
Buntas pas makan malam datang, dia tetap memakai pakaian casual yg enak untuk kerja, jeans biru muda ex levi strauss dengan ikat pinggang hitam keluaran LV dan kemeja cotton putih lengan panjang yg digulung sampai kesiku, serta sepatu cats Nike Air Foamposite. Buntas tampil sporty dengan badannya yg tegap serta wajah tampannya. Pas saat makan malam itu dia mengambil tempat duduk disamping Datin.
Yudis, begitu disamping Datin sudah terisi Buntas dan Susan maka dia mengambil tempat diseberang Datin, biar kalau memandang orang yg mulai dikaguminya tidak harus pakai nengok. Kebetulan mejanya bundar yg isi 6 orang.
Yudis sama dengan yg lainnya, dia tidak sempat balik hotel, hanya sikat gigi dan cuci muka serta semprot parfum saja. Dia memakai pantalon gabardin wall warna hitam dengan kemeja luar batik lengan panjang dari cotton silk dengan corak hitam putih. Dengan memakai sepatu kulit coklat tua merk oliver sweeney ex Inggris. Dengan wajahnya yg bersih tampan, yg sejak wafatnya Mila menjadi pendiam dan tampak lebih matang.
“ Tin, aku punya sesuatu untuk kamu. Aku beli di Belgia beberapa minggu yl, sekarang masih di koporku. Nanti habis ini aku kasi ke kamu. Aku beli beberapa buah dengan beda model, waktu itu untuk souvenir kolegaku. Dan masih sisa.” Kata Buntas.
“ Jangan bilang tadinya untuk pacarmu ya! Bisa kualat nanti lho!” kata Datin.
“ Marion sudah beli sendiri waktu itu, aku ikutan beli karena gak terlalu mahal tapi bagus untuk souvenir, selera dia bagus.” Jawab Buntas.
“ Aaaah……jadi Marion namanya.”kata Datin. Dan Buntas menarik alisnya keatas sambil mengangguk.
“ Lama sekali kita tidak ketemu dan tidak pernah berkabar, banyak kejadian selama ini, bahkan kamu nikah dan sampai mas Pras meninggal. Kerasa sekali kalau kita sudah semakin berumur, aku gak bilang tua ya, hanya saja sepertinya dunia ini berputar tanpa saya. Saya ya begini begini saja tanpa kemajuan.”kata Buntas sambil tersenyum melankolis.
“ Jangan kamu berkata begitu, itu tidak pandai bersyukur namanya. Kamu lihat sajalah masa kecilku atau masa remajaku seperti apa dulu, kita kan besar bersama, kamu tahu pasti. Nikmati saja, ada saatnya kita bahagia Tas, believe me.” Kata Datin… “ Kamu bilang gak ada kemajuan, orang lain yg lihat kamu sangat kagum punya kerjaan diberbagai belahan dunia.”
Buntas tersadar dan malu, mengapa sampai keceplosan bilang yg gak penting. “ Oh…begini…bukan materi maksudku. Ok besok kalau ada kesempatan aku ke Indonesia, aku akan cari kamu dan kita ngobrol banyak ya Tin. Kangen suasana dusun Manding aku. Aku sudah catat email addressmu kok.” Kata Buntas, dia ingat bahwa sosok Datin ini tidak mengenal putus asa, dan sedih. Tidak sempatlah tepatnya.
Yg diseberang sana merasa kurang beruntung dan harus bersabar, tidak berkesempatan ngobrol asyiek seperti Buntas dan Datin. Rupanya makan malam yg dinanti Yudis tidak berjalan sesuai harapannya, bahwa dirinya bisa ngobrol banyak dengan Datin dan sedikit briefing masalah kuliner Eropa ke Datin.
Keesokan harinya, Datin tidak terburu buru mandi, mereka berenam janjian turun sarapan agak siangan, jam 08.00 karena hari pertama kemarin benar benar melelahkan. Tapi Datin kalau sudah bangun biasanya sulit tidur lagi, tadi sehabis sholat subuh matanya kethap-kethip gak mau merem lagi, dia bangkit ngambil box kulit imitasi didalamnya ada brooch perak bakar penuh hiasan batu swarosky, elegant sekali, pemberian Buntas kemarin. Perhiasan ini bisa dipakai brooch bisa juga dipakai sebagai leontin, dan didalamnya sudah tersedia rantai kalung dari perak bakar juga.
“ Waduh bu Datin, bagus banget, ibu beli dimana itu? Pasti bukan di Indonesia, swarosky nya itu lho.” Tanya Susan.
“ Ah……aku juga baru mengagumi ini, katanya murah ini.” Kata Datin
“ Murah bagaimana, itu swarosky kan bu?” tanya Susan.
“ Iya, gosokan Belgia, gosokan sempurna hampir mirip berlian ya, hmmm memang glare banget ini. Dari Buntas, ini sisa Souvenir yg dia beli untuk koleganya pas nangani proyek di Belgia bersama pacarnya.”kata Datin……” aku mau pakai hari ini ah, kalau jatuh diatas kain hitam kan sweet banget ya bu Susan?”
“ Iya banget lah, jadi pingin beli aku.” Kata Susan.
__ADS_1
“ Halah nanti kalau mau pakai tinggal telpon terus tak bawain dan pakailah, beres to?”kata Datin.
“ Hehehe….begitu ya bu?”
Pagi ini mereka berdua bersiap dengan busana yg senada. Datin memakai celana panjang hitam model slack pas body dan blouse tanpa lengan hitam kraag shanghai dari bahan yg sama, dan memakai outer panjang dengan model bagian belakang panjang sebetis berbentuk oval, depan setinggi diatas lutut, dengan lengan panjang. Outer dibuat dari batik sogan coklat dari bahan cottonsilk motif parang rusak kecil. Kombinasi hitam dan coklat sogan menjadikan penampilan Datin formal-anggun, kalau bahasa Jawanya Kereng.
Dengan memakai kalung Swarosky tadi dipadan dengan anting panjang hitam, dan rambut di ekor kuda dengan panjang sampai ke punggung. Wajahnya menjadi clear tidak terganggu rambut sehingga kecantikannya dan asesorinya kelihatan menonjol.
Datin dan Susan memang tampil prima selama di Paris ini, karena sekalian sebagai kapstok Canting House.
Saat mereka sampai di ruang makan mau sarapan, salah seorang petugas hotel sedang menjelaskan berita yg dimuat disalah satu surat kabar Perancis ke Yudis dan teman-teman yg sudah lebih dulu berada di ruang makan tsb. Begitu Datin dan Susan gabung disitu mereka serempak bilang:
“Lha ini dia The Autumn Leaves nya!, Tin lihat nih fotomu kemarin….you are the Autumn Leaves.” Kata Yudis
Dihalaman pertama surat kabar L’Monde edisi yg berbahasa inggris, ada foto Datin sedang menjelaskan pejabat dari kementrian Kebudayaan Perancis, yg diberi judul The Autumn Leaves.
Didalamnya, selain menurunkan berita utamanya berupa pameran heritage, juga sedikit menjelaskan judulnya bahwa busana yg dikenakan Datin berupa kain motif dedaunan dengan warna warni yg menggambarkan warna daun pada musim gugur saat itu.
“ Bonjour madame, ah……your costum now is a little bit to early, but it is ok, within a few moths winter is coming.” Kata petugas hotel tadi. Busana gelap yg dikenakan Datin sekarang lbh cocok untuk musim dingin. Warna-warna hangat.
“ Maturnuwun, jangan bikin aku GR lho mas.” Jawab Datin bahagia atas pujian Yudis. Datin kaget sendiri dengan perkembangan perasaannya ke Yudis, yg mulai merasa nyaman kalau diperhatikan. Meskipun Yudis kalau melontarkan pujian nadanya datar datar saja. Hanya kadang diikuti pandangan yg Datin tidak sanggup menatapnya, takut kejerumus.
“ GR???? Aku jujur kok.” Jawab Yudis kalm, tidak gombal sambil tangan kirinya menepuk punggung Datin.
Mbak Mila, harapanmu sudah mulai meracuniku. Mas Pras, apakah mas Yudis ini yg kamu maksud seseorang yg akan menyayangiku seperti dirimu menyayangiku? Benarkah mas Pras? Dialog imajiner Datin dengan Mila dan Prastowo.
Tidak terasa sudah hari Sabtu 9 September 2006, Datin benar benar tidak ingin bangun dan turun sarapan, sesudah seharian kemarin berkutat dengan rapat rapat dengan para buyer dengan aneka persyaratan ataupun permintaan khusus dari mereka. Dengan satu persatu diselesaikan dengan baik draft kontraknya. Datinpun langsung terjun mengawasi pembuatan laporan, dan menghitung sisa barang yg tidak terlalu banyak.
Bu Minati berperan banyak disini, orangnya memang sigap dan teliti. Dan tidak hanya mendampingi Canting House saja, namun dari peserta indonesia lainnya. Dia seperti terkuras tenaganya.
Semalam saat pisah mau kekamar masing masing, Yudis sempat bilang ke Datin. “ Tin, besok aku mungkin tidak turun sarapan, karena aku sepertinya capek banget, dan ingin sedikit molor. Disini itu sarapan kalau sudah jam 10.00 theng semua sudah masuk di clean up. Karena untuk persiapan Lunch. Jadi kamu gak usah nunggu saya ya.”
“ Baik mas, mungkin aku juga akan molor, tapi lihat situasi besok dah, karena biasanya kalau sudah terlanjur bangun itu susah tidur lagi. Oh ya sekalian saja aku pamit ya mas, besok pesawatku kan jam 18.00, jadi sesudah check-out saya akan jalan disekitar sini sebentar, paling mampir kehotel sebelum jam 15.00 untuk mengambil titipan koporku saja, terus berangkat ke airport. …..jadi malam ini adalah kesempatan terakhir kita ketemu di Paris ya mas?” Pamit Datin, dengan hati berat karena kebersamaan dengan Yudis yg sudah terjalin beberapa hari ini akan berakhir.
__ADS_1
“ Ah, enggak justru aku dari siang akan menemani kamu sampai kamu berangkat, baru aku menyelesaikan urusan kepanitiaan sesudahnya. Kamu mau keluar jam berapa? Jangan aku ditinggal, hanya aku gak breakfast aja!” tegas Yudis.
“ Bro, besok aku off dulu sampai sore ya, rapat jalan aja dulu nanti aku nyusul. Tolong ya bu Minati.” pamit Yudis ke teman panitia yg cowok, sudah cukup tegas bahwa besok Minati tidak ikut Yudis tapi ngurus laporan bersama yg lain.
“ Baik……bonsoir et bonne nuit.” Kata Datin kesemuanya. “ sorry kalau salah bunyinya….hahahah.”
Sehabis itu mereka bubar masuk kamar masing masing.
Keesokan harinya, sekitar jam 07.30, Datin masih gulang guling ditempat tidur meskipun sudah mandi, tapi masih memakai trainning pack yg dia pakai tidur semalam. Susan juga sama, masih memakai celana panjang dan pullover yg dia pakai tidur semalam. Tiba tiba hpnya bunyi.
“ Hallo, good morning.” Sapa Datin.
“ Tin, aku Buntas, aku dibawah nih, mau ketemu sebentar bisa? Aku pagi ini mau ke Swiss ada urusan, jadi aku gak bisa antar kamu nanti, sorry ya Tin. Bisa kebawah sebentar Tin?” kata Buntas.
“ Oh…Ok aku kebawah ya.”
“ Ibu mau ketemu siapa, aku ikut turun ah, mau sarapan saja.” Kata Susan
“ Iya yuk, rugi kalau gak sarapan. Wis bayar larang!” kata Datin.
Sesampai dibawah dia melihat Buntas duduk di Lobby, memakai jeans biru yg Levi Strauss itu dan sepatu yg sama dari Nike Air Foamposite, hanya atasannya yg beda, kaos lengan panjang biru tua yg digulung sampai kesiku, Buntas keren banget.
“ Hallo Tas, wah sudah rapi harum, aku jadi minder ini masih pakai baju tidur. Ada proyek lagi di Swiss ya Tas, hmm luar biasa sahabatku satu ini, seprti gasing kegiatannya.” Kata Datin.
“ Ah…..kamu pakai baju apapun tetap cantik aja Tin, semakin dewasa semakin menakjubkan. Karena isi kepala yg membuat aura bersinar.”
“ Hiiiii……gombal Perancis ini, dulu setahuku kamu kalm deh! Ingat gak kalau mas Pras jemput aku mau terapi dulu, kadang kamu gak nongol, cemburu tapi gak marah, tetap sweet sama mas pras. Itu aku yg terkesan sama kamu.” Kenang Datin.
“ Masa bocah memang sangat menyenangkan ya Tin. …..ah sebelum aku lupa, aku hanya akan mengucapkan selamat jalan, sungguh indah pertemuan kita yg singkat ini, aku hanya ingin titip ini, jangan dilihat harganya, tapi niatku tulus agar supaya bisa kamu pakai sehari hari. Aku pasti akan menemuimu di Jakarta, atau Yogya, atau dimanapun. Sekarang aku pamit dulu ya Tin.”
“ Aku tunggu ya, bersama Marion tentunya.”kata Datin.
“ Aku nggak janji, tapi kalau aku sendiri sudah pasti………… boleh aku memelukmu Tin?”
__ADS_1
Mereka berpelukan lama, “ Terimakasih ya Tas, kamu kasi hadiah terus, tapi aku belum sempat balas, besok kalau di Indonesia ya Tas.” Kata Datin. Kemudian mereka cipika-cipiki dan dengan berat hati Buntas meninggalkan Datin sendiri, Datin mengantar kepergian Buntas yg sudah ditunggu mobil didepan lobby.