
Kira kira jam 10.00 sampai di Semarang, dia sudah dijemput sopirnya Kamila, tidak lama kemudian mobil sudah meluncur menuju ke Pamularsih, kantor dan sekaligus belakangnya cold storage.
Kamila rupanya sudah siap langsung mau hunting ke Pekalongan, tidak usah makan dulu, nanti sambil jalan nyari makan supaya menghemat waktu. Karena beberapa alamat yg mau dituju sudah jelas.
Yudistira menemui Datin sebentar sebelum pergi ke kantor Kadinda setempat untuk suatu keperluan. Dia menyapa Datin: “ Halo Canting apa kabar?, wah sudah jadi pengusaha rupanya sekarang ya. Kalau perlu bantuan informasi produk sekitar Jawa Tengah, please do not hasitate to call me.”
“ Heh….Canting…Canting… itu kan panggilan resek Pras ke Datin untuk nama ospek dulu, kenapa mas Yudis jadi ikutan!” serang Mila.
“ Ah, maaf…habisnya nama itu yg aku baca pertama kali ketemu dulu. Itu yg tercetak awal dikepalaku, sebelum tahu namanya. Sorry sorry….maaf ya Datin.” Kata Yudis.
“ Hahahaha….. apa saja panggilan yg pas untuk wong ndeso seperti aku ini, aku pasti nengok kok! Canting juga bagus kan mbak? Tapi jangan bilang aku pengusaha to mas, isin aku, aku itu buruh serabutan dan saat ini lagi jadi suruhan orang-orang Londo itu. Londo Jepang sama Londo Rusia saat ini. Hahahaha….”jawab Datin sambil bercanda. Orang kita asal ketemu orang asing nyebutnya Londo.
“ Ah… kita jangan ngobrol terus, nanti keburu sore. Saya sudah dibikinkan janji sama Tanti disana lho.” Mila mengingatkan. Tanti adalah sekretaris Yudis.
“ Betul, Tin… aku titip ingetin bini gue ya, yg kalau sudah ngoprek barang lupa kondisi. Kalau dianya sendiri sih gapapa, …… tapi Juniorku yg tak titip disini ini kan perlu dijaga. …..mmmwuahh.” Kata Yudis sambil meluk istrinya dari belakang, sambil mengusap perut Mila, dan mencium pipinya.
“ Waaaaa……….selamat mbak Mila, mas Yudis. Sudah berapa bulan nih Junior? Kok kelihatan masih rata aja nih perut.” tanya Datin sambil meluk Mila dan mencium pipinya, kasi selamat.
“ Ah, baru 11 minggu, memang nanti aku banyak duduknya saja ya Tin, gak pecicilan seperti biasanya. Kalau ingat!... dan tolong ingetiiiin tapi akunya, hehehe…”
Hari itu menghabiskan waktu keliling ke outlet besar mencari contoh motif yg mirip dengan yg dimau Sergei, Datin mendapatkan beberapa variant yg menurutnya lebih keren dan motif baru. Datin membeli 6 potong yg terseleksi, untuk ditunjukkan ke pengrajin yg akan dia datangi. Dia tidak bisa beli lebih banyak, karena itu modal awal dari hasil penjualan pertama yg harus dia bagi dengan kebutuhan hidupnya kedepan.
Malamnya mereka duduk diteras belakang yg bisa memandang panorama indah dibawahnya karena rumah Yudis dan Mila ada dikawasan daerah elit Candi, yg tempatnya memang tinggi berbukit. Sambil minum teh mereka ngobrol tentang bagaimana Datin bisa mendapatkan order ditengah kesempitan ini. Yg paling antusias adalah Yudis, tadinya dia tidak paham dari mana mukjizat itu datang ke gadis ini. Tapi kalau Mila memang sudah kenal sepak terjang Datin karena lebih kurang sama dengan dirinya. Hanya Datin itu lebih fokus dalam menguber target dibanding dirinya, karena keadaan. Mila tidak pernah kecewa terhadap Datin. Umpan yg dia lempar ke Datin pasti membuahkan hasil yg signifikan. Pada saat dia tahu kondisi keluarga Datin, dia merasa prihatin dan semakin menyayangi sahabatnya ini.
Keesokan harinya, hari Sabtu, Datin diantar sopir mau menemui pengrajin yg sudah dikenalkan Tanti kemarin. Untuk bicara pemesanan. Mila ngotot pingin ikut, tapi Datin bilang, bahwa sebaiknya ikuti saja apa kata suami, karena itu barrakah. Dan Datin sendiri menjadi tidak nyaman nantinya kalau Yudis seperti terpaksa mengijinkan tapi diliputi kehawatiran akan fisik istrinya. Apalagi besoknya kan hari Minggu, jadi mereka masih bisa bersama sekalian dengan Yudis untuk jalan, sebelum sorenya Datin pulang ke Yogya pakai travel.
Saat semua urusan beres pas dalam perjalanan pulang ke Candi, sekitar jam 15.00, Datin mendapat telpon dari tetangga untuk diminta pulang segera. Bapaknya terkena musibah, lagi diupayakan pencariannya. Ibunya perlu ditemani. Datin shock, dengan menangis selama perjalanan ke Candi.
__ADS_1
Dengan wajah kuyu dan sembab karena nangis Datin langsung lari masuk kamar berkemas. Yudis dan Mila yg lagi nonton TV jadi terkejut dan nyamperi Datin ke kamar. Begitu mendengar berita tersebut, mereka berdua sepakat ngantar Datin pulang.
Sesudah semua siap, sebelum berangkat Yudis sempat telpon sekretarisnya untuk pesan urusan kerjaan, tidak lama kemudian mereka ber 4 dengan driver sudah dalam perjalanan menuju Yogya.
Datin sepanjang perjalanan melamun dan menangis, begitu terus.
Seandainya dia tidak pergi, dia bisa menuntaskan pekerjaan lainnya dengan bapaknya dan musibah pasti gak terjadi.
Seandainya dia dirumah sama bapaknya, banyak rencana bisnis yg bisa dia bicarakan lebih tuntas karena bapaknya banyak mengetahui informasi tentang kerajinan sekitar…….
Seandainya dia menuruti kata hatinya yg sebenarnya sudah berat saat mau pergi waktu itu…..….
….. dan masih banyak lagi seandainya….seandainya… yg lain dlm pikiran Datin.
Sesampai dirumah, sekitar jam 20.30, terlihat orang sudah banyak berkumpul dirumah dan halaman rumah Datin, jenazah sudah diketemukan dan sekarang sedang dimandikan di RSUD jl DR Wahidin. Almarhum sebelumnya sedang mancing di sungai Anak Kali Opak bersama temannya, tiba tiba banjir datang dan beliau terpeleset jatuh ke sungai dan hanyut. Jasad dalam kondisi sudah tidak bernyawa diketemukan 5 km dari tempat mancing beliau.
Mengetahui bahwa ayahnya benar benar sudah meninggal, Datin jatuh pingsan saat didepan kerumunan para pelayat, langsung ditangkap Yudis yg kebetulan bersama Mila mengapit Datin. Dibawa masuk ke kamar Datin dan ditaruk di tempat tidurnya. Mila mendampingi Datin sambil memoles minyak angin dan mengelap peluh Datin.
Yudis duduk ditikar bersama pelayat lainnya. Dia sedih dan prihatin sekali melihat kondisi rumah dan kondisi ekonomi keluarga Datin yg jauh dari kondisi keluarga Mila maupun keluarga Yudis sendiri yg memang pengusaha papan atas. Tapi dia kemudian menjadi sangat menghargai Datin yg bisa mengatasi kesulitan hidup sampai dititik sekarang, meraih gelar sarjana dengan upayanya sendiri, kesantunannya, juga cara bicaranya yg cerdas, tentu saja dengan kesederhanaannya tapi elegan. Yudis bangga Mila tidak salah pilih sahabat, Yudis bangga Mila selalu mikirkan Datin dalam kesempatan apapun, yg dulu sempat menjadi bahan lelucon Yudis kalau Mila selalu menceritakan Datin, halah Datin lagi……Datin lagi… , begitu olok-olokan Yudis dan selalu berakhir dg kemarahan Mila.
Datin sesudah siuman duduk diamben tempat tidurnya, dia menengok meja tulisnya mau ambil tas. Dia menjerit kecil dan menangis lagi, ibunya yg duduk diluar dan Yudis kaget dan bangkit dari duduk lari masuk kamar ingin tahu. Ternyata di meja Datin ada seikat bunga mentul sintetis dari kasongan yg diceritakan bapaknya, malam sebelum Datin ke Semarang. Rupanya bapaknya sempat membelikan untuk contoh sebelum beliau wafat.
Jenazah tiba dirumah jam 23.00. Ibunya sudah tegar, duduk nunggu jenazah sambil terus membaca Yasin dan surah surah Al-Qur’an. Mila dan Yudis pamit sesudah sempat melakukan sholat jenazah, untuk besok paginya mau datang lagi saat pemakaman jam 10 pagi.
Keesokan harinya Mila, dan Yudis sudah dirumah duka jam 08.30 pagi. Mereka menemani Datin dan ibunya dengan beberapa pelayat lain, demikian juga ada bu Sudibyo-ibunya Mila, Ami, Rini, Yudi, bapak dan ibu Danu semua datang melayat ke rumah Datin, mereka semua ngumpul di ruang pendopo tengah tempat jenazah disemayamkan.
Pada kesempatan ngumpul begitu, Datin menceritakan bahwa bapaknya meninggal dalam usia masih muda 46 tahun. Beliau belum sempat bahagia, karena dulu dia berkorban untuk adiknya laki laki biar bisa sekolah. Dan sekarang belum sempat dia melihat anaknya berhasil seperti yg beliau harapkan sudah keburu menghadap sang Khaliq. Datin menceritakan sambil air matanya bercucuran. Kemudian ibunya yg kelihatan lebih tegar berusaha menghibur:
__ADS_1
“ Wis nduk, jangan kamu menangis terus, nanti langkah bapakmu terhambat. Bapakmu sudah menikmati keberhasilanmu, dalam keterbatasan kamu bisa berhasil meraih gelar sarjana, beliau bangga kepadamu dan selalu cerita sama ibumu ini kalau bapakmu tidak menyangka Datin bisa mandiri secepat ini, bangga nduk bapakmu…….. bangga sama kamu. Jadi gak bener kalau bapakmu belum bahagia.”
Semua yg mendengar trenyuh, Mila terisak sambil megang tangan Datin untuk menguatkan, yg kemudian Mila dipeluk Yudis.
7 hari sesudah pemakaman ayahnya, Datin sudah mulai aktif bekerja kembali saat shift nya tiba. Datin juga mengurus pesanan-pesanan dari buyer yg masih 2 orang itu, ditambah pesanan bunga mentul beberapa peti untuk kebutuhan resort di Inggris.
Sebulan lebih telah berlalu, saat peringatan 40 hari meninggalnya pak Marto, Datin masih termangu di makam ditemani ibunya. Datin bicara banyak dengan bapaknya dalam hati. Melaporkan apa yg sudah dilakukan termasuk mengirim bunga mentul seperti contoh yg dicarikan ayahnya sebelum wafat. Juga janji akan berusaha terbang terus setinggi mungkin melampaui harapan ayahnya. Akan dia tebus semua pengorbanan ayahnya.
Saat Datin masih termangu dihadapan makam ayahnya, tiba tiba dari belakang lengannya ditarik seseorang dan diraihnya tubuh Datin kedalam pelukannya. Mengetahui siapa yg memeluknya dia menangis didada bidang Pras dan meluapkan seluruh perasaannya dalam tangis yg membuatnya plong-lega.
Kemudian saat menyadari bahwa Pras tidak datang sendiri, namun didampingi Ami, dan juga disertai temannya Darto yg sebenarnya dinasnya di Balikpapan, dengan gemetar dan perasaan kecewa dia melepaskan diri dari pelukan Pras dan mendekati ibunya. Kemudian ibunya menyilakan mereka mampir kerumah. Datin memboncengkan ibunya pulang, diikuti Darto yg membawa mobil dan Pras duduk disampingnya, sedangkan Ami duduk di jok dibelakang.
Dirumah, untuk menyembunyikan kekecewaannya Datin sibuk bikin air minum didapur emperan belakang rumah. Ibunya menemani mereka. Kemudian Pras menyusul kedapur sambil bilang : “ Tin, kamu gak usah sibuk beginilah, aku pingin ngomong penting ke kamu!”
“ Ya mas…….?” Dengan kaget Datin menengok ke Pras sambil air matanya nggelinding tanpa permisi. Dia pikir inilah saat Pras mau bicara pernikahannya dengan Ami. Hal yg ingin dihindarinya.
Sedih karena kekasihnya nangis terus, yg Pras mengira Datin sedih karena masalah bapaknya, maka Pras mendekat dan memeluk Datin sambil bicara:
“ Kamu harus berhenti menangis, stop!, aku gak perduli lagi, kita harus segera nikah! Boleh dibilang kita sekarang sudah bisa mandiri! Aku akan selalu ada didekatmu! Bagilah bebanmu denganku! Mengerti?!”
Kemudian lanjutnya: “ Aku gak mau ikuti aturanmu lagi, sangat gak enak, was was, nunggu sukses sampai kapan?!”
Kemudian karena kok ditunggu lama minuman gak muncul muncul, ibunya nyusul kedapur. Tapi begitu melihat mereka berdua saling berpelukan, ibunya jadi keder. Diulanginya langkahnya mulai dari agak menjauh, tapi dengan teriak teriak: “Tin!, minumnya ditunggu kok lama banget ya?”
Datin dengan masih gemetar karena shock dan bahagia dia kemudian menyiapkan minumannya dengan cepat dan membawa keluar diikuti Pras. Darto sama Ami senyum senyum penuh arti melihat mereka.
Pras, didepan semuanya mengutarakan maksudnya: “ Saya bermaksud mau membawa orang tua kemari untuk melamar Datin bu.”
__ADS_1
Bu Parinah bingung: “ Lha kok mendadak sekali to nak? Lah bukannya dulu nak Pras mau………, aku kok bingung ya, maaf dulu saya menyelesaikan batikan sida mukti pesanan bu Danu itu kabarnya untuk pernikahan nak Pras sama nak Ami…….?”
Pras langsung motong sebelum ceritanya kepanjangan: “ Saya mencintai Datin bu!, Ami mencintai insinyur ini, ir Darto!, saya sudah lama menunggu ini, saya sudah bicara sama bapak saya. Dan beliau menyetujuinya.”