
Datin masih termangu, memandang sampai mobil Buntas hilang dari pandangan. Entah mengapa air matanya menitik teringat masa kecil yg menyenangkan.
Saat dia memasuki ruang makan yg dekat lobby, dia melihat Minati sarapan sama Susan.
“ Ibu, pak Dipto itu bekas pacar ibu ya, hayooo?” goda Minati. “ Pak Dipto kelihatannya masih care sekali sama ibu. Tadi seperti sedih begitu saat meluk ibu.”
“ Lho……bu Minati ngintip aku hayoooo.” Kata Datin sambil bercanda. “ Buntas itu sudah punya calon istri namanya Marion, mau dibawa ke Indonesia.”
“ Oh, Marion? Orang mana ya itu. Jangan jangan bule?” tanya Minati.
“ Ah, aku lupa nggak nanya, iya ya lupa. Karena ngobrolnya disela sela waktu sibuk, gak tuntas. Tapi ada nama belakangnya Pratama ingatku kemarin. Paling tidak blasteran.”
“ Blasteran anggora sama condromowo.” Canda Datin
Jam 10.00, Datin dan Susan sudah siap check out, dan Susan sedang menyelesaikan pembayaran di counter. Datin duduk di sofa setelah menyerahkan kopor di concierge
Datin memakai celana jeans cerruti 1881, pakai kaos benneton bahan tebal warna putih lengan panjang, model menutup leher dengan ritzleting sampai keatas. Pakai sneackers dan tas ransel hitam merk Tummy, cadangan baju hangat ada dalam ransel nya. Disemprotkan parfum pemberian Buntas tadi pagi yg aromanya energetic segar campuran antara blackcurrant, pear dan orange blossom keluaran Lancome seri La Vie Est Belle. Sambil menggantungkan kaca mata hitamnya merk oakley dileher bajunya yg dia turunkan sedikit ruitz nya.
Yudis sudah siap di lobby dengan jeans biru kemeja putih lengan panjang digulung dengan memakai jaket kulit hitam, sepatu cats dan kaca mata hitam Gucci yg sudah nangkring diwajahnya, yg secara keseluruhan penampilan duda 35th ini memang sangat keren dan tampan.
Dia nyamperin Datin sambil bilang: “ Harum segar sekali pagi ini kamu Tin, baru kali ini aku melihat kamu berbusana santai memakai Jeans, you look so great Datin.”
“ Lha mau long journey, ya yg praktis saja to, kalau pakai kain takut nyungsep ditangga pesawat.” Jawabnya. Yudis tersenyum geli dengan jawaban Datin yg konyol tadi.
Wajah Yudis tiba-tiba berubah mendung, “ I wish I could go back with you today, but I have to stay.” Katanya menyesali. “Mudah mudahan teman teman bisa menyelesaikannya hari ini dan saya mau ajukan pulang besok sore. Paling tidak untuk aku sendiri. Sudah lama ninggalin Yasmin.” Sambung Yudis seperti kangen banget sama putrinya.
“ Tin kopor langsung dibawa saja, mobilmu sudah kamu batalkan kan tadi malam. Nanti kita muter muter kebeberapa tempat sekedar foto. Eiffel dan Arc de Triomphe keduanya dekat sini, Notre Dame dan Louvre kita lihat nanti waktunya. Tidak masuk sekedar foto didepannya saja, sekedar tanda kalau sudah sampai Paris. Meskipun kenyataannya hanya nguplek di ruangan itu-itu saja, gak ada bedanya sama kantor di Jakarta kemarin itu.”
“ Ok baik, kita dah siap mas.” Kata Datin senang.
__ADS_1
“ Duh senengnya yg mau pulang, ciumku untuk Bimo ya Tin. Papa Ias rindu, bilangin ke anak lanang.”kata Yudis.
Datin terus ingat Mila pernah bilang, bahwa Yudis menginginkan anak laki laki tapi Mila sudah tidak boleh hamil lagi. Terus Mila minta Datin suruh nikahi Yudis. Kalau ingat itu Datin merinding merasakan bagaimana putus asanya Mila yg ingin membahagiakan orang yg dicintainya.
Mereka berkeliling dan berfoto ber tiga. Yudis membawa Tripod, drivernya mengikuti sambil berjaga dimobil kalau tidak mendapat tempat parkir yg pas. Di Paris sangat sulit untuk mendapatkan tempat parkir.
Hari Sabtu 9 September 2006, jam 17.45 waktu Paris. Datin dan Susan sudah duduk di pesawat Singapore Airline. Beberapa saat lagi pesawat akan take off dan terbang menuju ke Singapore. Pesawat yg ditumpangi jenis Boeing 747 dengan formasi tempat duduk klas Yengki atau klas ekonomi premium 2-4-2, Datin dan Susan mengambil posisi yg 2 seats, sisi jendela dan gang.
“ 4 jam terakhir yg padat seperti dikejar-kejar hantu, hanya sekedar numpang foto dg latar belakang obyek wisata bergengsi, tapi tidak menikmati dan menghayati obyek yg kita kunjungi. Tapi suatu saat bilamana Bimo sudah besar aku ingin mengulangi bersamanya.” Kata Datin ke Susan.
“ lain kali kalau ada acara begini, jauh jauh hari sudah menyiapkan cuti dan merancang dengan betul perjalanan kita ya bu.” jawab Susan. “ By the way, pak Yudis itu bener bener mengadakan waktu disela sela kesibukannya untuk menemani kita. Saya melihat sejak almarhumah ibu Yudis masih dalam masa perawatan CA nya, beliau dan keluarga selalu bersama ibu ya bu Datin. Persahabatan yg mengharukan.”
“ Aku hanya berusaha melayani dengan segenap hatiku untuk mbak Mila yg sudah seperti kakakku sendiri. Beliau dikirim Allah untuk membukakan pintu bagiku untuk merobah nasib dengan menggeluti usahaku yg sekarang ini. Dulu boro-boro aku mengenal fashion, beliaulah yg membawaku dan mengenalkan aku ke pak Wibisono, omnya bu Susan itu, yg secara menakjubkan menerima saya tanpa syarat berkat mbak Mila. Beliau berdua, mbak Mila dan pak Wibi sama sama punya insting kuat akan kemampuan saya, yg saya sendiri tidak menyadari awalnya…………..”
Pembicaraan mereka terhenti karena pramugari sedang membagikan makanan, dan ini saatnya makan malam, jam 19.00, satu jam dari take off atau saat pesawat tinggal landas.
Susan dengan mata terpejam pikirannya melayang layang mengenang nasibnya sendiri. Saat dia menyelesaikan S2 nya di Singapore dibidang Interior Design, rencananya langsung akan menikahi tunangannya. Namun nasib yg mengantarnya ke gerbang neraka pada saat ingin memberi surprise kedatangannya ke tunangannya dengan mendatangi ke apartemennya, ternyata mendapati tunangannya sedang tidur bersama sepupu Susan sendiri yg dia sayangi dan dia biayai kuliahnya.
Sejak itu Susan seperti ketakutan untuk berpacaran. Banyak yg mendekati, karena Susan adalah gadis yg cantik dan smart, namun dia belum membuka diri sampai saat ini yg sudah berjalan 6 tahun. Usia Susan sudah 32 tahun saat ini.
Kemudian Susan melihat bagaimana seorang Sri Rudatin yg 2 tahun lebih muda darinya, sudah mengalami tempaan hidup yg luar biasa dengan beda cerita dengannya, dan bisa dia lalui dengan sabar dan bersyukur. Dia bisa melihat dan merasakan ketulusan seorang Datin, sehingga siapapun yg berteman dengannya merasa nyaman.
Konon almarhum suami Datin, Prastowo, adalah tipe laki laki yg mapan, rupawan, sangat mencintai dan melindungi Datin. Susan belum sempat mengenal Prastowo.
Sekarang Susan bisa merasakan juga bahwa ada dua laki laki yg sangat memperdulikan dan menyayangi Datin. Dia melihat perlakuan Yudistira yg selalu melindungi dan mengayomi Datin. Dan datang satu lagi dari masa lalunya, Buntas Pradipto, seorang yg sangat memperhatikan dan menyayangi Datin.
Susan menyimpulkan, mengapa laki-laki yg mendekati Datin adalah model yg baik dan tulus. Itu berpulang dari sikap Datin yg baik dan tulus pula kepada siapapun.
Susan menjadi semakin menghormati dan menyayangi bos nya ini. Dia akan belajar filosofi hidup dari Datin, dan berusaha membuka diri lagi. Dan akhirnya Susanpun tertidur dengan damai.
__ADS_1
Sri Rudatin, sama halnya bahwa dirinya tidak bisa langsung tidur. Pikirannya melayang layang ke kejadian beberapa jam yg lalu.
Saat dia lari lari menyeberang jalan Champs-Elysees mau berfoto didepan Arc de Triomphe, dia masih merasakan kehangatan genggaman tangan Yudis.
Di menara Eiffel, mereka foto ber 3 dengan kamera di bawah untuk bisa menangkap sampai ujung menara. Mereka berfoto dengan mendekatkan wajahnya dimana Datin posisi ditengah. Kehangatan pipi Yudis dan keharuman parfumnaya masih terasa menempel dipipinya.
Didepan Notre Dame, kehangatan pelukan Yudis saat berfoto duduk di trap luar Cathedral, dimana Datin duduk disamping Susan dan Yudis ditrap atas mereka, masih dia rasakan tangan Yudis yg mencengkeram bahunya.
Dan saat yg paling berat yaitu melihat wajah Yudis yg lelah dan sedih saat melepas Datin dan Susan masuk ke restricted area terminal. Dia ingat betapa berat Yudis mau melepas pelukannya.
Perbuatan Yudis jelas menunjukkan perhatian khususnya dan sayangnya ke Datin, namun tidak pernah terucap satu katapun yg menyatakan nya.
Tepat jam 14.00 waktu setempat, hari Minggu 10 September 2006, pesawat mendarat di Changi International Airport. Mereka transit selama 2 jam. Mereka boarding jam 16.00 waktu Singapore, dan pindah pesawat SIA yg lebih kecil jenis B737.
Pesawat Singapore Airline yg mereka tumpangi mendarat di Jakarta tepat jam 16.00 wib, karena penerbangan hanya memakan waktu 1 jam dan waktu di Jakarta adalah satu jam lebih lambat dari Singapore.
Bimo ikut menjeput di bandara, melihat ibunya keluar dari antrian bea cukai dia langsung menghabur ke ibunya. Wukir langsung angkat kopor Datin dan Susan ke dolleys bandara dan mereka menunggu di curb side atau beranda penjemputan.
“ Ibu mana jam tangan ku yg dari papa Ias, ibu bawa kan?” tanya Bimo.
Kenapa dia tahu kalau ada titipan dari papa Ias, “ emang ada ya Bim?” tanya Datin….” Bimo gak ingin oleh-oleh yg dari ibu?”
“ Ibu bawain Bimo apa? Papa Ias kan tadi telpon Bimo.” Jawab Bimo.
Oooo sontoloyo bener ini mas Yudis mendahului surprise ibunya Bimo. Batin Datin
“ Iya …..ada nanti ya, jam nya ada di kopor ibu.”
Yudis nitip jam tangan G SHOCK untuk Bimo. Dan Datin tadi beli Jacket lucu merk Cerruti 1881 untuk Bimo di Duty Free Shop Bandara.
__ADS_1