Canting

Canting
Episode 42


__ADS_3

Akhirnya Yudis mengantarkan Yasmin ke Yogya, dia tiba di Yogya Sabtu sore jam 16.30 dan langsung ke Palagan, rencana Minggu pagi-pagi keesokan harinya Yudis mau ke Surabaya bersama sopirnya untuk urusan permintaan ikan Sishamo itu tadi. Yasmin disertai mbak Yanti yg momong atau melayani Yasmin, meskipun Yasmin sudah genap 7 tahun usianya, namun selalu ada yg menemani agar tidak kesepian.


“ Tin, ini Yasmin biar di Palagan dulu baru besok dia ke rumahmu, sekarang biar tidur dirumah eyangnya dulu di Palagan.”kata Yudis ditelpon


“ Oh….sudah di Yogya ya mas?, tak jemput makan malam aja nanti sama Bimo………..” Datin belum selesai bicara ditelpon, Bimo sudah nyelak saja mau ngomong sama mbak Ias……” Ibu…ibu….aku mau ngomong bentar ya bu sama mbak Ias….ada kan mbak Ias disitu?” potong Bimo


“…….Bimo tunggu dong, ibu belum selesai bicara…..”kata Datin, tapi Yudis motong……


“ Tin…..sini aku mau ngomong sama Bimo!” Datin menyodorkan telponnya ke Bimo,


“ Halo Bimo, papa Ias nih…….papa Ias bawain Bimo mobil mercedez sport, tapi Bimo yg ngrakit sendiri ya!....papa ias mau lihat Bimo bisa gak.” Kata Yudis.


“ Aseeeeek, bener pa? ibu, sekarang saja ke mbak Ias nya yuuk!” katanya


Ibunya bilang: “ Katanya mau bicara ma mbak Ias, kok terus lupa? Kenapa? Bimo ganti baju dulu, ibu mandi dulu……, ah kamu itu….”


“ Tin sudah kamu siap siap saja nanti jam 18.30 aku jemput kita makan diluar, aku kesitu.” Potong Yudis.


“ Oh begitu?...baiklah.”


Menjelang berangkat, Yudis telpon lagi ke Datin: “ Tin tolong ibu diajak ya untuk menemani bu Dibyo. Beliau kasihan gak pernah kemana mana , kemarin mau dijemput mas Broto ke Surabaya gak kerso.”


“ Oh begitu ya, baik aku ajak beliaunya.”


Mereka makan ayam goreng di Rumah Makan Suharti jl Solo. Rumah makan kuno dengan goreng ayamnya yg legendaris, anak anak suka.


“ Aku besok pagi-pagi habis subuh berangkat ke Surabaya, aku mungkin gak sempat pamit ya Tin. Aku males jalan siang karena letih. Senin aku ke gudangnya, besok nginep di rumah mas Broto di Surabayanya sekalian silaturahmi. Aku titip Yasmin ya Tin. Tadinya aku mau ikut Seno ke Bali, tapi ini ada permintaan ikan Capelin, kan aku masih baru untuk hal ini, mau aku kawal prosesnya, dan juga pengepakannya yg benar. Kalau ada yg cacat sedikit bisa harganya jatuh. Yasmin gak mau tak suruh ikut Seno dan keluarga kesana kalau tanpa aku, dia mau kerumah eyang uti Dibyo sama main kerumah Bimo saja.” Kata Yudis.


“ Iyalah mas, biar nemani eyangnya. Dulu kan bu Dibyo yg banyak nungguin Yasmin selama mbak Mila sakit. Jadi kedekatannya terbangun selama itu. Bu Dibyo sendiri terhibur dengan Mila kecil ini sebagai obat rindu ke putrinya. Kamu bijaksana mas, sudah mengambil tindakan yg tepat dengan mengirim Yasmin ke eyangnya.” Kata Datin


Yudis merasa bahagia Datin berbicara seperti itu, dipuji, didukung orang yg dia kagumi. Kata kata Datin selalu menyejukkan, Yudis selalu bahagia bila dekat dengan Datin. Tiba tiba Bimo menghampirinya dan bilang ke Yudis: “ Papa Ias aku sama mbak Ias boleh ngrakit mobilnya disini gak? Ini mudah, hanya sebentar kok.” Bimo minta ijin.


“ Wah nanti berantakan disini, dirumah Bimo saja nanti ya.” Kata Yudis


“ Tapi mbak Ias mau lihat, mau ikut ngrakit.” Kata Bimo.


“ Bimo cah bagus, kamu tidur dirumah yang uti saja, nanti dikerjakan dirumah yang-ti ya?” kata bu Dibyo …….”iya,…iya …Bimo tidur dirumah Yang-ti saja yuk.” Yasmin nimpali.


Bimo nengok ke ibunya :” Boleh enggak bu?”


Datin bingung karena belum pernah nglepas Bimo sendiri tanpa dirinya atau tanpa mbah-uti. Terus Yanti pengasuh Yasmin bilang :” Iya bu Datin, saya nanti yg bantu Bimo kalau butuh apa apa. Bimo kan anaknya pinter, gak rewel, mandiri gitu kalau saya lihat.”


“ Bimo berani gak? Gak ada mbah uti lho?, gak ada ibu lho? Tanya Datin.


“ Berani…..nanti aku bawa dino yg baru yg belum aku rakit ya bu!”

__ADS_1


“ Iya boleh kok, boleh ya Tin, biar rumahku agak rame sebentar.” Pinta bu Dibyo


Dengan berat hati Datin mengijinkan.


Sesampai di Concat, Datin menyiapkan baju tidur, sikat gigi dan yg diperlukan lainnya, sementara Bimo memasukkan dalam ranselnya box Dino besar yg masih baru dibeli menjelang pergi ke Yogya kemarin. Ibunya melihat dan menegornya : “ Bimooo…… kenapa yg besar yg kamu bawa, itu tidak selesai dalam satu hari. Mas yg ngajari kemarin bilang begitu kan? Nanti rumah eyang berantakan! Duuuh jian ini bocah………..” protes Datin.


Bimo kelihatan agak kecewa, dia nunduk sambil mau mengeluarkan lagi box Dino nya,…..tapi Yudis melihatnya tidak tega: “ Ya sudah boleh kok, kalau gak selesai kan diterusin lagi besoknya, asal bagian bagiannya jangan sampai kesingsal, gitu ya Bim?” kata Yudis.


“ Iya bu, ….aku kan pingin papa Ias juga lihat.”kata Bimo.


“ Bimo anak ibu yg pinter, papa Ias harus bobok, besok pagi-pagi papa Ias harus kerja. Bimo boleh main sama mbak Ias, tapi tidak boleh merepotkan serumah. Kalau yg lain bobok, Bimo belum ngantuk, Bimo boleh main sendiri, tapi tidak boleh ganggu yg lain. Mengerti Bimo???” kata Datin tegas.


“ Iya, bu. Tapi besok kan Minggu. Papa Ias kok kerja?” tanya Bimo.


“ Karena papa Ias ngejar waktu, jadi hari Minggu juga kerja. Besok Bimo kalau sudah gede mungkin kadang kadang juga begitu.” Jawab Datin kelelahan.


Yudis duduk sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya karena menyembunyikan ketawanya melihat Datin kelelahan.


“ Ini kelarnya sama besok sebelah mananya ya?” protes Yudis. Ternyata memang benar kalau menghadapi Bimo harus dijawab yg masuk akalnya dia, kalau tidak dia nyecar terus. Yudis baru mengerti mengapa Datin memerlukan pendampingan untuk Bimo ini.


Akhirnya jam 22.00 baru sampai rumah Palagan. Yasmin belum ngantuk, penasaran ngrakit mobil tadi. Akhirnya, setelah gosok gigi dan ganti baju tidur, mereka bertiga dg Yudis memulai aktivitas merakit dikamar Mila.


Yudis berfikir:


Yudis penasaran, seperti apa tingkat kesulitan yg DINO ini, dia keluarkan, dan pusing sendiri karena partnya kecil kecil per-plastik. Gambarnya dino besar, dikepalanya ada seperti ruang kemudi pesawat yg ada dua boneka kecilnya yg mengemudikan DINO itu.


“ Papa Ias, hati-hati jangan dibuka semua, ada nomornya kan. Nanti kalau campur jadi susah.” Perintah Bimo


Sialan benar bocah ini ngajarin gue, batin Yudis.


“ Kata mas nya dimulai dari body atau badannya dulu, badannya digambar ada 8 plastik, terus boleh ekor 3 plastik atau boleh kepala 4 plastik, kakinya 4 masing masing 2 plastik. Ini depan belakang beda jangan ketukar………………..dst.” kata Bimo menjelaskan sambil melihat gambar petunjuknya. Meskipun Bimo belum lancar baca, tapi dia faham membaca gambar. Kemampuan analitis seperti inilah yg menyebabkan Bimo bisa membawa pulang 3 piala saat lomba dikedutaan besar Jepang waktu itu.


Modiyar aku, kepalaku mulai kunang kunang campur ngantuk, melihat partikel kecil kecil begini kok seperti ambyar penglihatanku ya. Sialan aku di santet sama Bimo…… batin Yudis yg mulai ngantuk.


Yasmin sudah mulai tidur, sementara Yudis dan Bimo masih lanjut.


Saat jam sudah menunjukkan angka 12.00, Yudis terkapar tidur juga dikarpet.


Pagi subuh, Yudis terbangun karena mendengar suara adzan dari masjid komplek. Sesudah sholat, dia mindahin Bimo ketempat tidur. Dia kaget, jam berapa Bimo mulai tidur, dia lihat body DINO sudah jadi, saat Yudis tidur seingatnya baru ½ body lebih sedikit.


Yasmin sudah mandi dan rapi, dia teriak teriak seneng lihat body DINO, “ Wah pa….papa, ini siapa yg bikin ini pa?..... wah aku semalam ketiduran ya pa, kok tahu-tahu sudah jadi badannya.” Mendengar suara berisik Bimo kebangun.


Jam sudah 07.30, yasmin dan Bimo sudah selesai sarapan. Mereka dimasakin bu Dibyo sendiri, semur daging glinding sama tahu putih. Bocah dua itu seperti hanya nelen saja tanpa dikunyah, karena keburu pingin merakit Dino lagi.


“ Papa Ias kok belum berangkat kerja? Katanya mau kerja?” tanya Bimo.

__ADS_1


“ Ayo kita selesaikan dulu Dino nya, papa Ias nanti sore saja berangkatnya, kalau sudah gak panas. Ini sudah kesiangan.”


Mereka berkutat lagi dengan rakitannya. Bimo sedang menyelesaikan buntutnya, sambil ngajari Yasmin ngrakit kakinya, kunci awalnya Bimo yg bikin, Yasmin yg nglanjutin. Yudis nyelesaikan kepala dan lehernya yg agak rumit, dan kaki kakinya menyusul.


Sekitar jam setengah sebelas kurang, Datin berangkat, menjemput Bimo sama Yasmin yg rencananya mau diajak makan baso di bethesda. Begitu sampai di Palagan, Datin melihat mereka bertiga masih ngluthek dikamar Mila menyatukan bagian bagian DINO tsb.


Datin speechless, tidak bisa komentar. Melihat kamar Mila seperti kapal pecah penuh sampah plastik bungkus dan kardus. Rakitan Dino sudah hampir tersambung semua penggalan-penggalan anggota badannya. Tinggal nempelkan bagian leher dan kepalanya. Yudis belum berangkat, terlarut asyiek dan penasaran untuk ikut menyelesaikan.


“ Eh ibu…..bu coba lihat ini sudah hampir jadikan? Bagus kan bu?” kata Bimo seperti semangat menunjukkan karyanya.


Yasmin sama Bimo lari menghambur ke Datin untuk salim atau cium tangan.


Yudis masih memakai celana pendek selutut model safari, warna coklat muda dari bahan drill dan T shirt warna putih ngepas badan tanpa kaos dalam, sehingga dadanya yg bidang-atletis tercetak nyata. Dia baru menyadari kalau Datin sudah datang, :


“ Hai Tin, sorry sampai nggak dengar ada mobil datang. Gara-gara Bimo rencanaku ambyar semua. itu mainan bikin addicted, sudah lama Tin?” sapa Yudis sambil bangkit dengan masih megang kepala Dino…..” Iiiich…..sudah rapi mau kemana Tin?”


Datin memakai celana panjang dari bahan katun drill warna kakhi dan kaos lengan ¾ warna hitam, sepatu sneackers, tas LV model casual, rambut diikat panjang sepunggung dengan sun-glasses yg dia lepas dan sangkutkan didada kaosnya. Parfum yg dia pakai adalah merk Lancome yg dikasi Buntas tempo hari.


“ Ya mau jemput Bimo, sekalian ajak Yasmin dan Yanti mau makan baso di bethesda. Lha kok sekarang bocahnya jadi 3, hahahaha……..”kata Datin…” Aku tidak telpon mas Yudis sebelumnya, karena aku pikir pasti sudah meluncur ke Surabaya. Inilah yg aku khawatirkan, Bimo……… apa ibu bilang, Bimo tidak boleh mengganggu yg lain, papa Ias sampai tidak pergi kerja kan?” kata Datin agak kecwa.


Bimo bingung, pada dasarnya dia nyaman kerja sama Yudis dan ingin demo atau pamer didepan papa Iasnya, tapi karena ingat pesan ibunya dia basa-basi


sudah mengingatkan mengapa papa Iasnya tidak berangkat kerja. Kenyataannya Yudis milih tetap tinggal sama dia sangatlah melegakannya.


“ Bimo sudah tanya ke papa Ias tadi kok.” Jawab Bimo membela diri. Datin tidak memperpanjang masalah, tidak ingin memojokkan Bimo didepan orang banyak.


“ Ya sudah, sekarang sampahnya dibereskan, dibersihkan seperti kalau main dirumah itu ya. Terus siap siap kita makan bakso, siapa mau ikuuuut?” tanya Datin.


Kebetulan figurin dino sudah kelar, waktu sudah menunjukkan jam 11.30, saatnya makan siang, tapi Datin mau membawa mereka makan Bakso saja. Kemudian bocah dua itu teriak kegirangan : “Aku ikut makan bakso ya ibu.”kata Yasmin.


“ Iya dong sayang, memang ibu mau ngajak Yasmin sama mbak Yanti juga….……eh, mbak Yantinya mana?” Datin nyari Yanti.


“ Ayo…….bocah tua juga ikut boleh kan bu?” tanya Yudis bercandain Datin.


“ Boleh dong sayang……..”jawab Datin keprucut, tapi berusaha kalm biasa saja.


Deg!.........Yudis kaget, dan melirik ke Datin dengan hati adem, karena dipanggil sayang. Yudis pun bersiap-siap dengan tersenyum bahagia. “Ok….sebentar aku ganti baju dulu yak!”


“ Lho……ga usah mas, orang cuma mau makan di emperan trotoar, panas lagi. Pakai celana safari pendek dan kaos begitu juga sudah ok, keren!” kata Datin sambil mengacungkan ibu jari.


Mereka pergi berlima sudah seperti satu keluarga dengan satu pengasuhnya. Diperjalanan Datin nanya : “ Papa Ias….kenapa kok jadi batal berangkat? Gara gara Bimo ya?” Bimo yg diomongin jadi mengkeret.


“ Aku gak batal, Cuma aku undur nanti sore saja, toh urusannya kan juga hari Senin. Tadinya aku hanya ingin ngobrol santai sama mas Broto sebelumnya. Tapi ngobrolnya sesudah kerjaan kelar kan juga bisa. Don’t worry Tin, gak masalah. Aku malah jadi kepikiran ngajak jagoan satu ini ke Surabaya untuk sparing partner. Asyiek main dan ngobrol sama Bimo itu! Tapi aku tahu, ibunya pasti stress. Bimo kan jagoannya ibu ya Bim, yg jagain ibu kan?” kata Yudis


“ Hahahaha…….iya, jagain ibu.” Jawabnya.

__ADS_1


__ADS_2