
Pada hari Rabu 27 Desember 2006, sekitar jam 12.00 Datin baru pulang dari KUD bersama pak Mardi, Dadang dan Citut. Mereka sekedar ingin survey awal.
Yasmin sama Bimo sedang asyiek main play station dikamar Bimo, Datin nyamperi mereka mau ngajak makan, karena Datin tadi beli ayam lodoh Bantul yg legendaris tsb dengan jumlah cukup banyak, sekalian untuk makan malam. Tiba tiba HP bunyi, ternyata dari Buntas.
“ Hallo bos……apa kabar ini?” sapa Datin
“ Baik lah Tin, aku lagi mau kerumahmu, aku kemarin baru sampai Yogya. Aku minta alamat yg jelas dong, sekalian landmark nya kalau mau kerumahmu, kira kira kalau siang ini kamu ada acara enggak, dan ini ganggu enggak ya Tin?”tanya Buntas.
Ini surprise sekali, tidak menyangka kalau menjelang tahun baru Buntas datangnya. Dia pikir tahun depan sesudah kepindahannya ke Singapore mantap.
“ Enggak sama sekali, aku surprise saja kamu sudah sampai Yogya. Ok sekalian aku tunggu makan siang.” Kata Datin. Datin sms alamat lengkap nya, dan rumahnya ada di sudut dan menghadap taman lingkungan yg ada alat-alat permainan anak seperti plosotan, ayunan.
Tidak sampai 15 menit ada mobil altis abu abu parkir didepan halaman rumahnya. Kemudian terlihat Buntas turun dari mobilnya, dia keren sekali memakai jeans dengan kemeja katun putih lengan panjang yg digulung sebatas bawah siku, dan memakai sneakers biru tua.
Datin sudah menunggu didepan pintu pagar, mereka berpelukan dan cipika cipiki, kemudian masuk kedalam rumah beriringan.
“ Ibu ini Buntas, ingat enggak ibu sama temanku yg gantheng ini?” kata Datin ke ibunya.
“ Ibu ya sudah lupa, sekarang sudah gagah banget begini mana ibu ingat.” Jawab bu Parinah.
“ Iya ya bu, dulu kita masih pakai seragam biru-putih celana pendek, inilah saya sekarang bu.” kata Buntas sambil cium tangan Bu Parinah
Mendengar suara ribut didepan, yasmin dan Bimo keluar dan mereka memandangi Buntas sambil ingin tahu siapa tamu yg barusan datang ini.
“ Bimo….Yasmin….sini nak, kenalkan ini om Buntas, teman ibu.” Datin mengenalkan Buntas kepada kedua bocah ini.
“ wuih gantheng dan cantik ini, anakmu satu atau dua sebenarnya Tin.” Tanya Buntas, karena dulu Datin bilang hanya punya anak satu.
“ Iya ini Bimo anakku, lha si cantik ini putrinya mas Yudis.” Jawab Datin.
Mas yudis???? Ada hubungan apa pak Yudis dengan Datin??? Batin Buntas, dan secara reflex Buntas mengkerutkan keningnya.
“ Aku sama almarhumah mbak Mila sudah seperti kakak adik, Yasmin ini sudah seperti putriku sendiri, demikian juga sebaliknya, Bimo.” Datin menjelaskan.
“ Ayo ah makan dulu, inikan sudah hampir jam satu, dan kamu pasti sudah lupa makanan khas Bantul, ayam lodoh atau ingkung. Ini aku beli banyak.” Ajak Datin.
Merekapun makan bareng, juga Bimo dan Yasmin ikut gabung bersama. Sesudah makan Datin dan Buntas ngobrol diteras depan sambil bernostalgia.
“ Tas dulu itu kamu kan SMA nya di Sidoardjo ya? Terus kok bisa langsung ke Jerman jalan ceritanya bagaimana?”
“ Bapakku pindah tugas di BPN Sidoardjo, tapi tinggalnya di Surabaya. Aku SMA di Surabaya, nerusin ke ITB jurusan Teknik Arsitektur, ngambil S2 di Jerman di Aachen, kerja di Biro Konsultan Teknik di Jerman sampai kita ketemu kemarin, dan sekarang saya sama 2 orang temanku S2 dari Aachen juga yg asalnya dari Singapore mendirikan Konsultan di Singapore. Yg satu spesialis lighting dari T.Electro, dan satunya konstruktor dari T. Sipil.”cerita Buntas
“ Aku ingin tahu, kamu kan nikahnya sama almarhum mas Pras kan Tin? jadi sejak SMP dulu itu ya kamu pacaran sama dia?” tanya Buntas ingin tahu banget, karena SMP Datin statusnya kan pacar Buntas.
__ADS_1
“ Aku selingkuh ya Tas? Hahahaha…..begitu kan dugaanmu?” tanya Datin geli, karena ada nada selidik dari pertanyaan Buntas.
“ Ah……..hahahaha, ya begitu benar kan? Hahaha…. ternyata Datin dulu itu nakal ya!” kata Buntas.
“ Ih….jangan memfitnah dong, kejam kamu Tas! Aku dulu kan kamu tinggal seperti layangan putus tuh….., tiada kabar berita, kebetulan aku kan nerusin di SMA N I Bantul, dimana mas Pras kan klas 3 disana. Terus layangan putus itu ketangkap sama mas Pras. Jangan dibalik-balik ceritanya. Siapa hayo yg ninggalin?” kata Datin sambil ketawa ketawa.
“ Ah…..seandainya dulu aku gak pindah sekolah ya Tin, ceritaku nggak serumit sekarang.”
“ Ah… by the way berapa tahun usia pernikahanmu saat mas Pras meninggal, ya aku terkesan banget sama mas Pras, meskipun aku dulu cemburu sama dia, tapi aku lihat dia itu cool, keren tanggung jawab selama pengobatan kamu. Dia orang kaya tapi gak pecicilan atau sombong, tapi sopan. Boleh dibilang aku mengidolakannya, ngikuti gayanya. Dan ternyata dia nggak ngambil Datin dariku dulu……….hahahahaha!”
“ Saya pacaran ya Cuma sama beliau, dari SMA itu, kemudian aku dinikahi sesudah dia pulang dari ngambil S2 nya di inggris, bulan Agustus tahun 1999, Bimo lahir Juni 2000 dan mas Pras wafat kena CA oktober 2004.” Datin cerita agak tersendat, mengenang betapa singkatnya kebahagiaan bersama orang yg sangat dia cintai. Lebih lama perjuangannya.
“ Aku ikut prihatin ya Tin. Tapi aku juga sedih, ternyata aku tidak diperhitungan Datin. Aku tidak dianggap pacar.”kata Buntas merajuk.
“ Lha sendirinya yg ngacir dan nganggap aku angin lalu kok dianggap pacar. Cinta bedes memang lucu ya. Ya aku maklum dan gak berhak sakit hati dong, tahu diri! Lha kamu gaulnya kan sudah jetzet dengan orang orang kota yg bening dan kinclong, sementara aku wong ndeso yg culun! Ya to? Ya to? Ngaku hayo bedes kota! Hahahaha………” kata Datin seneng banget bisa bernostalgia. ” Sekarang ganti cerita pacar-pacarmu dong, riwayatku kan sudah tadi, lempeng-lempeng saja.” Sambungnya.
“ Dih, aku bukannya ninggalin, terpaksa pergi dan terkendala komunikasi, hahahaha……” kata Buntas.
“ Mungkin kamu gak percaya kalau aku bilang bahwa aku sering rindu kamu dulu itu Tin. Bukannya nggombal ya Tin, begini lho saat sudah merasakan ketulusan pergaulan didesa, aku merasa tidak pas atau klop saja menjalin hubungan yg sudah berbau metropolitan. Aku gak pernah pacaran lama Tin, habis nyari yg sepertimu gak pernah nemu!” canda Buntas, tapi dia mengatakan yg sebenarnya dia rasakan. Buntas terhenti karena Datin sudah mulai tertawa mengejek.
“ Hmmm hahaha…hmmm hehehe, yak terus…. nggelar kanebo?, ah kebagusan……nggelar gombal amoh (usang), ……ayo terus ceritanya….” Datin ketawa ngejek.
“ Di ITB apalagi, aku dulu cepet sekolahnya, persis 4 tahun. Aku pacaran sama anak Planologi, saat aku mau nerusin ke Jerman, dia minta putus ternyata kawin sama dosennya. Enteng banget ya ceritanya, udah gitu, aku sedih juga enggak.”
Kemudian Buntas narik nafas panjang, menengok ke Datin sbentar, terus pandangannya kembali menatap kedepan seperti melamun.
“ Hei……kok seperti berat banget beban hidupmu? Aku yg sudah ditinggal mas Pras aja masih bisa cengengesan! Hidup itu amanah Tas, jalani dengan ikhlas, dan jangan lupa ketawa!” Datin mencoba memecah ketegangan dengan melempar canda.
“ Ya……, benar, saat aku kelar S2 ku di Jerman, aku bekerja di biro Teknik dimana aku kerja praktek disana saat mengambil tugas akhirku dulu, yaitu perusahaan yg sama saat aku ketemu kamu di Perancis itu. Proyek pertamaku adalah bikin perpustakaan dan aku mendapat partner anak interior design yg ngambil S2 juga disana, namanya Marion,…..Marion Pratama. Mamanya orang Spanyol, bapaknya orang Ungaran. Orang tuanya punya restaurant kecil di Barcelona.” Kata Buntas.
Baru cerita sampai disitu tiba-tiba Bimo dan Yasmin lari lari ke depan, : “ Ibu….ibu….mbak Ias pingin Dinoku yg kecil, boleh gak bu untuk mbak Ias, tapi aku nanti ditukar robocop ya bu.”
“ Eh ……maaf ya Tas sebentar tak ngurus malaikatku ini bentar, ayo bilang maaf dulu sama om Buntas, kok tahu-tahu nyelonong saja tanpa permisi.” Perintah Datin.
Bimo tersenyum terus nyamperin Buntas, nyalami dan mencium tangan Buntas, “ Maafin Bimo ya om.” Dan diikuti Yasmin.
Buntas terkesan kesantunan anak dua ini, “ Bimo klas berapa sekarang?” tanya Buntas. Bimo menoleh ke ibunya, ibunya mengangguk mengisyaratkan untuk menjawab, kemudian Bimo bilang : “ Aku semester depan kelas dua om.”
Buntas mengerutkan keningnya gak paham, kemudian Datin menjelaskan.: “ Bimo ini alhamdulillah, dikaruniai keenceran otak, dia sama sekolahnya diikutkan program akselerasi dan saat usia 6 tahun dia bisa klas satu dan setelah satu semester dia bisa naik klas dua. Januari nanti dia klas dua.”
“ Oh…..luar biasa Bimo, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Om mau cium Bimo, boleh ya anak pinter?” ….Bimo mendekat dan Buntas memeluk dan menciumnya.
“Dan juga om mau cium anak cantik ini boleh ya?” kata Buntas sambil memeluk dan mencium Yasmin.
__ADS_1
“ Sudah sana kembali main didalam ya, Bimo boleh kasi mbak Ias yg mana saja, nanti beli robonya bulan depan ya! Masih ada batman yg belum dirakit, dan kemarin baru beli dinosaurus besar kan?” kata Datin.
“ Bulan depan kan tinggal………” Bimo menghitung dengan jarinya…..……….” tinggal lima hari lagi ya bu.”
Buntas dan Datin tersenyum: “ iya, tapi kalau sudah di Jakarta saja belinya. Disana lebih lengkap.”
“ Mbak Ias gak bisa ikut ngrakit dong bu.”protes Bimo.
“ Mmmm……..mengapa Bimo sekarang susah diajak bicara ya? Batman selesaikan dulu ya!” kata Datin
Akhirnya anak dua tadi balik kekamar.
“ Kalau sama Bimo bicara gak bisa pendek. Harus panjang dan dijawab. Jangan sampai menyisakan jawaban yg gak masuk akal dia, bisa kontra produktip. Misleading!” kata Datin seperti capek.
“ Hahahaha resiko punya anak jenius ya Tin?, asyiek banget debat sama Bimo ya!” kata Buntas.
“ Dah……..sekarang giliran om Buntas melanjutkan ceritanya, ya saya bener bener nggak nyangka bisa ketemu sahabat lama, suprise.” Datin mengingatkan.
“ Yah………Marion itu seperti mengingatkan aku ke kamu, bener bener Tin aku gak bohong, kerjanya fokus, pendapatnya selalu mampir ke otak dulu sebelum tercetus, pola kerjanya urut. Mudah bekerja sama sama dia. Dan dia punya selera bagus. Jurusan interior adalah pas untuknya.” Buntas berhenti sejenak mengambil nafas……..
Datin menyelak: “ Wouw……dan yg penting kalian saling mencintaikan? So what……?”
Buntas sekali lagi menarik nafas panjang, memandang Datin dan melanjutkan ceritanya:
“ Semula saya kira seperti itu, kita saling care, pembicaraan kita selalu klop, cocok, tapi………,setelah saya mengemukakan rencana masa depan untuk pindah ke Singapore, mendekati kampung halamanku, Indonesia, disini persoalan mulai timbul.”
“ Oh….” terucap dari mulut Datin, sambil menunggu lanjutannya.
“ Dia keberatan kalau keluar dari Eropa, baginya Asia itu sangat diluar ekspektasinya, bagaimana dia bisa hidup dilingkungan yg asing, bagaimana kariernya yg sudah susah-susah dia bangun dan mulai menampakkan hasilnya, kemudian dia tinggalkan. Ironis ya Tin? Dulu susah ketemu orang dengan idealisme yg sama, sesudah ketemu, ternyata muncul persoalan lain yg tidak terduga sebelumnya. Aku lelah, dan aku putus asa Tin.” Keluh Buntas.
“ Kalau kamu yg meneruskan kariermu disana kenapa Tas?” tanya Datin
“ Begini ya, aku bisa besar tapi jadi ekor terus disana. Sedangkan aku dan 2 sahabat Asiaku melihat ada kesempatan bagus di Asia ini dan kita bisa menjadi besar sebagai kepala. Karena kedua sahabatku itu sudah punya link di Asia, juga dari orang tua mereka. Matahari di Asia ini Tin!. Itu yg sudah aku jelaskan ke Marion. Satu yg aku baru tahu tentang Marion, yaitu stubborn, stoony!”
Datin berfikir dan bisa merasakan bahwa sebenarnya itu bukan hal sulit. Butuh ada yg mengalah.
“ Hmmm…..begitu ya !” gumam Datin. Datin belum berniat mencampuri urusan Buntas. Masukan tidak bisa sekaligus disampaikan, akan muntah kalau yg menerima tidak siap atau tidak membuka diri.
“ Tin ini sudah menjelang sore, aku belum sempat ketemu pak de ku karena beliau baru sore ini balik dari Solo, aku perlu ngobrol sama beliau dulu. Ijinkan aku sering menemuimu ya Tin. “ kata Buntas
“ Ya silakan …….monggo saja, pintu ini terbuka untuk sahabatku yg lagi terkena renjana cinta ini. Cuma tolong telpon dulu karena aku itu lagi ada urusan dengan para petani didesaku dan keluarga pak-lik ku. Jadi kami sering ada pertemuan didesa gitu. Kamu ikut juga gapapa. Mendengarkan saja, toh tidak seharian pertemuannya.” Jawab Datin.
“Benar ya Tin, ah seneng sekali aku. Kangen suasana dulu.” Kata Buntas antusias banget, senang.
__ADS_1