Canting

Canting
Episode 57


__ADS_3

Kira kira jam 09.00 pagi Datin dengan langkah berat meniti anak tangga beranda depan rumah Candi, ada rasa asing dan rasa takut ketemu Yudis yg suasananya sangat tidak enak. Carla disampingnya.


“ Jangankan kamu Tin, mas Seno aja bekah bekuh kemarin itu saat ngantar Yasmin pulang. Mas Seno kesel sama mas Yudis, tapi gak berani ngasih tahu.” Kata Carla. Semakin membuat Datin ciut.


Ah gila bener musuh orang sinting satu sekampung kocar-kacir. Aku harus berani, kan aku membawa misi kebenaran. Batin Datin


“ Aku kesini misinya hanya satu, membujuk Yasmin untuk manut bapaknya. Bantu aku memberi pengertian ke Yasmin ya.”kata Datin.


“ Gila kamu Tin, kasihan Yasmin! Mas Yudis sedang gak waras. Bagaimana nasib Ias….ah?” keluh Carla.


“ Segarang-garangnya singa gak akan makan anaknya sendiri.”


Begitu masuk rumah, sepi sekali, ternyata Yasmin sama Keisya sedang dikamar. Ini rumah perasaan menjadi seperti istana hantu, besar banget, lantai pualam, cat dominan putih, dan menawarkan kebekuan, tidak seperti dulu sewaktu nyonya rumah masih ada. Pembantunya bilang kalau Yudis sedang keluar, ke Kadin.


Huh…… nyambangi Nyai Blorong itu, sialan laki laki kalau lagi jatuh cinta seperti membabi buta. Batin Datin.


Gemuruh dada Datin dibakar cemburu, tapai langsung dia ingat kata bu Parinah bahwa otak harus tetap tenang.


“ Keisya aku bolosin sehari. Ini kan hari Jumat. Yasmin yg dari kemarin gak masuk.”


“ Asalamuallaikum……..halo cantik-cantik, lagi pada ngapaiiiiiin……???” sapa Datin.


Mendengar suara Datin, Yasmin langsung menghambur memeluk Datin sambil meledak tangisnya. Datin membiarkan Yasmin memuaskan tangisnya sambil tidur dipangkuan Datin. Datin mengelus elus rambut Yasmin. Sebenarnya sudah mau kebawa nangis juga, tapi dia tahan sekuatnya.


“ Oh ya sebentar tadi Bimo titip untuk mbak Iasnya, sambil tangan kirinya buka tas cabin nya dan mengeluarkan wonder woman dari Bimo. Ini kata Bimo suruh majang dikamar mbak Ias. Kalau untuk Keisya cat woman tapi belum selesai dirakit sama Bimo, katanya mau dikirim nyusul.” Datin terpaksa bohong karena ternyata ada Keisya juga disitu.


Yasmin mengambil figurin tsb sambil tersenyum “ Ich Bimo masih ingat aku suka ini, dan juga cat woman dulu aku mau beli itu…..” yasmin jadi ingat dua dua nya dia mau.


“ Ok nanti Bimo tak suruh beli sepasang lagi dikirim kesini untuk Ias dan Keisya. Ya?”


“ Yasmin kenapa berantem sama papa, kan kalau Ias ke Darwin kan kita kita ini bisa main kesana nengok Ias. Rencananya Bimo begitu. Besok kalau mbak Ias pindah kesana Bimonya kalau liburan mau kesana terus. Ibu juga ikut. Mata Yasmin kethap-kethip mikir. “ Orang ke Semarang saja Bimo jarang nengok kesini, gak pernah ikut ibu.” Katanya

__ADS_1


Blaen tenan, kepleset Datin.


“ Kalau ke Semarang kan dekat, bosan Bimo. Lagian kalau ibu kesini kan Bimo sekolah. Kalau Autralia kan belum pernah.”


“ Yasmin maunya disini saja…..” sambil hidungnya kembang-kempis mau nangis.


“ Ok……Ok…..begini, lupakan dulu masalah Australia. Sekarang begini dulu, ias kan tahu kalau papa sibuk banget sekarang ini, beliau sedang banyak pikiran dan urusan. Yasmin sementara harus bisa nemani papa supaya papa gak sakit. Jangan bikin papa sedih, jangan bikin papa merasa jauh dari Ias. Ias sayang enggak sih sama papa?”


“ Sayang…….” Jawab Yasmin gak ikhlas.


Tiba tiba pintu dibuka dari luar, dan muncul Yudis. Semua terkejut, jantung Datin seperti mau terlontar keluar. Tapi dia sempat memperhatikan Yasmin. Datin megang jidat Yasmin yg masih tiduran dipangkuannya. Agak hangat, mungkin kurang tidur, serta raut wajah yg seperti tidak nyaman ada papanya masuk.


Datin melihat Yudis masih tetap handsome, namun mukanya sedikit cekung, wajahnya ditumbuhi jambang yg belum sempat dia cukur. Atau memang sengaja tidak dicukur karena tidak ada waktu. Senyumnya masih cukup kuat untuk merontokkan hati Datin. Karena memang sudah cukup lama mereka tidak bertemu. Datin merindukan.


“ Ah ada tamu rupanya, sudah lama Tin? Kenapa? dipanggil Yasmin ya?” tanyanya biasa saja sambil tersenyum. Yasmin mengkeret mendengar namanya disebut papanya.


“ Ah enggak seperti itu maksudku kemari itu. Menjadi larangan sekarang bertamu kemari ya mas? Aku seperti biasa datang pagi flight pertama. Menuju langsung ke rumah Candi karena mendengar akan ada yg mau pindah ke luar negri, saya harus melaporkan progress tugas yg diamanahkan ke aku sama Carla ke mas Yudis.” Jawab Datin dengan tenang yg membuat Datin terkejut dan heran sendiri. Mendengar kata pindah ke luar negri, Yasmin mengkeret dan mulai mewek lagi.


“ Ah…. Kamu bisa aja, untuk ibu Sri Rudatin ya selalu welcome lah, kapan menghendaki.” Jawab Yudis ramah.


“ Begini, Yasmin sama Keisya main diluar dulu ya, biar Ibu sama mama Carla ngobrol sama papa.” Kata Yudis.


“ Ayok keluar dulu yuk, sama tante, nanti yg lapor Datin cukup kok…..” kata Carla


Sialan, kunyuk bener si Carla ini melarikan diri, gak ada niat untuk bahu membahu, ini main lempar aja ke aku…. Batin datin agak jengkel.


“ Ah jangan, gak usah, kita yg keluar saja biar anak anak bisa istirahat, aku lihat Yasmin kenyang nangis kurang tidur.” Jawab Datin


“ Ah kita diruang kerjaku saja yuk Tin, sekalian nanti kalau ada telpon.” Ajak Yudis ke Datin.


Datin seperti sapi ompong dicocok hidungnya, dia ngekor Yudis ke Ruang kerjanya.

__ADS_1


“ Akhir akhir ini seperti lost communication aku sama mas Yudis ya. Kadang kadang telpon dan BBku gak kejawab. Sibuk banget ya mas?, kadang kangen ngobrol lho aku, kadang mau konsultasi, eee…forbidden.”kata Datin.


“ Ah gak sibuk aku, biasa saja, hanya persiapan pembukaan resto dan Cold storage di Mindil saja yg membuat aku agak hectic. Datin itu yg sibuk, sedang berbunga-bunga persiapan masa depan, begitu kan.” Kata Yudis.


Datin mengira yg dimaksud persiapan masa depan itu persiapan toko sembakonya. Diapun menjawab:


“ Akhir tahun kemarin lah itu kita kebut selesaikan, rencananya aku ingin ngajak mas Yudis ikut hadir, butuh pertimbangan dari orang yg pengalaman seperti mas Yudis ini, tapi ternyata mas Yudis berbenturan dengan kerjaan di Mindil. Insya Allah trisemester pertama tahun 2008 ini sudah mulai ada yg buka.”


Yudis mengernyitkan keningnya, kok gak nyambung.


“ Dulu saya dengar mas Yudis itu mau mempekerjakan partnernya yg orang jepang itu ke Mindil. Tapi kenapa berubah rencana dengan ekstreem, terus ditekel sendiri bahkan berniat mboyong keluarga, apakah partnernya mundur?”


“ Gak begitu juga Tin, partnerku tetap aja berangkat kesana, diakan chefnya, aku itu urusan lain. Ah……bagaimana saya mau mulai cerita ini. Banyak pertimbangan saat aku memutuskan pindah kesana. Yasmin kan satu satunya putriku, satu satunya titipan dari Mila, aku gak bisa pisah sama dia.” Kata Yudis memelas, sambil memandang Datin dengan kerinduan yg di tahan. Kalau ada Datin biasanya Yudis tenang, kali ini dia tersiksa karena merasa Datin akan menjadi milik Buntas.


Masuk akal kata Yudis tadi, namun Datin ingin menyiapkan dulu sampai anaknya bersedia membantu bapaknya, menyadari bahwa bapaknya butuh dia.


“ Make sense kok mas, bahwa mas Yudis butuh Yasmin mendampingi mas disana. Tapi menjadi sulit pelaksanaannya karena diawali dengan ketegangan antara mas Yudis sendiri dengan Yasminnya. Yasmin itu tumbuh menjadi gadis yg perasa, halus pekertinya, kemarin dia juara satu bikin puisi. Semua heran anak klas 3 SD bisa mengarang sedalam itu kalau bukan hatinya yg bicara. Anak seperti itu gak bisa dikasari mas. Dengan bentakan mas yg sekali kemarin cukup membuatnya mental break down dan sangat melukai hatinya. Mas Yudis adalah idola Yasmin, kita semua bisa melihat betapa sayangnya Yasmin ke papanya. Tapi begitu yg disayanginya ini kasar ke dia, apa yg dia harapkan lagi, kemana dia akan lari mengadu!”


“ Iya aku tahu, aku kepepet Tin aku stress, lagi judeg banyak urusan, Yasmin ngamuk disekolah, pas dimobil pulang minta turun kerumah bu Tari, terus secara gak sadar aku bentak semakin gak mau ngomong keras kepala begitu lho. Kenapa sekarang dia berkembang menjadi anak yg keras kepala, dan pemberontak!”


Datin shock sekali melihat cara menangani putrinya. Datin yakin ini bukan Yudis yg biasanya, bukan Yudis yg normal.


“ Anak itu tidak bisa didadak-dadak seperti itu mas, bagaimana kalau Yasmin biar disini dulu, tinggal bersama Carla, dan kadang sama aku, aku yg kesini. Biar tetap dibawah bimbingan bu Tari dulu, sambil kita gerilya kita cekoki dengan pengertian pentingnya nungguin papanya. Kita kasi gambaran situasi sekolahnya, dengan diputarkan vidio misalnya, kita kasi gambaran tempat tinggalnya, bagaimana dia akan tinggal lepas dari pelayan yg selama ini banyak mengitarinya. Banyak perobahan yg akan dialaminya, jangan sampai sudah disana timbul masalah. Jadi tidak mendadak dicabut dari akarnya dipindah ditempat asing begitu, shock bagi si anak ini.”


“ Kamu juga melarangku membawa Yasmin Tin? Apa kamu pikir ini adil buat aku Tin? Semua yg aku sayangi meninggalkan aku satu persatu. Yasmin itu anakku Tin kenapa aku tidak bisa membawanya pindah ketempat kerjaku yg baru, ke kehidupanku yg baru? Saya yakin bisa menangani Yasmin karena dia darah dagingku, setidaknya sedikit banyak sifatnya menurun dari aku, aku pasti bisa dan tahu menanganinya!” tutur Yudis


Datin kesal, yg biasanya sabar, mengalah, untuk kemudian baru menjelaskan kalau situasi sudah memungkinkan. Tapi kali ini ingin dia menerkam kepala Yudis yg mencari pembenarannya sendiri, egois , dan sulit diajak kompromi dan mengorbankan kenyamanan atau kestabilan jiwa Yasmin. Datin tahu Yudis sedang depresi berat. Kalau Yasmin ditangani Yudis saat mengalami kondisi seperti ini, dan kalau sering kondisi begini terjadi, Yasmin pasti akan tumbuh mejadi gadis yg rusak jiwanya.


“ Kalau mas Yudis memahami sifat Ias, peristiwa bentak dan aksi mogok seperti kemarin tidak akan terjadi. Aku bukannya melarang mas Yudis bawa Yasmin, tapi menunda sampai mentalnya siap.” Kata Datin.


“ Saya hanya ingin tahu pekerjaan apa yg membebani mas Yudis saat in? Seandainya saja aku bisa bantu mikir? Mas Yudis masih menganggap aku ada kan? Kenapa situasinya seperti tidak terkendali begini?”

__ADS_1


Apa ada gunanya Tin kalau kedepan kamu sudah menjadi milik orang lain. Itu yg menjadi sumber dari keputusanku yg menyebabkan konflikku dengan Yasmin ini. Batin Yudis.


“ Penyebabnya tidak hanya pekerjaan, banyak faktor, kalau hanya masalah pekerjaan itu gampang. Tapi begini, kalau mau bantu aku, maka mohon bujuklah Yasmin supaya mau ikut pindah ke Darwin dengan ikhlas.”


__ADS_2