
Merasa sudah tidak bisa menembus benteng Yudis, dan ingat pesan bu Parinah maka dengan berat hati Datin menyampaikan ke Yudis :
“ Mas Yudis, Yasmin adalah anak yg cerdas dan periang sebelumya. Dia adalah putrimu dan mbak Mila, orang-orang yg hebat. Tidak ada keturunan sifat pembrontak, keras kepala dan pemurung seperti yg mas Yudis tuduhkan kepadanya, kecuali ada hal-hal yg membuatnya bingung dan terkejut diluar akalnya.
Selama ini mas Yudis telah mempercayakan tidak hanya bimbingan pelajaran kepada bu Tari, tapi juga pendidikannya bahkan kasih sayangnya.
Sekarang giliran mas Yudis, sebagai bapaknya mengambil alih semuanya, sayangilah dan pahamilah keinginan Yasmin yg sebenarnya tidak sulit. Tapi butuh keikhlasan seorang ayah untuk mendengarkan dan melepaskan egonya.
Saya tetap akan membantu semampu saya, untuk mengemban amanah mbak Mila. Dan juga saya akan berdoa untuk kalian, semoga rencana mas Yudis berjalan lancar, dan Yasmin saya harap bisa tumbuh menjadi putri yg manis untuk mas Yudis dan istri mas Yudis kelak, hanya dengan cara mendengarkan dan memahami maunya. Bukan dengan jalan memaksakan.”
Datin bicara terbata-bata karena sambil menahan isaknya. Dia membayangkan seolah olah menyaksikan Yasmin yg cantik dan tak berdaya sedikit demi sedikit ditelan monster, mulai dari kaki, badan dan kemudian masih kelihatan kepalanya yg menampakkan wajahnya yg memelas memohon pertolongan. Tanpa sadar Datin menutup mukanya dan memohon ampun kepada Kamila:
“ Mbak Mila…..maafkan, ampunilah aku karena tidak bisa mengemban amanahmu untuk menolong Yasmin, ampunilah……” Datin pun terisak.
“ Tin!.....kenapa kamu bawa-bawa nama Mila, lagian kenapa Yasmin harus ditolong, memang aku mau mencelakakan anakku sendiri, yg bener sajalah Tin?!!” Yudis marah karena tersinggung.
Datin sangat terkejut, ngeri, tersinggung, belum pernah dia melihat Yudis murka seperti ini, apalagi ditujukan kepadanya, pantas Yasmin marah, Datin juga ingin nonjok mukanya yg tegang dan matanya yg melotot itu.
Datin bangkit dari sofa ruang kerja Yudis dan buru-buru mau keluar, namun Yudis mengejarnya, tangannya ditarik dan Datin tersentak tarikan Yudis sehingga jatuh dalam pelukan Yudis. Yudis memeluknya, menciuminya dengan kasar seluruh wajah, leher dan bibir Datin sehingga Datin gak bisa bernafas, badannya tidak bisa berkutik karena terkunci dekapan Yudis yg atletis. Hanya pergelangan tangannya yg bebas sehingga bisa mencengkeram pinggang Yudis dengan keras.
Kaki Datin lemas, karena lututnya gemetaran tidak kuat menumpu badannya, maka keduanya jatuh di sofa. Saat terjatuh dekapan Yudis agak melonggar karena tangan satu menahan kesofa dan yg satunya menumpu Datin agar tidak terhempas, sehingga Datin bisa melepaskan diri darinya.
Datin menjauh tapi tidak berusaha lari lagi namun tangannya menunjuk muka Yudis, sekaligus sebagai jarak agar Yudis tidak mendekat lagi sebatas panjang lengan Datin, sambil bilang:
“ Mas Yudis, tidak hanya telah menyakiti hatiku, namun juga menyakiti ragaku! Rupanya seperti ini calon suami yg dipersiapkan mbak Mila untukku, kasar, brutal. Yg selama ini aku mempersiapkan diri dan menunggu waktunya tiba dengan setia, ternyata sebagai balasannya aku telah diperlakukan seperti perempuan recehan.”
Kata-kata Datin tegas diantara deraian air matanya, dengan sorot mata yg tajam karena luka dan kecewa.
Yudis sadar atas kekasarannya, dia mendekat memeluk kedua kaki Datin sambil menjatuhkan kepalanya kepangkuan Datin. Sangat menyesal.
“ Maafkan aku Tin, apakah aku sudah salah dengar tentang yg baru saja kamu ucapkan kalau kamu masih menungguku dengan setia sampai saat ini?. Ampunilah aku, pukulah aku balaslah aku yg bisa membalaskan sakit hatimu.” Rintih Yudis memohon ke Datin.
“ Dengan posisi seperti ini, aku bisa saja melakukan apapun untuk menyakitimu mas! Namun itu bukan caraku! Aku memang orang ndeso, kampung, tapi caraku tidak kampungan.” Kata Datin sambil membangunkan Yudis dari pangkuannya dengan mengangkat bahu Yudis.
Yudis duduk disamping Datin sambil menggenggam telapak tangan kanan Datin dan diciuminya.
“ Tin, aku ingin meluruskan semuanya, semua kesalah pahaman ini.” Kata Yudis memelas.
“ Yg salah paham mananya? Bukannya semua sudah clear. Mas Yudis tetap akan membawa Yasmin ke Darwin? Maka aku tidak bisa menyaksikan ini, aku harus pergi, aku tidak tega untuk menyaksikan wajah Yasmin yg tak berdaya. Seandainya Bimo menyaksikan ini pun saya yakin dia akan berobah membenci idolanya, papa Ias nya itu! Yasminpun demikian halnya, dia mengalami sendiri pelecehan hak asazi anak oleh papanya, hatinya akan luka seumur hidup!”
Yudis memandangi Datin yg sedang mengumpat dirinya dengan kedua tangannya menutup telinganya. Dia memohon dengan memelas:
“ Tin, mohon hentikan semuanya, aku akan merobah keputusan saya, aku janji! Aku akan mengevaluasi semuanya. Aku akan mencoba berfikir lebih jernih, aku perlu bantuanmu.”
“ Ternyata mulutku lebih tajam dari hajaranmu yg menyakitiku tadi ya mas?” kata Datin tanpa ekspresi.
Yudis melirik dengan malu: “Maafkan aku.” Katanya lirih.
__ADS_1
“ Mas sekarang aku mau keluar dulu, mau nengok Yasmin, dan sekalian pamit.” Datin menengok jam sudah setengah tiga siang.
“ Tin…please, janganlah pulang dulu, ini belum selesai, bukannya kamu tadi memang mau bermalam disini kan? Bantulah aku Tin untuk menata kembali yg sudah berantakan ini.” Yudis memohon.
Kemudian Datin membetulkan rambutnya yg berantakan, serta blousenya yg kusut, mengusap wajahnya dengan tisue. Dia tidak bisa memakai bedak dan memakai lipstik karena hand tasnya ada di kamar Yasmin.
Yudis menggandeng tangan Datin keluar dari ruang kerjanya, disaksikan mata Carla dan Seno dengan heran. Datin melangkah dengan lemas, dia duduk diruang keluarga disofa panjang dekat Carla dan Seno dikursi single dihadapan sofa dan Yudis mengambil tempat duduk dikursi single satunya lagi.
Tiba-tiba telpon di ruang kerja Yudis berdering, Yudis memang menunggu itu, kemudian dia pamit sebentar: “ Tin tunggu ya, aku butuh waktu beberapa menit untuk urusan ini.”
Datin mbatin, ini dari tadi pagi dia tidak sarapan sekarang tuan rumah lupa makan, tadi tenaga dan emosi terkuras habis. Dia berencana istirahat dulu di hotel, Carla tahu dia tadi sudah book di Pertamina hotel yg dekat rumah Candi ini, supaya dekat Yasmin. Sebenarnya Datin lebih suka di Ciputra Hotel, tapi terlalu jauh karena di down town simpang lima.
Saat Yudis masuk ruang kerjanya, Carla yg semula diam ngeri karena ada Yudis, mulai nggoda Datin:
“ Duh, itu lemon squash nya diminum dulu Tin, baru tak tuang saat kamu keluar tadi. Sepertinya kerja berat tadi berakhir romantis ya Tin?”
Datin masih setengah gak percaya dengan yg baru saja dialaminya, dia masih duduk termangu, seperti kurang mendengar candaan Carla. Dia gak mengerti arti ciuman Yudis yg membabi buta dikuasai amarah.
“ Ich kamu tadi bener-bener culas ya, melempar tanggung jawab ke aku semua, aku gak ada sparing partner, bener bener alot mas Yudis itu.” Serang Datin sambil masih lemas. Lemas karena deg-deg an yg semula menyeramkan namun lama lama terasa manis.
“ Lho untung ga ada aku, kalau ada kan gak berakhir romatis tadi!” kata Carla……………….“ Yah……… Tin, lipstikmu kemana, bedakmu gak bersisa, kenapa matamu sembab begitu?” canda Carla
“ Aku di brakot warok Njepara tadi, gak ada yg romantis, tapi mengerikan…….” Jawab Datin tanpa ekspresi.
Seno sampai tersedak minuman mendengar jawaban Datin. Carla gak bisa menahan gelaknya:
“Hahahahahaha………gelok kamu Tin.”
“ Lho mau kemana Tin? Nanti dulu tunggu mas Yudis dulu dong Tin, takut aku?” kata Carla.
“ Enggak, nanti sore saja disambung lagi, kamu tahu kan aku nginep di hotel Pertamina dekat sini. Aku butuh selonjor meluruskan kaki sebentar.”
Datin terus lari saja keluar diikuti Seno, “yuk aku antar.” Kata Seno dengan maksud biar tahu kemana Datin perginya.
Akhirnya Seno ngedrop Datin ke Lobby, “ Pamitin mas Yudis aku istirahat bentar.”
Tapi Datin langsung menuju ke Resto, karena dia memang lapar berat, dan minum lemon squash tadi, jadi perut semakin melilit.
Datin memesan lontong kare daging, sama teh anget tanpa gula. Sedang dia menikmati makan sorenya telpon berdering, ternyata dari Carla:
“ Kenapa sih Carla? Kasi aku waktu sebentar untuk makanlah! Ada apa lagi? Mas Seno juga tahu aku dimana.”
“ Ya ampuuuun, kamu di restonya? Itu mas Yudis ke reseptionis nyari kamu gak ada, belum check-in, ngebel kamu gak diangkat, dikiranya kamu minggat! Kita yg diomelin!”
“ Ck. Edian! Emangnya dia…………kalau ngambeg terus minggat? Ya sdh suruh tunggu sebentar di lobby ntar selesai makan aku kesitu. Ini juga hampir setengah lima, kapan mandinya aku?”
“ Tin, kamu itu aku cari ternyata lagi makan ya? Sorry tadi sampai lupa waktu. Ah enak disini sepi, ngobrol aja disini ya Tin?” kata Yudis yg tiba tiba muncul diresto, karena dikasi tahu Seno.
__ADS_1
Wah bener bener gak kasi kesempatan istirahat mas Yudis ini, biasanya dia care, ngelihat aku capek disuruh istirahat, ngelihat belum makan dibawain makanan lha sekarang kok beda ya? Batin Datin.
“ Boleh mas, mau pesan minum apa ya, ah mas Yudis juga belum makan kan? Ini enak lho mas lontong kare daging?” kata Datin.
Yudis buru buru bangkit melarang Datin manggil waiter, dia menuju ke sudut desert. Dia ambil teramisu, lemon cake dan capucino, serta black coffee tanpa gula.
“ Ini untuk ibu, black coffee no sugar dan desert nya milih gih yg mana, ini aku capucino.” Kata Yudis.
Ah baru aku batin, sekarang koplaknya sudah agak sembuh, sudah ngentertain. Batin Datin. Kemudian Datin ngambil desert yg lemon cake.
Sesudah agak sementara waktu Yudis mulai menanyakan hal yg mengganjal hatinya:
“ Tin aku mau menanyakan sesuatu, apakah Pradipto melamarmu?” tanya Yudis.
Datin tersedak dan memandang Yudis dengan penuh selidik “ Emang kenapa mas? Kok mas Yudis bisa tahu?” tanya Datin heran. Tidak mungkin kalau Buntas cerita ke Yudis.
“ Hmm…..Jadi benar ya Tin? Dipto sudah melamarmukan? Wajah Yudis agak sedih. Datin bisa melihat itu.
“ Aku heran lho mas, dari mana mas Yudis bisa tahu, Buntas ember dong kalau begitu!”
Kemudian Yudis menceritakan semuanya tentang obrolannya sama Buntas sewaktu mereka di Hongkong.
“ Ya……..Buntas melamarku mas, yg aku ingin tahu mas yudis mendorong Buntas melamarku itu memang keluar dari hati mas Yudis ya?”
“ Maksudmu Tin?, aku tidak mendorongnya untuk melamarmu, tapi dia sendiri yg merasa cocok denganmu, dan memutuskan untuk melamarmu.”
Kemudian Yudis menunda membicarakan Buntas karena mau menuju ke pokok permasalahan : “ Ok, lupakan dulu soal Buntas atau Dipto ini, nanti sesudah aku cerita ini baru aku jawab.
hmmm……begini ya Tin, aku mau menceritakan rencanaku semula, yg sekarang sudah menjadi terlambat semuanya, dan beda cerita. Tapi aku perlu menyampaikan karena ini ada kaitannya dengan pertengkaranku dengan Yasmin.
Sewaktu Mila sakit dan sudah semakin parah, dia memintaku untuk menikahimu dengan alasan hanya karena Mila sudah tidak boleh hamil lagi, sedangkan aku menginginkan anak laki-laki. Aku menolaknya dengan tegas, lagi pula hal tsb akan menyudutkan kamu pada posisi madu atau istri kedua.
Kemudian Mila minta saya untuk menikahimu sesudah dia meninggal, karena dia ingin Yasmin jatuh dalam asuhanmu.
Sesudah Mila meninggal saya mulai kepikiran akan amanahnya, tapi aku ingin proses yg sewajarnya dalam arti kata aku menikahi orang yg memang bersedia menikah denganku, cinta mungkin bisa tumbuh seiring dengan waktu. Aku tidak mungkin memaksakan kamu menikah denganku dengan alasan ini amanah almarhumah istriku.
Aku melakukan pendekatan pendekatan kepadamu Tin, mungkin kamu juga tahu atau merasakan itu. Ternyata jatuh cinta kepadamu itu sangatlah mudah, tidak memerlukan waktu lama. Banyak faktor yg menjadi daya tarikmu, cerdas, penyayang, mandiri, tegar dan cantik tentu saja.
Kekagumanku terhadap sosok Rudatin ini sudah ada sejak kita masing masing masih mempunyai pasangan, bahkan sejak kamu masih belum nikah, saat aku melihat keuletanmu berjuang mengentaskan diri dari kemiskinan, tepatnya saat pak Marto meninggal. Terus terang Tin sesudah Mila meninggal, ada beberapa wanita yg dekat denganku, cantik juga, feminin juga…….. namun entah mengapa janda dari almarhum Prastowo ini yg selalu muncul dalam benakku. Aku sering merindukannya, kangen ngobrol dengannya, rindu senyumannya. Denganmu ini aku sudah merasa mantap dan merasa pas untuk membangun keluarga.
Namun aku mau menyatakan minatku menyuntingmu belum bisa kesampaian karena aku merasa belum pantas atau belum tega untuk menikah lagi.
Aku sudah meniatkan akan melamarmu akhir tahun kemarin, dan merencanakan menikah saat peringatan dua tahun meninggalnya Mila, bulan Mart besok itu.
Namun nasib berkata lain. Aku lupa bahwa wanita itu punya batas penantian, dan butuh kepastian. Aku terlena karena merasa aku tidak beretepuk sebelah tangan. Aku keduluan Dipto untuk melamarmu.
Aku frustasi Tin, benar benar frustasi, aku marah sama diriku sendiri. Aku tidak bisa melupakanmu, perasaanku sering tertekan kalau aku meridukanmu. Aku mencoba menghindarimu, menjauhimu, dan aku rasa yg efektif adalah memulai kehidupan baru didaerah yg tidak pernah kita datangi bersama.
__ADS_1
Aku memutuskan pindah ke Mindil Beach yg kebetulan disana ada resto dan cold storage baruku. Aku ingin mulai hidup baru, mengawalinya dengan putriku, tanggung jawab yg diamanahkan almarhumah istriku yg aku cintai.
Itu tujuanku Tin, apakah aku salah.???”