Canting

Canting
Episode 64


__ADS_3

Pakai kulot kotak-kotak merk Zara sama blus putih lengan pendek dan sabuk kulit kecil. Cuaca gerah cocok busana ini.


Yasmin sudah selesai memakai make up tipis, kan hanya ke rumah eyang. Yasmin mengulang mengeringkan rambut yg masih belum begitu kering, terdengar suara motor Harly Davidsonnya Bimo masuk halaman. Kemudian terdengar suara berbincang diruang keluarga.


Mau kemana Bimo, kalau ngantar kue sebanyak itu bonceng HD nya Bimo bagaimana bawanya? Ah ada ada saja, pakai mobil sajalah, aman. Aku bisa nyetir sendiri kalau hari Minggu sopir pada gak masuk.


Kemudian terdengar suara ibunya memanggil melalui aiphone ke lantai dua :


“ Ias, ayo …….”


“ Bentar lagi makai sepatu sendal.” Jawab Ias sambil memakai sepatu sendal jepit crock. Kemudian menyemprotkan parfum tipis tipis. Rambutnya yg agak bergelombang dilepas sepunggung, Yasmin kelihatan feminin dan cantik banget.


Sambil nyamber tas dia turun tangga buru buru, dan sampai di bawah disambut Dewa didepan tangga.


Diruang keluarga atau diruang duduk sudah ada Datin bersama Yudis dan Bimo.


Dewa memandang Yasmin dengan mesra dengan kerinduan yg dalam, dia tersenyum sambil menyapa:


“ Asalamuallaikum Yasmin………..”


Yasmin kaget banget seakan akan jantungnya berhenti berdetak saat melihat Dewa dihadapannya, dia berdiri terpaku, mulutnya bergumam lirih :


“ Mas Dewa? waallaikumsalam.” Memandang dengan sorot mata rindu ke arah Dewa yg berjarak beberapa langkah didepannya dengan kedua telapak tangannya saling memainkan jari-jarinya didepan dadanya, bibirnya bergetar, lututnya gemetar, dia melangkah ragu-ragu mendekat ke Dewa.


Dewa, si gantheng yg atletis dg tinggi 183cm ini, dengan tenang penuh percaya diri serta tanpa canggung langsung meraih tubuh Yasmin dan memeluknya.


Yasmin membalas memeluk Dewa dengan erat karena sangat rindu, diapun terisak didada Dewa yg bidang, menumpahkan kerinduannya tanpa malu lagi.


Tangan kiri Dewa memeluk punggung Yasmin dan tangan kanannya membelai kepala Yasmin yg bersandar didadanya. Dewa terkesima mencium aroma segar dari rambut dan tubuh Yasmin.


“ Ssh…ssh…….sudah yuk nangisnya, senangkan akhirnya kita bisa ketemu? Makanya jangan nangis dong, yuk kita duduk disini.” Dewa menuntun Yasmin yg masih dalam pelukannya.


Mendengar suara gaduh, Bayu dan Zaza yg sedang main game di atas pada turun.


“ Ada apa sih?” tanya Zasa.


“ Haaa……….ayo sini, ini pasukan bodrex datang, mas Dewa kenalin ini adik adik ku. Ini Bayu, dan itu si bontot Azalea atau Zaza.” Kata Bimo


Anak dua itu langsung cium tangan Dewa sambil bilang: “Hai mas Dewa.”


Kemudian Yudis menyingkir ke kursi yg single, Datin duduk di sofa panjang, kemudian yasmin ditengah dan disamping nya Dewa. Bimo mengambil tempat duduk di puf segi 4 dan merangkul memangku Zaza, sedangkan Bayu duduk di tempat kaki sofa panjang dekat Datin.

__ADS_1


Bu Parinah sedang kerumah pak Mardi, sedang bikin pepes ayam.


“ Mau minum apa mas?” tanya Yasmin sambil berdiri mau bikin minum. Tangan nya ditarik Dewa supaya duduk lagi.


Dewa memandang Yasmin karena tangan Yasmin terasa dingin dan gemetaran, dia lalu menanyakan:


“ Kenapa tanganmu dingin sekali Ias?” dan digenggamnya tangan Yasmin. “ Duduk sajalah dulu disini.” Kata Dewa dengan suara teduh.


Datin melihat pemandangan tsb dengan hati terharu. Dewa tidak menggebu namun dia menunjukkan lebih senang ditemani Yasmin dari pada Yasmin sibuk mengurus haus dan laparnya Dewa.


Kemudian Datin bilang: “ Ini sudah jam dua belas lebih, apa gak sebaiknya kita makan makanan masakan Ias tadi ya? Lho itu mbah uti bawa apa itu mbrengkuyung dari rumah lik Mardi.” kata Datin


“ Mas Dewa ini mbah utiku, mbah uti ini mas Dewa putranya bu Tari, guruku.” Kata yasmin.


“ Putranya bu Tari tu siapa? Putra nya bu Tari itu apanya Ias, begitu pasti mbah mbatinnya, yg jelas dong Ias kalau mengenalkan calon itu!” goda papanya.


“ Oh iya, saya neneknya Yasmin. Wah sudah lama tadi rawuhnya? Kebetulan aku bawa pepes ayam banyak ini untuk makan siang nanti.” Kata bu Parinah.


“ Iiich papa……apaan sih, aku jadi serba salah ini!” kata Yasmin mengeluh. Kemudian bahu Yasmin dibelai Dewa untuk menenangkan, dan Dewa pun kemudian bicara:


“ Bapak dan ibu Yudistira, sebelum kita melanjutkan kegiatan yg lain, saya mohon waktunya sebentar. Dan saya melihat saat ini waktunya sangat tepat karena seluruh keluarga berkumpul semua.” Dewa menyampaikan pembukaan dengan mantap dan tenang.


Akhirnya Datin duduk kembali, Yudis geser disamping Bayu anatara Datin dan Bayu, bu parinah menempati kursi yg ditempati Yudis sebelumnya. Yg lain masih diposisi semula.


Kadang-kadang Yasmin ini membawa sepupunya, Keisya main kerumah bu Tarinya untuk baca buku cerita.


Saya, waktu itu ikut momong para beyes ini, karena mereka gemar ngacak-acak perpustakaan saya, hahahaha….…….”papar Dewa sambil nengok ke Yasmin dengan pandangan mesra.


Semuanya pada ketawa, dan juga Yasmin. Kemudian Dewa melanjutkan:


“ Tamu tamu kecil ini sudah saya anggap seperti adik saya sendiri, karena kebetulan saya putra tunggal. Kami boleh dibilang sudah cukup akrab, yg kadang kadang mereka meminta sesuatu tanpa menyebut, namun cukup dengan pandangannya yg terpaku, seperti ke es krim, ke baso…….yg dengan tidak tega terpaksa saya merogoh uang saku saya yg pas pasan untuk membahagiakan mereka, hmm……….”


Yasmin tersipu, dan semua tertawa segar. Kemudian lanjutnya :


“ Tibalah saatnya kami berpisah karena saya harus kuliah ke Yogya, dan juga terakhir ke Achen-Jerman. Kami menjadi sangat jarang bahkan nyaris tidak pernah ketemu lagi dengan para agresor kecil ini.”


Semua pada ketawa lagi, mendengar istilah agresor bagi pengganggu2 kecil ini.


“ Sampai pada suatu saat yg baik, saya dipertemukan kembali dengan Yasmin di akhir th 2019, di kampusnya saat saya kebetulan ada acara disana. Saya kaget melihat tamu kecil saya sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yg cantik dan mempesona, sampai saya meragukan diri saya sendiri, akan anggapan saya sebagai kakaknya Yasmin ini, saya enggak mau lagi punya adik dia!..........” Dewa diam sebentar, Yasmin melirik tajam ke Dewa. Kemudian lanjutnya:


“ ………saya enggak ingin punya adik Yasmin, karena saya mulai jatuh cinta sama Yasmin, karena Yasmin sudah merebut, mengisi, dan menguasai hati saya. Saya tidak ingin membuang waktu lagi, saya langsung menanyakan ke dia, katanya pada waktu itu dia bersedia jadi calon istri saya. Maka pada kesempatan yg berbahagia ini saya memberanikan diri meminta Yasmin kepada kedua orang tuanya. Maka kepada bapak dan ibu Yudistira, saya mohon dengan segala kerendahan hati untuk mengijinkan saya menjadikan Yasmin sebagai pendamping hidup saya. Insya Allah hingga sampai ke Jannah.

__ADS_1


Bersama ini pula kami menyampaikan salam hormat dari kedua orang tua saya, bpk dan ibu Hartono, yg segera akan sowan kemari untuk melamarkan Yasmin secara resmi untuk saya, bilamana sudah ada lampu hijau atas kunjungan kami hari ini.” …........


“ Tidak hanya kepada bpk dan ibu Yudistira, dan mbah uti, tapi saya juga mohon keikhlasan adik adik semua, bukan untuk melepaskan kakak kalian, Yasmin, tapi untuk menambah anggota keluarga baru disini, yaitu saya Dewa Brata.”


Penuturan yg runut diselingi gurauan segar yg tidak mengurangi kesungguhan akan maksud yg disampaikan, menggambarkan bahwa Dewa Brata adalah laki laki dewasa yg bertanggung jawab.


Baik Yudis maupun Datin sepertinya tidak ada keraguan sedikitpun akan kesungguhan Dewa Brata ini. Dan mereka berdua mantap mempunyai calon menantu Dewa Brata ini dan menyerahkan Yasmin ketangannya. Namun demikian yg penting bagaimana yg akan menjalaninya itu sendiri.


Yudis tersekat tenggorokannya, dia menengok ke Datin. Datin sudah tidak bisa membendung air matanya lagi yg mengalir terus, dia memandang Yasmin. Yasmin pucat pasi, badannya gemetar dan telapak tangannya dingin seprti es.


Mbah uti bilang: “ sekarang yg penting bagaimana yg bersangkutan sendiri. Piye nduk Yasmin? Kita semua tut-wuri-handayani.”


Kemudian Yudis juga menanyakan hal yg sama : “ iya benar mbah putri, bagaimana nduk, apakah kamu bersedia? Papa sama ibu kan tinggal mendukung apa kata kamu yg akan menjalani.”


Yasmin terpaku, jantungnya berdetak lebih cepat, dia mengaitkan dan memainkan jari jari kedua tangannya yg dingin dengan gemetar. Dia sangat bahagia dan yakin kalau jawabannya pasti iya, namun mulutnya seperti terkunci kelu.


Datin mengelus punggungnya : “ piye nduk? Diterima lamaran mas Dewa? Kamu yakin bahagia bersamanya?”


Dewa tidak tega melihat Yasmin kebingungan, tapi memang benar harus Yasmin yg jawab yg lain mengamini.


“ Ias, kamu jangan bingung, jangan terpaksa, kamu cukup mengangguk atau menggeleng saja, ya.” Suara Dewa yg berat dan teduh, dengan belaian tangan Dewa dipunggungnya merupakan vitamin yg memberikan kekuatan kepada Yasmin.


Kemudian Yasmin mengangguk mantap, tersenyum lebar sambil airmata bahagianya meluncur tanpa permisi. Tangan Yasmin diraih Dewa dan digenggamnya erat erat untuk menghangatkannya karena dingin sekali. Kemudian diciumnya.


“ Kasi sajalah pah………dari pada aku nanti harus keliling simpang lima lagi!” celetuk Bimo cengengesan.


“ Bimoooooo……..!!!” Yasmin teriak sambil ketawa diantara deraian airmata bahagianya dan melempar bantal ke Bimo.


“ Kasi aja ya Bim?, setuju! hitung hitung impas sama uang baso dan es krim yg sudah ditilep Yasmin!”kata Yudis.


Hari itu semua bahagia. Selain Yasmin, Datin adalah orang yg paling bahagia, karena dia bisa mengemban amanah orang yg dia sayangi, Kamila.


Mbak Mila, hari ini aku bahagia yg tidak bisa aku lukiskan dengan kata-kata. Yasmin putri kita yg cantik ini sudah mendapatkan kebahagiaannya. Kebahagiaan yg dia dambakan sejak kecil, dan dikabulkan Allah SWT.


Lapor Datin ke Kamila dalam hati.


Cerita CANTING sudah TAMAT sampai disini


Terimakasih kepada para pembaca Canting setia yg telah mengkuti sampai selesai. Semoga cerita ini bisa menghibur dikala sedang suntuk terkurung pandemi korona yg menyesakkan ini.


Untuk selanjutnya sedang dalam proses berupa spin off Canting yg menuturkan balada keidupan YY (Yasmin Yudistiro).

__ADS_1


Salam sehat selalu.


__ADS_2