
Bel sekolah baru saja berdenting, dan tidak lama kemudian terdengar riuh rendah anak anak SMP N I Bantul berhamburan keluar dari kelas. Jam menunjukkan pukul 13.30 tepat, saatnya pulang sekolah.
Sri Rudatin, biasa dipanggil Datin, siswi klas 2 sekolah tersebut bergegas mengambil sepeda dan buru buru pulang. Sebelumnya dia pamit sama temannya Surtini:
“Surtini, tolong bilangin ke teman-teman ya, aku gak bisa ikut kelompok belajar dulu. Ada tugas mulia dari ibuku hehehe………aku harus ngantar batikan ke juragan Danu, harusnya sudah kemarin tak antar tapi kemarin kan hujan.”
Datin adalah anak berprestasi di sekolahnya. Jadi sering diminta ngajarin teman temannya, biasanya saat mengerjakan pekerjaan rumah matematik. Mereka biasa mengerjakan disekolah sekitar 1 sampai 1,5 jam sesudah pulang sekolah.
“ Tin kenapa gak sore aja ngantarnya ?” tanya Surtini. “ Aku takut kalau keburu hujan seperti kemarin sore. Ini juga sekalian sambil ngambil yg baru. Wis ah yo aku harus antar sambil balapan sama hujan.” Kata Datin.
Rudatin sejak klas 6 SD biasa ngantar batikan garapan ibunya ke juragan yg mempekerjakannya 3 atau 4 hari sekali. Biasanya dia ngantar sore hari, tapi karena memang sedang musim penghujan sehingga hampir setiap hari di bulan November ini kalau sore sering hujan, maka untuk sementara waktu dia mengantar nya kalau pas pulang sekolah.
Rudatin tinggal di desa Manding Bantul, tidak jauh dari tempat dia sekolah di SMP N I Bantul tsb. Tapi tempat juragan Danu di desa Tembi, agak jauh dari rumahnya, karena Datin naik sepeda, sehingga dia harus buru buru berangkat supaya sebelum hujan turun sudah kembali kerumah.
Datin adalah anak tunggal dari pasangan bapak Martodikromo dengan ibu Parinah. Kehidupan keluarga Martodikromo ini sangat sederhana dan bisa dibilang serba pas pasan. Pak Marto, panggilan ayah Datin, adalah penjaga sekolah SD di Manding dg sambilannya sebagai penjahit tas dan dompet kulit. Sedangkan bu Parinah adalah buruh batik tulis.
Orang tuanya sudah tidak berniat punya anak lagi sejak adiknya Datin meninggal diusia balita karena demam berdarah, mengingat kehidupan mereka yg tidak mudah.
Pak Marto dan bu Parinah ini meskipun merupakan wong cilik namun mempunyai pemikiran cukup maju untuk ukuran orang desa. Dia bekerja keras demi bisa menyekolahkan anaknya setinggi mereka mampu. Karena melalui pendidikan yg memadai maka kehidupan yg lebih baik akan bisa di peroleh. Selain itu kebetulan Datin itu mempunyai otak yg cemerlang, baginya sekolah itu mudah. Klas 5 dan 6 SD Datin dulu mendapatkan beasiswa karena prestasinya. Orang tuanya berfikir bahwa jangan sampai seperti mereka yg SMP saja cuma tahun pertama, bahkan bu Parinah hanya sampai kelas 4 SD saja. Pak Marto sebenarnya orangnya cukup ulet dan cerdas, hanya karena nasib saja dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya.
Rudatin sendiri bertumbuh menjadi anak yg cerdas, yg tingkat kecerdasannya melebihi rata rata anak sebayanya. Kecerdasannya dia dapatkan dari ayahnya.
“ Nduk klo ngantuk mbok ya mapan ditempatnya sana, kok malah liyer-liyer klekaran didepan pintu. Itu kakimu nanti mancal kompor, ketumpahan lilin panas blaen tenan!.” Ibunya mbilangin Datin kecil yg sedang nungguin ibunya mbatik, sambil tiduran ditikar disamping ibunya.
“Aku gak bisa tidur kalau dikamar, aku seneng disini saja dekat ibu, kakiku jauh dari kompor kok.” Datin kecil ngeyel.
Bunyi tiupan canting (alat untuk melukis batik) yg berisi lilin panas setiap mau dipakai melukis terdengar sangat merdu dan teduh, sehingga Datin kecil tertidur damai mendengar irama bunyi semprat-semprit yg berulang secara teratur tsb.
__ADS_1
“ Bu mbok sambil ndongeng to, biar aku gak tidur!” pinta Datin ke ibunya.
“ Halah, mbelgedes! Tambah ngleker malah nanti kamu, ibu ndremimil kamu ngorok.” Ibunya kalau cerita pasti diselingi dialog yg pakai kidung atau nyanyian, sehingga Datin terpaku semakin liyer liyer ngantuk. Kelak kenangan inilah yg selalu mengingatkan Datin akan kedamaian masa kecilnya ditengah kesederhanaan keluarganya.
Minggu pagi hari itu bapaknya mau berangkat mancing di anak atau cabang kecil kali Opak: “ Nduk ayo…..mau ikut bapak mancing gak?” ajak bapaknya. Datin yg baru kriyip kriyip bangun terus bergegas bangkit, bawa ganti baju dan handuk ditaruk tas bambu kemudian lari ngikuti bapaknya.
Sesampai di sungai sudah banyak anak anak teman Datin yg pada mandi di sungai yg juga pada ikut orang tua mereka. : “ Tiiiin, Datiiin sini….ayo kita adu nyelam. Kuat gak kamu??” tantang teman-temannya.
Sementara bapaknya mancing , Datin berenang agak jauh disekitarnya. “ Hei nduk….jangan jauh jauh, bapak disini ya! Kamu ngati-ati.” Bapaknya mapan di tempat yg airnya tenang jauh dari bocah main.
“ Nggih pak…. Saya disini. Hei cah! Fatur mana, katanya kemarin nantangin aku?” Datin nanya penantang selamnya, Fatur laki laki teman sekelasnya. “Lha….itu dia!” jawab temannya sambil nunjuk anak yg baru muncul dari nyelam.
Datin kecil menjadi jago sekali berenang. Kalau sudah masuk ke sungai, sudah layaknya seperti kecebong yg timbul-tenggelam meluncur dengan cepat.
Jelang matahari sudah tinggi, bapaknya sudah dapat beberapa ikan gabus, dia ngajak Datin pulang.
“Tiiiin….. ayo nduk pulang, sudah hampir bedug!, kamu kalau gak diteriakin pulang gak ingat mentas! Tuh tangan sudah pada keriput juga masih ngotot ciblon. Pulang terus masak ikan acar kuning yo nduk untuk makan siang, biar pinter kamu.” Kemudian bapak dan anak ini jalan beriringan pulang dengan wajah gembira.
Datinpun dengan senang hati lari-lari kecil pergi ke warung bu Mangku: “ Nduk cah ayu, ini gulanya ya.” kata bu Mangku sambil menyodorkan bungkusan gula seperempat kilo.
Datin termangu melihat warung yg menjual aneka kebutuhan, ini pasti orang kaya, karena apa saja dia punya. Tidak seperti orang tuanya yg harus beli dulu kalau ingin sesuatu. Dalam hati Datin ingin besok kalau sudah besar dan jadi orang pintar dia pingin punya warung untuk orang tuanya. Biar orang tuanya jadi orang kaya juga. Itu pikiran saat dia bocah, dan terpatri kuat di hatinya untuk mewujudkan cita citanya.
“ Ada lagi yg mau dibeli?” tanya bu Mangku, karena dia melihat Datin masih termangu didepan warung.
Datin tersadar, dia tersenyum sambil lari pulang : ” mboten mbah, sampun niki mawon (enggak mbah, sudah ini saja).”
Sumber protein utama keluarga ini ya hanya dari ikan sungai yg diambil secara gratis atau belut sawah.
__ADS_1
Itu tadi sekilas kenangan saat Datin masih kecil, saat dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Mulai kelas 4 SD Datin sepulang sekolah sudah bantu bantu ibunya menyiapkan kompor dan wajan untuk tempat lilin perlengkapan mbatik, sementara ibunya menyiapkan makan untuk keluarganya.
Rudatin meneruskan ke SMP N I Bantul. Dia tumbuh menjadi gadis yg cantik dengan kulit sawo mentah, bukan sawo matang yg kecoklatan, lebih seperti kulit duku yg kecoklatan tapi cerah. Dia merupakan bibit kembang desa, meskipun masih kecil sudah menampakkan kecantikannya. Didikan ibunya yg sederhana ini selalu mengajarkan sopan santun dan kepatuhan yg kadang kadang terlalu merendah. Karena terbiasa menerapkan posisinya bu Parinah yg sebagai buruh.
Sepulang dari sekolah Datin terus menemui ibunya : “ Pundi bu, kain batikan yg mau disetor ke juragan Danu, saya mau antar sekarang aja, nanti keburu hujan.”
“ Kamu gak makan dulu Tin?” tanya ibunya sambil menyodorkan catatan jumlah batikan yg sdh diselesaikan sebulan ini.
“ Nduk, nanti catatan ini diaturkan (disampaikan) ke bu Danu, untuk ngambil upahnya.” Pesan bu Parinah.
“ Nggih bu.” Jawab Datin sambil naik sepedanya berangkat.
Sesampai dirumah juragan batik Danu Sutaryo, Datin turun dari sepedanya, saat masuk halaman yg luas itu dia tuntun sepedanya, dia tidak berani naikin sepedanya dipekarangan orang, nanti dianggap tidak tahu sopan santun.
KRT Danu Sutaryo, adalah pejabat di Pemerintah Kota Yogya, istri beliau mengelola produksi dan penjualan batik tulis maupun cap. Mulai dari proses mewarna sampai selesai. Rumahnya dipinggir jalan raya desa Tembi sangat luas, dengan luas tanah sekitar 1500m2. Bagian belakang dipakai untuk workshop proses pembuatan batik. Rumahnya berbentuk Joglo besar. Bagian depan, aslinya semula berupa pendopo. Namun pendoponya ditutup kaca untuk show room atau display room untuk penjualan batiknya. Sesudah selasar penghubung dg rumah induknya, atau lazim disebut pringgitan, ada emperean atau teritisan rumah induk yg dipakai sebagai ruang duduk tamu. Kemudian Rumah induk yg terdiri dari ruang duduk besar pada bagian depannya, dan ada kamar kamarnya dibagian belakang dalam rumah induk tsb. Kemudian pada kiri dan kanan dibelakang rumah induk ada gandok untuk kamar tidur tamu dan anggota keluarga lain serta pegawai. Baru bagian paling belakang untuk workshop nya.
Halaman depannya sangat luas, sebelum pendopo kira kira jaraknya dari pagar depan sekitar 20m. Datin menaruk sepedanya dihalaman depan pendopo dan masuk menemui yg jaga di showroom tsb. Datin disambut perempuan manis sekitar umur 24 tahun, dia Proborini menantu sang juragan, istri dari Prayudi putra sulung juragan, dari almarhumah istri pertama.
“ Oh, kamu Tin, sebentar ya aku panggil ibu dulu, kamu duduk dulu sini Tin.” Kata Rini, panggilan Proborini, dengan ramah.
“ Nggih mbak, maturnuwun. (ya mbak, terimakasih).” Sahut Datin sambil duduk di bangku pendek atau dipan pendek untuk nggelar kain batik.
Tidak berapa lama bu Danu keluar diiringi Rini. Sambil meriksa catatan dan memberikan uang dalam amplop sebagai upah batik yg sudah disetor.
“ Nduk cah ayu, nanti bilang ibumu kalau sekarang aku bawain 3, kalau bisa selesai seminggu, nanti ambil lagi karena ini batik truntum untuk seragam keluarga pesanan orang mau mantu 3 bulan lagi. Dari pada tak sebar ke pengrajin lainnya.” Kata bu Danu.
“ Inggih bu, nanti saya sampaikan ke ibu, matur sembah nuwun bu (terimakasih, dalam bahasa jawa utama), sekalian pamit.”
__ADS_1
“ Ya, hati hati ya nduk, ini sudah mau turun hujan.”
Pas sampai dirumah hujan turun sangat lebat, yg semula memang sudah agak gerimis. Ibunya langsung nyambut sambil bikinin teh panas dan menyuruh Datin makan siang meskipun sebenarnya sudah jam 4 sore. Keputusan Datin benar, kalau tadi dia makan siang dulu pasti dia akan kehujanan.