
Sesampai dirumah, dan sesudah sholat Isya’, ibunya nyamperi di kamar Pras, dia minta waktu untuk ngobrol.
“ Cah bagus, ibu pingin ngobrol, waktunya selalu gak ketemu. Bagaimana kira kira tadi testnya? Ada harapan atau….?”
“ Insya Allah optimis sih! Soalnya gak jauh jauh dari latihan saat bimbel dulu itu.”
“ Kamu sudah mantep hanya daftar itu le? Gak pingin nyoba juga daftar akabri? Habis test tadi aku tunggu, kok pulangnya telat banget mampir mana to le?” ibunya sudah mulai kepo.
Pras glagepan mau ngomong apa: “ ngluyur dulu sama teman, mbakso, ngobrol, ngrembug cita cita….”
“ Lha tadi Darto mampir sini nyari kamu! Katanya hp mu gak ada sinyal waktu ditelpon. Sama temanmu yg mana to?” tanya ibunya.
Sambar Geledeg bener Darto itu, tadi barusan test bareng gak ngomong apa apa, kok sesudah pisah pulang pakai nyari segala, umpat Pras dalam hati…… “ Oooh….tadi aku main di SMA I, nyambangi sekolah yg mau aku tinggal, ngobrol sama anak osis dan….yaaa….. itu tadi mbakso, bahas cita cita, pas mau pulang ada Datin lagi ngumpul berkas ijazah dll, terus aku antar pulang sekalian, dan lama tadi dirumah Datin ngobrol bertiga sama bu Parinah.” Pras mengarang cerita.
Nah….kena sekarang, batin ibunya. “ waduh ngobrol apa saja sama bu Parinah kok asyiek bener sampai sore. Ngobrol asyieknya sama Datin, atau sama ibunya?” sindir ibunya. “ Ibu sebenernya pingin tahu lho Pras, seberapa jauh sih hubunganmu sama Datin itu?”
Skakmat, Pras ketodong ibunya, dengan hati hati Pras menjelaskan pada ibunya: “ Sejauh mana.........? Ya…. Selama ini aku sama Datin berteman dekatlah, karena aku ada kenyamanan kalau ngobrol sama dia. Aku belum tahu pastinya seperti apa. Meskipun dia jauh lebih muda dari aku, tapi banyak hal yg dia bisa lakukan yg membuatku kagum. Seperti prestasi akademik nya, prestasi olah raganya…….eh ya, kemampuan berorganisasinyapun dia bagus.”
Ibunya menyadari bahwa putranya tertarik kemandirian Datin. Hal tsb tidak mengherankan, karena Datin dibesarkan dilingkungan yg penuh perjuangan, sedangkan putranya dilingkungan yg serba ada dan mudah. Ibunya hawatir kalau Pras menjalin cinta dengan gadis dg strata sosial yg jauh dibawahnya ini akan mempengaruhi reputasi keluarga. Ini jalan pikiran feodalisme yg masih tersisa pada sebagian orang berpangkat di tanah Jawa.
“ Pras…….., sebelum kamu terlalu jauh berhubunngan sama Datin, tolong kamu juga memikirkan reputasi keluarga, terutama kedudukan ayahmu di masyarakat ini. Kita hidup ditengah masyarakat yg penuh dengan tatanan adat dan kepatutan. Jangan sampai terjadi suatu perkawinan yg tidak setara, sehingga tidak bisa masuk dilingkungan pergaulan kita dan akan menjadi beban batin kita. Tolong sadari bahwa kamu itu siapa dan Rudatin itu siapa. Cukup jelas ya pesan ibu.”
__ADS_1
“ Salah Datin apa bu? Kok tidak pantas bergaul dengan aku? Sedangkan banyak orang yg memuji prestasi dia di desa ini? Apa karena dia anak buruh batik nya ibu? Kejam sekali!” protes Pras.
Ibunya terkejut, mulai kehilangan kesabarannya: “ Pras….. kamu disekolahkan tinggi bukan untuk pandai berdebat dg orang tua. Yg jelas, tidak ada orang tua yg akan menjerumuskan anaknya. Kamu pasti akan mendapat ganti yg jauh lebih cocok dan sederajat. Demikian pula Datin pasti akan mendapatkan orang yg lebih baik dan cocok untuk dirinya.”
Pras terdiam, dia menyadari tidak ada gunanya berdebat dengan ibunya. Yg ada akan berakhir dengan tangisan ibunya. Biasanya begitu, namun kali ini dia lagi tidak ingin berdebat. Pras adalah anak bungsu yg meskipun cerdas, namun dari kecil selalu dilayani. Dia dibesarkan dengan kemudahan. Dia dididik dengan penuh aturan dan larangan. Sesudah dewasa mulai muncul sifat berontaknya, kalau ada yg tidak sesuai dengan jalan pikirannya dia akan secara frontal melawan.
Namun secara diam diam dia masih berhubungan dengan Datin. Dia menganggap permintaan ibunya itu sangat tidak masuk akal. Dan pembicaraan dengan ibunya tidak pernah dia sampaikan ke Datin dan keluarganya.
Kuliah sudah mulai berjalan. Pras diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis di UGM.
Pada hari senin ini Datin pulang agak pagian karena beberapa jam pelajaran kosong, guru sedang ada rapat. Sepulang sekolah, Datin disuruh ngantar batikan seperti biasa ke juragan Danu, karena pak Marto sedang tidak enak badan. Datin berangkat pakai motor, seperti biasa begitu masuk pekarangan, mesin dia matikan dan motor dia tuntun.
Dari dalam pendopo muncul Rini, sambil teriak: “ Kok dituntun motornya kan berat to Tin!” sapa Rini dengan ramah. Rini tertegun, sudah lama tidak ketemu Datin, hampir sejak kecelakaan itu sekitar 3 tahunan. Datin tumbuh tinggi semampai dan cantik. Pantes Pras, iparnya yg ganteng itu, kesengsem sama Datin. Mendengar ada suara rame di depan, bu Danu keluar dan menyapa Datin: “ Waduh nduk cah ayu, sudah lam gak ketemu ya. Wah kamu tambah cantik sekarang.” Ibu Danu mengatakan apa adanya, karena Datin memang tumbuh menjadi remaja yg cantik dan semakin terpancar auranya karena isi kepalanya yg memadai, cerdas. Datin mencium tangan bu Danu.
“ Wah nduk sudah lama sekali kamu tidak ngantar batikan lagi ya, aku pangling bener sama kamu, kok sudah sebesar ini ya……” kata bu Danu sambil memandang kagum Datin, lalu dia meneruskan lagi bicara: “ Bagaimana sekolahmu lancar kan?”
“ Inggih bu, alhamdulillah.” Jawab Datin singkat.
“ Nah begini nduk, kamu kan pingin membahagiakan orang tuamu? Aku itu bangga lihat perjuangan orang tuamu, bagaimana mereka berdua membanting tulang demi masa depan putrinya yg semata wayang ini. Dan kamu ternyata tidak mengecewakan, saya dengar kamu itu sangat berprestasi disekolah.”
“ Saya hanya berusaha semampu saya supaya biaya yg sudah dikeluarkan orang tua untuk saya tidak mubazir. Saya sudah pasti tidak ingin mengecewakan beliau bu.” Jawab Datin.
__ADS_1
“ Bener banget. Nah sebaiknya kamu sekarang lebih serius lagi dan lebih fokus ke pelajaran sekolah dulu, untuk bisa mengejar cita citamu. Hal-hal yg sekiranya mecah konsentrasi itu kamu lepas saja. Jangan sampai gagal ditengah jalan karena hal hal yg tidak utama. Aku juga mau minta bantuan ke kamu, anakku Pras itu sekarang kan sering tidak fokus, gelisah. Aku dengar dia itu sekarang lagi dekat sama kamu ya nduk, dan sering main kerumahmu?” tanya bu Danu langsung.
Datin seperti disengat lebah, dia tidak bisa bohong, dia mengangguk.
“ Ya itu lah, kamu tahu kan bagaimana aku sebagai ibunya merasa hawatir kalau sampai konsentrasinya merosot karena terbagi. Kalau sampai dia gagal, betapa kecewanya kita sebagai orang tua yg sudah sejak Pras kecil mengarahkan pada kegiatan yg produktip, sekarang mulai sering ngelayap yg aku tidak tahu kemana. Belum kalau pulang kita jarang bisa ngobrol. Sekali ngobrol lebih banyak berbantahnya dari pada ceritanya. Itu yg terjadi saat sekarang pada diri Pras.” Kata bu Danu sambil mengeluarkan air mata.
Datin tidak kuasa menahan air matanya juga. Dia sedih banget, karena bu Danu menyudutkan dirinya seolah-olah menjadi penyebab perobahan sifat Pras kearah negatif. Ada rasa berontak dari dirinya, tapi tak kuasa, takut dan merasa tidak pantas untuk mengutararkan. Ini efek ajaran bu Parinah, seorang buruh batik, yg selalu minta anaknya untuk mengalah dan melayani orang. Pelajaran ini tertanam kuat dalam dirinya. Dia diam saja sambil air matanya deras mengalir.
Kemudian bu Danu melanjutkan: “ Aku tidak mau kehilangan Pras yg dulu. Aku mohon bantuanmu, bagaimana kalau kalian untuk saling menjauh dulu, kembali konsentrasi ke pelajaran dan keluarga masing masing. Perjalanan kalian masih cukup panjang. Nanti kalau sudah sama sama sukses, itu terserah kalian. Aku juga sudah mulai pasrah dan sulit memaksakan bahwa sebenarnya Pras itu sudah kita jodohkan sejak kecil namun belum pernah kita ketemukan. “
Sampai disini Datin sudah cukup jelas maksud dan tujuan pembicaraan bu Danu. Dia ingat pesan bapak dan juga ibunya, ternyata apa yg mereka sampaikan dan hawatirkan benar benar terjadi. Perbedaan strata sosial menjadi kendala hubungan pertemanannya dengan Pras.
Sesudah selesai pembicaraan yg menguras emosi ini, maka Datin pamit pulang : “ Inggih bu Danu, Datin mengerti dan sangat memahami. Insya Allah saya ngestoaken dawuh panjenengan (menjalankan perintah anda). Saya tidak mau jadi orang durhaka penyebab renggangnya hubungan orang tua dengan putranya. Mohon bu Danu bisa memaafkan saya. Sekiranya sudah cukup Datin mohon pamit.”
Bu Danu terisak, sambil meluk Datin dan bilang: “ Terimakasih dan maafkan ibu ya nduk cah ayu.” Sekali lagi bu Danu mengelus kepala Datin dan melepas Datin pergi.
Didepan, Rini menghadang Datin, dia peluk Datin sambil tidak bisa menahan air matanya juga. Rini paham sifat ibu mertuanya ini, ibu sambung suaminya. Kebetulan orang tua Proborini ini lebih berada daripada aslinya bu Danu ini. Sama sama pengusaha batik. Tapi orang tua Proborini lebih kaya dari pada orang tua bu Danu muda ini. Jadi bu Danu masih ada rasa sungkan sama Rini. Lagi pula Prayudi ini seorang notaris muda yg lumayan sukses.
“ Datin, kamu tidak usah masukkan ke hati omongan ibu tadi. Kamu bisa lebih sukses dari kami suatu saat nanti kalau kamu tekun Tin. Yg kuat dan sabar ya Tin. Kamu tetap adikku.” Kata kata Rini tadi semakin membuat Datin terisak, dia menjawab:
“ Semua yg dibilang bu Danu itu bener kok mbak, sekedar nasihat untuk kembali fokus ke sekolah. Maturnuwun ya mbak, aku pamit dulu.”
__ADS_1
Datin kembali nuntun motornya sampai diregol (gerbang) depan dengan diantar Rini.