
Akhirnya mereka ingat untuk makan siang, yg sudah disiapkan sejak tadi, dan karena sudah jam satu lebih.
“ Wah jiiiaaaan……. kalau emak emak sudah ngrumpi, lupa waktu, lupa perut, lupa anak……….” Kata Yudis.
“ Tapi gak lupa suami lho, lha suami juga ikut ngrumpi!” kata Mila……..” Terus terang Tin, aku kalau dengar ceritamu itu selalu asyiek, apalagi perjuangan masa kecilmu sangat inspiratip.” Sambung Mila.
Rumah di Candi, hari Sabtu tgl 31 Desember 2005 sudah diramaikan beberapa tamu dan ada adik Yudis dan keluarganya. Saat itu baru jam 19.15. semua hidangan sudah tersaji di meja makan panjang. Menu-menu andalan Sagara Seafood House, serba ikan, udang, lobster. Lobster dua rasa; steam kerapu; sup kepala ikan; lumpia ikan. Semua terhidang di meja makan.
Di balkon atau teras belakang sudah disiapkan tungku untuk bakar-bakaran lengkap dengan kokinya. Sudah disiapkan saslik seafood atau sate yg terdiri dari cumi, udang, potongan sosis; nanas; bawang bombay. Juga tersedia jagung dengan aneka sausnya tidak ketinggalan.
Bimo, Yasmin dan keponakan Yudis serta putra-putri kolega Yudis ikut meramaikan acara menyambut tahun baru 2006 dirumah Yudis. Mereka main kembang api dihalaman belakang rumah dan sudah disiapkan juga makanan untuk mereka para krucil ini.
“ Mbak Mila sudah duduk aja disitu, tinggal instruksi saja, nanti aku yg ngerjain. Jangan sampai acara ini menyusahkan mbak Mila. Kalau misalnya sudah capek mau leyeh-leyeh dulu juga silakan. Percayakan ke aku dan Carla.” Kata Datin. Carla adalah istri adiknya Yudis. Pembantu dirumah ini juga ada 4 orang plus 2 sopir. Belum petugas dari resto Sagara sendiri.
Mila kelihatan bahagia sekali malam itu. Datin sibuk dengan mengatur penyajian mewakili nyonya rumah.
Rupanya Yudis terlibat ada seperti meeting kecil di teras depan dengan koleganya. Sedangkan para istri ngobrol dengan Mila di ruang tengah yg ada TV super besar yg menempel didinding, dan pintu lipat yg menghubungkan ruang tengah tersebut dengan balkon samping dibuka full untuk bisa leluasa memandang kearah kota. Sehingga pemandangan kota diwaktu malam tampak sangat indah dengan lampu-lampunya yg kelihatan berpendar.
Beberapa lama kemudian Yudis masuk memanggil Datin, “ Tin, tolong bisa kemari sebentar, ini aku mau kenalkan ke kolegaku.”
Mila nimbrung : “ Iya tu Tin, mereka itu ada sainganmu, pengusaha batik Pekalongan.”…..kemudian Mila berbisik: “…… dari partai PAN.”
Datin mengikuti Yudis, dia dikenalkan kemereka yg semuanya lelaki, sedangkan dengan istri istri mereka Datin sudah kenal didalam tadi.
“ Ini Srikandi Yogya, CEO Canting House Group.” Yudis mengenalkan Datin ke 5 orang pengusaha koleganya. Kemudian mereka berbasa basi sebentar, dengan tidak bisa menyembunyikan pandangan kagumnya ke Datin. Cantik dan smart.
Datin kelihatan canggung diantara mereka, lalu dia mengalihkan kekakuannya dengan mengajak untuk mulai santap malam: “Mewakili ibu Yudistira, kami persilakan untuk bisa mulai merahapi hidangan yg sudah disiapkan oleh bapak dan ibu Yudistira.”
Datin kemudian sibuk menyipakan makan malam Bimo yg sepertinya sudah kelaparan, karena sudah jam 8 malam, yg biasanya Bimo makan malam jam 6 sore.“ Bimo mau makan jagung saja, gak mau maem nasi.” Mulai rewel karena telat makan, dan ngantuk karena bosan.
“ Bimo, maafin ibu, karena maemnya telat, tapi Bimo kalau tidak mau maem nasi nanti gak boleh makan es cream, karena bisa masuk angin.” Bujuk Datin. ”…….pakai sup ikan ya?” karena ada peringatan gak boleh makan es cream kalau gak makan dulu, Bimo akhirnya manut.
“ Bimo disuapin ibu?, atau maem sendiri sama mbak Ias?” Bimo bingung sebenarnya sudah males setengah ngantuk, tapi gengsi lihat teman temannya pada maem sendiri. Akhirnya Bimo maem sendiri.
__ADS_1
Bimo bosen karena mbak Iasnya main asyiek sama gadis kecil lainnya, Bimo ditinggal karena Bimo cowok gak suka boneka. Mereka main boneka dikamar Yasmin, Bimo cemburu.
Akhirnya Datin mbujuk Bimo, Bimopun liyep-liyep dipangkuannya. “Bim, sudah ngantuk ya? Tadi Bimo gambar apa sama mbak Ias, kok gak ditunjukkan ke bapak dilangit?
“ Aku marah, gambarku ditumpahin es cream sama mbak Keisya, aku buang.” Kata Bimo kesel
“ Bimo gak boeh galak galak begitu. Nanti gak punya teman. Kalau gak punya teman, Bimo akan sedih, sepi sendiri, mbak Keisya kan gak sengaja, mana sekarang gambarnya?” bujuk Datin, Bimo nunjuk tempat tumpukan piring lidi dekat bakaran jagung, terus Datin bangkit ngambil gambar Bimo, ternyata Bimo nggambar kepala kucing besar tapi ada noda ngeblok bekas es cream dekat matanya, sama Datin disapu pakai tisue dan aqua, diratain dan disamakan dimata yg satunya, cakep dah sekarang jadi kucing nangis… “Bimo…..lihat nih, empus mu nangis!.......lha tadi dibuang sih, nangis deh dia……!”
“hihihihi…..bagus buk! Aku mau tunjukin ke bapak ya bu!” Bimo jadi semangat dan heboh ngobrol sama bapaknya.
Mila dari tadi memperhatikan bagaimana Datin dengan sabar menangani Bimo yg sudah setengah ngantuk dan ngambeg, sekarang semangat lagi.
Dan tiba-tiba terdengar aba aba dari para kolega Yudis ………sepuluh……sebilan……delapan……….dst …satu…….Happy New Year…….
Anak anak kecil lainnya sudah pada tumbang bobok dikamar Yasmin, hanya Bimo yg masih terbangun nemani ibunya dan ikut melihat pesta kembang api dari teras rumah.
Pagi hari sehabis subuh Datin melihat ruangan yg semula seperti kapal pecah, sekarang sudah rapi bersih dan harum. Harus diacungi sepuluh ibu jari bagi para staf yg bekerja dirumah Mila ini, well trained.
Dia tidak mau membangunkan Bimo, karena Bimo kurang tidur. Nanti paling Yanto sampai Semarang sekitar jam sepuluh atau sebelas, jadi agak siangan dia baru bangunin dan mandiin Bimonya.
“ Tin pagi-pagi kok sudah melamun to? Ingat Pras ya?” tiba-tiba Datin dikagetkan suara Mila yg sudah berdiri disampingnya. Sementara jam besar Junghans yg berdiri di pojok ruang duduk berdentang 5 kali, masih dini hari jam 5 pagi.
“ Hehehehehe….ingat terus mbak, disetiap saat, disetiap tempat dan dilubuk hatiku yg terdalam.” Jawab Datin sambil tersenyum. “ Aku suka ingat candaannya yg sering ngeselin, tapi sumpah mbak............ngangeniiiin banget.”
Mila memeluk Datin dari belakang, :” Jujur ya Tin, Pras itu memang baiiik orangnya, gak bisa bilang tidak kalau ada yg minta tolong ke dia itu, meskipun ibaratnya dia juga sedang sibuk. Ini nih….ike nih salah satunya yg sering ngrecokin dia.” Kata Mila sambil menepuk nepuk dadanya sendiri, kemudian dia melanjutkan bicaranya: “ Makanya saat dia meninggal itu aku merasa seperti kehilangan sebagian anggota badan. Jadi aku tahu perasaanmu seperti apa? Tapi I was surprised you are strong enaugh.”
Datin hanya terdiam namun berkata dalam hati :
dirimu juga sama mbak, baik hati, kalau menolong orang, bahkan yg kamu baru kenal, juga tidak pernah setengah setengah. Contohnya aku ini, tanpa pertolonganmu entah jadi apa aku sekarang.
“ Tin, aku merasa seperti kuat dan bersemangat kalau kita berkumpul seperti ini, dan juga kalau pas aku kumpul kamu di Kemang, I wish it could be forever.”
“ Ya mbak, kita sebagai manusia selalu menginginkan semuanya, bisa mendapatkan semuanya, tidak setengah setengah, itulah yg menyebabkan sering timbulnya kekecewaan.” Datin berhenti sebentar………, kemudian melanjutkan kalaimatnya:
__ADS_1
“ Aku mencoba mengevaluasi, saat puncak kekecewaan itu menghinggapiku, yaitu saat mas Pras divonis terkena penyakit yg mematikan, cancer. Aku merasa Allah seolah mengujiku terus-menerus, tidak adil, ibarat baru bisa meraih kebahagiaan sebentar dari kesempitan panjang masa kecil dan remaja saya, sudah direnggut lagi dari genggamanku. Sehingga kesedihan dan keputus asaan hampir menguasaiku.” Sampai disini Datin berhenti lagi sambil menarik nafas panjang ………………
“ Namun aku bersyukur mbak, aku punya ibu, bu Parinah Martodikromo, wanita hebat yg menggemblengku dan mengajari aku untuk terus mensyukuri apapun yg ditetapkan Allah kepada kita, pastilah dibalik itu semua ada nikmat yg direncanakan untuk kita. Semakin kita ikhlas menerima takdir NYA semakin cepat nikmat Allah itu menghampiri kita, dan kemudian kemudahan-kemudahan mulai mengisi kehidupan saya. Allah bekerja dengan cara NYA, memberikan jalan untuk melupakan kesedihan dengan memberikan aku kesibukan yg menyenangkan sehingga tidak sempat bersedih lagi.”
Datin menghadap ke Mila, kedua tangannya memegang kedua bahu kanan dan kiri Mila, serta menatap Mila sambil tersenyum:
“ Yah, sampai akhirnya seperti yg mbak lihat sekarang ini. Aku sibuk, kemudian sampai dirumah lihat dan megang Bimo, capekku hilang. Kadang mas Pras hadir dalam mimpi, sedikit mengobati kangenku. Tidak bisa memuaskan kangenku memang, karena kita memang tidak harus mendapatkan semuanya.”
Mila termangu, merenungkan kata-kata Datin yg panjang lebar tadi, dia semakin mengagumi sosok wanita didepannya ini, tabah dan bijaksana.
Tanpa sepengetahuan mereka berdua, Yudis yg sudah dari tadi bangun dan sedang ngopi di ruang makan disebalik teras tersebut, mendengarkan dialog Mila dengan Datin. Dia berterimakasih kepada Datin atas sharingnya ke Mila yg secara tidak langsung bermanfaat bagi Yudis juga. Karena situasi Datin pada saat itu sangat mirip dengan situasi yg sedang dihadapinya saat ini. Dia harus bisa menguasai ilmu ikhlas tadi.
Namun Yudis tidak mendengar apa yg disampaikan Mila ke Datin, karena Yudis keburu meninggalkan ruang makan dan pergi mandi.
“ Tin, tapi kamu masih ingat pesanku tempo hari kan? Seandainya terjadi apa-apa di aku, tolong titip Yasmin ya, aku ingin anakku berada ditangan yg benar. Dan juga mas Yudis.”
“ Mbaaaak…… aku mohon jangan selalu diulang berbicara seperti ini. Berusahalah untuk menjadi sehat dan survive dengan segala upaya. Ingat manusia diwajibkan berichtiar, kemudian serahkan hasilnya ke Sang Khaliq.…..” Datin memohon.
“ Insya Allah………..aku pasti akan memperhatikan Yasmin, memantau terus perkembangan Yasmin mbak. Yg lainnya serahkan kepada Pemiliknya.”
Pembicaran terhenti karena Bimo terbangun dan teriak teriak nyari ibunya.
“ Ibu…..ibu…. kok aku ditinggal pulang, hik…hik..hik.”
“ Hai……handsome sudah bangun, ini ibu disini le, wah ibu kesiangan belum mandi nih Bim. Bimo mandi dulu yuk sama ibu.” Ternyata memang sudah siang, hampir jam delapan pagi.
“ Hahahaha……….sini Bim sarapan sama papa Ias, laki laki sama laki laki, yuk, ibu-ibu biar arisan dulu.” Sindir Yudis sambil bercanda.
Pagi itu sesudah mandi semua, mereka sarapan bareng di meja makan, termasuk Yasmin dan Bimo memakai kursi makan tinggi yg untuk anak anak.
Sejenak mereka lupa akan pembicaraan yg menguras emosi pagi tadi, mereka semua bahagia karena diselingi celotehan Bimo dan Yasmin yg lucu.
Akhirnya Datin dan Bimo balik ke Yogya sekitar jam sebelas siang, mereka mengejar jangan terlalu sore sampai Yogya, karena Senin pagi jam 08.30 dia mau balik Jakarta, dan masih harus pamit ke Tembi dulu.
__ADS_1
Saat Datin mau masuk mobil, Mila memeluknya lama sekali, Datin merasakan pundaknya basah karena air mata Mila, seolah olah Mila merasa berat ditinggal Datin. “ Mbak, jaga kesehatan untuk kita semua ya?!, nanti aku akan sering telpon ya.” Pamit Datin sambil mengelus punggung Mila.