Canting

Canting
Episode 25


__ADS_3

Senin siang tgl 2 januari, Datin langsung ke CHK untuk melihat suasana boutique selama dia tinggalkan berlibur akhir tahun. Dimejanya ada amplop coklat besar tertutup dari staf Keuangan yg dipimpinnya. Datin membuka amplop besar yg didalamnya terdiri dari 2 amplop sedang. Amplop satu berisi laporan rincian Tentiem atau deviden bagi para direksi dan pemegang saham, sedangkan amplop kedua berisi daftar bonus para fungsionaris dan karyawan CH.


“ Mbak Dewi, bisa kemari, aku tunggu diruang saya.” Datin menelpon pejabat keuangannya.


Sesudah yg dipanggil ada dihadapannya, Datin menginstruksikan: “ Daftar sudah saya tanda tangani, karena saya lihat semua pejabat terkait sudah tanda tangan, jadi langsung aku sahkan saja. Tolong hari ini juga ditransfer kesemua addres, jangan tunggu sampai keringat mereka kering, kata orang bijak begitu, hahahaha……..”


“Siap bu,…..segera saya kerjakan.” Jawab Dewi dengan semangat.


Datin sudah berniat akan mewujutkan cita cita awal saat masih kecil dulu. Dia selain bisnis yg sekarang ini dia tekuni, yg tidak sengaja dan tidak terbayang sebelumnya menjadi sukses dan berkembang dengan pesat seperti bola salju, Datin sebenarnya punya cita cita masa kecil kalau pingin punya toko bahan pangan, atau sembako plus.


Datin melihat banyak kerabatnya dikampung yg butuh pertolongan, dan Datin akan membuka usaha tsb untuk mempekerjakan mereka. Datin juga sudah membantu kerabat yg punya keahlian membatik seperti ibunya.


Deviden yg dia dapat tiap tahun dia tabung dan sebagian dia belikan Logam Mulia, yg rencananya nanti akan dipakai untuk mendirikan usaha sembako plus-plus itu, kalau waktunya sudah tepat.


Datin lagi membereskan kerjaan diruangannya, Susan masuk. “ Happy New Year ibu Datin, wish us be better this year and after……” salam Susan sambil meluk dan cipika cipiki dengan Datin.


“ Ada berita menarikkah selama liburan kemarin bu Susan?” tanya Datin


“ No, ……….ah, wait…. ya bu, ada mr Aaron Smith, dia sedang berlibur Natal dan Tahun Baru ke Bali bersama istrinya. Saat sebelum berangkat dia sempat mampir sini nanya ibu, dia iseng mampir dan tidak ada hal khusus katanya, jadi tidak kasi kabar dulu. Dia keliling boutique kita dan sempat menanyakan kursi panjang Jati Jepara dengan Cushion Batik yg dilantai 4 itu.” Kata Susan


“ Sofa panjang bikinan pak Baskoro Semarang?” tanya Datin. Pak Baskoro adalah pamannya Yudis, pengusaha meubel yg dulu pernah ketemu dirumah Yudis, tapi sekarang sudah menjadi tenant atau punya showroom di CHK. “ Mungkin dia mau repeat order upholstery yg sama kali.”


“ Ya bu, but there was no further discussion about that. Mungkin dia akan bicara sendiri ke ibu?” kata Susan sambil mengangkat bahu.


“ Ok,…..kalau penting dia pasti akan ngabari atau kirim email nanti. Dulu memang sudah pernah ambil berapa blok kain batik persis yg untuk upholstery sofa itu.” Gumam Datin.


Datin sudah kembali ke rutinitasnya. Dan untuk kursusnya dia sedang mempersiapkan diri menghadapi 3 kursus inti dengan jumlah kredit lumayan banyak yg akan dimulai awal February. Sementra mentor dadakan-nya, Ichikawa, baru balik ke Jakarta lagi pertengahan Januari 2006. Jadi semuanya sudah berjalan sesuai rencana.


Ichikawa sangat berperan dalam kelancaran study Datin ini. Disamping itu Datin memang student yg cerdas. Datin nilai sertifikatnya kebanyakan A dan A-.

__ADS_1


Awal February program kursus sudah dimulai, tidak setiap hari ada kursus dalam seminggunya, namun kadang satu hari diisi 1-3 jam kursus. Waktu kursus kebanyakan jam 20.00 s/d 23.00 karena perbedaan waktu Boston dengan Jakarta 12 jam lebih dulu Jakarta.


Siang ini Senin 20 Februari 2006, Datin bersama Susan ke Kadin Indonesia di Rasuna Said - Kuningan untuk keperluan konsultasi seputar rencana Pameran di Unesco – Paris September tahun ini. Karena tenant CH banyak yg akan mengisi, tapi akan diseleksi dulu. Ternyata di kantor Kadin tersebut Datin ketemu Yudis yg juga baru saja tiba dari bandara untuk urusan yg sama. Kebetulan Yudis adalah salah satu fungsionaris Kadin Jateng.


Saat ketemu di Kadin Pusat itu Yudis menginformasikan bahwa dia berencana untuk membawa Mila kontrol ke Singapore sebagai second opinion untuk penyakit Jantungnya, sekiranya masih bisa dilakukan tindakan untuk by pass, yg kalau menurut dokter di Jakarta sudah tidak mungkin lagi dan tinggal mengandalkan obat saja. Untuk waktunya sekitar bulan Mart.


Adapun untuk CA serviks nya sesudah lebih kurang 32 kali radioterapi sudah seperti mengecil. Namun masih tetap ada, dan sering mengganggu kelancaran BAB.


Yudis tidak mampir ke kantor ataupun apartemen Datin karena dia akan pulang langsung ke Semarang dg flight sore.


Datin kemudian mengatur waktunya untuk bisa mengantarkan ke Singapore ditengah kepadatan jadwalnya. Karena dulu hal tersebut sudah dia janjikan ke Mila, dan Datin memang benar benar ingin mengawal proses pengobatan sahabatnya ini.


Pada hari Selasa tgl 14 Mart 2006, kira kira seminggu sebelum ke Singapore, sekitar jam 11.00 Datin baru saja menyelesaikan asistensi dengan Ichikawa, serta baru mau kembali ke CHK dari Kedutaan Jepang, dia mendapat telpon dari Carla istri adiknya Yudis kalau Mila baru saja dilarikan ke Rumah Sakit Dr Kariadi, pingsan di Kamar mandi.


“ Carla, bisa kamu cerita lebih detail bagaimana kondisi mbak Mila, dan bagaimana ketahuannya?” dengan terisak Datin menanyakan ke Carla.


“ Pembantunya bilang, kalau pagi tadi Mila kekamar mandi, tidak ada yg tahu dari jam berapa karena kamar mandinya didalam kamar tidur Mila, tapi jam 09.00 Mila masih sempat suruhan si bibi bikin jus buah untuk memperlancar kebelakang katanya. Saat mas Yudis sehabis treadmill mau makai kamar mandi, kok terkunci dari dalam, setelah manggil manggil Mila, kemudian dia dobrak pintunya, ternyata Mila seperti pingsan dalam posisi duduk di closet. Sekarang aku on the way ke RS, Tin sepertinya…………. “ Carla tidak bisa melanjutkan bicaranya keburu pecah tangisnya.


Dia telpon Marsih sekretarisnya, menyuruh menyiapkan baju dan perlengkapan pergi 3 hari, sambil menyuruh menyiapkan tiket untuk Bimo dan bu Parinah untuk besok pagi, namun kemananya menunggu perintahnya.


“ Bu, ibu dimana ini? Masih disekolah Bimo?......oh sudah menuju Kemang ya?” Datin menengok sudah jam 12.30…” Begini bu, mbak Mila di RS karena pingsan. Aku ke Semarang, besok lihat situasi kalau terpksa lebih dari sehari ya ibu nyusul sama Bimo sambil bawain aku baju dan lainnya yg lagi disiapkan Marsih. Tapi Marsih tak suruh nunggu telpon dari saya dulu. Ibu sama Bimo standby dan sudah siap sewaktu waktu berangkat.” Pesan Datin ke ibunya.


Jam 15.30, citylink yg ditumpangi Datin mendarat di bandara A.Yani-Semarang. Saat dia membuka handphonenya, beberapa SMS masuk antara lain dari Yudis,


“ Innalillahi wainnaillaihi roji’un istriku tercinta, Kamila Sudibyo, hari ini Selasa tgl 14 Mart 2006 jam 10.30 telah berpulang menghadap Allah SWT. Mohon kesalahan almarhumah selama hidupnya dapat dimaafkan.” Demikian isi pesan singkat dari Yudis yg dikirim pada jam 13.45 keseluruh koleganya.


Datin seperti dilolosi tulangnya, namun sudah tidak keluar air mata lagi. Dengan gemetar dia menelpon Carla: “ Carla sekarang almarhumah disemayamkan di mana, aku sudah di airport, aku sebaiknya kemana?”


“ Tin, ini masih menunggu, visum baru keluar jam 13.00 tadi, Mila dinyatakan meninggal jam 10.30 dan mau dimandikan dulu juga disini, kalau mau ke RS dulu juga keburu, kita semua disini, di ruang tunggu dekat pemulasaran jenazah.” Jawab Carla.

__ADS_1


“ Terimakasih, saya ke RS langsung.“ jawab Datin.


Datin meluncur ke RS Kariadi, dia melamun selama perjalanan mengenang saat saat terakhir bersama Mila. Tidak menyangka kalau Pesta Tahun Baru 2006 adalah terakhir dia Ketemu Mila.


Sesampai di RS dia disambut Yudis yg langsung memeluk Datin, meskipun sepintas nampak tegar dan kuat, namun ekspresi wajahnya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya yg mendalam. Datin menangis, tubuhnya gemetar sambil merayap bergeser mecari tempat duduk, karena lututnya lemas. Dia langsung teringat Yasmin………


“ Yasmin……..??” dia mendongakkan kepalanya menanyakan posisi Yasmin ke Yudis. Ingat Yasmin Datin menjadi kuat, tidak tahu pasti datangnya kekuatan itu, tiba tiba dia bangkit mencari Yasmin.


Carla bilang Yasmin sedang sama sepupu Yudis dan bibi di ruang istirahat sebelah, lagi coba disuapin karena dari siang tidak mau makan.”


Datin bergegas keruang sebelah, menemui Yasmin yg penampilannya sudah sangat lusuh dan sembab. Melihat Datin, Yasmin langsung bangkit memeluk Datin sambil teriak: “ Ibuuuuuuu……..” yasmin nangis dipelukan Datin.


Sejenak Datin menjadi kuat, dan perasaan keduanya menjadi saling menguatkan. Tidak banyak bicara Datin menarik Yasmin untuk tidur dipangkuannya, kakinya dia selonjorkan dibangku kayu, dia usap kepala Yasmin, sambil terus berdzikir.


Yasmin tertidur dipangkuan Datin.


Rencana janazah akan dikebumikan di Yogyakarta, di makam keluarga besar ibu Sudibyo di Blunyah. Dari RS nanti Jenazah disemayamkan semalam di Candi, Rabu tgl 15 Mart 2006, bakda subuh sehabis disholatkan di masjid komplek, jenazah langsung diberangkatkan ke makam Blunyah di Yogyakarta.


Dalam perjalanan ke Candi, sambil Yasmin tidur dipangkuannya, Datin menelpon Marsih untuk mengurus tiket dan keberangkatan Bimo dan bu Parinah ke Yogya dengan flight pertama jam 06.00 dari Halim.


Tidak berapa lama kemudian, setelah Datin selesai mandi ada telpon dari Susan: “ Ibu, take your time ya, semua instruksinya ke Marsih sudah well organized, Wukir aku suruh stanby-nginep di CHK supaya jam 04.00 sudah bisa bawa bu Parinah dan Bimo ke Halim.”


“ Terimakasih bu Susan, ini aku sudah seperti gulali rasanya, sampai besok aku tidak ganti baju. Tapi ga masalah. Titip kantor.” Jawab Datin.


Sesudah mandi dan gosok gigi dengan sikat baru yg selalu tersedia di kamar mandi kamar tamu, Datin tetap memakai kembali pakaian yg dia kenakan dari pagi tadi hanya outfitnya yg berupa blazer polos ungu dengan lengan 3/4 dia copot, tinggal memakai blouse lengan pendek hitam dan bawahan songket ungu violet. Muka dia saput tipis tipis kemukanya pakai bedak facecake, memakai lipstik dan parfum keluaran Thiery Mugler, paket make-up yg selalu ada dalam tasnya. Rambut dia sanggul simpel sekedar tidak berantakan kemana-mana. Kemudian dia menyuapi Yasmin di kamarnya.


“ Yasmin makan dulu sama ibu ya, besok kan mau ngantar mama ke Yogya, supaya Yasmin kuat gak sakit. Besok Bimo juga nunggu di Yogya.” Bujuk Datin.


Sementara Yudis dan keluarga besarnya menerima tamu yg bertakziah yg sepertinya tidak ada habis habisnya, Datin tetap memfokuskan diri ke Yasmin. Dikamar Yasmin juga ada Keisya sepupunya yg ikut menemani, kadang kadang Carla, mamanya Keisya, nengok kekamar.

__ADS_1


“ Tin itu kamu aku bawaain ganti baju, dan ****** ***** kertas kalau mau ganti.”kata Carla.


“ Ah ya ya…..terimakasih.” jawab Datin.


__ADS_2