Canting

Canting
Episode 15


__ADS_3

Datin hari itu hanya sebentar keluar disekitar Hotel untuk foto foto dan hanya jalan kaki, serta nyari makan. Dia berangkat tadi sesudah bebenah kopor untuk persiapan mau pindahan ke apartemen. Padahal jatah hotel masih satu malam lagi di Kario Sasazuka Terrace ini, sedangkan tiket pesawat sudah di reroute sejak sebelum berangkat. Kira kira jam 14.00 lebih sedikit Datin sudah sampai hotel, karena sudah dipesan Pras untuk tidak jauh jauh.


Sesampai di lobby dia ketemu Pras sedang berbincang dengan seseorang, yg kemudian dikenalkan Pras ke Datin. Tin ini mr Ichikawa, dia yg memandu diskusi kita tadi tentang Business Model and Frame Work. Beliau ini masih muda lulusan Harvard Business School. “ Ichikawa san, here is Datin, my wife. She is also Economy and Business graduate.” Pras mengenalkan istrinya ke Ichikawa. Konon Ichikawa ini sedang akan melanjutkan doktornya di Harvard.


Tepat jam 18.00 mereka dijemput Kaburagi untuk pindah ke apartemen nya. Di apartemen sudah nunggu nyonya Kaburagi yg datang ke apartemen untuk menyiapkan apartemen karena akan dipakai Pras dan Datin. Apartemen Raffine Nishi di Shinjuku utara, merupakan apartemen cukup bergengsi dengan sekelilingnya banyak terdapat toko, resto dan café. Dilantai bawah apartemen tersebut ada coffee shop Raffine yg cukup besar.


Pras dalam hati mengakui dan memuji pandainya Datin dalam menjaga hubungan dengan para relasi bisnisnya, sehingga bisa punya kolega akrab seorang pengusaha papan atas di Jepang. Dan sekarang dia lagi numpang ikut menikmati fasilitasnya. Kecerdasan emosi Datin memang sudah tertempa sejak kecil, terbiasa melayani orang dengan hati, sehingga memupuk kenyamanan dan kepercayaan orang kepadanya.


Malam itu mereka berempat, dua pasang suami istri ini menikmati makan malam di Ginza, di Tempura Kondo. Datin mengamati penataannya yg unik seperti penyajian tepanyaki tapi bukan penggorengan yg flat rata, namun penggorengan yg cekung deep fry, dikelilingi meja saji dan pembelinya yg mengitarinya. Sungguh makan malam yg nikmat sekali, disajikan panas panas langsung dari penggorengan ke mangkuk tamu dihadapannya, disantap sebagai teman nasi yg sdh disiapkan di mangkuk masing masing tamu. Dan yg penting lagi adalah karena gratis.


Kaburagi kenal baik sama chef nya, Taguchi, pria paro baya yg ramah. Datin mengobrol banyak sama chef tadi sambil makan. Obrolan diakhiri dengan penyerahan oleh-oleh untuk Kaburagi dan istri, berupa hem dan cardigan batik.


Selesai makan malam yg diselingi obrolan hangat, tepat jam 21.30 mereka pulang dengan terlebih dulu ngedrop Pras dan Datin ke Apartemen.


Pras dan Datin akan tinggal 2 hari lagi di tokyo, kemudian ke Kyoto 2 hari dan terakhir 1 hari tour ke Osaka. Dia akan pulang ke Indonesia dari Kansai International Airport.


Keesokan harinya, pagi pagi sekali, sekitar jam 06.00 mereka sudah dijemput mobil hiace isi 14 orang dari travel . Mereka ikut paket one day tour bersama 5 pasang atau 10 orang touris lain ke Fujiyama, pulang ke Tokyo muter lewat dan mampir di Yokohama.

__ADS_1


Saat turun dari gunung Fuji mereka makan siang di Fuji Tempura Idaten di kota Kawaguchi, kemudian lanjut perjalanan ke Yokohama untuk menikmati kota terbesar ke 2 di Jepang sesudah Tokyo. Mereka dibawa keliling pusat peradaban modern di Yokohama ini. Sebenarnya mereka melewati Taman Yamashita, tapi musimnya tidak tepat, karena pas musim gugur sehingga tidak bisa melihat bunga. Trip Yokohama berakhir di pusat belanja Yokohama World Porters, mereka makan sore Jam 18.00 di resto Sario Heichinsaryoo yg belum ada setahun meluncurkan menu Ramen Halal, untuk memfasilitasi touris muslim yg semakin banyak di Jepang.


Sesudah itu mereka pulang ke Tokyo yg memakan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan. Sampai apartemen sekitar jam 21.00.


Keesokan harinya mereka berangkat agak siang melakukan city tour sendiri dengan naik public transport. Mengunjungi Asasuka kuil, Imperial Palace dan Tokyo Tower. Kesan mereka bahwa Arsitektur tradisional Jepang adalah ringan, anggun dan cantik. Namun ada beberapa gaya arsitektur modern Jepang yg meniru persis model luar tanpa basa-basi, seperti gerbang Istana meniru persis gerbang Buckingham Palace di Inggris, juga Tokyo Tower yg menyerupai Menara Eiffel di Paris.


Hari ke 7, Sabtu pagi mereka sudah naik kereta Shinkansen ke Kyoto dengan perjalanan kurang lebih 2,5 jam. Mereka check in di hotel Ibis Style. Dan siang itu juga mereka manfaatkan untuk pergi ke Kiyomizu Dera Temple, karena letaknya dibukit, pemandangan hutan dibawahnya yg mengelilingi kuil tsb tampak eksotik sekali dengan rimbunnya warna warni dedaunan di musim gugur ini. Itu semua tidak luput dari jepretan foto Pras sebagai latar belakang untuk mengabadikan dirinya dan Datin, dg menggunakan bantuan tripot yg selalu dibawa. Juga foto mereka dg latar belakang tiang kuil yg setinggi 30 m, karena fotografi adalah memang hobby Pras.


Hari ke 8, mereka tour sendiri, tidak banyak yg dikunjungi. Mereka mengunjungi Imperial Palace Kyoto, karena Kyoto adalah ibu kota lama sebelum pindah ke Tokyo. Hari itu sebelum makan malam, mereka mengakhiri perjalanannya di kuil Fushimi Inari Taisha, sengaja pas senja untuk kesininya karena ingin berfoto berdua dengan latar belakang keunikan deretan gerbang merah kuilnya yg eksotik karena efek sinar lampu yg meneranginya.


Hari ke 9 atau tepatnya hari ke 5 tour mereka, karena hari pertama adalah awal kedatangan mereka yg langsung check in ke hotel, dan 3 hari berikutnya adalah acara seminar, mereka ikut half day tour ke Osaka. Mereka mengunjungi Dotonburi, merupakan sudut kota wisata yg konon banyak copetnya, sehingga mereka ekstra hati hati. Mampir ke kastil Shogun abad ke 16, kemudian ke tower Tsutenkaku tapi tidak naik, hanya mampir foto karena waktu tournya gak cukup. Kemudian sebelum balik ke Kyoto stop di Shisaibashi untuk beli oleh oleh khas jepang, kue terbuat dari tepung beras dan semacamnya, dan kerajinan khas jepang lainnya, sambil makan siang disitu.


Sesudah beres semua dan makan, Datin bangkit mau mandi: “ Mas aku mandi dulu yah, semua sudah beres kan?” kata Datin sambil bawa baju tidur bersih, dia pingin tidur pulas dengan pakaian serba bersih.


Pras nyeletuk: “Eit..eit…nyonya Pras, tanggung jawabnya belum kelar lho! Honor tukang foto belum diberesin!” Datin nyautin: “ Hmmm….” Sambil mencibirkan bibirnya yg cantik.


Saat Datin keluar dari kamar mandi Pras nyamperin sambil meluk dan menciumi istrinya yg sudah segar dan wangi sambil membisikkan dengan mesra ketelinga istrinya: “ hmmm cantik sekali sih istriku ini….”

__ADS_1


Datin mendorong Pras kekamar mandi: “ Aaaaah …….….mandi dulu sana, jadi gerah lagi ni…huuh!”


Selesai Pras mandi, dia mendapati Datin sudah tergolek cantik, tidur lelap kelelahan dengan senyum kebahagiaan tersungging dibibirnya. Dia dekati Datin, tapi tidak tega membangunkannya. Pras sangat terharu melihat Datin begitu bahagia selama di Jepang bersamanya. Dia ungkapkan kebahagiaannya dengan selalu memanjakan Pras dengan tindakan tindakan yg menyejukkan, yg membuatnya bahagia dan semakin mencintainya. Pras rela menguras tabungannya untuk membahagiakan istrinya yg sejak kecil hidupnya penuh perjuangan, kadang diselingi tangis karena direndahkan orang, diperlakukan tidak adil seperti perlakuan bu Danu, ibunya Pras, kepadanya waktu itu. Datin pandai menyembunyikan kesedihannya dibalik senyumannya. Datin yg selalu melayaninya dengan ikhlas dan kasih sayang yg tulus.


Tidak terasa Pras menitikkan air mata. Entah mengapa ada dorongan kuat dalam diri Pras akan sering melakukan pesiar bersama istrinya untuk memberikan kebahagiaan ke Datin, ya…ingin banyak membangun kenangan dengan istri yg semakin dicintainya. Diciumnya pipi istrinya dan Pras pun tertidur pulas sambil memeluk istrinya.


Bulan madu sudah berakhir, kegiatan rutin mulai menyibukkan keduanya, namun seperti baterai yg baru di charge, mereka semakin mesra dan saling menyayangi dan care satu sama lain. Itulah mengapa bulan madu itu secara periodik perlu diulang.


Pada akhir November menjelang bulan puasa, pas Datin giliran masuk kerja, salah satu bos BN yg dari Jakarta, pak Wibisono, didampingi bu Meta, bos yg di yogya, menemui tamu sepertinya dari etnis tionghoa, sedang meninjau outlet Tirtodipuran. Mereka berbincang agak lama kemudian tamunya pulang. Datin membantu menginventarisir semua sisa komoditi, dan memisahkan sesuai asal supliernya. Pak Wibisono mendatangi Datin : “ Datin, saya terimakasih sekali ke kamu, dalam situasi seperti ini kamu masih setia disini, sedangkan kamu sudah sarjana sekarang, pekerjaan ini sudah jauh dibawah kapasitasmu, meskipun jujur saya sangat terbantu sekali denganmu. Gaji disini saat sekarang sudah tidak pantas lagi, tapi mau memperbaiki juga perusahaan tidak mampu. Suamimu kan staf pengajar UGM, apakah suamimu tidak keberatan?”


Datin kaget dan sedih tidak bisa segera menjawab. Pak Wibisono adalah bos yg mewawancarai dia saat mau masuk dan langsung nyuruh Datin kerja waktu itu. Sambil terharu Datin menjawab: “ Pak Wibisono, bagaimana saya mau meninggalkan perusahaan yg sudah membesarkan saya, dari bocah ingusan yg gak punya apa apa selain tenaga sampai bisa jadi serjana seperti sekarang. Apalagi sekarang perusahaan ini, mohon maaf, sedang sekarat. Jangankan saya masih dapat ganti uang transport seperti saat ini, seandainya tidak digajipun saya merasa berkewajiban untuk balas budi membantu merapikan semuanya ini. Saya sudah mendapatkan keuntungan yg melekat seumur hidup pada diri saya dari hasil disini, yaitu gelar Sarjana saya.” Selesai bicara Datin tidak bisa menahan air matanya lagi, demikian juga bu Meta langsung memeluk Datin dan menangis.


Pak Wibisono terharu mendengar jawaban Datin, Datin adalah seorang intelektual yg berkelas dan bekerja dengan hati, itu kesan Wibisono, kemudian sambil matanya ikut berkaca-kaca dia menanyakan: “ Suamimu bagaimana bu Datin?” tanya pak Wibi sambil merobah panggilannya ke Datin dengan menambahkan kata bu.


Datin jadi ketawa: “ Panggilan asing itu pak Wibi, bagi saya. Bisa gak nengok nanti saya, karena gak merasa dipanggil. Datin saja manggilnya pak! Oh ya suami saya menyerahkan semuanya ke saya, dia orang yg sabar dan bijak pak, dia bahagia kalau saya bahagia, dia sangat mendukung tindakan saya ini. Saya juga tahu diri tidak melalaikan kewajiban saya untuk rumah tangga saya.”


“ Sampaikan salam hormat saya untuk pak Pras ya. Saya tadi merasa seperti dikencingi muka saya oleh teman baikku sendiri. Dia nawar outlet saya kok ya tega tidak sampai sepertiga harga pasar, kalau separo gitu masih aku pikirkan. Rasanya pingin tak bakar saja ini gedung dari pada dilecehkan orang yg lagi sukses panen dollar dan sadar kalau yg dihadapi lagi ndlosor butuh uang. Mending tak minta bu Datin mengelola untuk apa kek. Terus terang kita lagi konsentrasi ke hal lain untuk penyehatan usaha ini dan usulan restrukturisasi hutang ini, dan tidak bisa terpecah dg urusan lain. Bakal mangkrak ini Tirtodipuran.”

__ADS_1


Pembicaraan yg menguras emosi tadi membuat Datin pusing dan mual. Dia lari ke kamar mandi diikuti temannya: “ Heh…heh ngapain mbak kok lari lari ke toilet?” tegor temannya, “ Diare ya? masuk angin kali ya? Mau aku gosokin minyak angin atau tak kerokin?”


Datin muntah muntah dan badannya lemes. “Aku mbayangin tamunya tadi kok jadi pingin muntah! Apa hubungannya coba?”


__ADS_2