Canting

Canting
Episode 41


__ADS_3

Awal Desember ini CH mengadakan RUPS, karena supaya tentiem dan bonus atau deviden bisa dibagikan sebelum libur akhir tahun.


Dari perhitungan diketahui keuntungan tahun 2006 cukup besar, ini lebih bagus dari tahun sebelumnya, meskipun th 2005 juga meraup keuntungan yg cukup besar juga. Datin akan menerima tentiem dari usaha CH grup yg kedua kali.


Datin mempunyai rencana ingin memulai usaha toko sembako, seperti yg sudah dicita-citakannya sejak kecil dulu. Dia ingin mengajak sepupunya, Citut, yg baru saja lulus sebagai insinyur Pertanian untuk berbisnis. Datin berniat untuk mengentaskan dan mengangkat derajat keluarga besar orangtuanya.


Toko sembako ini usaha recehan, untungnya tipis, tapi Datin ingin menggeber volumenya, karena prinsipnya usaha dibidang pangan ini tidak ada matinya, karena setiap orang butuh makan.


Datin akan menggarap tidak setengah-setengah, butuh modal banyak. Dia akan langsung kerjasama dengan petaninya, dan membentuk semacam petani plasma. Perusahaan yg dibentuk akan memberikan bantuan teknis kepada petani plasmanya ini. Bantuan tsb berupa peralatan, pupuk, penyuluhan. Dalam skema kerja samanya ini petani plasma setuju untuk menjual produksinya kepada perusahaan dengan harga seperti yg ditetapkan oleh pemerintah. Seperti KUD, namun ini usaha swasta.


Bagian teknis ini nanti yg akan dipercayakan ke sepupunya. Kalau dirasa perlu ya mempekerjakan ahlinya.


Dengan penuh semangat Datin akan menjalankan idenya ini karena didukung modalnya yg sudah siap.


Sebelum pertengahan Desember seluruh BOD sudah menandatangani daftar bonus karyawan yg akan dibagikan, datin segera mengesahkan, dan seperti biasa dia manggil pejabat keuangannya untuk segera melaksanakannya.


“ Bu Dewi, segera bagikan ke karyawan, dan transfer segera kerekening direksi dan komisaris, sebelum keringat mereka kering!” perintahnya sambil tersenyum.


“ Siap bu, dengan senang hati.”


Bimo susah mulai libur sekolahnya sejak Senin 18 Desember 2006, dan baru masuk nanti pada tgl 3 Januari 2007, hari Rabu.


Saat Datin mengambil rapor ke sekolahnya, wali kelasnya memebritahukan bahwa Bimo smester depan sudah mulai pelajaran untuk klas 2. Datin kaget, dan menghawatirkan perkembangan kejiwaannya, apakah kebahagiaan masa kanak kanaknya akan terganggu.


“ Ibu, sejauh pengamatan kami dan psycholog kami, Bimo baik baik saja, karena cepat menguasai aptitude. Pelajaran klas 1 kan memang dikuasainya dengan cepat.”jawab wali kelasnya.


Pada hari jum’at pagi tgl 22 Desember jam 07.30. Datin, bu Parinah dan Bimo sudah duduk di boarding lounge terminal F. Pesawat Garuda yg akan membawa mereka ke Yogya akan berangkat jam 08.00, dan saat sekarang sudah terdengar panggilan untuk boarding.


Bimo seneng banget karena akan ketemu teman teman kecilnya di komplek, Gopal dan Wowo adalah sahabat kentalnya. Sekarang Bimo sudah lebih kalm, usianya sudah 6,5 th dan akan loncat ke kelas 2 semester depan.


Bu Parinah sudah berbunga-bunga karena anaknya janji akan membangun rumah kenangan mereka di Manding.


Datin sendiri sudah tidak sabar ingin ketemu pak Mardi, pamannya yg secerdas bapaknya, dukuh desa Manding lulusan STM N Yogya jurusan Mesin, dan sepupunya Citut, yg insinyur Pertanian itu. Datin boleh dibilang agak workaholic. Sangat antusias kalau ada tantangan baru. Dikepalanya sudah berisi segudang rencana.


Dengan khayalan masing-masing yg terbang setinggi ketinggian jelajah dari pesawat yg mengangkut mereka, tidak terasa pesawat sudah mendarat di bandara Adisutjipto jam 09.05.


Dari ruang pengambilan bagasi, terlihat Yanto, sopir CH, sudah nampak diantara kerumunan penjemput.


Tidak berapa lama kemudian mobil inova yg membawa mereka sudah meluncur ke jl Solo menuju Condong Catur.

__ADS_1


Hari masih jam 10.00 padi saat sampai rumah condong Catur, Bimo langsung nggeblas kerumah Gopal sambil bawa koleksi dinosaurus yg belum dirakit. Bimo tidak sarapan lagi karena tadi pagi sempat beli ayam AW di bandara.


Dirumah bu Mardi sama pak Mardi sudah menyiapkan gudeg tahu telor dan ayam suwir, Lilis sudah masak nasi.


“ Piye nduk sehat sehat aja kan?, ini lik mu beli gudeg karena pasti kamu kangen sama makanan manis ini, dah sarapan sik.” Kata pak Mardi.


“ Nggih alhamdulillah sae lik, sehat wilujeng sedaya. Wah……..mak Nyus tenan iki, ayo bu kita sarapan dulu, sesudah itu baru ngluyur ke Manding.”kata Datin sudah gak nahan pingin nyomot tahu gudeg itu.


“ Halah……mbok ya besok apa kapan ke Mandingnya, seperti besok mau kiamat saja. Lagian ndeso yo masih mangkrak gitu apa yg mau dilihat? Apa nggak capek to kamu?” kata bu Mardi.


“ Lho niat utama pulang kampung mau kesitu kok, apalagi ibu suri Parinah Martodikromo itu kalau dengar mau pulang kampung sudah gak bisa tidur semalaman.” Goda Datin.


“ Halah irungmu! Sok dibesar-besarkan kalau ngomong. Lha niatannya kan mau ngumpulke balung pisah (mengumpulkan saudara), ya itu dulu dijalankan.”


“ Lha saudara mas Marto kan yo mung aku to mbakyu (saudara pak Marto kan ya Cuma saya to mbak), sekarang sudah kumpul. Maksud Datin itu saya, Citut dan Datin mau ngumpul ngrembuk usaha beras dan pangan lainnya. Kalau sudah jadi gotro nya (port folionya) baru kita ngrapatkan dengan sedulur Tani semua. tidak hanya disini saja, disini gak tumbuh bagus, tapi dari daerah lain juga.” Kata pak Mardi.


“ Nanti malam baru kita ngrembug sama Citut dan calonnya (pacarnya). Sekarang dia lagi ke kampus balikin pinjaman buku.” Kata pak Mardi.


Mereka sarapan sambil ngobrol. Pak Mardi sementara masih tinggal dirumah yg dikontrakkan Datin dekat rumahnya, pak Mardi sedang mbangun kembali rumahnya yg di Manding. Datin bantu-bantu beli materialnya. Selain itu kayu, gebyok, tiang dll ex rumah bu Parinah yg roboh disuruh makai dulu, karena rumah bu Parinah akan didirikan bangunan baru sama sekali oleh Datin.


Malam harinya rumah Condong Catur rame. Selain bapak dan bu Mardi juga ada Citut dan Dadang pacarnya.


“ Halah……mbak Datin! Bantuan mbak Datin itu sudah meluncur terus setiap saat. Ya biaya skripsi, komputer, kontrakan rumah, uang saku……..wis gak terhitung, kalau masih mau minta itu ya wong rakus kebangetan. Sudah mbak maturnuwun.” Kata Citut.


“ Ya beda lah, ini mauku kok, wis nyebut apa?” kata Datin.


“ Wah…….sak-kerso-ne mbak Datin aja (terserah).”


“ Kalau terserah ntar tak kawinin mau gak? Bagaimana Dang?” canda Datin sambil nanya pacarnya Citut. Pacar Citut hanya senyum senyum saja.


“ Nah itu tanyain aja Tin adikmu!” bu Mardi nimpali.


“ Ini pekerjaan saja masih mau dibikin, mau makan apa nanti. Ibuku kok dipancing mbak, seperti api disiram minyak, mak bel!, jaman sekarang gak seperti jaman dulu yg hidup didesa mengandalkan tanaman rumah sama ikan kali bisa jadi juragan seperti mbak Datin itu. Kalau jaman sekarang itu seperti mimpi cinderela!” kata Citut emosi kalau sudah dipepet ibunya. Pacarnya Citut itu anak Sunda Tasikmalaya, tampangnya cakep-cakep Sunda yg lembut, simpatik dan pendiam. Sedangkan Citut itu profil mukanya cantik mirip Datin tapi matanya agak sipit, makanya dipanggil Citut alias sipit.


” Dah, sekarang begini saja kita mulai rencana kedepannya ya, nanti yg akan coba daftar ke PNS itu kang Dadang, terus aku yg akan nangani plasma kita, ya prakteknya pasti kang Dadang ikut terjun juga sih. Dia bantu bantu gitu mbak. Seperti penyuluhan, info teknologi terakhir itu dia lakukan. Jadi saya sebagai perempuan bisa luwes mengatur waktu, begitu kan mbak?” kata Citut.


Mereka ngobrolin tentang pendekatannya ke petani; jenis pangan yg akan disiapkan atau di stok; target market, sebatas mana keterlibatan pejabat wilayah, perlu tenaga ahli apa; perijinannya bagaimana, dlsb. Mereka tentu tidak bisa ngrembug sekali jadi. Semua motornya nanti pak Mardi sama Dadang dan Citut. Terserah mereka mau melibatkan siapa kalau mentok.


Sambil rapat keluarga Datin nyuruh Yanto mesan bakmi goreng dan capcay goreng jombor serta sate klathak disamping yg jual bakmi. Mereka ngobrol sampai malam sambil makan makan, dan kelihatan bahagia sekali kembali ke basic jadi wong ndeso, meninggalkan kesibukan dan kegaduhan ibu kota.

__ADS_1


“ Kalau begini ini inget bapakmu Tin, beliau gak kebagian mukti, gak kebagian suksesmu, gak menangi cucunya yg pinter…….semua dari bibit nya bapakmu yg unggul itu. Buktinya Citut juga sukses jadi insinyur, pinter, lha anaknya dik Mardi, keponakan bapakmu, cucunya mbah Djayeng!” Kata bu Parinah sambil air matanya meleleh terus mengenang suaminya.


“ Wis mbakyu, mas Marto sudah bahagia melihat Datin dan Bimo, dan kita yg lagi ngriung disini ini. Beliau pasti bahagia disana melihat kita.” Hibur pak Mardi.


“ Ibu…….. Bimo gak usah bobok dulu ya, nanti bareng mbah uti saja, Bimo lagi sibuk ngrakit Gundham nih.” Kata Bimo, yg biasanya jam 21.00 sudah bobok. Padahal ini sudah jam 22.00 lebih. Dia seneng banget karena gak biasaya banyak saudara seperti sekarang ini. Yg mendengar pada ketawa waktu Bimo bilang masih sibuk.


“ Iya boleh, sak-karep-mu! Bimo kan libur panjang.” jawab Datin.


Mereka baru bubar setelah jam 00.00 dini hari.


Pagi harinya sesudah sholat subuh, Datin mau ambil Hp nya yg semalam dia charge. Datin kaget ternyata banyak telpon masuk yg gak ketahuan karena dia charge dikamar, sementara Datin asyiek ngobrol bercanda sama keluarganya diruang tengah. Telpon dari Susan, tapi Susan langsung ninggalin SMS, selain itu ada dari Yudis, dan juga Buntas. Siangan sedikit dia mau telpon balik.


Susan langsung mengabarkan sudah terima surat puas dari Sekolah Perhotelan di Swiss tentang bangku yg mereka pesan, dan segera repeat order.


Buntas telpon sebanyak 3x, dia meninggalkan pesan singkat. “ Tin lagi diman?, posisiku di Jakarta, aku rencana mau ke Yogya nengok bude di Sagan. Tolong info di jkt atau Yogya?”


Datin balas sms Buntas :” Posisi lagi di Yogya sampai awal januari. Aku dirumah Condong Catur.”


Yudis menelpon 3x juga, tapi tidak meninggalkan pesan. Datin takut kalau Yudis mau minta tolong bantuin acara tahun baruan di Semarang. Dia lagi mumet bikin alasan yg halus, tidak bikin orang kecewa tapi bisa menerima.


Sebelum menelpon balik Yudis, Datin SMS menjelaskan kesibukannya di Yogya, supaya orang sungkan minta tolong: “ ***, maaf mas, semalam rapat keluarga bapak nih, ngrembug kegiatan mengawali pemugaran rumah Manding ini, pupung libur akhir tahun, telp kemarin di tas, gak dengar kalau ada telpon masuk. Ada berita apa ya mas?”


Tidak berapa lama setelah Datin sms Yudis, Yudis langsung telpon ke Datin. Datin kaget mendengar telponnya bunyi, kok cepet banget responnya, seolah-olah kegiatan Yudis ini hanya menthelengin telpon masuk dari Datin saja.


“ Selamat pagi Canting Srikandi Manding, wah dugaanku bener, pasti sedang sibuk ini di Yogya. Istirahatnya seorang Canting ini bukannya seat back and relax namun dengan mengerjakan pekerjaan lain. Luar biasa!” puji Yudis kagum.


“ Hahahahaha………..bisa aja mas Yudis ini, katakanlah ini me time ku, lha kalau seorang Yudistira tidak pernah istirahat sama sekali, kalau ada waktu malah momong temannya, sekali-kali bilang enggak dong mas sama konco konco itu.”serang Datin.


“ Hmmm……….tadinya aku mau nitipin Yasmin ke Yogya, biar main sama Bimo sekaligus nemani neneknya, bu Dibyo. Nanti menjelang tahun baru aku jemput sekalian ziarah ke makam mamanya, tapi kalau kamu lagi repot ya sudah jangan. Nanti kalau Yasmin mau, biar ikut tantenya saja ke Bali, karena Carla kemarin juga nawarin.” Kata Yudis.


Ah jadi ternyata tidak jadi ada acara tahun baruan konyol di Candi. Bagus. Pikir Datin


“ AH bagus, gapapa mas, Bimo pasti seneng ini ada kakaknya, nanti pasti dipaksa main ngrakit gundham, ngrakit dino…….. sudah bawa sini saja Yasmin, apa biar dijemput Yanto? By the way….mas Yudis sendiri mau kemana kok sampai Yasmin sendiri?”


“ Aku nggak kemana-mana, karena menjelang akhir tahun ini permitaan lobster dan ikan lainnya meningkat. Jepang itu yg utama. Aku sekedar memastikan kecukupannya saja. Akhir akhir ni ada permintaan ikan Capelin, tahu gak kamu, atau sishamo, yg ternyata ada pemasoknya dari Surabaya.” Kata Yudis.


“ Ah……. berkutat kerjaan juga rupanya? Seperti apa ya ikannya, enak apa?”


“ Ikannya kecil kecil segede wader lebih gede sedikit, tapi yg dimakan khusus betinanya yg banyak telornya. Itu unik, karena butuh orang pengalaman untuk memilahnya, orangku ada yg ahli. Katanya yg keras itu betina, karena penuh telor.” Papar Yudis, “………….oh ya sama mau ke Jepara nengok bapak, ibu. Katanya om Bas bakal dapat repeat order lagi untuk bangku sekolah hotel di Swiss itu ya Tin, kalau bener ya alhamdulillah.”

__ADS_1


“ Ah iya. Aku juga baru dapat info dari bu Susan.” Jawab Datin


__ADS_2