Canting

Canting
Episode 47


__ADS_3

Minggu 31 Desember 2006, sekitar jam 3 sore Datin dapat telpon dari Citut laporan acara nanti malam:


“ Mbak lokasi sudah dipasang tenda dan sudah digelar karpet, untung persewaannya memprioritaskan kita. Sekitar 30 kursi lipat juga sudah datang bagi yg tidak kebagian duduk dikarpet. Semua masuk tenda kok, karena ini juga gerimis terus.


Nanti acara bakda Isya’ tepat jam 8 malam.


Catering akan antar makanan sebelum magrib, 150 box snack; 150 box nasi langgi empal dan aqua botol 10 doos sekitar 240 botol.


Dari dinas pertanian hadir pak Kusno; dari wakil dari kecamatan dan juga dari kelurahan; juga bapak sendiri yg among tamu. Dosenku mau hadir sendiri, Ir Bintang, beliau antusias. Lha kelompok tani yg kita kumpulkan ada lebih kurang 70 an, dan masing masing kan punya kelompok, semoga bisa mekar. Ada yg dari Delanggu dan Pakem lho mbak. Semuanya itu saling terkait, atau gethok tular saudara-saudara dari Bantul yg mengajak saudara tani mereka diluar Bantul.


Ojo telat yo mbak. Nanti sholat isya’ dirumah Manding aja.”


“ Trimakasih yo Tut, kamu memang seorang Djajeng Manding tenan. Honor untuk para wakil kecamatan dan kelurahan sudah belum?” tanya Datin mengingatkan. Djayeng adalah kakek mereka.


“ Sudah disiapkan bapak mbak, sama aku tambah unrtuk yg dari Dinas ya mbak.”


Sesudah itu Yudis juga menelpon : “ Tin, Sopir harus hadir jam berapa? Anak anak langsung tak drop di Concat saja baru kita ke Manding ya.”


“ Hahaha……mas Yudis ki lho, dengkulku tak jual aja belum bisa untuk nggaji sopir keren ini. Benar ini mas Yudis mau ikut ke Manding. Aku seneng lho nanti!” kata Datin yg membuat Yudis jadi berbunga-bunga, serta mengharap sopir istimewa ini dibayar dengan hati majikannya.


Tapi Yanto dengan mobilnya tetap standby ikut ke Manding maupun ke Concat, bilamana sewaktu-waktu diperlukan untuk mondar mandir.


Anak anak akhirnya dititipkan ke Mayang sama Rini yg mewakili Datin untuk menyiapkan acara dirumah.


Prayudi ikut Datin di mobil Yudis ke Manding. Karena nanti segala kontrak dan pendampingan lainnya akan diserahkan ke Prayudi & assosiate. Tadinya bu Parinah juga pingin ikut ke Manding, tapi mengingat rumah Concat ketempatan untuk acara kumpul keluarga, dan juga dititipi cucu-cucunya serta ada bu Dibyo disitu, maka beliau mengurungkan niatnya.


Sekitar jam 6 sore saat dalam perjalanan ke Manding, Buntas telpon :” Tin aku nanti nyusul langsung ke Manding saja ya, ini nanggung. Bakda Isya’ saja nanti saya.” Katanya.


Mereka bertiga dengan Prayudi ngobrol sepanjang jalan tentang prospek kedepannya usaha ini. Prayudi sangat support iparnya yg cerdas ini. Dia tidak heran dengan kiprah iparnya ini. Dari awal Yudi ketemu Datin saat masih suka ngantar batikan ke Tembi, Yudi sudah memuji kecekatan gadis ini, sering Yudi ketemu dan ngobrol. Prayudi simpati sama gadis kecil yg pekerja keras dan cerdas ini, dan Rini istri Yudi pun juga sayang sama Datin. Mereka berdualah yg mensupport hubungan Prastowo dg Datin.

__ADS_1


“ Tin kamu itu memang pantas kalau disebut sebagai Srikandi Manding. Pejuang tanpa kenal lelah. Segala sektor kamu ambah, kamu garap. Gak ngerti aku energimu itu datang dari mana?” Puji Yudis.


“ Gitu ya mas??” Mungkin kalau saya telusuri perjalanan yg sudah aku tempuh, dan kemudian itu aku balik dari nol dan menjadi suatu rencana kedepan……mungkin aku juga gamang! Singunen kalau orang Jawa bilang. Saya hanya menjalankan kesempatan yg ada didepan mata, kerjakan dengan serius dan ikhlas. Begitu saja.” Papar Datin.


“ Mbak Mila almh dan pak Wibi yg membukakan jalan bisnis awalku yg akhirnya menggelinding seperti sekarang. Pendapatan dari bisnis itu yg aku jadikan modal untuk usahaku yg kedua kali ini. Bisnis awalku melayani dan ngeruk duit orang high-end si Kaya, bisnis ku yg kedua ini adalah bisnis dari kita untuk kita dan menyangkut hajat hidup orang banyak. Aku yakin yg kedua ini sustainable, karena semua lapisan butuh komoditi ini, pangan.” Kata Datin


“ Usaha yg kedua ini margin tipis, tapi kepuasannya beda! Aku gak bisa cerita tapi bisa merasakan. Ya kalau mau dan punya nafas panjang, untuk kompensasinya ya harus genjot di volume.” Kata Datin……” ini bisnis kepuasan bathin.”


Yudis teringat saat tahun lalu Datin pernah mengutarakan niatnya ini, yg menjadi kan Yudis salut adalah tidak butuh waktu lama langsung Datin mulai melangkah. Perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah, dan Datin tidak pernah menunda.


Yudis berniat membantu dan mempermudah langkah Datin, seperti yg dilakukan almarhumah istrinya yg dia cintai kepada Datin. Dia mengemban amanah istrinya.


Rapat dengan para petani dan pejabat terkait belangsung dengan lancar dan kekerabatan. Contoh petani plasma yg sudah berhasil yaitu perkebunan sawit di sumatra, dipaparkan disini oleh pakar dari UGM, Ir Bintang, dosennya Citut.


Perkebunan Kelapa Sawit itu sampai melibatkan tiga ribu petani, dimana kerja sama antara petani plasma dengan perusahaan induk semangnya bisa saling menguntungkan. Disini nanti diharapkan juga akan berkembang dengan baik. Perusahaan akan melebarkan sampai Jawa barat dengan unggulannya beras Cianjur.


Buntas datang ditengah acara, yg sebelumnya dia tidak paham bahwa ini syukuran apa, begitu mengikuti acaranya dia mulai mengerti.


Keluarga berkecukupan seperti Buntas tidak tertarik untuk bisnis rumit dengan margin kecil dan kadang malah buntung, rugi.


Bagi si cerdas Sri Rudatin termotivasi untuk mengentaskan keluarga besarnya yg selalu kepepet terpaksa menjual hasil taninya kepada kelompok kuat dg harga rendah. Tidak ada pilihan.


Perusahaan Rudatin berperan memberi penyuluhan gratis, dan memfasilitasi pupuk dan peralatan yg akan diperhitungkan dibelakang dengan cara pembayaran yg meringankan petani dan kemudian membeli hasil dengan harga yg ditetapkan pemerintah. Sehingga terjadi hubungan kerja sama yg saling menguntungkan.


Prayudi selalu membantu urusan legal formalnya tiap Datin berkiprah.


Sebelum jam 10 malam acara sudah selesai dan merekapun bubar pulang. Datin kenal sebagian besar dari mereka. Datin terlibat obrolan ringan dengan Ir Bintang dari UGM dan juga pak Kusno dari Dinas Pertanian, dia akan mendukung penuh usaha ini.


Yudis berbasa basi dengan Buntas. Buntas dan yg lain sengaja tidak memakan box nasi langgi yg sebenarnya enak banget, sensasi gurih manis dari empal dan ceriping kentang. Kalau tidak akan melahap seafood pasti sudah dihabiskan Datin. Namun Yudis makan jatahnya sampai habis sambil ngobrol dengan Buntas, karena Yudis tahu menu yg akan disajikan di rumah Datin ini adalah yg dia sudah bosan.

__ADS_1


“ Tin ini box siapa ya? Aku makan sekalian ya? Lapar banget nih.”


“ Punyaku mas, makan saja.”


Sesampai di Concat mereka langsung mulai menyantap hidangan yg sudah tersaji dimeja, dan disambung antri nunggu sate jerbung dan cumi di teras samping.


“ Tin ini aku bawakan sketsa ide awal nya ntar dilihat ya sesudah makan.” Kata Buntas.


“ Ah cepat sekali????”


“ Bukan……..ini sketsa masa nya saja. Program ruangnya kan aku belum konsultasi ke kamu, 4 pohon legendaris terselamatkan ini.” Kata Buntas sambil tersenyum.


“ Ah… hati hati pohon sawo jangan sampai kena! Bisa kesambet nanti!” canda Yudis.


“ Lho pak Yudis tahu juga riwayatnya?” tanya Buntas


Semua ketawa tapi Prayudi bingung. “ Memang ada apanya pohon sawo?” tanya Yudi.


Prayudi baru ikut ketawa sesudah Yudis menjelaskan.


Mereka mengobrol diteras depan. Bu Parinah, bu Dibyo dan pak Danu sudah makan duluan. Mereka terbawa suasana sehingga menghabiskan porsi steam kerapu lumayan banyak.


Pak Danu bilang: “ aku kalau cuma makan udang sedikit kan boleh.”


Kemudian Datin mengambilkan udang kipas black pepper sambil bilang :” Pak nanti sesudah habis ini minum cynical ya, dan 2 jam sesudah makan ngunjuk crestor, sudah disiapkan disamping tempat tidur bapak


“ Yoh, tapi aku jangan dilarang makan ini ya!”


Anak anak sudah disuapin lilis sama Yanti, karena supnya banyak durinya. Sekarang mereka lagi berkutat dengan sate jerbung dan cumi yg dicelup di saus tempura.

__ADS_1


“ Lis, Yanti…..kamu jangan Cuma nyuapi terus, kamu sendiri juga makan. Siapa itu yg mau menghabiskan.”


__ADS_2