Canting

Canting
Episode 17b


__ADS_3

Hari kamis siang mereka mendarat di Selaparang, bandara lama Lombok Barat. Mereka langsung meluncur ke Lombok Tengah ke hotel Novotel Coralia di Praya, karena lokasinya dekat dengan desa Sukarara-Jonggat, desa produsen tenun khas NTB dimana CH pesan tenun dari situ. Mereka sewa mobil untuk selama di Lombok. Hotelnya sendiri sudah merupakan tempat wisata ditepi pantai Ratu Mandalika, dengan bentuk pasirnya yg khas seperti buliran merica.


Datin tanpa istirahat sesudah check-in ke hotel langsung berangkat ke lokasi, yg sebenarnya tempatnya kalau dari Selaparang mau ke hotel itu kelewatan tadi, tapi memang harus mengistirahatkan Bimo dulu. Sebelum ke hotel mereka mampir ke rumah makan ayam taliwang dulu di rumah makan 2 M di Mataram. Sementara Datin ke Sukarara, Bimo istirahat di hotel sama Pras. Baru sekitar jam 17.30 itu Datin sampai di hotel kembali.


Begitu lihat ibunya, Bimo yg semula rewel berubah menjadi ceria. Datin langsung megang Bimo.


Pras itu heran bahwa secapek apapun Datin kalau ngurus Bimo gak pernah lelah. Kalau sehari harinya Datin di boutique, nanti sepulangnya dirumah Datin mengambil alih urusan Bimo, dia pegang sendiri sampai Bimo tidur. Urusan Pras pun tidak pernah terlantar. Datin belajar banyak dari ibunya. Pras semakin menyayangi istrinya, dan berusaha membahagiakan sebisa mungkin. Kadang kalau ada dinas ke Luar Negri Datin disempatkan diajak, meskipun hanya 3 hari, seperti belum sebulan lalu ke Thailand. Mereka juga tidak bisa meninggalkan Bimo terlalu lama, itu juga baru dilakukan sesudah Bimo tidak minum asi lagi.


Senin pagi, semua pesanan sudah dikontainer, akan dikawal jalan darat sama Argo sampai ke Benoa-Bali untuk shipping. Segala dokumen yg diperlukan untuk keperluan ekspor ini sudah ada yg diserahi untuk ngurus, dan sudah beres.


Pras lagi sakit karena susah kebelakang sehingga perutnya begah. Pras memang suka susah kebelakang, apalagi pindah tempat pasti butuh waktu untuk bisa kebelakang. Datin ngrawat Pras terlebih dulu karena perutnya kembung dan begah, sesudahnya baru mereka bergegas ke bandara karena mau ke Bali, meskipun waktunya masih longgar namun lebih baik menunggu di bandara saja.


Baru di Bali ini mereka menikmati liburan yg sesungguhnya. Antara main, makan dan istirahat bisa teratur karena tidak dikejar target. Mereka nginepnya di Hotel Bintang Bali Kuta, hotelnya langsung dapat pantai, dan sebelum pantai ada kolam renangnya yg asri, bisa untuk ngrendam Bimo.


Namun menjelang hari terakhir itu Pras buang air besarnya berdarah, serta nyeri perut. Dibawalah ke IGD RS Graha Asih yg di By Pass Ngurah Rai, yg terdekat dengan hotel. Dari hasilnya disarankan dikonsultasikan ke internis untuk mendapatkan hasil yg lebih akurat. Mereka rencana akan melakukannya saat sudah di Yogya.


Sepulang dari Bali Datin membawa Pras ke Internis, kemudian dilakukan pemeriksaan lanjut di laboratorium RS Sarjito dan dikasi obat, dan untuk sementara bisa teratasi. Diagnose sementara opstipasi karena kurang makan makanan berserat. Dan selanjutnya akan dilakukan colon test.


Seiring dengan berjalannya waktu, kondisi ekonomi sudah mulai membaik. BOD BN yg sementara menyerahkan operasionalnya yg di Yogya kepada Datin, dan mereka fokus untuk restrukturisasi permodalan mereka dan sudah mulai bangkit kembali. Mereka berencana meneruskan yg di Kemang. Dengan melihat kemajuan bisnis ekspornya yg ditangani Datin, serta keprofesionalan dan etika bisnis Datin yg bagus, BN akan mengajak Datin dan Pras sebagai partner dengan memberinya prosentase saham yg lumayan besar dengan model pengelolaan yg sama dengan yg di Yogya. Dan boutique di Kemang ini akan diberi nama sama dengan yg di Yogya, Canting House Fashion & Interior, yg merupakan gedung 4 lantai diatas tanah 1000m2.


Pras dan Datin kerja keras untuk menyiapkan boutique yg di kemang disela sela kesibukan mengajar Pras.

__ADS_1


Sementara itu, Yudistira semakin mapan usaha ekspor lobster dan pengalengan ikan nya. Yudis akan mengembangkan bisnisnya ke Australia. Dia mendapat tawaran konsesi lahan didekat Mindil Beach Casino Resort, untuk bikin resto sekalian cold storage. Tapi belum sempat menindak lanjuti untuk survei nya.


Penataan Canting House Kemang (CHK) sudah dimulai, Datin sudah menyerahkan ke Interior Designer langganan yg sudah memahami. Datin atau kadang kadang ditemani Pras kontrol pekerjaan secara periodik ke Jakarta. Untuk manajer Kemang sudah ditunjuk Susan, kerabat pak Wibisono yg lulusan Interior Design Singapore dan sudah pengalaman memegang outlet Duty Free Shop di Kuta-Bali. Ybs memang menyenangi bisnis ini. Dia adalah wanita sebaya Datin terpaut usia dua tahun yaitu sekitar 30 tahunan yg masih lajang yg berpenampilan cantik dan gesit. Ritme kerjanya hampir sama dengan Datin.


Ditengah-tengah kesibukannya Pras kumat lagi, tiba tiba menjelang harus ke Jakarta, dia kram perut yg sangat nyeri disertai kembung. Setelah dibawa ke IGD, membaca hasil lab dan pemeriksaan lanjutan dari internis yg pernah menanganinya disaat sakit awal dulu, Pras dirujuk ke Onkolog di Kotabaru.


Setelah serangkaian pemeriksaan yg lebih detail, beberapa hari kemudian Datin dan Pras dikasi tahu bahwa Pras mengidap kanker usus besar. Datin seperti disambar petir, dia meskipun tidak sampai pingsan, namun terkulai lemas di tempat duduknya.


Kanker usus itu prosesnya sangat cepat, saat ketahuan sudah pada stadium lanjut karena biasanya tidak menunjukkan gejala yg signifikan. Datin membawa Pras ke Mount Elizabeth di Singapore. Serangkaian perawatan dan chemoteraphy sudah dilakukan, Pras dibawa balik ke Yogya pada awal Agustus 2004. Datin sudah melepas semua kegiatan bisnisnya, namun dia kendalikan dari rumah sambil merawat Pras. Datin memutuskan saat dokter Singapore sudah angkat tangan, maka dia akan merawat Pras dirumah dengan menyewa perawat khusus, serta melengkapi dengan tempat tidur dg pedal hidrolik untuk orang sakit, serta melengkapi dengan menyewa alat alat yg diperlukan seperti tabung oksigen dll kerumah. Uang bagi Datin nomor dua, yg penting Pras nyaman ditengah tengah keluarga yg dia cintai. Dan lagi pula keuangan Datin saat sekarang sudah boleh dibilang lebih dari cukup.


Datin sangat sedih dan hampir putus asa, tapi begitu melihat Bimo yg sudah besar, sudah 4 tahun dan tumbuh cerdas seperti duplikat bapaknya, dia menjadi bersemangat lagi. Datin tidak pernah menangis ataupun menunjukkan kesedihannya didepan Pras. Namun saat sholat dan terutama pas waktu Tahajut Datin menangis sepuasnya.


Pras kemudian mencium tangan Datin dan menitikkan air mata yg jatuh ketangan Datin. Datin terbangun, kemudian menyapa Pras: “ Mengapa mas kok menangis, apakah ada yg terasa nyeri lagi?” Biasanya perawat menyuntikkan morphin untuk menghilangkan rasa sakit.


Pras tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “ Aku hanya lelah Tin.” katanya sambil dia melirik melihat Bimo yg berdiri sambil ngintip bapaknya dari belakang kursi ibunya. Datin baru menyadari kalau pagi ini dia ketiduran, karena semalam pasti dia sedikit tidur untuk menemani Pras yg hampir tidak bisa tidur. Ada perawat memang, namun kadang disuruh Datin untuk gantian istirahat. Dan dia baru tahu kalau Bimo sudah balik dari main dan belajar di play group dikompleknya, yg diantar mbaknya dan bu Parinah. Dia yg lucu dan sudah besar selalu ngobrol sama bapaknya kalau sepulang sekolah. Yg kadang Pras bisa terkekeh karena geli.


Datin kemudian mengangkat Bimo untuk didekatkan dan duduk disamping bapaknya, “ Sini… sini nak, duuuh sudah besar ya, ibu sdh tidak kuat lagi bopong kamu.” Sambil dibelainya kepala Bimo, Datin bicara sama Pras :” Mas, coba lihat nih, putra kita sudah besar, dan dia itu cerdas seperti bapaknya lho, tapi ganthengnya melebihi bapaknya lah.” Datin mencoba bercanda…….


Namun jawab Pras agak menyayat namun dia ucapkan dengan mantab : “Memang aku sekarang sudah tidak gantheng lagi Tin, aku sudah kurus dan hitam kotor karena kebanyakan chemo, nanti pasti kamu akan dapat gantinya yg lebih gantheng luar dalam Tin, yg akan mencintaimu seperti aku mencintaimu.”


Datin kaget dan nangis karena dia tidak menyangka akan dijawab seperti itu, dia menyesal dan menjawab : “ Mas Pras itu bilang apa sih, aku kan cuma bercanda. Mbok jangan bikin aku sedih to mas.”

__ADS_1


Pras hanya tersenyum, sambil membelai kepala Bimo. Kemudian Datin bilang: “ Mas Pras, aku janji, aku akan membesarkan Bimo dan mendidik dia untuk menjadi laki-laki kebanggaanmu, berprestasi, penyayang, dan bijaksana. Insya Allah, aamiin.” Kemudian Pras mengaminkannya.


Pada hari Kamis, tgl 21 Oktober 2004, bertepatan dengan bulan puasa, menjelang magrib, Prastowo meninggal dunia. Prastowo meninggal 3 hari menjelang hari ulang tahunnya yg ke 31 th. Dia lahir tgl 24 Oktober 1973, saat fajar dini hari pada bulan Puasa juga.


Banyak kolega yg bertakziah, baik dari kalangan akademisi maupun kalangan bisnis dia dan juga pergaulan lainnya. Karena Pras itu pergaulannya luas, dari fotographi sampai dengan kalangan olahragawan. Datin agak terhibur melihat banyaknya sahabat yg melayat dan mendoakan Pras.


Datin dengan tegar menyampaikan ucapan selamat jalan kepada Pras, yg dia bacakan saat pemakaman, kemudian surat untuk Pras tersebut di grafir dengan tulisan warna emas di Nisan yg terbuat dari Granit hitam yg dipesan oleh BN grup. Bunyi surat tsb:


“Selamat jalan suamiku-kekasihku, engkau tahu, aku dan putramu sangat mencintaimu, namun Sang Khaliq lebih menyayangimu.


Terimakasih kekasihku untuk masa-masa terindah kita. Saya harus mengikhlaskan bahwa mimpi kita harus berakhir sampai disini. Tapi kita sudah sempat menikmati kebahagiaan yg kita perjuangkan bersama, yg semuanya meninggalkan kenangan manis yg terukir indah dihatiku.


Aku berjanji, aku akan membesarkan buah cinta kita, Aryo Bimo, menjadi seorang laki-laki kebanggaanmu, berprestasi, penyayang, dan bijaksana.


Tugasku masih panjang,……………… namun dengan cintamu yg kuyakini selalu bersamaku, insya Allah semua akan terasa ringan dalam menjalankannya.


Istirahatlah dengan tenang disisi NYA, sampai saatnya nanti kita berkumpul kembali.”


Mila sama Yudis belum ada seminggu pulang dari Singapore, setelah seminggu tinggal disana untuk kontrol dan pengobatan jantungnya. Mereka sempat menemani saat Pras dibawa ke Singapore dua bulan yl, sekalian mereka melakukan check up untuk jantung Mila. Mila dari awal pemakaman tidak bisa berhenti menangis, karena merasa di hari hari terakhirnya tidak sempat menemani sahabatnya yg kedekatannya sudah melebihi saudara.


Datin disini justru kelihatan lebih tegar. Untuk sementara dia bisa menghandel tamu tamunya dg baik, yg dalam beberapa hari ini masih banyak yg berkunjung ke rumah untuk takziah. E-mail ucapan duka cita berdatangan dari banyak kolega termasuk dari Ichikawa kolega Pras, juga Kaburagi, Sergei dan rekan rekan bisnis Datin lainnya.

__ADS_1


__ADS_2