Canting

Canting
Episode 3


__ADS_3

Pagi harinya sekitar jam 06.15 Datin sudah selesai sarapan, dia mendengar bapaknya sedang bicara sama seseorang diluar. Biasanya dia ngobrol sebentar sama ibunya dan baru berangkat dari rumah jam 06.30. Pas dia keluar, Datin kaget karena sudah ada Prastowo didepan ngobrol dengan pak Marto.


“ Bagaimana Tin sudah enakan? Siap berangkat sekarang? Sekolahku kan nglewati SMP N I, jadi sekalian saja selama kamu belum pulih benar nanti aku samperin, dan nanti pulangnya nunggu aku sebentar di sekolahmu, untuk nganter kamu fisioterapi ke RSUD, kan tinggal 2 kali lagi to?”


“ Oo…. Saya kan sudah sembuh mas. Sebenarnya gak fisioterapi juga gak masalah, saya merasa pulih kembali lemasnya otot itu karena dibalur kencur sama ibu. Jangan sampai mas Pras nanti keteter kegiatannya gara gara aku.” Kata Datin, terus bapaknya nyambung : “ Aku juga sudah bilang begitu tadi, tapi katanya nak Pras sekalian jalan.”


“ Sudahlah, gak usah dibahas lagi, kalau kita berdebat disini memang jadi bisa keteter telat bener aku nanti.”


Demikian, pagi itu Datin diantar Pras, saat turun dari motor dan mulai jalan tertatih tatih banyak mata yg melihat kearah mereka berdua.


Sahabat Datin, Surtini dan Ambar nyamperin dan nuntun Datin. Selama Datin tidak masuk sekolah selama 2 hari kemarin, mereka berdua tiap sore main kerumah Datin sambil minjami catatan pelajaran dan ngerjakan PR bareng. Mereka berdua kebetulan rumahnya tidak jauh dari rumah Datin. Rudatin adalah pribadi yg menyenangkan, ringan tangan dan perhatian serta lebih bersifat ngemong sama teman, sehingga banyak yg menyayanginya. Dikelas Rudatin banyak dikunjungi teman, baik yg seangkatan maupun kakak kelasnya yg pengurus osis. Mereka ngriung sampai bell berbunyi untuk mulai pelajaran.


Tapi tadi pagi, ada sepasang mata dari dalam kelas 2B yg memperhatikan kedatangan Datin dengan rasa cemburu, dan menjadi kurang bersemangat menjalankan tugas kepanitiaannya. Cinta monyet sangat rawan terhadap pasang surutnya semangat berkegiatan.


Bell berbunyi tanda sekolah telah usai, seperti biasa anak anak berhamburan keluar. Saat Datin keluar dari kelasnya, diselasar depan pintu kelas telah menunggu Buntas, sambil tersenyum Buntas menyapa:


“ Bagaimana Tin, sudah lumayan sembuh kan?, biar aku antar saja dulu, kamu kan belum bisa pakai sepeda lagi. Meskipun rumahmu dekat tapi kalau kondisi kakimu belum pulih bener ya masalah juga kalau harus jalan kaki.”


Sapaan simpatik Buntas menyejukkan hati Datin. Dua hari gak ketemu ada rasa kangen juga sama pemuda simpatik yg tampan ini. Buntas anaknya memang santun dan kelihatan jauh dari tampang norak. Sambil mereka berjalan beriringan keluar, Datin melihat Pras baru datang dan sedang mengambil posisi nunggu dibawah pohon depan sekolah.


“ Eh begini Tas, aku itu masih harus terapi 2 kali lagi, dan sudah ditunggu mas Pras, anak juragan ibuku yg nabrak waktu itu lho, jadi aku tidak bisa ikut kamu dulu ya. Lagian….rumahmu kan berlawanan arah sama rumahku.” Jawab Datin.


Buntas menengok kejalan dan dia melihat Pras masuk nyamperin Datin, sambil menyapa penjaga sekolah yg memang kenal baik sama Pras karena dulu Pras juga sekolah di sini. Sambil tersenyum dan menyapa Buntas Pras jalan disamping Datin yg sedikit tertatih menuju motor Pras. Hati Buntas ada rasa seperti tercubit, tapi dia balas tersenyum dan menyapa Pras: “ Hati hati mas dijalan………bawa pecah belah.” Mereka ketawa.


Sesampai di RSUD mereka tidak langsung ke bagian fisio terapi, tapi menuju kantin. Pras ngajak makan terlebih dulu: “ Tin, kita makan dulu karena terapimu kan 45 menit belum termasuk nunggu gilirannya, sedangkan sekarang sdh jam 14.00 nanti kamu pingsan, jadi nambah urusannya.”


Tapi Datin nolak, dan lagian dia tidak lapar dan sudah biasa makan menjelang sore terus tidak makan malam lagi. “ Mas, saya gak lapar dan pingin buru buru kelar terapinya, sementara saya terapi mas Pras dahar (bahasa jawa utamanya: makan) aja dulu, nanti selesainya kan bareng.


“ Haduuh, gak ada yg mulus bicara sama kamu itu, tapi….. ya sudahlah kamu sangu lemper sama bakpao atau apa, dan sekalian air minum terus kamu bawa dan makan sambil nunggu giliran.” Kata Pras sambil narik tangan Datin suruh milih kue.

__ADS_1


Akhirnya Datin nunggu giliran sambil makan kue, dan Pras pergi nyari soto didepan rumah sakit.


Serangkaian fisio terapi sudah dijalani dan sekarang Datin sudah sembuh seperti sedia kala, dia sudah kembali bersekolah seperti biasa dengan mengendarai sepeda. Hari hari diminggu kedua Desember ini full kegiatan ekstra kulikuler, berupa pertandingan dan bazar. Buntas sudah agak lega karena sudah tidak melihat bayangan Prastowo lagi antar jemput Datin.


Meskipun Datin sudah sembuh, orang tuanya tidak berani nyuruh Datin ngantar batikan ke Tembi lagi. Meskipun tidak terlalu jauh namun lewat jalan besar jl Paris, atau jl Parangtritis yg banyak kendaraan besar seperti mobil dan truk, karena bapak dan ibunya masih trauma. Jadi yg antar sekarang pak Marto sendiri sepulang dari beresin SD Manding sesudah sekolah usai, sebelum mulai menjahit pesanan toko tas disana.


Datin sekarang sudah duduk dibangku klas I SMA, dia sekolah di SMA N I Bantul, satu rayon dan dekat dengan SMP N I tempat sekolah Datin sebelumnya. Datin satu sekolah dengan Prastowo di SMA N I tsb, hanya saat Datin baru masuk klas satu, Pras sudah klas tiga.


Sedangkan Buntas, teman dekat Datin, meneruskan SMA nya dikota Sidoarjo-Jawa Timur, mengikuti pindah tugas orang tuanya. Jadi cinta monyet Datin menjadi pudar.


Tahun ajaran baru sudah mulai, dan saat akhir masa orientasi siswa, atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, Datin terpilih menjadi tim inti basket di SMA N I. Postur tubuhnya yg tinggi sangat menunjang, selain memang sejak dari SMP Datin adalah tim basket disekolahnya. Selain basket, olah raga yg dia kuasai adalah renang. Sejak kecil jarang yg bisa ngalahkan kegesitan dia berenang saat main di sungai Anak kali Opak waktu itu.


Pada bulan Agustus, dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan Nasional, ada lomba olah raga antar kabupaten di DIY. Banyak cabang olah raga yg dipertandingkan, diantaranya basket putri. Di cabang olah raga itu Datin kepilih menjadi tim untuk Kabupaten Bantul, yg merupakan campuran atlit pilihan dari beberapa SLTA di Bantul.


Beberapa cowok SMA N I banyak yg nge fans sama Datin, karena cantik an gesit. Saat latihan dilapangan pemda Bantul, banyak para penonton yg hadir memberi semangat. Cowok cowok pada brisik :


“ Ayo jangan lupa nanti lihat cewek gua main ya!” kata salah satu dari mereka, di timpali yg lain :


“ Zaenab kan sejalan ma gua rumahnya, dulu duluan nyamperin aja besok.” Serang yg lain lagi.


Karena postur tubuhnya yg tinggi semampai dan wajahnya yg sangat mirip artis Maudy Kusnaedi yg memerankan karakter Zaenab pada sinetron si Doel Anak sekolahan, maka para fans bola basketnya menyebut Datin dengan nama Zaenab.


Saat latihan tersebut, Prastowo datang ke lapangan sebagai tim official kab Bantul, selain itu orang tuanya juga sebagai salah satu sponsor olah raga kab Bantul tsb. Dia penasaran temannya pada heboh meributkan Zaenab - Zaenab, siapa yg diributkan ini sebenarnya.


Permainan basket putri tsb sangat seru. Tim basket Putri Bantul ini ada dua atlit favouritnya, dimana dua duanya dari tim inti SMA N I, yaitu Retno anak klas dua, yg memang anak pelatnas Bantul, dan satunya adalah Datin anak klas satu. Mereka menjadi favourite atlit dengan keahliannya masing masing. Retno yg tidak terlalu jangkung sangat gesit dalam mengecoh langkah lawan serta merebut bola lawan. Sedangkan Datin, si jangkung dengan langkah yg kalm dan fokus tapi tembakan bola jarak jauhnya akurat, bola yg sudah ditangannya jarang meleset dari keranjang. Kombinasi keduanya sangat membuat atraksi basket ini penuh teriakan histeris serta menyedot banyak penonton.


Permainan basket putri ini juga menarik perhatian Prastowo untuk mencermati. Dia baru tahu subyek yg diributkan teman temannya itu. Diapun terpesona melihat Datin sudah tumbuh dewasa dan cantik sesudah sekitar kurang lebih satu setengah tahun jarang atau bahkan hampir tidak pernah ketemu.


Hampir tidak berkedip Prastowo memperhatikan manouver Datin dengan wajah fokusnya dan gerakannya yg atraktif seperti balerina yg mematikan lawan.

__ADS_1


Sejak itu, Prastowo seperti ketarik magnit untuk memfasilitasi Datin, mensuport dengan mengambil alih antar jemput saat latihan. Mengantar Datin dari sekolah ke tempat latihan dan mengantar pulang kerumah.


Tiba tiba timbul perasaan posesif ke Datin, saat banyak yg nggodain Datin yg cantik ini dengan memanggil-manggil :


“ Zaenab……..Zaenab……..godain kite dong.” Terus Prastowo dengan tenang melangkah jalan disamping Datin seolah-olah memagari, sebagai pengganti kalimat: “ she is belong to me!”


Perasaan tersanjung tumbuh di dada Datin, didampingi senior yg simpatik. Benih benih cinta diantara keduanya mulai tumbuh dengan manis.


Dan, hasil memang tidak pernah menghianati usaha. Untuk cabang Bola Basket, Kabupaten Bantul meraih juara pertama.


Masing masing atlit peraih juara satu untuk Kabupaten Bantul dikasih hadiah uang dari Bupati Bantul. Datin menyerahkan uangnya ke bapaknya untuk nombok nyicil beli motor.


Prastowo dengan Sri Rudatin sudah berpacaran selama 3 bulan. Gaya berpacaran mereka halus, tidak mencolok. Kalau Pras main kerumah Datin, tidaklah khusus malam Minggu, tapi kalau berkesempatan pas nganter pulang Datin dari nonton pameran buku, atau nonton Pras main futsal dan kegiatan kegiatan seperti itu, dia ngobrol sebentar dirumah Datin dengan duduk diatas motor dibawah pohon sawo. Begitupun rasanya sudah bahagia.


Pada kesempatan yg serupa, sepulang Pras dari rumahnya, saat itu sekitar jam 16.00, Datin mau mandi dan sholat ashar, ibunya ngajak ngobrol Datin :“ Nduk, nanti sehabis mandi dan sholat ashar, bantuin ibu beberes teras bekas tempatku mbatik ini, aku mau nyiapkan teh dan manasi makanan dulu, nanti mau aku pakai nglipat cucian, biar enak untuk duduk duduk sambil nge-teh sore ini.”


“ Nggih bu, nanti aku beresin.” Jawab Datin. Sesudah semuanya beres, ibunya duduk ditikar ditempat dia mbatik yg sudah bersih, sambil nglipet cucian dia nanya ke Datin :


“ Nduk, ibu mau nanya, kok sepertinya kamu dengan nak Pras itu runtang-runtung, apakah kamu ada hubungan spesial dengannya, ya…lebih sekedar temanlah maksud ibu?”


Datin agak tersipu malu sambil menjawab: “ Kalau misalnya iya, memang kenapa to bu? Aku juga tidak mungkin bohong dengan bilang tidak ada yg istimewa, karena kenyataannya kami sering bersama.”


“ Iya, begini nduk, aku juga susah mau ngomongnya itu. Sebenarnya tidak ada yg salah, tapi ada yg ngganjal untuk posisi kita ini nduk. Kamu jauh hari harus sudah siap kalau ada omongan yg kurang pas ditelinga kita. Kita itu siapa, dan nak Pras itu siapa. Jangan sampai suatu hari kamu kecewa, terus mempengaruhi prestasi sekolahmu. Ibu itu Cuma tamatan klas 4 SD, wong bodo nduk, sudah kenyang cemoohan. Ibu pingin kamu jadi orang sukses dengan melalui pendidikan yg setinggi kamu mampu dan sekuat orang tua mampu membiayai. Otakmu itu encer seperti bapakmu nduk.”


“ Nggih bu, saya tidak mungkin meninggalkan cita cita ku bu, itu sudah pasti! Sejauh Tuhan mengijinkan, insya Allah.” Datin meyakinkan ibunya.


“ Begini nduk, kamu berteman ya jangan terlalu kamu masukkan ke hati banget, nak Pras itu putra bangsawan, pejabat dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung, apa ya rela putranya dapat anak salah satu dari buruhnya.” Ibunya mulai terus terang ke pokok persoalannya, yaitu strata sosial yg berbeda. Kemudian ibunya meneruskan: “ Maksud ibu, kalau sampai kita di ambil menantu, ya paling menjadi selir atau malah apes jadi gundik bahasa kasarnya. Ini sisa sisa tradisi yg sangat memalukan di tlatah Jawa, dimana kita dilahirkan, hidup dan tinggal. Ya… tidak semuanya bangsawan Jawa seperti itu, banyak juga yg sudah tidak memandang berbedaan derajat lagi.”


Datin kaget dan merasa ciut hatinya. Meskipun ya pertemanannya kan masih jauh dari menjurus kesebuah perkawinan. Namun ujungnya pastilah sampai kesana. Datin terdiam, tidak ada bahan untuk menjawab.

__ADS_1


“ Yo wis nduk, jangan jadi beban pikiranmu. Hanya sekedar memberikan gambaran saja, dan supaya kamu lebih siap dalam segala kemungkinan untuk bisa menghadapi dengan bijak. Yg penting kamu ingat selama orang tua sanggup membiayai, meskipun ibaratnya sampai ndlosor ndlosor sekalipun, kamu jangan sampai putus sekolah. Cukup kita orang tua saja yg bodo.”


“ Nggih buk, insya Allah.” Jawab Datin sambil sesak dada menahan tangis. Dia melihat betapa kerasnya perjuangan kedua orang tuanya untuk masa depan putrinya. Dia tidak akan mengecewakannya.


__ADS_2