanya ternyata sejak mereka menyatakan serius itu belum pernah ketemu. Seperti ta’aruf, tapi penjajagan mereka sejak kecil.”kata Datin tidak kalah semangat.


“ Kata Dewa, Yasmin sudah kasi jawaban kalau mau jadi istri Dewa, tapi kapannya belum ada kepastian dari keduanya. Lha ini begini, Dewa itu gak kasi kabar Yasmin kalau sekarang sudah di Semarang. dia bilang masih belum tahu kapan bisa balik. Dia ingin bikin surprise Minggu lusa ini mau ke Yogya ketemu mendadak. Yasmin jangan dikasi tahu dulu. Nanti kira kira nya jam berapa aku kabari lagi. Mungkin sampai Yogya jam 10-11 an begitu.” Kata bu Tari.


“ Ah……..lha kok malah aku yg deg-deg an ini ya! Yg mau dilamar siapa, yg setep siapa, hahahaha………Ya Allah jodohkanlah mereka hingga sampai ke jannah, aamiin.” Kata Datin


“ Aamiin….., oh ya jeng ini mungkin Dewa mau bilang ke panjenengan dan pak Yudis, secara pendahuluan untuk meminta Yasmin. Tapi formalnya nanti kami sowan. Ya dalam 3 minggu ini dah, Bismillah ya jeng!” kata bu Tari sambil melelehkan air mata.


“ Alhamdulillah ya Rab. Monggo bu, aku nanti tak ngethik mas Yudis, beliau itu suka keceplosan, aku harus dampingi terus. Aku takut Yasmin pingsan melihat Dewa tiba tiba nongol. Lha baca WA Dewa yg menyatakan cinta sejak ketemu di ITB saja dia mau pingsan katanya. Yasmin itu perasaannya halus banget.” Kata Datin.


“ Iya jeng ngerti saya, lha Yasmin itu aku ngasuh kan ya hampir 5 tahun to, sudah tak anggep anakku dewe, seperti adiknya Dewa. Saat pas ngambek sama Papanya dulu itu yg nangis kan saya. Bocah kok bisa nangis nelangsa banget, Dewa saja sampai bengong gak tega.” Papar bu Tari


Malam Sabtu saat mau tidur, Datin menceritakan panjang lebar semuanya ke Yudis bahwa besok Minggu itu Dewa mau datang untuk mendahului meminta Yasmin, dan sesudah itu baru mengajak orang tuanya, Yudis menangis dipelukan Datin.

__ADS_1


“ Tin aku menyerahkan semuanya ke kamu, istriku yg sangat bijaksana menangani putra putri kita. Aku ya sedih, ya bahagia, putriku yg sepertinya baru kemarin aku ikut mengganti popoknya, sekarang sudah mau diambil orang….huk..huk..huk!” tangis haru Yudis dalam pelukan Datin.


Hari Sabtu sesudah makan malam seperti biasa mereka berkumpul di depan TV living room Villa besar. Datin mengatur siasat, yg tahu kalau Dewa mau hadir hanya Datin dan Yudis saja.


“ Ias besok pagi kita bikin kue, ibu mau bawa untuk eyang Danu, kira kira apa ya?” tanya Datin


“ Pastel tutup saja gampang, sama puding caramel bu, untuk pakde dan bude Yudi.” Kata Yasmin.


“ Ya sudah ibu nanti bikin huzarensla nya.” Kata Datin.


“ Mbak itu dikulkas masih ada kue Sus gosong yg doyan Cuma aku sama Zaza, jangan dibuang ya.” Kata Bimo.


“ Halah mbok ya besok kalau sudah senggang aku bikinin lagi yg bener, itu disingkirin saja.”


“ Jangan buang makanan! Ini lagi paceklik. Ho-oh aku juga suka, malah yg gosong gosong itu huenake puol, guyih-yih……..top markotop.” Kata Zaza, sok bijaksana. Anaknya memang simpel dan cerdas.


Datin langsung telpon Tarti untuk dibelanjakan bahan bahan yg dibutuhkan, dan pagi sudah siap di Manding.


Minggu pagi itu pantry rumah induk sangat sibuk. Yasmin bikin pastel tutup sudah mahir. Saat adonan pastel tutup sudah siap langsung dimasukkan di oven dapur villa besar. Sesudahnya Yasmin langsung bikin caramelnya dituang dicetakan kecil kecil banyak, baru dituang adonan pudeng telor diatas caramelnya, kemudian dipanggang di oven dapur villa kecil. Supaya menyingkat waktu sehingga dua dapur di villa besar dan kecil ngebul semua.


Selain itu Tarti juga masak untuk hariannya.


Mereka sarapan bubur manado untuk makanan panasnya, sama roti tawar lengkap dengan isiannya untuk pilihannya.


Tadi telpon dari bu Tari mengatakan kalau Dewa kira kira jam 11 sampai.


Selesai sarapan Datin instruksi ke Yasmin :


“ Yasmin nanti kamu ikut ibu ngantar ke eyang ya, sekarang kamu siap siap dulu deh, mandi lagi biar seger.”


Masakan sudah kelar semua, Tarti dan Yasmin sudah menata semuanya di meja pantry, baru mandi.

__ADS_1


__ADS_2