
Pras benar-benar menepati janjinya untuk memperkenalkan diri sebagai ayah biologis Zia anaknya namun dia datang seminggu setelah kepergian Rosita istrinya.
Pras nampak duduk di ruang tamu rumah kecil itu, dia memang tak begitu ingat dengan wajah Kinan, gadis yang pernah dia gagahi karena kerinduan nya pada Erin dan sekaligus karena pengaruh minuman yang memabukkan,dan di sediakan Ketika dia dijamu di luar pulau saat melakukan kerja sama dengan pemilik pabrik kelapa sawit.
Kinan duduk dengan tenang sambil sesekali menunduk, disamping nya ada sang ibu dan juga Rania beserta suaminya yang memang di suruh datang ke sana oleh bu Ratih, di samping Pras sudah ada asisten nya Edo yang membawa beberapa dokumen bila mana nanti di butuhkan.
"Jadi maksud kedatangan anda kemari apa tuan?" tanya Hugo suami Rania.
"Saya mau meminta maaf pada ibu dan Kinan, saya sudah mencari kalian cukup lama!"
Pras membuka suara, bohong jika Hugo tak tau siapa Prastyo Wiguna, karena mereka dalam komunitas pembisnis di kota yang sama, walaupun tak begitu akrab.
"Bisa tuan jelaskan lebih rinci?" tanya Hugo.
__ADS_1
Edo kali ini yang menceritakan semuanya, dari pertama kali kejadian naas itu terjadi, sampai proses pencarian Kinan dan bu Ratih yang nyatanya malah pindah ke Jakarta, kota yang sama dimana dia tinggal, Pras mengatakan itu sebagai takdir agar dia bisa melihat anaknya dan Kinan suatu hari nanti. Bi Ratih sudah menangis melihat cerita Edo, sedangkan Pras sudah bersimpuh di kaki bu Ratih,bu Ratih yang memang orang sangat baik dan hatinya mudah tersentuh akhirnya memang memaafkan Pras.
"Kinan.... maafkan aku!" ucap Pras sambil menggenggam tangan Kinan.
"Jangan....jangan....gak boleh pegang....jangan!" ucap Kinan sambil menepis tangan Pras.
"Iya tau... gak boleh ya?" ucap Pras pada wanita berusia 15 tahun lebih muda dari itu sambil tersenyum.
Akhirnya Hugo dan Rania beranjak pergi dari sana, karena jadwal Hugo sangat padat hari ini, hanya Pras yang tinggal di sana karena Edo pun mendapat perintah untuk kembali ke perusahaan.Kinan hanya diam saja,dia tak mau memandang ke arah Pras, entahlah apa yang di rasakan oleh Kinan, sakit hati? senang karena anaknya punya papa? atau entahlah.
"Kinan..berikan kopinya untuk pak Pras!" kata bu Ratih yang berada di dapur bersama dengan sang ibu.
"Iya...iya bu....!" Kinan berajak dari duduknya yang sedang mengupas wortel membuat sup kesukaan Zia. lalu beranjak ke ruang tamu di mana Pras sedang mengutik laptop milik nya.
__ADS_1
"Kopi pak.... hati-hati panas....panas pak! pelan-pelan saja!"
kata Kinan sambil meletakkan kopi di samping kanan Pras,karena didepannya ada laptop yang dia gunakan untuk mengerjakan pekerjaannya.
"Terimakasih Kinan!" ucap Pras lelaki yang terlihat lebih muda dari umurnya itu tersenyum manis pada Kinan.
"Kau ...masih lama...disini?...masih lama?" tanya Kinan pada Pras, entah mengapa Pras merasa wanita dihadapannya ini tidak menyukai keberadaan nya, ya Kinan memang autis tapi dia tidak bodoh dia tau lelaki di depannya ini adalah papa dari anaknya Zia, bisa saja Zia di ambil dan pergi seperti Kanaya, seperti Kanaya yang di bawa pergi ayahnya kala itu,
Seakan tau apa yang dipikirkan Kinan, Pras menarik tangan Kinan dan duduk di sampingnya,karena Pras juga tau kisah pilu perpisahan nya dengan sang ayah, siapa lagi pencari informasi kalo bukan Edo dari tetangga Kinan di desanya.
"Aku hanya ingin kenal Zia! bukan membawa pergi dia!"
"Jangan takut!" lanjutnya
__ADS_1
bersambung...